Sabtu, 31 Oktober 2026
22:52 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Einkorn

Einkorn

Bagikan:
Einkorn
250px-Triticum_monococcum0.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monocots
Klad: Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Subfamili: Pooideae
Genus: Triticum
Spesies:
T. monococcum
Nama binomial
Triticum monococcum
Sinonim

Triticum monococcum subsp. monococcum

Einkorn liar
250px-Triticum_boeoticum_Boiss._ssp._thaoudar_%28Reuter_ex_Hausskn.%29_Schiem._-_wild_einkorn_-_TRBOT_-_Tracey_Slotta_%40_USDA-NRCS_PLANTS_Database.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monocots
Klad: Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Subfamili: Pooideae
Genus: Triticum
Spesies:
T. boeoticum
Nama binomial
Triticum boeoticum
Sinonim

Triticum monococcum ssp. boeoticum

Einkorn (dari bahasa Jerman Einkorn, secara harfiah berarti "satu bulir") dapat merujuk pada spesies gandum liar (Triticum) maupun bentuk gandum yang dibudidayakan. Bentuk liarnya adalah T. boeoticum (sin. T. m. subsp. boeoticum), sedangkan bentuk yang dibudidayakan adalah T. monococcum (sin. T. m. subsp. monococcum). Einkorn merupakan spesies gandum diploid (2n = 14 kromosom) yang termasuk gandum bersekam, dengan gluma (sekam) yang kuat dan membungkus erat bulirnya. Bentuk yang dibudidayakan mirip dengan bentuk liar, kecuali bahwa bulirnya tetap utuh ketika matang[1] dan bijinya lebih besar. Bentuk yang dibudidayakan dikenal sebagai petit épeautre dalam bahasa Prancis, Einkorn dalam bahasa Jerman, "einkorn" atau "littlespelt" dalam bahasa Inggris, piccolo farro dalam bahasa Italia, dan escanda menor dalam bahasa Spanyol.[2] Nama tersebut mengacu pada fakta bahwa setiap bulir kecil hanya mengandung satu bulir gandum.[3] Einkorn merupakan salah satu bentuk gandum pertama yang dibudidayakan.

Deskripsi

Einkorn merupakan varietas gandum liar yang pendek, biasanya tingginya kurang dari 70 sentimeter ([convert: unit tak dikenal]), dan tidak terlalu produktif dalam menghasilkan biji yang dapat dimakan.[4] Perbedaan utama antara einkorn liar dan einkorn yang dibudidayakan adalah cara penyebaran bijinya. Pada varietas liar, kepala biji biasanya pecah dan menjatuhkan bulir-bulir (biji) gandum ke tanah.[1] Hal ini memudahkan tumbuhnya tanaman gandum baru. Pada varietas domestik, kepala bijinya tetap utuh. Meskipun mutasi semacam ini kadang-kadang dapat terjadi di alam liar, mutasi tersebut tidak dapat bertahan dalam jangka panjang: kepala biji yang tetap utuh hanya akan jatuh ke tanah ketika batangnya membusuk, dan bulir-bulirnya tidak akan tersebar, melainkan membentuk gumpalan padat yang menghambat perkecambahan serta membuat bibit mutan rentan terhadap penyakit. Memanen einkorn dengan kepala biji yang utuh lebih mudah bagi para pemanen awal, yang kemudian dapat memisahkan kepala biji secara manual dan menebarkan bulir yang tidak dimakan. Seiring waktu dan melalui seleksi, baik secara sadar maupun tidak sadar, preferensi manusia terhadap kepala biji yang utuh menghasilkan varietas domestik yang memiliki bulir sedikit lebih besar daripada einkorn liar. Dengan demikian, einkorn yang didomestikasi memerlukan penanaman dan pemanenan oleh manusia agar dapat terus bertahan hidup.[5] Proses domestikasi ini mungkin hanya membutuhkan waktu 20 hingga 200 tahun, dan menghasilkan gandum yang lebih mudah dipanen.[6]

Karakteristik penting yang mempermudah domestikasi einkorn dan biji-bijian semusim lainnya adalah bahwa tanaman tersebut sebagian besar melakukan penyerbukan sendiri. Dengan demikian, sifat-sifat einkorn yang diinginkan untuk pengelolaan oleh manusia dapat dipertahankan dengan risiko lebih kecil mengalami persilangan dengan tanaman liar yang mungkin memiliki sifat—misalnya biji yang lebih kecil dan kepala biji yang mudah pecah—[1] yang kurang diinginkan dalam pengelolaan oleh manusia.[7]

Taksonomi

Lihat pula: Taksonomi gandum

Einkorn yang dibudidayakan dideskripsikan sebagai suatu takson, Triticum monococcum, oleh Carl Linnaeus pada tahun 1753. Deskripsi berikutnya oleh ahli taksonomi lain, yang sekarang diperlakukan sebagai sinonim, meliputi Triticum pubescens oleh von Bieberstein pada tahun 1800; Triticum hornemanii oleh Clementi pada tahun 1818; Nivieria monococcum pada tahun 1841; Triticum vulgare monococcum oleh Alefeld pada tahun 1866; Triticum monococcum subsp. cereale oleh Albert Thellung pada tahun 1918.[8] Einkorn liar dikenal sebagai Triticum monococcum subsp. aegilopoides atau sebagai Triticum boeoticum.[8]

960px-Polyploid_wheat_origins.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Einkorn berkerabat dengan emmer dan gandum roti, tetapi bukan merupakan hibrida.[9]

Einkorn liar dan einkorn yang dibudidayakan merupakan gandum diploid. Berbeda dengan emmer dan gandum roti, yang terbentuk melalui hibridisasi dengan rumput kambing Aegilops, einkorn bukanlah hibrida.[9]

Ekologi dan persebaran

Gandum einkorn umumnya tumbuh liar di daerah perbukitan di bagian utara Bulan Sabit Subur dan Anatolia, tetapi memiliki persebaran yang lebih luas hingga mencapai Balkan dan ke selatan sampai Yordania di dekat Laut Mati.[4]

Sejarah

Penggunaan awal oleh manusia

Gandum einkorn merupakan salah satu bentuk gandum paling awal yang dibudidayakan, bersama dengan gandum emmer (T. dicoccum). Para pemburu-pengumpul di Bulan Sabit Subur mungkin telah mulai memanen einkorn sejak 30.000 tahun yang lalu, berdasarkan bukti arkeologis dari Suriah.[10][11][12]

Domestikasi

Meskipun telah dikumpulkan dari alam liar selama ribuan tahun, gandum einkorn pertama kali didomestikasi sekitar 10.000 tahun BP pada periode Neolitikum Pra-Tembikar A (PPNA) atau B (PPNB).[13] Bukti dari sidik jari DNA menunjukkan bahwa einkorn pertama kali didomestikasi di dekat Karaca Dağ di Turki tenggara, suatu wilayah tempat ditemukannya sejumlah desa pertanian PPNB.[14] Yuval Noah Harari mengemukakan bahwa domestikasi einkorn berkaitan dengan pertanian intensif untuk mendukung situs Göbekli Tepe yang berada di dekatnya.[15]

Penyebaran budi daya

Dari bagian utara Bulan Sabit Subur, budi daya gandum einkorn menyebar ke Kaukasus, Balkan, dan Eropa tengah. Gandum einkorn lebih umum ditanam di iklim yang lebih dingin dibandingkan gandum emmer, jenis gandum lain yang telah didomestikasi. Budi daya einkorn di Timur Tengah mulai menurun dan digantikan oleh gandum emmer sekitar 2000 SM. Budi daya einkorn tidak pernah dilakukan secara luas di Italia, Prancis selatan, dan Spanyol. Einkorn terus dibudidayakan di beberapa wilayah Eropa utara sepanjang Abad Pertengahan hingga awal abad ke-20.[4]

Agronomi

Gandum einkorn memiliki hasil rendah, tetapi dapat bertahan hidup pada tanah yang buruk, kering, dan marginal, tempat varietas gandum lainnya tidak dapat tumbuh. Seperti varietas gandum kuno lainnya seperti emmer, Einkorn merupakan "gandum bersekam", karena bulirnya tidak terlepas dari kulit biji (gluma) melalui proses perontokan. Hal ini membuat sekam sulit dipisahkan dari bijinya.[16]

Kegunaan

Einkorn merupakan makanan umum di Provence utara, Prancis.[17] Einkorn digunakan untuk membuat bulgur atau sebagai pakan ternak di daerah pegunungan di negara-negara termasuk Prancis, India, Italia, Maroko, bekas Yugoslavia, dan Turki.[16] Einkorn mengandung gluten (sehingga tidak cocok bagi orang dengan gangguan terkait gluten)[18] dan memiliki persentase protein yang lebih tinggi dibandingkan gandum merah modern. Einkorn dianggap lebih bergizi karena memiliki kadar lemak, fosfor, kalium, piridoksina, dan beta-karoten yang lebih tinggi.[16]

Penggunaan dalam pembuatan roti

Secara historis, einkorn tidak digunakan dalam pembuatan roti, dan terutama dikonsumsi dalam bentuk biji utuh yang direbus atau sebagai bubur[4], yang berarti bahwa kultivarnya tidak diseleksi berdasarkan potensinya untuk pembuatan roti.[19] Hingga baru-baru ini, einkorn dianggap tidak cocok untuk dipanggang, karena adonannya lengket, tidak elastis, dan sulit ditangani.[19] Pengujian pada tahun 1990-an menunjukkan bahwa beberapa varietas einkorn dapat memberikan hasil yang baik dibandingkan dengan gandum roti[20], dan meskipun hanya beberapa genotipe yang terbukti cocok untuk pembuatan roti, beragam varietas cocok digunakan dalam produk panggang lainnya. Adonan einkorn memiliki warna kuning cerah[20] karena kadar karotenoid yang tinggi, dan karena retensi gasnya rendah, menghasilkan roti dengan struktur yang padat.[21] Adonan einkorn harus diuleni dalam waktu yang lebih singkat dan membutuhkan waktu pemanggangan sekitar 10–15 menit lebih lama dibandingkan adonan gandum roti yang sebanding.[21]

Sumber untuk pemuliaan tanaman

Einkorn merupakan sumber berbagai kemungkinan introgresi untuk ketahanan terhadap penyakit; ahli genetika Rusia Nikolai Vavilov menyebutnya sebagai "akumulator kekebalan yang kompleks".[8] T. monococcum merupakan sumber Sr21, yaitu gen ketahanan terhadap karat batang yang telah diintrogresikan ke dalam gandum heksaploid di seluruh dunia.[22] Einkorn juga merupakan sumber Yr34, suatu gen ketahanan terhadap karat kuning.[23]

Sifat toleransi terhadap garam pada T. monococcum telah disilangkan ke dalam gandum durum.[24]

Galeri

  • Dari Thuringia, Jerman
    Dari Thuringia, Jerman
  • Spesimen herbarium, Museum Toulouse
    Spesimen herbarium, Museum Toulouse
  • Einkorn liar, Gunung Karadağ
    Einkorn liar, Gunung Karadağ
  • Bulir matang di museum arkeologi terbuka Bajuwarenhof Kirchheim
    Bulir matang di museum arkeologi terbuka Bajuwarenhof Kirchheim
  • Kumpulan serealia liar dan rumput liar lainnya di Israel utara
    Kumpulan serealia liar dan rumput liar lainnya di Israel utara
  • Bijinya tetap berada di dalam bulir kecil yang telah dirontokkan
    Bijinya tetap berada di dalam bulir kecil yang telah dirontokkan
  • T. monococcum, ensiklopedia pertanian Jepang Seikei Zusetsu (1804)
    T. monococcum, ensiklopedia pertanian Jepang Seikei Zusetsu (1804)

Referensi

  1. 1 2 3 Brown, Terence; Jones, Martin; Powell, Wayne; Allaby, Robin (2009). "The complex origins of domesticated crops in the Fertile Crescent" (PDF). Trends in Ecology & Evolution (Review) (dalam bahasa Inggris). 24 (2). Cell Press: 103–109. Bibcode:2009TEcoE..24..103B. doi:10.1016/j.tree.2008.09.008. ISSN 0169-5347. PMID 19100651.
  2. ↑ Le Brun, Alain (1992). "El poblamiento neolítico en la Isla de Chipre: el establecimiento de Khirokitia". Treballs d'Arqueologia (2): 51–67. Centre national de la recherche scientifique (Prancis).publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  3. ↑ "Einkorn". Merriam-Webster. Diakses tanggal 11 Januari 2026. from Old High German, from ein one + korn grain
  4. 1 2 3 4 Hopf, M.; Zohary, Daniel (2000). Domestication of Plants in the Old World: The Origin and Spread of Cultivated Plants in West Asia, Europe, and the Nile Valley (Edisi 3rd). Oxford, Oxfordshire: Oxford University Press. hlm. 33–43. ISBN 0-19-850356-3.
  5. ↑ Weiss and Zohary, hlm. S239–S242
  6. ↑ Anderson, Patricia C. (1991). "Harvesting of Wild Cereals During the Natufian as seen from Experimental Cultivation and Harvest of Wild Einkorn Wheat and Microwear Analysis of Stone Tools". Dalam Bar-Yosef, Ofer (ed.). Natufian Culture in the Levant. International Monographs in Prehistory. Ann Arbor, Michigan: Berghahn Books. hlm. 523.
  7. ↑ Bellwood, Peter (2005). First Farmers: The Origins of Agricultural Societies. Malden, MA: Blackwell Publishing. hlm. 46–49.
  8. 1 2 3 Zaharieva, Maria; Monneveux, Philippe (2014). "Cultivated einkorn wheat (Triticum monococcum L. subsp. monococcum): the long life of a founder crop of agriculture". Genetic Resources and Crop Evolution. 61 (3). Springer Science and Business Media LLC: 677–706. Bibcode:2014GRCEv..61..677Z. doi:10.1007/s10722-014-0084-7. eISSN 1573-5109. ISSN 0925-9864. S2CID 16551824.
  9. 1 2 Golovnina, K. A.; Glushkov, S. A.; Blinov, A. G.; Mayorov, V. I.; Adkison, L. R.; Goncharov, N. P. (12 Februari 2007). "Molecular phylogeny of the genus Triticum L". Plant Systematics and Evolution. 264 (3–4): 195–216. Bibcode:2007PSyEv.264..195G. doi:10.1007/s00606-006-0478-x. S2CID 39102602.
  10. ↑ Arranz-Otaegui, A., Carretero, L. G., Ramsey, M. N., Fuller, D. Q., & Richter, T. (2018). "Archaeobotanical evidence reveals the origins of bread 14,400 years ago in northeastern Jordan." Proceedings of the National Academy of Sciences. doi:10.1073/pnas.1801071115
  11. ↑ "Crops evolving ten millennia before experts thought". ScienceDaily. 23 Oktober 2017. Diakses tanggal 23 Oktober 2017.
  12. ↑ Allaby, Robin; Stevens, Chris; Lucas, Leilani; Maeda, Osamu; Fuller, Dorian (Oktober 2017). "Geographic mosaics and changing rates of cereal domestication". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 372 (1735) 20160429. The Royal Society. doi:10.1098/rstb.2016.0429. PMC 5665816. PMID 29061901.
  13. ↑ Zohary, Daniel; Hopf, Maria; Weiss, Ehud (2012). Domestication of Plants in the Old World: The Origin and Spread of Domesticated Plants in Southwest Asia, Europe, and the Mediterranean Basin (Edisi Fourth). Oxford University Press. hlm. 38. ISBN 978-0-19-954906-1.
  14. ↑ Heun, M.; Schäfer-Pregl, R.; Klawan, D.; Castagna, R.; Accerbi, M.; Borghi, B.; Salamini, F. (1997). "Site of Einkorn Wheat Domestication Identified by DNA Fingerprinting". Science. 278 (5341): 1312–1314. Bibcode:1997Sci...278.1312H. doi:10.1126/science.278.5341.1312.
  15. ↑ Harari, Yuval N.; Watzman, Haim (10 Februari 2015). Sapiens: a brief history of humankind. Diterjemahkan oleh Purcell, John (Edisi First U.S.). New York: Harper. ISBN 978-0-06-231609-7. OCLC 896791508.
  16. 1 2 3 Stallknecht, G. F., Gilbertson, K. M., and Ranney, J.E. (1996), "Alternative Wheat Cereals as Food Grains: Einkorn, Emmer, Spelt, Kamut, and Triticale" in J. Janick, ed., Progress in New Crops, Alexandria, VA: ASHA Press, pp. 156–170
  17. ↑ Payany, E (2011). Le Petit Épeautre. LaPlage. ISBN 978-2-84221-283-4.
  18. ↑ "Is Einkorn Gluten-Free?". Beyond Celiac. Diakses tanggal 20 November 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. 1 2 Brandolini, Andrea; Hidalgo, Alyssa (2011), "Einkorn (Triticum monococcum) Flour and Bread", Flour and Breads and their Fortification in Health and Disease Prevention (dalam bahasa Inggris), Elsevier, hlm. 79–88, doi:10.1016/b978-0-12-380886-8.10008-x, ISBN 978-0-12-380886-8, diakses tanggal 23 Agustus 2026{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  20. 1 2 Borghi, B.; Castagna, R.; Corbellini, M.; Heun, M.; Salamini, F. (1996). "Breadmaking quality of einkorn wheat (Triticum monococcum ssp. monococcum)". Cereal Chemistry. 73 (2): 208–214 – via CABI Digital Library.
  21. 1 2 Schneider, Ulrike; Schneider, Jutta (2016). Backen mit Urkorn: Dinkel, Emmer, Kamut und andere Getreide [Baking with Ancient Grains: Spelt, Emmer, Kamut, and Other Grains] (dalam bahasa Jerman). Verlag Jan Thorbecke. ISBN 978-3799511216.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  22. ↑ Roelfs, Alan P.; Singh, R. P.; Saari, E. E. (1992). Rust diseases of wheat: concepts and methods of disease management. Mexico, D.F: CIMMYT (International Maize and Wheat Improvement Center). hlm. 81. ISBN 968-6127-47-X. OCLC 26827677.
  23. ↑ Baranwal, Deepak (2022). "Genetic and genomic approaches for breeding rust resistance in wheat". Euphytica. 218 (11) 159. Bibcode:2022Euphy.218..159B. doi:10.1007/s10681-022-03111-y. S2CID 252973250.
  24. ↑ "World Breakthrough On Salt-Tolerant Wheat". ScienceDaily. 11 Maret 2012.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Triticum monococcum.
Wikispecies logo
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Triticum monococcum.

Templat:Wheat Templat:Cereals


Ikon rintisan

Artikel bertopik tumbuhan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan