Minggu, 20 September 2026
16:36 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Kerajaan Mapia

Kerajaan Mapia

Kerajaan Mapia adalah sebuah kerajaan kecil yang pernah berdiri di Kepulauan Mapia, tepatnya di sebelah utara dari Pulau Papua. Kepulauan Mapia merupakan bagian terluar dari Provinsi Papua saat ini dan berbatasan langsung dengan Republik Palau.

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Oorspronkelijke_bewoners_van_het_eiland_Mapia_TMnr_10005851.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penduduk Kepulauan Mapia difoto saat ekspedisi Arthur Wichmann tahun 1903 di Papua, Raja Marwedi ketiga dari kanan.

Sejarah

Pada awalnya, Kepulauan Mapia dihuni oleh penduduk yang berbahasa dan berbudaya Austronesia sama seperti penduduk Kepulauan Pasifik pada umumnya, kesamaan yang paling terlihat adalah dengan penduduk Kepulauan Caroline di Mikronesia yakni dalam adat istiadat, kebiasaan penduduk, serta konstruksi rumah tradisional. Penduduk asli Kepulauan Mapia disebut sebagai orang Mapia yang berbahasa Mapia, yakni sebuah bahasa dalam rumpun Mikronesia.

Pada saat ini, Kepulauan Mapia tidak lagi dihuni oleh orang asli Mapia melainkan dihuni oleh orang Biak yang berasal dari Pulau Biak dan sekitarnya. Sebelum adanya kontak dengan orang-orang Nusantara lainnya dan para pedagang Eropa, diyakini orang-orang Papua dari Pulau Biak dan sekitarnya telah melakukan kontak perdagangan dan perburuan ke Kepulauan Mapia. Orang Biak yang sudah sampai di pulau ini akan menandai dirinya dengan tato Manmarmar (Mankabes) yaitu sebuah burung camar, maka dari itu pulau ini juga disebut dengan nama Myos Maninei (Pulau Burung Camar).

Pada abad ke-19, pemerintah Belanda mulai menguasai pulau ini dan mengangkat penduduk asli dengan gelar Sangaji Meraudi (Marawidi) dibawah Kesultanan Tidore.[1]

Daftar penguasa

  • Marwedi (pernah berkuasa pada tahun 1898)

Referensi

  1. "Kepulauan Mapia: Sejarah Penduduk Asli dan Bahasanya yang Lenyap". suarapapua.com. Diakses tanggal 2 Maret 2023.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan