
Minyak sawit adalah minyak nabati yang dapat dimakan yang berasal dari mesokarp (daging buah) berwarna kemerahan dari buah kelapa sawit Afrika.[1] Minyak ini digunakan dalam pembuatan makanan, produk kecantikan, dan sebagai bahan bakar nabati. Minyak sawit menyumbang sekitar 36% dari minyak global yang dihasilkan dari tanaman penghasil minyak pada tahun 2017.[2] Minyak sawit lebih mudah distabilkan dan mempertahankan kualitas rasa serta konsistensi dalam makanan ultraolahan, sehingga sering disukai oleh produsen makanan.[3] Secara global, manusia mengonsumsi rata-rata 77 kg (170 pon) minyak sawit per orang pada tahun 2015.[4] Permintaan juga meningkat untuk penggunaan lainnya, seperti kosmetik dan bahan bakar nabati, sehingga mendorong pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di negara-negara tropis.
Produksi minyak sawit secara massal di wilayah tropis menjadi perhatian besar bagi kelompok lingkungan hidup dan hak asasi manusia. Industri kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang signifikan terhadap deforestasi di wilayah tropis tempat kelapa sawit dibudidayakan dan telah disebut sebagai salah satu faktor dalam berbagai masalah sosial akibat dugaan pelanggaran hak asasi manusia di kalangan penggarap.[5]
Pada tahun 2018, sebuah laporan oleh International Union for Conservation of Nature mengakui bahwa minyak sawit jauh lebih efisien dibandingkan minyak lainnya dalam hal penggunaan lahan dan air; namun, deforestasi menyebabkan kehilangan keanekaragaman hayati yang lebih besar daripada jika beralih ke minyak lainnya.[6] Produsen minyak sawit terbesar di dunia adalah Indonesia, yang menghasilkan 60% produksi minyak sawit dunia pada tahun 2022,[7] diikuti oleh Malaysia, Thailand, dan Nigeria. Indonesia memproduksi biodiesel terutama dari minyak sawit.[8]
Sejarah
Manusia telah menggunakan kelapa sawit sejak sekitar 5.000 tahun yang lalu. Pada akhir abad ke-19, para arkeolog menemukan suatu zat yang mereka simpulkan pada awalnya merupakan minyak sawit di sebuah makam di Abydos, yang berasal dari tahun 3.000 SM.[9]
Minyak sawit dari Elaeis guineensis telah lama dikenal di negara-negara Afrika Barat dan Afrika Tengah dan digunakan secara luas sebagai minyak goreng. Pedagang Eropa yang berdagang dengan Afrika Barat terkadang membeli minyak sawit untuk digunakan sebagai minyak goreng di Eropa.
Minyak sawit menjadi komoditas yang sangat diminati oleh pedagang Inggris untuk digunakan sebagai pelumas industri bagi mesin selama Revolusi Industri Inggris.[10] Minyak sawit menjadi bahan dasar produk sabun, seperti sabun "Sunlight" milik Lever Brothers (sekarang Unilever), serta merek Palmolive dari Amerika.[11]
Sekitar tahun 1870, minyak sawit merupakan ekspor utama beberapa negara Afrika Barat, yang sering kali disertai praktik kerja yang menindas, sebagaimana disoroti dalam kisah kehidupan Abina Mansah (dan, menurut kelompok hak asasi manusia, hal tersebut masih terjadi).[12] Namun, komoditas ini kemudian dikalahkan oleh kakao pada tahun 1880-an setelah diperkenalkannya perkebunan kakao kolonial Eropa.[13][14]
- Kelapa sawit (Elaeis guineensis)
- Poster era Perang Dunia II yang menggambarkan pemanenan inti sawit dan produksi minyak sawit sebagai bagian penting dari upaya perang
Penggunaan

Makanan
Sifat minyak sawit yang sangat jenuh membuatnya berbentuk padat pada suhu kamar di wilayah beriklim sedang, sehingga menjadi pengganti murah untuk mentega atau minyak nabati terhidrogenasi dalam penggunaan yang membutuhkan lemak padat, seperti pembuatan adonan pastry dan makanan panggang. Minyak sawit digunakan dalam masakan Afrika Barat seperti sup egusi dan sup okra.[15] Minyak sawit terkadang digunakan sebagai bahan minor dalam pengganti susu anak sapi.[16][17]
Produk konsumen nonpangan
Minyak sawit digunakan secara luas dalam produk perawatan pribadi dan produk pembersih, serta menyediakan bahan pembusa dalam hampir setiap sabun, sampo, atau deterjen. Sekitar 70% produk perawatan pribadi, termasuk sabun, sampo, riasan, dan losion, mengandung bahan yang berasal dari minyak sawit. Namun, terdapat lebih dari 200 nama berbeda untuk bahan-bahan yang berasal dari minyak sawit tersebut dan hanya 10% di antaranya yang menyertakan kata "palm".[18]
Biomassa dan bahan bakar nabati
Minyak sawit digunakan untuk memproduksi metil ester dan biodiesel terdeoksigenasi-hidro.[19] Metil ester minyak sawit dibuat melalui proses yang disebut transesterifikasi. Biodiesel minyak sawit sering dicampur dengan bahan bakar lain untuk menghasilkan campuran biodiesel minyak sawit.[20] Biodiesel minyak sawit memenuhi standar Eropa EN 14214 untuk biodiesel.[19] Biodiesel terdeoksigenasi-hidro diproduksi melalui hidrogenolisis langsung lemak menjadi alkana dan propana. Pabrik biodiesel minyak sawit terbesar di dunia adalah pabrik biodiesel Neste Oil yang dioperasikan Finlandia di Singapura, yang dibuka pada tahun 2011 dengan kapasitas 800.000 ton per tahun dan memproduksi biodiesel NEXBTL terdeoksigenasi-hidro dari minyak sawit yang diimpor dari Malaysia dan Indonesia.[21][22]
Sejumlah besar ekspor minyak sawit ke Eropa diubah menjadi biodiesel (pada awal 2018: Indonesia 40%, Malaysia 30%).[23][24] Pada tahun 2014, hampir separuh dari seluruh minyak sawit di Eropa dibakar sebagai bahan bakar mobil dan truk.[25] Pada 2018, separuh dari impor minyak sawit Eropa digunakan untuk biodiesel.[26] Penggunaan minyak sawit sebagai biodiesel menghasilkan emisi karbon tiga kali lebih besar dibandingkan penggunaan bahan bakar fosil,[27] dan, misalnya, "biodiesel yang dibuat dari minyak sawit Indonesia memperburuk masalah karbon global, bukan memperbaikinya".[28]
Terdapat tekanan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit akibat program biodiesel berbasis kelapa sawit di Indonesia. Biodiesel saat ini mengandung rasio 30:70 minyak sawit terhadap solar konvensional (dikenal sebagai B30) di stasiun pengisian bahan bakar. Pemerintah Indonesia menargetkan produksi biodiesel berbasis 100% minyak sawit (atau B100) untuk beralih dari penggunaan solar konvensional. Pemerintah Indonesia memperkirakan perlu membangun sekitar 15 juta hektare perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi permintaan di masa mendatang tersebut.[29]
Bahan organik limbah yang dihasilkan ketika mengolah kelapa sawit, termasuk cangkang sawit dan tandan buah sawit, juga dapat digunakan untuk menghasilkan energi. Bahan limbah ini dapat diubah menjadi pelet yang dapat digunakan sebagai bahan bakar nabati.[30] Selain itu, minyak sawit yang telah digunakan untuk menggoreng makanan dapat diubah menjadi metil ester untuk biodiesel. Minyak goreng bekas tersebut diproses secara kimia untuk menghasilkan biodiesel yang serupa dengan solar berbasis minyak bumi.[31]
Perawatan luka
Meskipun minyak sawit dioleskan pada luka karena dianggap memiliki efek antimikroba, penelitian tidak mengonfirmasi efektivitasnya.[32]


Dampak sosial dan lingkungan
Hutan telah dibuka di beberapa bagian Indonesia dan Malaysia untuk menyediakan ruang bagi monokultur kelapa sawit.[33] Hal ini memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem lokal, yang menyebabkan deforestasi dan hilangnya keanekaragaman hayati. Sebagai contoh, proses tersebut telah mengakibatkan hilangnya kawasan habitat alami yang signifikan bagi tiga spesies orangutan yang masih bertahan hidup. Salah satu spesies tersebut, orangutan Sumatra, telah terdaftar sebagai kritis terancam punah akibat hilangnya habitat karena budidaya kelapa sawit.[34][35]
Sosial

Selain kekhawatiran lingkungan, pengembangan kelapa sawit di wilayah-wilayah tertentu yang memproduksinya juga telah menimbulkan konflik sosial yang signifikan. Jurnalis dan peneliti LSM menemukan bahwa wilayah dengan pertumbuhan produksi minyak sawit yang cepat mengalami pelanggaran signifikan terhadap hak atas tanah suku adat, perdagangan manusia, pelecehan seksual, serta pelanggaran hak asasi manusia terkait lainnya.[36][37][38]
Industri kelapa sawit memiliki dampak positif maupun negatif terhadap pekerja, masyarakat adat, dan penduduk komunitas penghasil minyak sawit. Produksi minyak sawit menyediakan lapangan kerja dan terbukti meningkatkan infrastruktur, layanan sosial, serta membantu mengurangi kemiskinan.[39][40][41] Namun, dalam beberapa kasus, perkebunan kelapa sawit dikembangkan di atas lahan tanpa konsultasi atau kompensasi kepada masyarakat adat yang menghuni lahan tersebut, sehingga menimbulkan konflik sosial.[42][43][44] Penggunaan imigran ilegal di Malaysia juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi kerja dalam industri kelapa sawit.[45][46][47]
Beberapa inisiatif sosial menggunakan budidaya kelapa sawit sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan. Contohnya termasuk proyek kelapa sawit hibrida Organisasi Pangan dan Pertanian PBB di Kenya Barat, yang meningkatkan pendapatan dan pola makan penduduk setempat, serta Federal Land Development Authority dan Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority di Malaysia, yang keduanya mendukung pembangunan pedesaan.[48]
Pangan versus bahan bakar
Penggunaan minyak sawit dalam produksi biodiesel menimbulkan kekhawatiran bahwa kebutuhan bahan bakar ditempatkan di atas kebutuhan pangan, sehingga menyebabkan malnutrisi di negara-negara berkembang. Hal ini dikenal sebagai perdebatan pangan versus bahan bakar. Menurut laporan tahun 2008 yang diterbitkan dalam Renewable and Sustainable Energy Reviews, minyak sawit ditentukan sebagai sumber yang berkelanjutan untuk pangan sekaligus bahan bakar nabati, dan produksi biodiesel minyak sawit tidak mengancam pasokan minyak sawit yang dapat dimakan.[49] Menurut penelitian tahun 2009 yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Policy, biodiesel minyak sawit dapat meningkatkan permintaan minyak sawit pada masa mendatang, yang mengakibatkan perluasan produksi minyak sawit dan dengan demikian meningkatkan pasokan pangan.[50]
Pelanggaran hak asasi manusia
Sebuah laporan menunjukkan berbagai dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, termasuk paparan pestisida berbahaya, pekerja anak, pemerkosaan dan pelecehan seksual, membawa beban secara tidak aman, serta berbagai pelanggaran hak asasi manusia lainnya. Insiden-insiden tersebut mungkin tidak mendapat tanggapan dari perusahaan, kepolisian, atau kelompok penegak hukum lainnya, atau tidak dilaporkan karena korban takut mendapat pembalasan dari pelaku. Pestisida yang digunakan oleh perkebunan kelapa sawit mencakup paraquat, yang telah dilarang di Eropa karena kaitannya dengan penyakit Parkinson, dan glyphosate, yang telah menjadi objek gugatan kelompok di Amerika Serikat terkait kanker[51] (Badan Kimia Eropa (ECHA) mengklasifikasikan glifosat sebagai penyebab kerusakan mata serius, tetapi tidak menemukan bukti yang mengaitkannya sebagai karsinogen).[52]
Laporan dari masyarakat adat dan komunitas di Indonesia menunjukkan adanya kehilangan lahan pertanian dan lahan yang memiliki arti penting secara tradisional akibat perluasan industri kelapa sawit. Pada tahun 2017, terdapat lebih dari 650 sengketa lahan antara perkebunan kelapa sawit dan pemilik lahan adat.[53] Masyarakat adat juga menyatakan kekhawatiran atas hilangnya sumber daya alam seperti karet liar, alang-alang, dan hutan adat (hutan komunal).[53] Masyarakat adat telah mencapai sejumlah kemajuan dalam sengketa lahan, baik melalui aksi protes maupun jalur hukum.[53][54]
Kekhawatiran lain terkait dampak terhadap masyarakat adat meliputi kurangnya pengawasan pemerintah terhadap perkebunan kelapa sawit, korupsi politik, atau kurangnya penegakan hukum yang dimaksudkan untuk melindungi tanah masyarakat adat.[55] Di negara-negara seperti Guatemala, perkebunan kelapa sawit memiliki pengaruh besar dalam sistem peradilan setempat, sehingga kepolisian setempat mengabaikan klaim tanah, bahkan menggunakan kekerasan untuk membubarkan aksi protes dan membunuh pemimpin masyarakat.[56]
Lingkungan
Meskipun hanya 5% lahan pertanian minyak nabati dunia digunakan untuk perkebunan kelapa sawit, budidaya kelapa sawit menghasilkan 38% dari total pasokan minyak nabati dunia.[57] Dalam hal hasil minyak, perkebunan kelapa sawit 10 kali lebih produktif dibandingkan budidaya kedelai, bunga matahari, atau kanola, karena buah sawit dan inti sawit sama-sama menghasilkan minyak yang dapat digunakan.[57] Minyak sawit mendapat kritik dari kelompok pemerhati lingkungan karena pentingnya lingkungan tempat kelapa sawit dibudidayakan. Namun, minyak sawit tidak terbantahkan lebih efisien dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya. Pada tahun 2016, ditemukan bahwa perkebunan kelapa sawit menghasilkan sekitar 4,17 metrik ton minyak per hektare. Sebaliknya, minyak lainnya, seperti bunga matahari, kedelai, atau kacang tanah, masing-masing hanya menghasilkan 0,56, 0,39, dan 0,16 metrik ton per hektare.[58] Minyak sawit merupakan minyak nabati paling berkelanjutan dalam hal hasil produksi, karena membutuhkan sepersembilan lahan yang digunakan tanaman penghasil minyak nabati lainnya.[59] Pada masa depan, mikroba yang dibudidayakan di laboratorium seperti torula oil mungkin dapat mencapai hasil yang lebih tinggi per satuan luas dengan harga yang sebanding.[60][61]
Namun, budidaya kelapa sawit telah dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan alam,[62][63] termasuk deforestasi, hilangnya habitat alami,[64] dan emisi gas rumah kaca[65][66] yang telah mengancam spesies yang sangat terancam punah, seperti orangutan[67] dan harimau Sumatra.[68] Teknik tebang dan bakar masih digunakan untuk membuat perkebunan baru di berbagai negara penghasil minyak sawit. Dari Januari hingga September 2019, 857.000 hektare lahan terbakar di Indonesia; lahan gambut mencakup lebih dari seperempat area yang terbakar tersebut.[69] Deforestasi yang meluas dan kerusakan lingkungan lainnya di Indonesia, yang sebagian besar disebabkan oleh produksi minyak sawit, sering digambarkan oleh akademisi sebagai ekosida.[70][71][72][73][74]
Selain itu, penelitian mengenai minyak sawit di Kamerun menunjukkan bahwa lahan yang ditempati perkebunan kelapa sawit dapat mengurangi kualitas ekosistem sebesar 30–45% dibandingkan dengan kondisi vegetasi alami yang berpotensi. Perubahan penggunaan lahan ini juga menciptakan utang karbon, yang membutuhkan waktu sekitar 45–53 tahun untuk mengimbangi pengurangan emisi gas rumah kaca.[75]

Kelompok lingkungan seperti Greenpeace dan Friends of the Earth menentang penggunaan bahan bakar nabati dari minyak sawit, dengan menyatakan bahwa deforestasi yang disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit lebih merusak iklim daripada manfaat yang diperoleh dari peralihan ke bahan bakar nabati dan penggunaan kelapa sawit sebagai penyerap karbon.[76]
Sebuah penelitian tahun 2018 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyimpulkan bahwa minyak sawit "akan tetap ada" karena produktivitasnya yang lebih tinggi dibandingkan banyak minyak nabati lainnya. IUCN mempertahankan bahwa mengganti minyak sawit dengan minyak nabati lainnya akan membutuhkan lahan pertanian yang lebih luas, sehingga berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati.[59][77] IUCN menganjurkan praktik yang lebih baik dalam industri minyak sawit, termasuk mencegah perluasan perkebunan ke kawasan hutan dan menciptakan permintaan terhadap produk minyak sawit bersertifikat dan berkelanjutan.[77]
Pada tahun 2019, Rainforest Action Network melakukan survei terhadap delapan merek global yang terlibat dalam ekstraksi minyak sawit di Ekosistem Leuser, dan menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang memiliki kinerja memadai dalam menghindari "minyak sawit konflik".[78] Banyak perusahaan mengatakan kepada The Guardian bahwa mereka sedang berupaya meningkatkan kinerja mereka.[79] Kartu penilaian WWF menilai hanya 15 dari 173 perusahaan yang memiliki kinerja baik.[80]
Pada tahun 2020, sebuah penelitian oleh Chain Reaction Research menyimpulkan bahwa kebijakan NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation; Tanpa Deforestasi, Tanpa Gambut, Tanpa Eksploitasi) mencakup 83% kilang minyak sawit. Menurut Chain Reaction Research, kebijakan NDPE merupakan mekanisme swasta yang paling efektif untuk memutus hubungan langsung dengan deforestasi, karena kilang memiliki pengaruh ekonomi terhadap para penghasil minyak sawit.[81]
Minyak sawit merupakan salah satu dari tujuh komoditas yang tercakup dalam Peraturan Uni Eropa tentang Produk Bebas Deforestasi (EUDR) tahun 2023, yang bertujuan memastikan bahwa produk yang dikonsumsi warga Uni Eropa (UE) tidak berkontribusi terhadap deforestasi atau degradasi hutan di seluruh dunia.[82]
Perbandingan dampak lingkungan dengan bahan bakar fosil
Dibandingkan dengan bahan bakar fosil, sistem minyak sawit memiliki konsumsi energi tak terbarukan, potensi pemanasan global (GWP, tidak termasuk perubahan penggunaan lahan), dan potensi pengasaman yang lebih rendah daripada alternatif bahan bakar fosil. Sebagai bahan bakar nabati, minyak sawit meningkatkan potensi eutrofikasi.[75]
Produksi
Pada 2023–2024, produksi minyak sawit dunia mencapai 77,3 juta ton yang dipimpin oleh Indonesia dengan 57% dari total produksi.[83] Produksi minyak sawit tahunan diproyeksikan mencapai 240 juta ton pada tahun 2050.[84] Selama krisis pangan 2022 yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina dan gagal panen di berbagai wilayah dunia akibat cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim yang menyebabkan inflasi pangan, pemerintah Indonesia melarang ekspor minyak sawit.[85] Kebijakan tersebut, ditambah dengan berkurangnya hasil panen di Malaysia, menyebabkan harga global meningkat tajam, sementara berkurangnya ketersediaan menyebabkan efek berantai pada rantai pasok global.[85] Pada 23 Mei 2022, pemerintah Indonesia kembali membuka perdagangan dengan harapan dapat menyeimbangkan pasokan.[86]


Indonesia

Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia, dengan produksi 44 juta ton pada 2023–2024.[83]
Malaysia


Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, dengan produksi 19,7 juta ton pada 2023–2024.[83]
Pada 1992, sebagai tanggapan terhadap kekhawatiran mengenai penggundulan hutan, Pemerintah Malaysia berjanji membatasi perluasan perkebunan kelapa sawit dengan mempertahankan sedikitnya separuh wilayah negara tersebut sebagai tutupan hutan.[87][88]
Nigeria
Pada 2023–2024, Nigeria merupakan produsen terbesar kelima, dengan produksi 1,5 juta ton.[83] Produsen skala kecil maupun besar berpartisipasi dalam industri ini.[89][90] Di sebagian besar wilayah Delta Niger, minyak sawit umumnya disebut sebagai "minyak merah" (atau emas merah) untuk membedakannya dari "minyak hitam" (minyak mentah) yang mendominasi produksi.[91]
Thailand
Thailand merupakan produsen minyak sawit mentah terbesar ketiga di dunia, dengan produksi 3,6 juta ton pada 2023–2024.[83] Hampir seluruh produksi Thailand dikonsumsi di dalam negeri. Sekitar 85% perkebunan kelapa sawit dan pabrik ekstraksi berada di Thailand bagian selatan. Pada akhir 2016, sebanyak 4,7 hingga 5,8 juta rai (750,000 hingga 930,000 hektare (1.853,29 hingga 2.298,08 ekar)*) ditanami kelapa sawit, mempekerjakan 300.000 petani, yang sebagian besar mengelola lahan kecil seluas 20 rai (32 hektare (79 ekar)*). ASEAN sebagai kawasan menyumbang 525 juta ton metrik (579 juta ton pendek) produksi minyak sawit, sekitar 85% dari total produksi dunia dan lebih dari 90% ekspor global. Indonesia menyumbang 52% ekspor dunia. Ekspor Malaysia mencapai 38%. Konsumen minyak sawit terbesar adalah India, Uni Eropa, dan Tiongkok, dengan ketiganya mengonsumsi hampir 50% ekspor dunia. Departemen Perdagangan Dalam Negeri Thailand (DIT) biasanya menetapkan harga minyak sawit mentah dan minyak sawit olahan. Petani kelapa sawit Thailand memiliki hasil panen yang relatif rendah dibandingkan petani di Malaysia dan Indonesia. Tanaman kelapa sawit Thailand menghasilkan minyak sebesar 4–17%, dibandingkan sekitar 20% di negara-negara pesaing. Selain itu, perkebunan kelapa sawit Indonesia dan Malaysia berukuran 10 kali lebih besar daripada perkebunan Thailand.[92]
Benin
Kelapa sawit merupakan tanaman asli lahan basah Afrika barat, dan wilayah selatan Benin memiliki banyak perkebunan kelapa sawit. Programnya yang bernama Agricultural Revival Programme telah mengidentifikasi ribuan hektare lahan yang sesuai untuk perkebunan kelapa sawit ekspor baru. Organisasi nonpemerintah (LSM), seperti Nature Tropicale, menyatakan bahwa biofuel akan bersaing dengan produksi pangan domestik di sejumlah lahan pertanian utama yang ada. Wilayah lainnya terdiri atas lahan gambut, yang pengeringannya akan menimbulkan dampak lingkungan yang merugikan. Ada pula kekhawatiran bahwa tanaman hasil rekayasa genetika akan diperkenalkan ke wilayah tersebut, sehingga membahayakan harga premium yang saat ini dibayarkan untuk tanaman non-GM mereka.[93][94]
Menurut artikel terbaru dari National Geographic, sebagian besar minyak sawit di Benin masih diproduksi oleh perempuan untuk penggunaan domestik.[95] FAO juga menyatakan bahwa petani di Benin menerapkan agroekologi.[96] Mereka memanen buah kelapa sawit dari pertanian kecil dan minyak sawit tersebut sebagian besar digunakan untuk konsumsi lokal.
Kamerun
Kamerun memiliki proyek produksi yang diprakarsai oleh Herakles Farms dari Amerika Serikat.[97] Namun, proyek tersebut dihentikan akibat tekanan dari organisasi masyarakat sipil di Kamerun. Sebelum proyek dihentikan, Herakles meninggalkan Roundtable on Sustainable Palm Oil pada tahap awal perundingan.[98] Proyek tersebut kontroversial karena adanya penolakan dari penduduk desa dan lokasi proyek yang berada di wilayah yang sensitif bagi keanekaragaman hayati.
Kolombia
Pada 2018, total produksi minyak sawit di Kolombia mencapai 16 juta ton metrik (18 juta ton pendek), atau sekitar 8% dari PDB pertanian nasional dan terutama menguntungkan petani kecil (65% sektor minyak sawit Kolombia).[99][100] Menurut sebuah studi dari Environmental Science and Policy, Kolombia memiliki potensi untuk menghasilkan minyak sawit berkelanjutan tanpa menyebabkan penggundulan hutan.[101] Selain itu, minyak sawit dan tanaman lainnya menyediakan alternatif produktif bagi tanaman ilegal, seperti koka.[102]
Ekuador
Ekuador bertujuan membantu produsen minyak sawit beralih ke metode berkelanjutan dan memperoleh sertifikasi RSPO melalui berbagai inisiatif untuk mengembangkan industri yang lebih ramah lingkungan.[103]
Ghana
Ghana memiliki banyak spesies palem penghasil biji, yang dapat menjadi kontributor penting bagi pertanian di kawasan tersebut. Meskipun Ghana memiliki berbagai spesies palem, mulai dari palem lokal hingga spesies lain yang secara lokal disebut agric, produk tersebut sebelumnya hanya dipasarkan secara lokal dan ke negara-negara tetangga. Produksi kini berkembang karena dana investasi besar membeli perkebunan, mengingat Ghana dianggap sebagai wilayah utama untuk pertumbuhan minyak sawit.
Kenya
Produksi minyak nabati domestik Kenya memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan tahunannya, yang diperkirakan sebesar 380,000 ton metrik (418,878 ton pendek). Sisanya diimpor dengan biaya sekitar US$140 juta per tahun, sehingga minyak nabati menjadi komoditas impor terpenting kedua negara tersebut setelah minyak bumi. Sejak 1993, varietas hibrida baru kelapa sawit yang tahan terhadap suhu dingin dan memiliki hasil tinggi telah dipromosikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kenya bagian barat. Selain mengurangi defisit minyak nabati negara tersebut sekaligus menyediakan tanaman komersial penting, varietas ini diklaim memiliki manfaat lingkungan di kawasan tersebut karena tidak bersaing dengan tanaman pangan atau vegetasi asli serta memberikan stabilisasi pada tanah.[butuh rujukan]
Myanmar
Minyak sawit diperkenalkan ke Burma Britania (sekarang Myanmar) pada 1920-an.[104] Mulai tahun 1970-an, perkebunan kelapa sawit skala kecil dikembangkan di Wilayah Tanintharyi, serta Mon, Kayin, dan Negara Bagian Rakhine.[104] Pada 1999, junta militer yang berkuasa, Dewan Negara Perdamaian dan Pembangunan, memprakarsai pengembangan perkebunan tersebut dalam skala besar, terutama di Tanintharyi, wilayah paling selatan Myanmar.[104] Pada 2019, lebih dari 401.814 ha konsesi kelapa sawit telah diberikan kepada 44 perusahaan.[104] Sebanyak 60% konsesi yang diberikan terdiri atas hutan dan vegetasi asli, dan sejumlah konsesi bertumpang tindih dengan taman nasional, termasuk Tanintharyi dan Taman Nasional Lenya, yang mengalami penggundulan hutan dan mengancam upaya konservasi spesies endemik seperti harimau Indocina.[104][105]
Pasar

Menurut jurnal perdagangan Oil World yang berbasis di Hamburg,[106] pada 2008 produksi minyak dan lemak global mencapai 160 juta ton. Minyak sawit dan minyak inti sawit secara bersama-sama merupakan kontributor terbesar, mencapai 48 juta ton atau 30% dari total produksi. Minyak kedelai berada di urutan kedua dengan 37 juta ton (23%). Sekitar 38% minyak dan lemak yang diproduksi di dunia dikirim melalui jalur laut. Dari 60 juta ton minyak dan lemak yang diekspor ke seluruh dunia, minyak sawit dan minyak inti sawit mencakup hampir 60%; Malaysia, dengan pangsa pasar 45%, mendominasi perdagangan minyak sawit. Produksi minyak sawit yang memenuhi standar keberlanjutan sukarela meningkat lebih cepat daripada produksi konvensional. Produksi yang memenuhi standar meningkat 110% dari 2008 hingga 2016, sedangkan produksi konvensional meningkat 2%.[107] Produksi minyak nabati secara keseluruhan meningkat 125% antara 2000 dan 2020, didorong oleh peningkatan tajam produksi minyak sawit.[108]
Peraturan label pangan
Sebelumnya, minyak sawit dapat dicantumkan sebagai "lemak nabati" atau "minyak nabati" pada label pangan di Uni Eropa (UE). Sejak Desember 2014, kemasan pangan di UE tidak lagi diperbolehkan menggunakan istilah umum "lemak nabati" atau "minyak nabati" dalam daftar bahan. Produsen pangan diwajibkan mencantumkan jenis lemak nabati yang digunakan secara spesifik, termasuk minyak sawit. Minyak dan lemak nabati dapat dikelompokkan bersama dalam daftar bahan dengan istilah "minyak nabati" atau "lemak nabati", tetapi harus diikuti oleh jenis sumber nabatinya (misalnya sawit, bunga matahari, atau rapa) dan frasa "dalam proporsi yang bervariasi".[109]
Di Malaysia, pelabelan produk dengan cara yang mendiskriminasi minyak sawit merupakan tindakan ilegal. Pelanggar dapat didenda hingga RM250.000 atau dipenjara hingga lima tahun. Sebuah toko serba ada pernah digerebek karena menjual es krim bertuliskan "tanpa minyak sawit", dan seluruh produknya disita.[110]
Lembaga rantai pasok
Consumer Goods Forum
Pada 2010, Consumer Goods Forum mengesahkan resolusi bahwa para anggotanya akan mengurangi penggundulan hutan hingga mencapai nol bersih pada 2020. Mereka berencana melakukannya melalui produksi berkelanjutan berbagai komoditas, termasuk minyak sawit.[111] Hingga 2023, target tersebut belum tercapai.[112]

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)
Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) adalah asosiasi yang terdiri dari berbagai organisasi dari berbagai sektor industri kelapa sawit (perkebunan, pemrosesan, distributor, industri manufaktur, investor, akademisi, dan LSM bidang lingkungan) yang bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk produksi minyak sawit berkelanjutan.[113][114] Tiga sasaran utama RSPO dalam mengembangkan industri sawit berkelanjutan, yaitu: masyarakat yang sejahtera, mata pencaharian yang berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan, serta perlindungan pada lingkungan.[115] RSPO didirikan tahun 2004 dengan kursi asosiasi berada di Zurich, Swiss, dan kesekretariatan berada di Kuala Lumpur, Malaysia dan kantor cabang di Jakarta. Organisasi ini diklaim telah memiliki 1000 anggota di lebih dari 50 negara.[116]RSPO juga merupakan salah satu anggota UN Global Compact.[115]
RSPO terinspirasi dari ide meja bundar pada legenda Arthurian di mana semua pelaku meja bundar yang sebagian besar para Ksatria dan Raja Arthur memiliki hak yang sama dalam forum tersebut. Meski demikian, tidak semua anggota memiliki hak voting di dalam RSPO, karena hanya produsen dan distributor besar saja yang memiliki hak voting. Anggota di luar produsen dan distributor, seperti akademisi, LSM lingkungan, dan anggota masyarakat tidak memiliki hak voting.[117][118]
Organisasi ini melakukan pertemuan tahunan yang menyertakan berbagai pemegang kepentingan (stakeholder) untuk bernegosiasi pada berbagai isu yang memengaruhi industri minyak sawit.[119]
Mengacu pada standar internasional ILO, RSPO dengan tegas menyatakan bahwa semua pekerja di sektor sawit harus bekerja tanpa paksaan atau ancaman dan berhak mengakhiri hubungan kerja tanpa hukuman dan dilakukan secara wajar dan sesuai kesepakatan. Beberapa praktik yang dilarang RSPO antara lain:
- Mehanan dokumen identitas atau paspor;
- Membebankan biaya perekrutan kepada pekerja;
- Mengubah kontrak secara sepihak;
- Membuat pekerja lembur secara tidak sengaja;
- Membuat pekerja kehilangan kebebasan untuk mengundurkan diri;
- Memberi sanksi kepada pekerja yang mengundurkan diri;
- Memberi jeratan utang;
- Menahan upah.[115]
Pengolahan


Minyak sawit secara alami berwarna kemerahan karena kandungan beta-karoten yang tinggi. Minyak ini tidak boleh disamakan dengan minyak inti sawit yang berasal dari biji buah yang sama[120] atau minyak kelapa yang berasal dari inti kelapa Cocos nucifera. Perbedaannya terletak pada warna (minyak inti sawit mentah tidak memiliki karotenoid dan tidak berwarna merah), serta kandungan lemak jenuh; minyak mesokarp sawit mengandung 49% lemak jenuh, sedangkan minyak inti sawit dan minyak kelapa masing-masing mengandung 81% dan 86% lemak jenuh. Namun, minyak sawit merah mentah yang telah dimurnikan, dinetralkan, diputihkan, dan dihilangkan baunya, yang merupakan komoditas umum yang disebut RBD (refined, bleached, and deodorized), tidak mengandung karotenoid.[121] Banyak aplikasi industri minyak sawit dalam makanan menggunakan komponen minyak sawit yang telah difraksinasi (sering dicantumkan sebagai "minyak sawit termodifikasi") yang tingkat kejenuhannya dapat mencapai 90%;[122] minyak sawit "termodifikasi" ini dapat menjadi sangat jenuh, tetapi tidak selalu melalui hidrogenasi.
Kelapa sawit menghasilkan tandan yang mengandung banyak buah dengan mesokarp berdaging yang membungkus inti yang dilapisi cangkang sangat keras. FAO menganggap minyak sawit (yang berasal dari daging buah) dan inti sawit sebagai produk utama. Tingkat ekstraksi minyak dari satu tandan berkisar antara 17 hingga 27% untuk minyak sawit dan 4 hingga 10% untuk inti sawit.[123]
Bersama dengan minyak kelapa, minyak sawit merupakan salah satu dari sedikit lemak nabati yang sangat jenuh dan berbentuk semipadat pada suhu kamar.[124] Minyak sawit merupakan bahan masakan umum di wilayah tropis Afrika, Asia Tenggara, dan sebagian Brasil. Penggunaannya dalam industri makanan komersial di wilayah lain dunia juga luas karena harganya yang lebih rendah[125] dan stabilitas oksidatif yang tinggi (kejenuhan) dari produk yang telah dimurnikan ketika digunakan untuk menggoreng.[126][127] Salah satu sumber melaporkan bahwa manusia mengonsumsi rata-rata 17 pon (7,7 kg) minyak sawit per orang pada 2015.[4]
Ekstraksi

Secara tradisional, dan hingga kini dalam skala industri, minyak sawit diproduksi dengan penggilingan buah kelapa sawit.[128]
Selain melalui penggilingan, minyak sawit juga diproduksi dengan pengepresan dingin buah kelapa sawit sejak 1990-an. Minyak sawit artisanal jenis ini biasanya tidak dimurnikan lebih lanjut sehingga mempertahankan warna merah alaminya. Minyak ini dikemas dalam botol untuk digunakan sebagai minyak goreng, selain kegunaan lainnya seperti dicampurkan ke dalam mayones dan minyak nabati.[121]
Hasil penggilingan atau pengepresan dingin berupa campuran air, minyak sawit mentah, dan serat dari buah kelapa sawit. Diperlukan tingkat pengolahan minimum untuk memperoleh minyaknya. Campuran tersebut pertama-tama dilewatkan melalui penyaring untuk menghilangkan padatan, kemudian dipisahkan berdasarkan densitas untuk menghilangkan air. Perlakuan berdasarkan densitas juga dapat berfungsi sebagai bentuk dasar penghilangan getah, asalkan buah dikukus sebelum digiling untuk menghidrolisis getah, dengan konsekuensi hilangnya sebagian trigliserida akibat hidrolisis.[128]
Hasil pengolahan dasar disebut "minyak sawit mentah"[128] atau "minyak sawit merah", yang mengacu pada warnanya yang pekat akibat kandungan karotenoid yang tinggi.[129] Minyak sawit merah merupakan minyak goreng tradisional di Afrika Barat. Asam lemak bebas di dalamnya memberikan rasa yang khas.[128] Bagian trigliseridanya terdiri atas sekitar 50% lemak jenuh—jauh lebih rendah daripada minyak inti sawit—serta 40% lemak tak jenuh tunggal dan 10% lemak tak jenuh ganda. Minyak ini merupakan sumber vitamin A dan vitamin E.[129]
Pemurnian

Minyak sawit mentah dapat dimurnikan untuk menghilangkan komponen non-trigliseridanya.
- Pemucatan menghilangkan warna dari minyak. Hal ini dilakukan dengan menambahkan bahan penyerap berupa tanah liat yang disebut tanah pemucat dalam pencampur vakum.[130]
- Filter menghilangkan tanah liat dari minyak.[130]
- Minyak masuk ke dalam deodorizer, yang berfungsi menghilangkan asam lemak bebas (FFA) yang dihasilkan oleh hidrolisis. Salah satu jenis deodorizer bekerja dengan menyuling FFA pada berbagai suhu. FFA dikumpulkan sebagai "distilat asam lemak sawit" (PFAD).[130] PFAD sendiri merupakan produk bernilai yang digunakan dalam pembuatan sabun, bubuk pencuci, dan produk lainnya.
- Minyak akhir yang telah dimurnikan disebut "minyak sawit yang dimurnikan, diputihkan, dan dihilangkan baunya" (RBD PO; refined, bleached and deodorized palm oil). RBD PO merupakan minyak sawit dasar yang diperdagangkan di pasar komoditas dunia.
RBD PO juga dikenal sebagai minyak sawit putih. Minyak ini dapat difraksinasi lebih lanjut menggunakan perbedaan titik leleh komponennya. Bagian dengan titik leleh lebih tinggi, yang mengkristal menjadi padatan lebih awal, disebut stearin sawit. Bagian ini terutama terdiri atas lemak jenuh. Bagian cair yang tersisa disebut olein sawit.[131] Fraksinasi juga dapat dilakukan pada tahap pengolahan yang berbeda, bahkan pada minyak sawit mentah.[132]
RBD PO, atau "shortening sawit", digunakan secara luas dalam pembuatan makanan. Produk ini bernilai karena kandungan lemak tak jenuh gandanya yang rendah, sehingga memiliki stabilitas tinggi terhadap ketengikan dan dapat menggantikan lemak terhidrogenasi dalam berbagai produk panggang dan goreng.
Nutrisi, komposisi, dan kesehatan
Minyak sawit merupakan bahan pangan pokok dalam banyak masakan, yang menyumbangkan kalori dan lipid nabati dalam jumlah signifikan.[133][134][135] Di seluruh dunia, manusia mengonsumsi rata-rata 77 kg (170 pon) minyak sawit per orang pada 2015.[4] Meskipun hubungan antara konsumsi minyak sawit dan risiko penyakit sebelumnya telah dinilai, kualitas penelitian klinis yang secara khusus menilai dampak minyak sawit umumnya masih rendah.[136] Oleh karena itu, penelitian berfokus pada dampak merugikan konsumsi minyak sawit dan asam palmitat sebagai sumber kandungan lemak jenuh dalam minyak pangan, yang menghasilkan kesimpulan bahwa minyak sawit dan lemak jenuh sebaiknya digantikan dengan lemak tak jenuh ganda dalam pola makan.[137][138]
Sebuah meta-analisis tahun 2015 dan nasihat tahun 2017 dari American Heart Association menunjukkan bahwa minyak sawit termasuk makanan yang memasok lemak jenuh makanan yang meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, sehingga merekomendasikan pengurangan penggunaan atau penghilangan minyak sawit dari pola makan dan menggantinya dengan minyak nabati yang tidak dihidrogenasi.[137][139] National Health Service Britania Raya menerbitkan pedoman tahun 2023 yang merekomendasikan agar makanan yang mengandung minyak sawit diganti dengan makanan yang dibuat menggunakan lemak tak jenuh.[140]
Sebuah meta-analisis tahun 2019 tidak menemukan hubungan antara asupan total lemak, asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh tunggal, dan asam lemak tak jenuh ganda dengan risiko penyakit kardiovaskular.[141]
Ester asam lemak glisidil (GE), 3-MCPD dan 2-MCPD, ditemukan terutama dalam minyak sawit dan lemak sawit karena proses pemurniannya pada suhu tinggi (sekitar 200 °C (392 °F)).[142] Karena glisidol, senyawa induk GE, dianggap genotoksik dan karsinogenik, EFSA tidak menetapkan tingkat GE yang aman. Menurut ketua CONTAM (Panel Ahli EFSA tentang Kontaminan dalam Rantai Makanan), "Paparan GE pada bayi yang hanya mengonsumsi formula bayi merupakan perhatian khusus karena dapat mencapai sepuluh kali lipat dari tingkat yang dianggap memiliki kekhawatiran rendah bagi kesehatan masyarakat".[142] Asupan harian yang dapat ditoleransi (TDI) EFSA untuk 3-MCPD dan ester asam lemaknya ditetapkan sebesar 0,8 mikrogram per kilogram berat badan per hari (μg/kg bb/hari) pada 2016 dan dinaikkan menjadi 2 μg/kg bb/hari pada 2017, berdasarkan bukti yang mengaitkan zat tersebut dengan kerusakan organ pada pengujian terhadap hewan serta kemungkinan dampak buruk terhadap ginjal dan kesuburan pria.[142][143] Menurut EFSA, data yang tersedia belum cukup untuk menetapkan tingkat aman bagi 2-MCPD.[142] Pada Desember 2022, Malaysian Palm Oil Board menerbitkan perubahan terhadap persyaratan perizinan minyak sawit untuk memasukkan batas maksimum masing-masing sebesar 1,25 ppm dan 1 ppm untuk kandungan 3-MCPDE dan GE dalam minyak sawit olahan.[144]
Komponen utama
Asam lemak
Minyak sawit, seperti semua lemak, tersusun atas asam lemak yang teresterifikasi dengan gliserol. Minyak sawit memiliki konsentrasi lemak jenuh yang sangat tinggi, khususnya asam lemak jenuh berantai 16 karbon, asam palmitat, yang menjadi asal namanya. Asam oleat tak jenuh tunggal juga merupakan komponen utama minyak sawit. Minyak sawit yang tidak dimurnikan merupakan sumber penting tokotrienol, salah satu bagian dari keluarga vitamin E.[145][146]
Kandungan asam linoleat dalam minyak sawit sekitar 6,4–15%.[147]
Perkiraan konsentrasi asam lemak teresterifikasi dalam minyak sawit adalah:[148]
| Kandungan asam lemak minyak sawit (dalam bentuk ester trigliserida) | ||||
|---|---|---|---|---|
| Jenis asam lemak | Fraksi | |||
| Miristat jenuh C14 | 1,0% | |||
| Palmitat jenuh C16 | 43,5% | |||
| Stearat jenuh C18 | 4,3% | |||
| Oleat tak jenuh tunggal C18:1 | 36,6% | |||
| Linoleat tak jenuh ganda C18:2 | 9,1% | |||
| Lainnya/tidak diketahui | 5,5% | |||
| hitam: jenuh abu-abu: tak jenuh tunggal biru: tak jenuh ganda | ||||
Karoten
Minyak sawit merah kaya akan karoten, seperti alfa-karoten, beta-karoten, dan likopen, yang memberikan warna merah tua khas.[146][149] Namun, minyak sawit yang telah dimurnikan, diputihkan, dan dihilangkan baunya dari minyak sawit mentah (disebut "minyak sawit RBD") tidak mengandung karoten.[121]
Asam palmitat
Asupan asam palmitat yang berlebihan, yang menyusun 44% minyak sawit, meningkatkan kadar lipoprotein densitas rendah (LDL) dan kolesterol total dalam darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.[137][138][150] Tinjauan lainnya, Organisasi Kesehatan Dunia, dan National Heart, Lung, and Blood Institute Amerika Serikat menganjurkan konsumen untuk membatasi konsumsi minyak sawit, asam palmitat, dan makanan yang tinggi lemak jenuh.[133][137][150]
Lihat pula
Bacaan lebih lanjut
- Zuckerman, Jocelyn C. (2021). Planet palm: how palm oil ended up in everything-and endangered the world. New York. ISBN 978-1-62097-523-7. OCLC 1142520474.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Referensi
- ↑ Reeves, James B.; Weihrauch, John L; Consumer and Food Economics Institute (1979). Composition of foods: fats and oils. Agriculture handbook 8-4. Washington, D.C.: U.S. Dept. of Agriculture, Science and Education Administration. hlm. 4. OCLC 5301713.
- ↑ Ritchie, Hannah (9 Februari 2021). "Palm Oil". Our World in Data.
- ↑ "Sustainable palm oil: how can food companies step up to the plate?". www.foodprocessing-technology.com. 16 Juli 2018. Diakses tanggal 27 April 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Raghu, Anuradha (17 Mei 2017). "We Each Consume 17 Pounds of Palm Oil a Year". Bloomberg News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Mei 2017. Diakses tanggal 22 Mei 2017.
- ↑ Immerzeel, DESIRÉE J.; Verweij, PITA A.; van der Hilst, FLOOR; Faaij, ANDRÉ P. C. (5 April 2013). "Biodiversity impacts of bioenergy crop production: a state-of-the-art review". GCB Bioenergy. 6 (3): 183–209. doi:10.1111/gcbb.12067. hdl:1874/308342. ISSN 1757-1693. S2CID 86278367.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Meijaard, Erik; Garcia-Ulloa, John; Sheil, Douglas; Wich, Serge A.; Carlson, K. M.; Juffe-Bignoli, Diego; Brooks, Thomas M. (2018). Oil palm and biodiversity (dalam bahasa Inggris). IUCN. ISBN 978-2-8317-1911-5.
- ↑ "Palm Oil Production by Country | World Agricultural Production 2023/2024". www.worldagriculturalproduction.com. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Desember 2023. Diakses tanggal 1 November 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Indonesia's biodiesel drive is leading to deforestation". BBC News. 8 Desember 2021.
- ↑ Kiple, Kenneth F.; Conee Ornelas, Kriemhild, ed. (2000). The Cambridge World History of Food. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-40216-3. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Oktober 2012. Diakses tanggal 30 Agustus 2012.
- ↑ "British Colonial Policies and the Oil Palm Industry in the Niger Delta Region of Nigeria, 1900–1960" (PDF). African Study Monographs. 21 (1): 19–33. 2000. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 Januari 2013.
- ↑ Bellis, Mary. "The History of Soaps and Detergents". About.com. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Juli 2012. In 1864, Caleb Johnson founded a soap company called B.J. Johnson Soap Co., in Milwaukee. In 1898, this company introduced a soap made of palm and olive oils called Palmolive.
- ↑ Getz, Trevor and Liz Clarke (2011). Abina and the Important Men: A Graphic History. Oxford University Press.
- ↑ "The Cocoa Industry in West Africa: A History of Exploitation" (PDF). antislavery.org. Anti-Slavery International. 2004. hlm. 5. Diakses tanggal 11 Oktober 2021.
- ↑ Law, Robin; Schwarz, Suzanne; Strickrodt, Silke (2013). Commercial Agriculture, the Slave Trade and Slavery in Atlantic Africa. Boydell & Brewer Ltd. hlm. 22. ISBN 978-1-847-01075-9.
- ↑ Ukegbu, Kavachi Michelle (2021). The art of fufu: a guide to the culture and flavors of a West African tradition. Grubido. Austin, Texas. ISBN 978-1-62634-596-6. OCLC 1241244901.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) - ↑ "Calf milk replacer: Ingredients, formulation and benefits for calves". Biomin. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Mei 2021. Diakses tanggal 29 April 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Milk Specialties Global Animal Nutrition (2019). "Calf Milk Replacer Guide" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Agustus 2021. Diakses tanggal 29 April 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tullis, Paul (19 Februari 2019). "How the world got hooked on palm oil". The Guardian.
- 1 2 Rojas, Mauricio (3 Agustus 2007). "Assessing the Engine Performance of Palm Oil Biodiesel". Biodiesel Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Mei 2013. Diakses tanggal 25 Februari 2013.
- ↑ Nahian, Md. Rafsan; Islam, Md. Nurul; Khan, Shaheen (26 Desember 2016). Production of Biodiesel from Palm Oil and Performance Test with Diesel in CI Engine. International Conference on Mechanical Industrial & Energy Engineering 2016, Kuet, Khulna, Bangladesh. CMIEE-PI-160160-4.
- ↑ Yahya, Yasmine (9 Maret 2011). "World's Largest Biodiesel Plant Opens in Singapore". The Jakarta Globe. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Juni 2012. Diakses tanggal 25 Februari 2013.
- ↑ Tuck, Andrew, ed. (Juli 2011). "Neste Oil_". Monocle. 05 (45): 73. ISSN 1753-2434. Petri Jokinen (right), managing director of Neste Oil Singapore [...] the €550m plant has an annual production capacity of 800,000 metric tons of NExBTL renewable diesel, which is distributed mainly in Europe [...] palm oil, is imported from neighbouring Malaysia and Indonesia
- ↑ hermes (24 Januari 2018). "European ban on palm oil in biofuels upsets Jakarta, KL". The Straits Times.
- ↑ Wahyudi Soeriaatmadja; Trinna Leong (24 Januari 2018). "European ban on palm oil in biofuels upsets Jakarta, KL". The Straits Times. Diakses tanggal 23 November 2018. For Indonesia, 40% of its palm oil exports to Europe are converted into biofuels. Europe is Malaysia's second-largest export market for palm oil, with 30% of it used for biodiesel.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Melanie Hall (1 Juni 2016). "New palm oil figures: Biodiesel use in EU fueling deforestation". Deutsche Welle. Diakses tanggal 23 November 2018. In 2014, nearly half of the palm oil used in Europe ended up in the gas tanks of cars and trucks, according to data compiled by the EU vegetable oil industry association Fediol
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Robert-Jan Bartunek; Alissa de Carbonnel (14 Juni 2018). "EU to phase out palm oil from transport fuel by 2030". Reuters. Diakses tanggal 23 November 2018. Half of the EU's 6 billion euros ($7 billion) worth of palm oil imports are used for biodiesel, according to data from Copenhagen Economics.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hans Spross (22 Juni 2018). "Does EU biofuel deal compromise the environment for trade with Southeast Asia?". Deutsche Welle. Diakses tanggal 23 November 2018. According to a 2015 study carried out on behalf of the European Commission, the production and use of palm oil biodiesel causes three times the carbon emissions of fossil diesel.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Abrahm Lustgarten (20 November 2018). "Supposed to Help Save the Planet. Instead It Unleashed a Catastrophe". The New York Times. Diakses tanggal 14 Desember 2018. six of the world's leading carbon-modeling schemes, including the E.P.A.'s, have concluded that biodiesel made from Indonesian palm oil makes the global carbon problem worse, not better
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Jong, Hans Nicholas (28 Desember 2020). "Top Indonesian Palm Oil Developments in 2020". Mongabay. Diakses tanggal 12 Mei 2021.
- ↑ Choong, Meng Yew (27 Maret 2012). "Waste not the palm oil biomass". The Star Online. Diakses tanggal 25 Februari 2013.
- ↑ Loh Soh Kheang; Choo Yuen May; Cheng Sit Food; Ma Ah Ngan (18 Juni 2006). Recovery and conversion of palm olein-derived used frying oil to methyl esters for biodiesel (PDF). Journal of Palm Oil Research (Laporan). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 4 Juli 2010. Diakses tanggal 25 Februari 2013.
- ↑ Antimicrobial effects of palm kernel oil and palm oil Diarsipkan 2 Oktober 2008 di Wayback Machine Ekwenye, U.N and Ijeomah, King Mongkut's Institute of Technology Ladkrabang Science Journal, Vol. 5, No. 2, Jan–Jun 2005
- ↑ "Deforestation". www.sustainablepalmoil.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Agustus 2016. Diakses tanggal 15 Juni 2016.
- ↑ "Pongo abelii". IUCN Red List of Threatened Species. Diakses tanggal 20 Mei 2022.
- ↑ Natasha Gilbert (4 Juli 2012). "Palm-oil boom raises conservation concerns: Industry urged towards sustainable farming practices as rising demand drives deforestation". Nature. 487 (7405): 14–15. doi:10.1038/487014a. PMID 22763524.
- ↑ Loki, Reynard (9 Oktober 2023). "Palm Oil: The Ingredient Behind Human Rights Abuses and Eco-Destruction That's Probably in Your Home Right Now". CounterPunch.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 1 Desember 2025.
- ↑ Mason, Margie; McDOWELL, ROBIN (18 November 2020). "Rape, abuses in palm oil fields linked to top beauty brands". AP News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 Desember 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Nnoko, Juliana (22 September 2019). ""When We Lost the Forest, We Lost Everything"". Human Rights Watch (dalam bahasa Inggris).
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Budidarsono, Suseno; Dewi, Sonya; Sofiyuddin, Muhammad; Rahmanulloh, Arif. "Socio-Economic Impact Assessment of Palm Oil Production" (PDF). World Agroforestry Centre. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 Januari 2014. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
- ↑ Norwana, Awang Ali Bema Dayang; Kunjappan, Rejani (2011). "The local impacts of oil palm expansion in Malaysia" (PDF). cifor.org. Center for International Forestry Research. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 Juni 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
- ↑ Ismail, Saidi Isham (9 November 2012). "Palm oil transforms economic landscape". Business Times. Diarsipkan dari asli tanggal 12 November 2012. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Palm oil cultivation for biofuel blocks return of displaced people in Colombia" (PDF) (Rilis pers). Internal Displacement Monitoring Centre. 5 November 2007. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 27 November 2007. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
{{cite press release}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Colchester, Marcus; Jalong, Thomas; Meng Chuo, Wong (2 Oktober 2012). "Free, Prior and Informed Consent in the Palm Oil Sector – Sarawak: IOI-Pelita and the community of Long Teran Kanan". Forest Peoples Program. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Mei 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
- ↑ ""Losing Ground" – report on indigenous communities and oil palm development from LifeMosaic, Sawit Watch and Friends of the Earth". Forest Peoples Programme. 28 Februari 2008. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Mei 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
- ↑ Indonesian migrant workers: with particular reference in the oil palm plantation industries in Sabah, Malaysia. Biomass Society (Laporan). Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University. 11 Desember 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Januari 2014.
- ↑ "Malaysia Plans High-Tech Card for Foreign Workers". ABC News. 9 Januari 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2014.
- ↑ "Malaysia rounds up thousands of migrant workers". BBC News. 2 September 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 September 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ibrahim, Ahmad (31 Desember 2012). "Felcra a success story in rural transformation". New Straits Times. Diarsipkan dari asli tanggal 13 April 2013. Diakses tanggal 7 Februari 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Man Kee Kam; Kok Tat Tan; Keat Teong Lee; Abdul Rahman Mohamed (9 September 2008). Malaysian Palm oil: Surviving the food versus fuel dispute for a sustainable future. Renewable and Sustainable Energy Reviews (Laporan). Diakses tanggal 26 Februari 2013.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Corley, R. H. V. (2009). "How much palm oil do we need?". Environmental Science & Policy. 12 (2): 134–838. Bibcode:2009ESPol..12..134C. doi:10.1016/j.envsci.2008.10.011.
- ↑ Margie Mason; Robin McDowell (18 November 2020). "Rape, abuses in palm oil fields linked to top beauty brands". The Associated Press. Diakses tanggal 22 November 2020.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Glyphosate not classified as a carcinogen by ECHA". ECHA. 15 Maret 2017.
- 1 2 3 ""When We Lost the Forest, We Lost Everything": Oil Palm Plantations and Rights Violations in Indonesia" (dalam bahasa Inggris). Human Rights Watch. 22 September 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Indigenous Papuans won their forest back from a palm oil firm, but still lack land title". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). 27 Oktober 2021. Diakses tanggal 14 Desember 2021.
- ↑ "Indonesia: Indigenous Peoples Losing Their Forests". Human Rights Watch (dalam bahasa Inggris). 22 September 2019. Diakses tanggal 14 Desember 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cuffe, Sandra (15 Oktober 2021). "Guatemala's growing palm oil industry fuels Indigenous land fight". Al Jazeera (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 14 Desember 2021.
- 1 2 Spinks, Rosie J (17 Desember 2014). "Why does palm oil still dominate the supermarket shelves?". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Desember 2016. Diakses tanggal 7 Desember 2016.
- ↑ "The Benefits of Palm Oil". Asian AGRI. 8 Februari 2018.
- 1 2 "Oil palms need one-ninth of land used by other vegetable oil crops". Jakarta Post. 6 Februari 2019. Diakses tanggal 7 Februari 2019.
- ↑ Atabani, A. E.; Silitonga, A. S.; Badruddin, I. A.; Mahlia, T. M. I.; Masjuki, H. H.; Mekhilef, S. (2012). "A comprehensive review on biodiesel as an alternative energy resource and its characteristics". Renewable and Sustainable Energy Reviews. 16 (4): 2070–2093. Bibcode:2012RSERv..16.2070A. doi:10.1016/j.rser.2012.01.003.
- ↑ Laura Paddison (29 September 2017). "From algae to yeast: the quest to find an alternative to palm oil". The Guardian. Diakses tanggal 20 Juli 2019.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Clay, Jason (2004). World Agriculture and the Environment. Island Press. hlm. 219. ISBN 978-1-55963-370-3.
- ↑ "Palm oil: Cooking the Climate". Greenpeace. 8 November 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 10 April 2010. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "The bird communities of oil palm and rubber plantations in Thailand" (PDF). The Royal Society for the Protection of Birds (RSPB). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 6 Oktober 2016. Diakses tanggal 4 Oktober 2016.
- ↑ Foster, Joanna M. (1 Mei 2012). "A Grim Portrait of Palm Oil Emissions". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Januari 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
- ↑ Yui, Sahoko; Yeh, Sonia (1 Desember 2013). "Land use change emissions from oil palm expansion in Pará, Brazil depend on proper policy enforcement on deforested lands". Environmental Research Letters. 8 (4) 044031. Bibcode:2013ERL.....8d4031Y. doi:10.1088/1748-9326/8/4/044031. ISSN 1748-9326.
- ↑ "Palm oil threatening endangered species" (PDF). Center for Science in the Public Interest. Mei 2005. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 September 2012.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Camera catches bulldozer destroying Sumatra tiger forest". World Wildlife Fund. 12 Oktober 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Januari 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2013.
- ↑ Jope, Alan (2019). "Burning down the house: How Unilever and other global brands continue to fuel Indonesia's fires" (PDF). Greenpeace.
- ↑ "Forensic Architecture". forensic-architecture.org. Diakses tanggal 5 Juli 2023.
- ↑ "Explainer: What is ecocide?". Eco-Business (dalam bahasa Inggris). 4 Agustus 2022. Diakses tanggal 5 Juli 2023.
- ↑ Aida, Melly; Tahar, Abdul Muthalib; Davey, Orima (2023), "Ecocide in the International Law: Integration Between Environmental Rights and International Crime and Its Implementation in Indonesia", dalam Perdana, Ryzal; Putrawan, Gede Eka; Saputra, Bayu; Septiawan, Trio Yuda (ed.), Proceedings of the 3rd Universitas Lampung International Conference on Social Sciences (ULICoSS 2022), Advances in Social Science, Education and Humanities Research (dalam bahasa Inggris), vol. 740, Paris: Atlantis Press SARL, hlm. 572–584, doi:10.2991/978-2-38476-046-6_57, ISBN 978-2-38476-045-9
- ↑ Alberro, Heather; Daniele, Luigi (29 Juni 2021). "Ecocide: why establishing a new international crime would be a step towards interspecies justice". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 Juli 2023.
- ↑ Setiyono, Joko; Natalis, Aga (30 Desember 2021). "Ecocides as a Serious Human Rights Violation: A Study on the Case of River Pollution by the Palm Oil Industry in Indonesia". International Journal of Sustainable Development and Planning (dalam bahasa Inggris). 16 (8): 1465–1471. doi:10.18280/ijsdp.160807. ISSN 1743-7601.
- 1 2 Achten, Wouter M. J.; Vandenbempt, Pieter; Almeida, Joana; Mathijs, Erik; Muys, Bart (15 Juni 2010). "Life Cycle Assessment of a Palm Oil System with Simultaneous Production of Biodiesel and Cooking Oil in Cameroon". Environmental Science & Technology. 44 (12): 4809–4815. Bibcode:2010EnST...44.4809A. doi:10.1021/es100067p. ISSN 0013-936X. PMID 20496929.
- ↑ Fargione, Joseph; Hill, Jason; Tilman, David; Polasky, Stephen; Hawthorne, Peter (7 Februari 2008). "Land Clearing and the Biofuel Carbon Debt". Science. 319 (5867): 1235–1238. Bibcode:2008Sci...319.1235F. doi:10.1126/science.1152747. PMID 18258862. S2CID 206510225. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Mei 2011.
- 1 2 Meijaard, E; et al. (2018). Oil palm and biodiversity. A situation analysis by the IUCN Oil Palm Task Force (PDF) (Edisi PDF). Gland: IUCN Oil Palm Task Force. ISBN 978-2-8317-1910-8. Diakses tanggal 7 Februari 2019.
- ↑ "Snack food giants fall short on palm oil deforestation promises". Food and Drink International. 17 Januari 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Juli 2020. Diakses tanggal 18 Januari 2020.
- ↑ "Biggest food brands 'failing goals to banish palm oil deforestation'". The Guardian. 17 Januari 2020. Diakses tanggal 18 Januari 2020.
- ↑ "Palm Oil Buyers' Scorecard Analysis". WWF. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Desember 2019. Diakses tanggal 18 Januari 2020.
- ↑ The Chain Reaction Research (2020). "NDPE Policies Cover 83% of Palm Oil Refineries; Implementation at 78%". The Chain Reaction Research.
- ↑ "Regulation on Deforestation-free products". European Union. Diakses tanggal 24 Juli 2024.
- 1 2 3 4 5 "Production – palm oil in 2023-24". Foreign Agriculturual Service, US Department of Agriculture. 2024. Diakses tanggal 18 November 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tullis, Paul (19 Februari 2019). "How the World Got Hooked on Palm Oil". The Guardian. Diakses tanggal 12 Mei 2021.
- 1 2 Nangoy, Fransiska (23 April 2022). "Indonesia bans palm oil exports as global food inflation spikes". Reuters (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 April 2022.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Indonesia Lifts Palm Oil Export Ban in Relief to Global Market". Bloomberg.com (dalam bahasa Inggris). 19 Mei 2022. Diakses tanggal 20 Mei 2022.
- ↑ Morales, Alex (18 November 2010). "Malaysia Has Little Room for Expanding Palm-Oil Production, Minister Says". Bloomberg. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 September 2012. Diakses tanggal 1 Maret 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Scott-Thomas, Caroline (17 September 2012). "French firms urged to back away from 'no palm oil' label claims". Foodnavigator. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Maret 2013. Diakses tanggal 7 Maret 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ayodele, Thompson (Agustus 2010). "African Case Study: Palm Oil and Economic Development in Nigeria and Ghana; Recommendations for the World Bank's 2010 Palm Oil Strategy" (PDF). Initiative For Public Policy Analysis. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 April 2012. Diakses tanggal 8 Desember 2011.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ayodele, Thompson (15 Oktober 2010). "The World Bank's Palm Oil Mistake". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Januari 2018. Diakses tanggal 8 Desember 2011.
- ↑ Von Hellermann, Pauline (18 Januari 2021). "Red gold: a history of palm oil in West Africa". Dialogue Earth. Diakses tanggal 22 Mei 2024.
- ↑ Arunmas, Phusadee; Wipatayotin, Apinya (28 Januari 2018). "EU move fuelling unease among palm oil producers". Spectrum. Bangkok Post. Diakses tanggal 29 Januari 2018.
- ↑ Pazos, Flavio (3 Agustus 2007). "Benin: Large scale oil palm plantations for agrofuel". World Rainforest Movement. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Agustus 2014.
- ↑ African Biodiversity Network (2007). Agrofuels in Africa: the impacts on land, food and forests: case studies from Benin, Tanzania, Uganda and Zambia. translated by. African Biodiversity Network. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2016.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hillary Rosner (4 Desember 2018). "Palm oil is unavoidable. Can it be sustainable?". National Geographic. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Desember 2018.
- ↑ FAO. "West African women defend traditional palm oil". Food and Agricultural Organization.
- ↑ Rosenthal, Elisabeth (5 September 2012). "Report Assails Palm Oil Project in Cameroon". Green Blog (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 8 Februari 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Cameroon changes mind on Herakles palm oil project". World Wildlife Fund. 21 Juni 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Desember 2013. Diakses tanggal 23 Mei 2016.
- ↑ Inga Hilbert; María Goretti Esquivel; Joel Brounen (2019). "Barometer on sustainable production and trade of palm oil in Colombia" (PDF). Solidaridad. Diakses tanggal 20 Mei 2022.
- ↑ "Palm oil". Sustainable Trade Platform – Colombia. 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Oktober 2020. Diakses tanggal 2 Oktober 2020.
- ↑ Carmenza Castiblanco; Andrés Etter; T. Mitchell Aide (2013). "Oil palm plantations in Colombia: a model of future expansion". Environmental Science and Policy. 27: 172–183. Bibcode:2013ESPol..27..172C. doi:10.1016/j.envsci.2013.01.003.
- ↑ David Calderón; Carlos Alberto Pérez (1 Januari 2019). "Smallholder oil palm producers contributing to peace and sustainability in Colombia". ETFRN, Tropenbos International. Diakses tanggal 2 Oktober 2020.
- ↑ "Ecuador to invest $1.2bn in palm oil sustainability & innovation: 'There is a tremendous opportunity here'". Food Navigator. 4 Mei 2018.
- 1 2 3 4 5 Nomura, Keiko; Mitchard, Edward T. A.; Patenaude, Genevieve; Bastide, Joan; Oswald, Patrick; Nwe, Thazin (15 Agustus 2019). "Oil palm concessions in southern Myanmar consist mostly of unconverted forest". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 11931. Bibcode:2019NatSR...911931N. doi:10.1038/s41598-019-48443-3. ISSN 2045-2322. PMC 6695397. PMID 31417153.
- ↑ "Myanmar risks losing forests to oil palm, but there's time to pivot". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). 13 November 2019. Diakses tanggal 2 Maret 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Oil World". Oil World. 18 Januari 2020. Diakses tanggal 18 Januari 2020.
- ↑ Voora, V.; Larrea, C.; Bermudez, S.; Baliño, S. (2019). "Global Market Report: Palm Oil". State of Sustainability Initiatives.
- ↑ World Food and Agriculture – Statistical Yearbook 2023 (dalam bahasa Inggris). Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2023. doi:10.4060/cc8166en. ISBN 978-92-5-138262-2. Diakses tanggal 13 Desember 2023 – via FAODocuments.
- ↑ New EU Food Labeling Rules Published (PDF). USDA Foreign Agricultural Service (Laporan). 12 Januari 2012. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 April 2012. Diakses tanggal 29 Januari 2013.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Malaysian authorities raid convenience store selling 'No Palm Oil' ice cream". The Straits Times. 3 Mei 2024. Diakses tanggal 5 Mei 2024.
- ↑ "Deforestation: Mobilising resources to help achieve zero net deforestation by 2020". Consumer Goods Forum. Diarsipkan dari asli tanggal 17 November 2019. Diakses tanggal 18 Januari 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Palm Oil Roadmap" (PDF). Consumer Goods Forum.
- ↑ "History - Roundtable on Sustainable Palm Oil". Diakses tanggal 7 Agustus 2013.
- ↑ "Category - RSPO Members - Roundtable on Sustainable Palm Oil". Diakses tanggal 7 Agustus 2013.
- 1 2 3 Sari, Almonika Cindy Fatika; Amany, Nailul; Nicholas, Ramadani Sugianto Dwi; Muhammad, Kharisma (Juni 2025). Masyarakat Adat dalam Jerat Kerja Paksa: Dampak Perkebunan Sawit di Merauke dan Boven Digoel. Yogyakarta: Insist Press. ISBN 9786236179277.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Milestones - Roundtable on Sustainable Palm Oil". Diakses tanggal 7 Agustus 2013.
- ↑ "Types of Membership - Roundtable on Sustainable Palm Oil". Diakses tanggal 7 Agustus 2013.
- ↑ "How to Apply - Roundtable on Sustainable Palm Oil". Diakses tanggal 7 Agustus 2013.
- ↑ "CHAPTER III – General Assembly meetings - Roundtable on Sustainable Palm Oil". Diakses tanggal 7 Agustus 2013.
- ↑ Poku, Kwasi (2002). "Origin of oil palm". Small-Scale Palm Oil Processing in Africa. FAO Agricultural Services Bulletin 148. Food and Agriculture Organization. ISBN 978-92-5-104859-7. Diarsipkan dari asli tanggal 23 September 2009.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)[halaman dibutuhkan] - 1 2 3 Nagendran, B.; Unnithan, U. R.; Choo, Y. M.; Sundram, Kalyana (2000). "Characteristics of red palm oil, a carotene- and vitamin E–rich refined oil for food uses". Food and Nutrition Bulletin. 21 (2): 77–82. doi:10.1177/156482650002100213. S2CID 82771180.
- ↑ Gibon, Véronique (2012). "Palm Oil and Palm Kernel Oil Refining and Fractionation Technology". Palm Oil. hlm. 329–375. doi:10.1016/B978-0-9818936-9-3.50015-0. ISBN 978-0-9818936-9-3. This super stearin contains ~90% of saturated fatty acids, predominantly palmitic ...
- ↑ "FAO data – dimension-member – Oil, palm fruit". ref.data.fao.org. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Agustus 2018. Diakses tanggal 17 Agustus 2018.
- ↑ Behrman, E. J.; Gopalan, Venkat (2005). William M. Scovell (ed.). "Cholesterol and Plants" (PDF). Journal of Chemical Education. 82 (12): 1791. Bibcode:2005JChEd..82.1791B. doi:10.1021/ed082p1791. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 21 Oktober 2012.
- ↑ "Palm Oil Continues to Dominate Global Consumption in 2006/07" (PDF) (Rilis pers). United States Department of Agriculture. Juni 2006. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 19 Oktober 2012. Diakses tanggal 22 September 2009.
{{cite press release}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Che Man, YB; Liu, J.L.; Jamilah, B.; Rahman, R. Abdul (1999). "Quality changes of RBD palm olein, soybean oil and their blends during deep-fat frying". Journal of Food Lipids. 6 (3): 181–193. doi:10.1111/j.1745-4522.1999.tb00142.x.
- ↑ Matthäus, Bertrand (2007). "Use of palm oil for frying in comparison with other high-stability oils". European Journal of Lipid Science and Technology. 109 (4): 400–409. doi:10.1002/ejlt.200600294.
- 1 2 3 4 "3. PALM OIL PROCESSING". www.fao.org.
- 1 2 Oguntibeju, O.O; Esterhuyse, A.J.; Truter, E.J. (2009). "Red palm oil: nutritional, physiological and therapeutic roles in improving human wellbeing and quality of life". British Journal of Biomedical Science. 66 (4): 216–22. doi:10.1080/09674845.2009.11730279. PMID 20095133. S2CID 12845370.
- 1 2 3 Lidu, Seri Rahimah; Mohamed, Nurul'Ain; Klemeš, Jiří Jaromír; Varbanov, Petar Sabev; Yusup, Suzana (Desember 2016). "Evaluation of the energy saving opportunities for palm oil refining process: Sahabat Oil Products (SOP) in Lahad Datu, Malaysia". Clean Technologies and Environmental Policy. 18 (8): 2453–2465. Bibcode:2016CTEP...18.2453L. doi:10.1007/s10098-016-1252-6. S2CID 114530616.
- ↑ Tong, Shi-Cheng; Tang, Teck-Kim; Lee, Yee-Ying (Desember 2021). "A Review on the Fundamentals of Palm Oil Fractionation: Processing Conditions and Seeding Agents". European Journal of Lipid Science and Technology. 123 (12) 2100132. doi:10.1002/ejlt.202100132. S2CID 240505689.
- ↑ Deffense, E. (Februari 1985). "Fractionation of palm oil". Journal of the American Oil Chemists' Society. 62 (2): 376–385. doi:10.1007/BF02541408. S2CID 84577079.
- 1 2 Diet, Nutrition and the Prevention of Chronic Diseases (PDF) (Laporan). Geneva: World Health Organization. 2003. hlm. 82, 88 table 10. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 21 September 2012. Diakses tanggal 13 Februari 2013.
{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "The other oil spill". The Economist. 24 Juni 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Februari 2013. Diakses tanggal 12 Februari 2013.
- ↑ Bradsher, Keith (19 Januari 2008). "A New, Global Oil Quandary: Costly Fuel Means Costly Calories". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Januari 2015. Diakses tanggal 12 Februari 2013.
- ↑ Mancini, A; Imperlini, E; Nigro, E; Montagnese, C; Daniele, A; Orrù, S; Buono, P (2015). "Biological and Nutritional Properties of Palm Oil and Palmitic Acid: Effects on Health". Molecules. 20 (9): 17339–61. doi:10.3390/molecules200917339. PMC 6331788. PMID 26393565.
- 1 2 3 4 Sacks FM, Lichtenstein AH, Wu JH, Appel LJ, Creager MA, Kris-Etherton PM, Miller M, Rimm EB, Rudel LL, Robinson JG, Stone NJ, Van Horn LV (2017). "Dietary Fats and Cardiovascular Disease: A Presidential Advisory from the American Heart Association". Circulation. 136 (3): e1–e23. doi:10.1161/CIR.0000000000000510. PMID 28620111. S2CID 367602.
- 1 2 Mozaffarian, D; Clarke, R (2009). "Quantitative effects on cardiovascular risk factors and coronary heart disease risk of replacing partially hydrogenated vegetable oils with other fats and oils" (PDF). European Journal of Clinical Nutrition. 63 (Suppl 2): S22–33. doi:10.1038/sj.ejcn.1602976. PMID 19424216. S2CID 34725070.
- ↑ Sun, Ye; Neelakantan, Nithya; Wu, Yi; Lote-Oke, Rashmi; Pan, An; van Dam, Rob M (20 Mei 2015). "Palm Oil Consumption Increases LDL Cholesterol Compared with Vegetable Oils Low in Saturated Fat in a Meta-Analysis of Clinical Trials". The Journal of Nutrition. 145 (7): 1549–1558. doi:10.3945/jn.115.210575. ISSN 0022-3166. PMID 25995283.
- ↑ "Fat: the facts". UK National Health Service. 14 April 2023. Diakses tanggal 23 November 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Zhu, Yongjian; Bo, Yacong; Liu, Yanhua (6 April 2019). "Dietary total fat, fatty acids intake, and risk of cardiovascular disease: a dose-response meta-analysis of cohort studies". Lipids in Health and Disease. 18 (1): 91. doi:10.1186/s12944-019-1035-2. ISSN 1476-511X. PMC 6451787. PMID 30954077.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 "Process contaminants in vegetable oils and foods". European Food Safety Authority. 3 Mei 2016. Diakses tanggal 21 Desember 2020.
- ↑ "Revised safe intake for 3-MCPD in vegetable oils and food". European Food Safety Authority. 10 Januari 2018. Diakses tanggal 21 Desember 2020.
- ↑ "MENU E-QC". eqc.mpob.gov.my. Malaysian Palm Oil Board. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Agustus 2024. Diakses tanggal 20 Maret 2024.
- ↑ Ahsan H, Ahad A, Siddiqui WA (2015). "A review of characterization of tocotrienols from plant oils and foods". J Chem Biol. 8 (2): 45–59. doi:10.1007/s12154-014-0127-8. PMC 4392014. PMID 25870713.
- 1 2 Oi-Ming Lai; Chin-Ping Tan; Casimir C. Akoh, ed. (2015). Palm Oil: Production, Processing, Characterization, and Uses. Elsevier. hlm. 471. ISBN 978-0-12-804346-2.
- ↑ Nang Lau, Harrison Lik; Puah, Chiew Wei; Choo, Yuen May; Ma, Ah Ngan; Chuah, Cheng Hock (Mei 2005). "Simultaneous quantification of free fatty acids, free sterols, squalene, and acylglycerol molecular species in palm oil by high-temperature gas chromatography-flame ionization detection". Lipids (dalam bahasa Inggris). 40 (5): 523–528. doi:10.1007/s11745-005-1413-1. ISSN 0024-4201. PMID 16094863. S2CID 4022439.
- ↑ "Oil, vegetable, palm per 100 g; Fats and fatty acids". Conde Nast for the USDA National Nutrient Database, Release SR-21. 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Oktober 2016. Diakses tanggal 28 Oktober 2016.
- ↑ Ng, M. H.; Choo, Y. M. (2016). "Improved Method for the Qualitative Analyses of Palm Oil Carotenes Using UPLC". Journal of Chromatographic Science. 54 (4): 633–638. doi:10.1093/chromsci/bmv241. PMC 4885407. PMID 26941414.
- 1 2 Brown, Ellie; Jacobson, Michael F. (2005). Cruel Oil: How Palm Oil Harms Health, Rainforest & Wildlife (PDF). Washington, D.C. hlm. iv, 3–5. OCLC 224985333. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 6 Maret 2009.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Sumber
Artikel ini mengandung teks dari karya konten bebas. Licensed under CC BY-SA IGO 3.0License statement: World Food and Agriculture – Statistical Yearbook 2023, FAO, FAO. Untuk mengetahui cara menambahkan teks berlisensi terbuka ke artikel Wikipedia, baca Wikipedia:Menambahkan teks berlisensi terbuka ke Wikipedia. Untuk informasi tentang mendaur ulang teks dari Wikipedia, baca ketentuan penggunaan.Templat:Palm oil
Templat:Fatsandoils
Templat:Forestry
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |