Rabu, 23 September 2026
09:05 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Matula

Matula

Matula
250px-Matula_ad.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Advertensi koran lokal Surabaya
SutradaraTan Tjoei Hock
ProduserThe Teng Chun
SkenarioFerry Kock
Pemeran
SinematograferTan Tjoei Hock
Perusahaan
produksi
Action Film
Tanggal rilis
  • 1941 (1941)(Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda
BahasaBahasa Indonesia
Artikel ini berisi tentang the film. Untuk kegunaan lain, lihat Matula (disambiguasi).

Matula adalah sebuah film drama tahun 1941 dari Hindia Belanda (kini Indonesia) yang disutradarai oleh Tan Tjoei Hock dan diproduksi oleh The Teng Chun dari perusahaan Java Industrial Film. Film hitam-putih ini sekarang mungkin hilang, menceritakan seorang pemuda yang mencoba untuk memberikan jiwa seorang wanita ke dukun sebagai pembayaran untuk dibuat tampan.

Plot

Seorang pemuda kaya namun cacat menyeramkan bernama Matula (Ferry Kock) mengunjungi seorang dukun bernama Tello, meminta untuk dibuat tampan. Tello setuju, kemudian melakukan apa yang diminta Matula. Ketika Matula meminta dia untuk menyebutkan harganya, Tello meminta harus dibayar dengan jiwa. Dengan sihirnya, Tello mengatur supaya Emma (Dewi Mada), putri seorang pengusaha kaya, untuk menjumpai Matula di sebuah perkebunan, di mana Matula dapat meyakinkan dirinya untuk ikut dengannya. Setelah menyadari apa yang terjadi, ayah Emma yang bernama Johan, dan Paul, tunangan Emma, memburu Matula. Mereka terlambat, karena Tello telah mengambil jiwa Emma. Keempat orang itu berkelahi, dan meskipun jiwa Paul hampir diambil, Johan mampu mengalahkan Tello dengan sebatang bambu. Kalah, Tello mengembalikan jiwa Emma. Matula kembali ke bentuk aslinya, berbau kematian, Tello kemudian meminta jiwa Matula.[1]

Produksi

Matula diproduksi oleh The Teng Chun untuk perusahaan Action Film, anak perusahaan dari perusahaan New Java Industrial Film miliknya. Film ini disutradarai oleh Tan Tjoei Hock, mantan asisten teater yang pernah bekerja dan telah membuat debutnya sebagai sutradara pada tahun sebelumnya dengan Dasima; Tan juga menangani sinematografi film ini.[2] Skenario film ini ditulis oleh Ferry Kock (yang juga membintangi), mantan aktor panggung dengan rombongan tur Dardanella yang telah membuat debut filmnya pada tahun 1940 dengan Rentjong Atjeh.[3] The black-and-white film also starred Dewi Mada, Mohammad Mochtar, and Bissu.[4]

Penayangan dan penerimaan

Matula dirilis pada tahun 1941, mencapai Surabaya pada akhir Januari. Terbuka untuk penonton berusia 17 ke atas, film ini diiklankan sebagai "sebuah film ilmu hitam (guna-guna), aksi, dan asmara".[a][5] Sebuah tinjauan di surat kabar yang berbasis Surabaya Soerabaijasch Handelsblad menyatakan bahwa film ini "sukses dalam setiap cara" [b] terutama memuji penampilan Kock.[6] Film ini kemungkinan telah hilang. Antropolog visual Amerika Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia dari era sebelum 1950 telah hilang.[7] Namun JB Kristanto dalam Katalog Film Indonesia mencatat bahwa beberapa telah bertahan dalam arsip Sinematek Indonesia dan Biran mencatat bahwa beberapa film propaganda Jepang juga telah bertahan di arsip Rijksvoorlichtingsdienst (RVD, Layanan Informasi Pemerintahan Belanda).[8]

Catatan kaki

  1. Asli: "... een film over zwarte Magie (goena-goena) - romantiek en actie."
  2. Asli: "... in alle opzichten goed geslaagd."

Referensi

Rujukan

Sutradara
Penulis
  • Sehidup Semati (1949)
  • Saputangan (1949)
  • Bengawan Solo (1949)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan