Rabu, 04 November 2026
12:59 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Kerajaan Lahakia

Bagikan:
Kerajaan Lahakia
Abad ke-15–Abad ke-20
Ibu kotaLahakia
Bahasa umumMairasi, Melayu Papua
Agama Islam, animisme
PemerintahanMonarki
Raja 
• tercatat berkuasa pada tahun 1828
Kassa
Era SejarahAbad pertengahan
• Didirikan
Abad ke-15
• Dibubarkan
Abad ke-20
Digantikan oleh
Hindia Belanda
Sekarang bagian dari Indonesia

Kerajaan Lahakia (sering juga dieja Lakahia) adalah salah satu kerajaan tradisional (petuanan) bercorak Islam yang berpusat di Pulau Lahakia, kawasan Teluk Etna, Semenanjung Bomberai selatan, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, Indonesia. Bersama dengan Kerajaan Namatota (Koiwai), Kerajaan Aiduma, dan Kerajaan Kaimana (Seran), wilayah ini membentuk gugusan pemerintahan adat tradisional di perairan Kowiai.

Sejarah

Eksistensi politik Kerajaan Lahakia tercatat kuat dalam dokumen kolonial Eropa ketika Hindia Belanda berupaya memperluas pengaruhnya secara formal di pantai barat daya Papua.[1] Pada tanggal 24 Agustus 1828, bertepatan dengan pendirian benteng pertama Belanda bernama Fort Du Bus di Teluk Triton (Kampung Lobo), otoritas kolonial menyelenggarakan upacara akbar dan penandatanganan surat perjanjian kedaulatan.

Dalam momentum bersejarah tersebut, Belanda memberikan pengakuan formal kepada tiga penguasa lokal maritim Kowiai yang dianggap paling berpengaruh, yaitu Sendawan selaku Raja Namatota, Kassa selaku Raja Lahakia, serta Lutu yang merupakan Orang Kaya dari Lobo dan Pulau Miwara.[2][3] Sebagai simbol legitimasi kekuasaan kolonial di bawah naungan Kesultanan Tidore, ketiga tokoh ini dianugerahi surat keputusan resmi (residentsbesluit) serta tongkat komando kekuasaan berkepala perak (zilveren batons).[2] Di bawah kepemimpinan segitiga ini, terdapat 28 kepala suku atau klan kecil lain yang bersumpah setia.[2] Penguasa Lahakia bertanggung jawab menjaga keamanan alur pelayaran dagang di sekitar Teluk Etna dari ancaman perompakan dan mengoordinasi pasokan komoditas berharga seperti sarang burung walet, teripang, serta kayu mesoyi.[1]

Pada akhir abad ke-19, wilayah Kerajaan Lahakia dan sekitarnya sempat terlibat dalam ketegangan maritim internasional. Pada tahun 1896, terjadi peristiwa penyerangan terhadap kapal pemburu berkebangsaan Inggris bernama Lizzie di lepas pantai selatan Papua, yang menewaskan beberapa awak kapalnya.[4]

Pemerintah kolonial Belanda merespons insiden tersebut dengan melakukan ekspedisi hukuman dan mengenakan denda adat yang sangat besar kepada para pemimpin lokal setempat.[4] Salah satu peninggalan bersejarah dari peristiwa penyitaan denda tersebut adalah sebuah meriam perunggu hias kuno (Bronze Lilla) bertatahkan ukiran motif dedaunan dan lumba-lumba milik para kepala adat Lahakia, Baik, dan Biroe yang kini tersimpan sebagai koleksi benda bersejarah kolonial.[4] Memasuki paruh awal abad ke-20, seiring dengan diperketatnya kontrol birokrasi sipil langsung (rechtstreeks bestuur) oleh residen Belanda di Manokwari, otonomi feodal Kerajaan Lahakia secara bertahap memudar dan wilayahnya kini terintegrasi ke dalam Kampung Boiya di Distrik Kaimana.[5]

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 Mansoben (1995), hlm. 64–67.
  2. 1 2 3
  3. ↑
  4. 1 2 3 Alamy Stock Photo (1898).
  5. ↑ TopBNews (2023).

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan