Rabu, 30 September 2026
13:43 WIB
TERKINI
Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu

Han Chan Piet

Bagikan:
Dalam artikel ini, nama keluarganya adalah Han (marga).
Mayor Han Chan Piet
Kapitan Cina Surabaya
Masa jabatan
1778–1810
PendahuluKapitan Han Bwee Kong
PenggantiTidak diketahui
Informasi pribadi
Lahir1759 (1759)
Meninggal1827 (umur 67–68)
HubunganHan Siong Kong (kakek)

Han Kik Ko, Mayor Cina (saudara)
Ngabehi Soero Pernollo (paman)

Adipati Soero Adinegoro (sepupu)
AnakHan Kok Tie, Letnan Cina
Han Kok Ping, Kapitan Cina
Orang tua
PekerjaanMayor Cina, tuan tanah

Han Chan Piet, Mayor Cina (1759 – 1827), juga ditulis sebagai Han Tjan Piet atau Han Tian Pit, dulu adalah seorang tokoh, pejabat pemerintah, dan tuan tanah berlatar belakang Tionghoa Peranakan di Jawa Timur.[1][2][3][4][5][6][7][8] Ia paling diingat karena membeli wilayah Besuki dan Panarukan pada tahun 1810.[1][7][8]

Latar belakang keluarga

Han Chan Piet Sia lahir pada tahun 1759 di Surabaya, sebagai anak ketiga dari 12 bersaudara yang lahir pada Han Bwee Kong (1727 – 1778). Han Chan Piet merupakan cucu dari migran Tionghoa, Han Siong Kong (1672 – 1743), pendiri keluarga Han dari Lasem.[1][2][6] Ayahnya, Han Bwee Kong, menjabat sebagai Kapitan Cina Surabaya.[9] Han Bwee Kong juga merupakan Pachter dari wilayah Besuki (mulai tahun 1768) dan Panarukan (mulai tahun 1777).[1][2] Sebagai anak dari seorang pejabat Cina, Han Chan Piet pun mendapat gelar turunan 'Sia'.[9]

Anggota keluarga Han dari Lasem lain yang terkenal meliputi adiknya, Han Kik Ko, Mayor Cina (1766 – 1813); pamannya, Ngabehi Soero Pernollo (1720 – 1776); serta sepupunya, Adipati Soero Adinegoro (1752 – 1833) dan Raden Soero Adiwikromo.[2][3][5][10] Keluarga Han dari Lasem memainkan peran penting dalam mengkonsolidasi kekuasaan Belanda, serta kemudian memimpin dan mengembangkan sejumlah wilayah di Jawa Timur.[1][5][8]

Karier kolonial

250px-Country_House_of_Han_Chan_Piet%2C_Majoor_der_Chinezen.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah Han Chan Piet, Mayor Cina

Han Chan Piet memulai kariernya sebagai birokrat saat ditunjuk sebagai wakil dari ayahnya di Surabaya, dengan gelar Letnan Cina.[1][2][3] Pada tahun 1778, ia menggantikan ayahnya sebagai Kapitan Cina Surabaya serta sebagai Pachter dari wilayah Besuki dan Panarukan.[1][2][3][6] Pada tahun 1796, VOC memberi hak eksklusif atas wilayah Besuki dan Panarukan kepada Han Chan Piet untuk seumur hidup.[1][5]

Selama jeda kekuasaan Prancis dan Britania Raya (1806 – 1815), Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, memutuskan untuk mengisi kas negara dengan cara menjual wilayah yang dikuasai oleh pemerintah, termasuk wilayah Besuki dan Panarukan pada tahun 1810.[5][7][8] Kapitan Han Chan Piet lalu membeli dua wilayah tersebut dengan harga 400.000 dolar Spanyol, dan kemudian dipromosikan oleh Daendels menjadi Mayor Cina.[5][6][7][8]

Pada tahun 1810 juga, Han Chan Piet mengundurkan diri dari jabatan Kapitan Cina Surabaya, agar dapat fokus menjadi tuan tanah dari wilayah Besuki dan Panarukan.[1] Birokrasi Jawa tradisional di dua wilayah tersebut tetap dipertahankan, tetapi harus bertanggung jawab kepadanya.[5] Mulai tahun 1794 hingga 1813, Raden Panderman, anak dari sepupunya, Adipati Soero Adinegoro, memimpin wilayah Besuki, awalnya sebagai Ronggo, dan kemudian sebagai Tumanggung mulai tahun 1804.[1][3][5][10] Pengunjung dari Prancis dan Britania Raya selama jeda kekuasaan pun memuji perkembangan pertanian dan ekonomi di Besuki dan Panarukan pada masa kepemimpinan Han Chan Piet, tetapi mengkritik pembentukan negara dalam negara di dua wilayah tersebut.[1][5][7][8] Pada saat yang sama, Mayor Han Chan Piet juga mengalami kesulitan dalam mengumpulkan cukup uang untuk disetor kepada pemerintah Hindia Belanda.[1][5][7][8]

Pada tahun 1813, adiknya, Han Kik Ko, Mayor Cina, yang telah membeli wilayah Probolinggo dan memimpin wilayah tersebut dengan cara yang despotik, terbunuh akibat pemberontakan yang kemudian disebut sebagai Kepruk Cina.[1][2][5][7] Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Sir Stamford Raffles, yang memang tidak senang dengan penjualan tersebut, kemudian memutuskan untuk membeli kembali wilayah Probolinggo dari keturunan Han Kik Ko.[1][5][7] Karena dililit masalah keuangan, Mayor Han Chan Piet lalu memutuskan untuk menjual kembali wilayah Besuki dan Panarukan.[1][2][3][5][6]

Dampak

Pasca menjual wilayah Besuki dan Panarukan, Mayor Han Chan Piet kembali ke Karesidenan Surabaya, di mana ia memiliki dan menyewakan sejumlah aset, termasuk sekitar 30 pasar dan sebuah kebun di Semimi.[1][2] Ia kemudian juga membeli kebun di Manukan dan Petunjungan di pinggiran Surabaya.[1][2] Setelah ia meninggal pada tahun 1827, anaknya menggantikannya sebagai Kapitan dan Letnan Cina Surabaya, serta mewarisi aset-asetnya.[1][2][3][6]

Hubungan keluarga Han dari Lasem dengan wilayah Besuki dan Panarukan tetap dipertahankan oleh cabang Muslim dari keluarga tersebut, yang diturunkan dari sepupunya, Adipati Soero Adinegoro dan Raden Soero Adiwikromo.[1][3][10] Keturunan mereka tetap menjadi pejabat pemerintah di Tapal Kuda, terutama di Besuki.[1][3][5][10]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Salmon, Claudine (1991). "The Han Family of East Java. Entrepreneurship and Politics (18th-19th Centuries)". Archipel. 41 (1): 53–87. doi:10.3406/arch.1991.2711. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-06. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Salmon, Claudine (1997). "La communauté chinoise de Surabaya. Essai d'histoire, des origines à la crise de 1930". Archipel. 53 (1): 121–206. doi:10.3406/arch.1997.3396. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-10. Diakses tanggal 2017-08-31.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Han, Bing SIong (2001). "A Short Note on a Few Uncertain Links in the Han Lineage". Archipel. 62 (1): 43–52. doi:10.3406/arch.2001.3660. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-06. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Kwee, Hui Kian (2006). The Political Economy of Java's Northeast Coast, C. 1740-1800: Elite Synergy. Leiden: Brill. hlm. 282. ISBN 9004150900. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-24. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Margana, Sri (2007). Java's last frontier : the struggle for hegemony of Blambangan, c. 1763-1813. Leiden: TANAP. hlm. 210–236. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-08-31. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 4 5 6 Setyautama, Sam (2008). Tokoh-tokoh etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 80. ISBN 978-9799101259. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-24. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 3 4 5 6 7 8 Hannigan, Tim (2012). Raffles and the British Invasion of Java. Singapore: Monsoon Books. ISBN 978-9814358866. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-27. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. 1 2 3 4 5 6 7 Dobbin, Christine (2013). Asian Entrepreneurial Minorities: Conjoint Communities in the Making of the World Economy, 1570-1940. London: Routledge. hlm. 57–58. ISBN 978-1136786938. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-24. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 Blussé, Leonard; Chen, Menghong (2003). The Archives of the Kong Koan of Batavia. Leiden: Brill. hlm. 1–29. ISBN 9004131574. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-24. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 3 4 Zhuang, Wubin (2001). Chinese Muslims in Indonesia (Edisi 1st). Singapore: Select Publishing. ISBN 981402273X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-24. Diakses tanggal 23 Februari 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Mayor Han Bwee Kong
Mayor Cina Surabaya
awal tahun 1778–1827
Diteruskan oleh:
Tidak diketahui
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan