Minggu, 20 September 2026
12:39 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Fransiskus dari Assisi

Fransiskus dari Assisi

Santo, biarawan Katolik asal Italia

Santo Fransiskus dari Assisi
330px-Saint_Francis_of_Assisi_by_Jusepe_de_Ribera.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan yang dibuat oleh Jusepe de Ribera
Santo, Diakon, Biarawan, Dan Pendiri Salah Satu Ordo Gereja Katolik.
LahirPada tanggal 10 Juli 1182 di Kota Assisi
MeninggalPada tanggal 3 Oktober 1226 (Usia 44),
di Kota Assisi, Italia
Dihormati diGereja Katolik, Gereja Lutheran, Gereja Katolik Lama dan Gereja Anglikan.[1]
[2]
Tempat ziarahBasilika Santo Fransiskus dari Assisi
Pesta4 Oktober
AtributSalib, Burung Merpati, Pax et Bonum, Poor Franciscan habit, dan Stigmata.
PelindungBinatang, Lingkungan, dan Saudagar.

Giovanni di Pietro di Bernardone (ca1181 – 3 Oktober 1226), dikenal dengan Fransiskus dari Assisi (bahasa Italia:Francesco d'Assisi; bahasa Latin:Franciscus Assisiensis) merupakan seorang biarawan Gereja Katolik yang mendirikan Ordo Fratrum Minorum pada tahun 1209. Fransiskus terinspirasi dalam menjalani hidup kemiskinan sebagai pewarta Injil. Menjadi salah satu tokoh yang paling dihormati dalam Kekristenan,[3][4] Fransiskus menerima kanosisasi oleh Paus Gregorius IX pada 16 Juli 1228. Fransiskus sering digambarkan memakai jubah coklat dengan ikatan tali di sekitar pinggang dan nampak tiga simpul sebagai simbol tiga kaul Fransiskan yakni kemiskinan, kesucian, dan ketaatan.

Pada tahun 1219, Fransiskus memutuskan pergi ke Mesir untuk berusaha berbicara dengan Sultan Malik al-Kamil untuk mengakhiri Perang Salib Kelima.[5] Di tahun 1223, Fransiskus menyelenggarakan peristiwa Gua Natal langsung (hidup) yang pertama sebagai bagian dari tradisi tahunan Natal di Greccio.[6][7] Menurut tradisi Kristiani, pada tahun 1224 Fransiskus mendapatkan stigmata ketika tengah mengalami penglihatan ilahi akan malaikat Serafim.[8]

Fransiskus mendirikan Ordo Fratrum Minorum khusus pria, Ordo Santa Klara khusus wanita, Ordo Ketiga Santo Fransiskus, serta Kustodi Tanah Suci. Setelah ordonya mendapat persetujuan resmi dari Paus Inonsensius III, Fransiskus semakin menjauhkan dirinya dari urusan eksternal.

Fransiskus dikaitkan sebagai pelindung binatang dan lingkungan. Menjadi sebuah kebiasaan dalam Gereja untuk mengadakan sebuah upacara pemberkatan hewan pada tiap hari peringatannya di tanggal 4 Oktober. Fransiskus juga dikenal akan devosinya kepada Ekaristi.[9] Bersama Katarina dari Siena, Fransiskus dijadikan sebagai santo pelindung Italia. Selain itu Kota San Fransisco di California, AS juga memakai namanya.

Biografi

Masa muda

Fransiskus dari Assisi lahir di penghujung tahun 1181, menjadi salah satu anak dari saudagar pakaian sutera kaya raya bernama Pietro di Bernardone dei Moriconi (ayahnya) yang berasal dari Assisi, Kadipaten Spoleto, Kekaisaran Romawi Suci dan seorang bangsawan bernama Pica di Bourlemont (ibunya) yang berasal dari Provence, Prancis.[10] Pietro diyakini sedang dalam urusan bisnis di Prancis ketika kelahiran Fransiskus di Assisi, dan segera Pica mengurus pembaptisannya di Gereja Katedral San Rufino dengan nama Giovanni (Yohanes).[11] Sewaktu Pietro kembali, Pietro mengganti nama baptis anaknya itu dengan nama Francesco (Fransiskus), yang mungkin sebagai bentuk rasa hormat akan kesuksesan dan semangatnya terhadap hal-hal berbau Prancis.[12]

Dimanjakan oleh orang tuanya, Fransiskus hidup dalam gaya hidup glamor layaknya anak dari kalangan kaya raya.[8] Fransiskus muda kala itu sangat suka akan Troubadour dan kagum dengan semua hal tentang Transalpine.[12] Pesonanya menawan, jenaka, gagah, dan tampil dengan pakaian mewah. Fransiskus juga sering menghamburkan uangnya.[7] Walau beberapa pencatat biografi menjelaskan kesenangannya akan kemewahan[13] , ia juga memperlihatkan kekecewaan terhadap dunia di sekitarnya mulai muncul cukup dini dalam kehidupan Fransiskus, sebagaimana terlihat dalam "kisah tentang pengemis". Dalam kisah tersebut, Fransiskus sedang menjual kain dan beludru di pasar mewakili ayahnya ketika seorang pengemis menghampirinya dan meminta sedekah. Di akhir kegiatan bisnisnya, ia meninggalkan semua barang dagangannya dan mengejar pengemis tersebut. Ia kemudian memberi semua uangnya. Teman-teman Fransiskus menertawakan sikap murah hatinya ini, sementara ayahnya membentak dirinya dengan penuh amarah.[14]

Sekitar tahun 1202, Fransiskus bergabung dalam ekspedisi militer melawan Perugia dan ditawan di Collestrada. Satu tahun waktunya habis di dalam penjara,[15] dengan sakit yang membuatnya mengevaluasi ulang hidupnya. Hanya saja, begitu ia kembali ke Assisi pada tahun 1203, ia kembali hidup bermewah-mewahan lagi, Dua tahun kemudian, ia pergi ke Apulia untuk bergabung dengan pasukan Walter III, Count of Brienne. Sebuah visi aneh membuatnya pulang lagi ke Assisi dan kehilangan minat sepenuhnya akan hidup. [16] Menurut penulis biografinya, Fransisus mulai menghindari olahraga dan pesta-pesta bersama teman-teman lamanya. Seorang teman bertanya apakah ia berniat untuk menikah, dan Fransiskus menjawab: "Ya, dengan mempelai wanita yang jauh lebih jelita daripada yang pernah kalian lihat," padahal yang ia maksud adalah "Sang Ibu Kemiskinan" (Lady Poverty)..[17]

Dalam perjalanannya ke Roma, ia bergabung dengan para pengemis di St. Peter's Basilica.[16] Ia menghabiskan waktu di tempat-tempat yang sepi, untuk meminta pencerahan kepada Tuhan. Fransiskus menyatakan bahwa ia mendapat visi mistis dari Yesus di kapel terkutuk di San Damiano, di luar Assisi, seolah ia melihat patung Yesus yang sedang disalib mengatakan, "Fransiskus, Fransiskus, pergilah dan perbaiki gerejaKu yang sudah kau lihat sendiri, mulai rontok menjadi reruntuhan." Fransiskus menyangka secara harfiah ia harus membantu memperbaiki gereja itu, sehingga ia menjual beberapa baju yang dicuri dari ayahnya untuk membantu para pendeta di sana.[18] Saat para pendeta menolak pemberiannya yang didapat dari sumber yang buruk, Fransiskus memanting koin-koin miliknya ke lantai.[17]

Untuk menghindari kemarahan ayahnya, ia bersembunyi di gua dekat San Damiano sekitar sebulan. Saat pulang ke kota, dalam keadaan lapar dan kumuh, ia diseret, diikat, dipukuli, dan dikunci di gudang. Ia lalu dibebaskan oleh ibunya saat ayahnya pergi. Fransiskus lalu kembali ke San Damiano, dan menginap di sebuah tempat milik pendeta. Ayahnya, yang tak puas hanya mengambil kembali uang yang pernah ia banting ke lantai, kini juga memaksanya untuk melepas hak waris, dengan memaggilnya ke konsil kota. Fransiskus menyatakan siap melepas hak warisnya di depan Uskup Assisi.[17] Beberapa cerita menyatakan bahwa Fransiskus melepas bajunya untuk menyatakan kesediannya melakukan hal tersebut, yang kemudian diikuti badannya diselimuti dengan jubah oleh sang uskup.[19][20]

Beberapa bulan berikutnya, Fransiskus berkeliling sebagai pengemis di perbukitan di belakang Assisi. Ia kadang menghabiskan waktu di kuil tetangga, dengan bekerja sebagai pencuci piring. Fransiskus kemudian menemui Gubbio. Di sana, seorang sahabat memberinya sedekah berupa jubah, ikat pinggang, dan tongkat layaknya seorang peziarah. Saat kembali ke Assisi, Fransiskus berkeliling kota untuk meminta sumbangan batu bagi pemugaran Gereja San Damiano. Ia mengangkut batu-batu itu ke kapel tua tersebut, memasangnya sendiri, dan secara bertahap membangunnya kembali. Dalam dua tahun, ia menikmati hidup sebagai pendosa yang telah bertobat, sambil terus memperbaik beberapa kapel yang telah runtuh di sekitar Assisi, antara lain San Pietro di Spina (erletak di kawasan San Petrignano di lembah, sekitar satu kilometer dari Rivotorto modern, kini berada di lahan pribadi dan kembali dalam keadaan runtuh); dan Porziuncola, kapel kecil dari St. Mary of the Angels di dataran rendah di bagian bawah kota.[17] Tempat ini kemudian menjadi abode favorit baginya.[21] Perlahan, ia juga menjadi perawat bagi penderita kusta, di koloni yang menderita kusta di dekat Assisi.

Visi perintah penyebaran injil

Pada Suatu Hari, Beliau mendengar sebuah Khotbah dari Kitab Matius Pasal 10:9. Di dalam Khotbah tersebut, Yesus Kristus mengajarkan pengikutnya, Bahwa mereka harus pergi memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mereka dihimbau supaya tidak membawa uang, tongkat, ataupun memakai sepatu. Santo Fransiskus Pun memutuskan untuk menyerahkan dirinya ke dalam kehidupan Kemiskinan dan Kerasulan dengan memakai Pakaian kumul, Bertelanjang kaki, tidak membawa uang, tongkat dan bekal. Seorang temannya, Yang bernama Bernardo di Quintavalle, bergabung dengan Ordo tersebut. Beliau menyumbangkan segala miliknya untuk Pekerjaan tersebut. Begitu pula dengan anggota anggota yang lainnya.

Anggota Ordo Persaudaraan tersebut tinggal di sebuah rumah sakit kusta yang sudah tidak dipergunakan lagi. Rumah Sakit tersebut terletak di Kota Rivo Torto. Akan tetapi, Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkeliling di Sekitar pegunungan Umbria. Hidup mereka sangat mirip dengan pertapa.

Pada Tahun 1209, Santo Fransiskus memimpin pengikutnya ke Kota Roma dengan tujuan meminta Izin dari Sri Paus untuk mendirikan sebuah Ordo Gereja Katolik yang baru. Awalnya, Izin mereka ditolak oleh Sri Paus, Akan tetapi, Mereka mendapatkan Izin dari Sri Paus yang Berikutnya, Yakni, Paus Inosensius III.

Pekerjaan dan pengembangan Ordo Fratrum Minorum

250px-Francesco_-_Fioretti%2C_1476-1479_-_1571894_if00284200_Scan00003.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Fioretti - Buku riwayat hidup Santo Fransiskus dari Kota Asisi yang ditulis sekitar abad ke-14 Masehi.

Pada suatu pagi di bulan Februari 1208, Fransiskus sedang mengikuti Misa di kapel Santa Maria Malaikat, yang di dekatnya ia telah membangun sebuah gubuk untuk dirinya sendiri. Bacaan Injil hari itu adalah "Pengutusan Dua Belas Rasul" dari Kitab Matius, di mana murid-murid Yesus diutus untuk pergi dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Fransiskus terinspirasi untuk menyerahkan dirinya pada hidup miskin. Setelah mendapatkan jubah wol kasar, pakaian yang saat itu dikenakan oleh petani Umbria termiskin, Fransiskus mengikatkannya ke sekeliling tubuhnya dengan tali bersimpul dan pergi berkeliling mendesak orang-orang di pedesaan untuk bertobat, saling mengasihi sebagai saudara, dan berdamai. Khotbahnya kepada orang-orang biasa tergolong tidak biasa karena Fransiskus tidak memiliki izin untuk melakukannya.[3]

Contoh dari Fransiskus menarik perhatian orang lain. Dalam waktu satu tahun, ia telah memiliki 11 pengikut. Saudara-saudara tersebut menjalani hidup yang sederhana di Rivo Torto, sebuah bekas koloni penderita kusta yang ditinggalkan di dekat Assisi. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan menjelajahi wilayah pegunungan Umbria, dan melalui ketulusan mereka terhadap orang-orang yang mereka temui, mereka sering kali meninggalkan kesan yang mendalam bagi orang-orang tersebut..[22]

250px-Legend_of_St._Francis_by_Giotto.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pope Innocent III approving the statutes of the Order of the Franciscans, by Giotto

Pada tahun 1209, Fransiskus menyusun aturan sederhana untuk para pengikutnya ("para biarawan"), yaitu Regula primitiva atau "Aturan Perdana", yang berasal dari ayat-ayat dalam Alkitab. Aturannya adalah "untuk mengikuti ajaran Tuhan kita Yesus Kristus dan berjalan dalam teladan-Nya." Ia lalu memimpin 11 pengikut ke Roma untuk meminta izin kepada Paus Innosensius III guna mendirikan tarekat religius baru.[23]

Setibanya di Roma, para saudara tersebut bertemu dengan Uskup Guido dari Asisi, yang saat itu sedang bersama Giovanni di San Paolo, Kardinal Uskup Sabina. Sang Kardinal, yang merupakan bapa pengaku dosa dari Paus Innosensius III, langsung bersimpati kepada Fransiskus dan setuju untuk mewakili Fransiskus di hadapan Paus. Setelah beberapa hari, Paus setuju untuk menerima kelompok tersebut secara informal, seraya menambahkan bahwa ketika Tuhan telah memperbanyak jumlah dan rahmat kelompok tersebut, mereka boleh kembali untuk audiensi resmi.

Kelompok ini kemudian menerima tonsur (pencukuran rambut ubun-ubun). Hal ini penting karena menjadi bentuk pengakuan terhadap otoritas Gereja dan melindungi para pengikutnya dari tuduhan sesat, seperti yang menimpa kaum Waldensian beberapa dekade sebelumnya. Meskipun sejumlah penasihat paus menganggap gaya hidup yang diusulkan oleh Fransiskus tidak aman dan tidak praktis, Paus memutuskan untuk mendukung tarekat Fransiskus setelah mendapat mimpi di mana ia melihat Fransiskus menopang Basilika Lateran. Menurut tradisi, peristiwa ini terjadi pada 16 April 1210 dan menjadi penanda pendirian resmi Ordo Fransiskan.[3]

Kelompok ini, dan saudaranya yang muncul kemudian, "Lesser Brothers" (Order of Friars Minor atau dikenal juga sebagai Ordo Fransiskan atau Ordo Seraphic), berpusat di Porziuncola dan pertama kali berkutbah di Umbria, sebelum menyebar ke seluruh Italia.[3] Fransiskus kemudian diangkat menjadi deakon, tapi tidak sebagai pendeta.[22]

Misi pada Perang Salib Kelima

Pada akhir musim semi tahun 1212, Francikus bertolak ke Yerusalem, tapi kemudian kapalnya dikaramkan oleh badai dan ia hanyut ke pantaiDalmatia, sehingga terpaksa kembali ke Italia. Pada tanggal 8 Mei 1213, ia diberi hak menggunakan gunung La Verna (Alverna), sebagai hadiah dari Count Orlando di Chiusi, yang menggambarkannya sebagai "sangat cocok bagi siapa pun yang ingin melakukan pertobatan di tempat yang jauh dari manusia". Selanjutnya gunung itu akan menjadi salah satu tempat retreat favoritnya untuk berdoa.[24][25]

Dalam Perang Salib Kelima pada tahun 1219, Fransiskus beranjak ke Mesir, menemui pasukan perang salib yang sudah setahun lebih mengepung kota Damietta. Ia ditemani oleh Friar Illuminatus dari Arce dan berharap bisa mengkristenkan sultan dari Mesir, atau mati sebagai martir. Sang Sultan, Al-Kamil, adalah keponakan dari Salahudin Al Ayubbi, telah naik tahta menjadi pewaris ayahnya pada tahun 1281, dan berkemah di bagian hulu kota tersebut. Pertempuran besar dan mematkan dilancarkan oleh pihak kristen pada tanggal 29 Agustus 1291, dan kemudian disusul oleh gencatan senjata selama empat minggu..[26] Selama masa inilah, kemungkinan Fransiskus dan rekannya menyeberangi garis musuh dan bertemu Sultan, lalu menginap di perkemahan muslim selama beberapa hari.[27] Ia berupaya membuat Sultan berpindah keyakinan, termasuk kemungkinan menantang tes dengan berjalan di atas api, untuk membuktikan siapa yang berada di jalan Tuhan, yang kemudian ditolak oleh Sultan[28]. Tidak ada informasi yang terlalu jelas mengenai pertemuan ini, selain Sultan menerima mereka dengan baik. Ia pulang dengan selamat.[a] Tidak ada ada sumber catatan dari dunia Islam mengenai pertemuan ini.[29]

Berdasarkan beberapa sumber terakhir, Sultan memberi izin kepada Fransiskus untuk mengunjungi beberapa tempat di Tanah Suci dan bahkan berkutbah di sana. Namun yang bisa dipastikan hanya ia dan rekannya meninggalkan perkemahan Pasukan Salib dan berjalan menuju Acre, dan kemudian bertolak ke Italia pada tahun 1220. Berdasarkan lukisan seremoni dari Bonaventura pada tahun 1267, beberapa sumber menyebutkan bahwa Sultan diam-diam berpindah agama ke Katolik dan menerima pembaptisan terakhir sebelum kematiannya, akibat pertemuan degan Fransiskus.[b]

Apa pun yang sebenarnya terjadi sebagai akibat dari pertemuan Fransiskus dan al-Kamil, setelah pertemun ini para Fransiskan telah mempertahankan kehadiran mereka di Tanah Suci hampir tanpa gangguan sejak tahun 1217 dan tetap berada di sana untuk seterusnya. Mereka menerima konsesi dari Sultan Mameluk pada tahun 1333 sehubungan dengan beberapa Tempat Suci di Yerusalem dan Betlehem dan (sejauh menyangkut Gereja Katolik) hak istimewa yurisdiksi dari Paus Klemens VI pada tahun 1342.[[30]

Kedekatan dengan alam dan lingkungan

Fransiskus mengkutbahkan doktrin Kristen bahwa dunia diciptakan baik dan indah oleh Allah, tetapi membutuhkan penebusan karena dosa manusia. Sebagai seseorang yang melihat Allah tercermin dalam alam, "Santo Fransiskus adalah pencinta agung ciptaan Allah ...". Dalam Gita Sang Surya (Canticle of the Sun), ia mengucap syukur kepada Allah atas Saudara Matahari, Saudari Bulan, Saudara Angin, Air, Api, dan Bumi, yang semuanya ia pandang sebagai sarana untuk memuji Allah.

Banyak kisah seputar kehidupan Fransiskus menyebutkan bahwa ia memiliki rasa cinta yang besar terhadap hewan dan lingkungan. Fioretti ("Bunga-Bunga Kecil") adalah kumpulan legenda dan cerita rakyat yang muncul setelah kematian Fransiskus. Salah satu kisah menceritakan bagaimana suatu hari, ketika Fransiskus sedang bepergian bersama beberapa rekannya, mereka tiba di suatu tempat di jalan di mana burung-burung memenuhi pepohonan di kedua sisi jalan. Fransiskus memberi tahu rekan-kesaksiannya untuk "tunggulah aku selagi aku pergi berkhotbah kepada saudari-saudariku, burung-burung." Burung-burung itu mengelilinginya, terpikat oleh kekuatan suaranya, dan tidak ada satu pun yang terbang menjauh. Ia sering kali digambarkan bersama seekor burung, biasanya di tangannya.

Legenda lain dari Fioretti menceritakan bahwa di kota Gubbio, tempat Fransiskus tinggal selama beberapa waktu, terdapat seekor serigala yang "mengerikan dan ganas, yang memangsa manusia maupun hewan". Fransiskus pergi ke perbukitan dan ketika menemukan serigala itu, ia membuat tanda salib lalu memerintahkannya untuk datang kepadanya dan tidak menyakiti siapa pun. Fransiskus kemudian menuntun serigala itu ke kota dan di hadapan warga yang terkejut, ia membuat kesepakatan antara mereka dan serigala tersebut. Karena serigala itu telah "berbuat jahat karena kelaparan", warga kota harus memberinya makan secara teratur. Sebagai imbalannya, serigala tersebut tidak akan lagi memangsa mereka atau ternak mereka. Dengan cara inilah, Gubbio terbebas dari ancaman predator tersebut.

Beberapa komentator modern dan pembela hak-hak hewan keliru menggambarkan Fransiskus sebagai seorang vegetarian. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa ia mengonsumsi daging, dan para biografer awalnya sama sekali tidak menyebutkan bahwa Fransiskus berpantang daging. Hidangan favorit Fransiskus adalah pai udang.

Pada tanggal 29 November 1979, Paus Yohanes Paulus II menetapkan Fransiskus sebagai santo pelindung ekologi. Pada tanggal 28 Maret 1982, Yohanes Paulus II menyatakan bahwa cinta dan kepedulian Fransiskus terhadap ciptaan merupakan tantangan bagi umat Katolik kontemporer dan sebuah pengingat "untuk tidak berperilaku seperti predator pembangkang dalam hal alam, melainkan memikul tanggung jawab atasnya, merawatnya dengan sepenuh hati agar segala sesuatu tetap sehat dan terpadu, sehingga dapat menawarkan lingkungan yang ramah dan bersahabat bahkan bagi mereka yang meneruskan kita." Paus yang sama menulis pada perayaan Hari Perdamaian Dunia, 1 Januari 1990, bahwa Fransiskus "mengajak seluruh ciptaan, hewan, tumbuhan, kekuatan alam, bahkan Saudara Matahari dan Saudari Bulan – untuk memberikan penghormatan dan pujian kepada Tuhan. Orang miskin dari Asisi ini memberikan kesaksian yang nyata kepada kita bahwa ketika kita berdamai dengan Allah, kita akan lebih mampu mengabdikan diri untuk membangun perdamaian dengan seluruh ciptaan yang tidak terpisahkan dari perdamaian di antara semua bangsa."

Pada tahun 2015, Paus Fransiskus menerbitkan surat ensikliknya Laudato si', tentang krisis ekologi dan "perawatan bagi rumah kita bersama", yang namanya diambil dari Gita Sang Surya yang digubah oleh Fransiskus dari Asisi. Ensiklik ini menyajikan Fransiskus sebagai "teladan utama dalam kepedulian terhadap kaum yang rentan dan ekologi integral yang dijalani dengan penuh sukacita dan autentik". Hal ini menginspirasi lahirnya Gerakan Laudato Si' (Laudato Si' Movement), sebuah jaringan global yang terdiri dari hampir 1.000 organisasi yang mempromosikan pesan Laudato si' dan pendekatan Fransiskan terhadap ekologi.

Stigmata, hari-hari terakhir, dan pensucian

250px-Cigoli%2C_san_francesco.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan Fransiskus dari Assisi menganggap stigmata yang dialaminya adalah sebagai imitasi atas apa yang dialami Yesus[31][32], oleh Cigoli, 1699

Saat sedang berdoa di Gunung Verna dalam masa puasa 40 hari sebagai persiapan menyambut Pesta Santo Mikael (29 September), Fransiskus dikisahkan mendapat penglihatan pada tanggal 17 September 1224, tiga hari setelah Pesta Pemuliaan Salib Suci. Setelah peristiwa itu, pada tubuh Fransiskus muncul stigmata yang menyerupai luka-luka pada tangan dan kaki Kristus yang disalibkan. Saudara Leo, yang saat itu mendampingi Fransiskus, meninggalkan catatan yang jelas dan sederhana mengenai peristiwa tersebut; ini merupakan catatan pasti yang pertama mengenai fenomena stigmata. "Tiba-tiba, ia melihat penglihatan tentang seorang serafim, malaikat bersayap enam, yang berada di atas salib. Malaikat itu menganugerahkan kepadanya lima luka Kristus."[33]Fenomena yang menyerupai stigmata tersebut diduga disebabkan oleh purpura pada tangan dan kaki, yang merupakan komplikasi yang diketahui dari malaria kuartana, penyakit yang diperkirakan pernah diderita oleh Francis sebelumnya.[34]

Akibat menderita stigmata dan trakoma, Fransiskus menjalani perawatan di beberapa kota (Siena, Cortona, Nocera), namun hasilnya nihil. Penglihatannya mulai merosot hingga ia hampir buta, dan Uskup Ostia memerintahkan agar matanya dioperasi, prosedur yang melibatkan tindakan kauterisasi menggunakan besi panas. Fransiskus mengaku sama sekali tidak merasakan sakit saat tindakan itu dilakukan.[35] Ia akhirnya dibawa ke sebuah pondok dekat Porziuncola. Di sini, Fransiskus mendiktekan testamen spiritualnya. Ia meninggal pada hari Sabtu, 3 Oktober 1226, saat menyanyikan Mazmur 41, "Voce mea ad Dominum". Pada tanggal 16 Juli 1228, ia dideklarasikan sebagai santo oleh Paus Gregorius IX (sebelumnya Kardinal Ugolino di Conti, sahabat Fransiskus dan Kardinal pelindung dari Ordo yang ia dirikan).

Keesokan harinya, Paus memulai peletakan batu pertama untuk pembangunan Basilica of St. Francis di Assisi. Fransiskus dikuburkan pada tanggal 25 Mei 1230, di bagian bawah basilika, tapi petinya kemudian disembunyikan oleh Ordo Brother Elias untuk menghindari perusakan oleh Saracen. Tempat penguburan Fransiskus tak pernah diketahui sampai ditembukan kembali pada tahun 1818. kemudian membangun sebuah ruang bawah tanah (kripta) untuk menyimpan jenazah tersebut di Basilika Bawah. Ruang itu diubah bentuknya menjadi seperti yang terlihat sekarang oleh Ugo Tarchi antara tahun 1927 dan 1930. Pada tahun 1978, jenazah Fransiskus diperiksa dan keasliannya dikonfirmasi oleh sebuah komisi ahli yang ditunjuk oleh Paus Paulus VI, lalu ditempatkan di dalam sebuah bejana kaca di dalam makam batu kuno tersebut.[36] Tulang belulangnya dipamerkan ke publik pertama kali pada tahun 2026.[37]

Tahun 1935, Edward Frederick Hartung menyimpulkan bahwa Fransiskus mungkin pertama kali tertular trachoma saat masih di Mesir, dan meninggal pada umur 45 tahun akibat malaria kuartana. Interpretasi ini dipublikasi dalam buku Annals of Medical History.[38][34]

Pengikutnya yang Lain

Santa Clara dari Assisi adalah Seorang Biarawati yang tertarik akan pemberitaan dan kehidupan Santo Fransiskus. Beliau mendirikan sebuah Ordo Gereja Katolik yang mirip dengan Ordo Fransiskan, Yakni, Ordo Santa Klara.

Galeri seni

Ordo Fransiskan menebarkan devosi terhadap hidup Fransiskus mulai semenjak kanosisasinya hingga kini. Banyak permintaan lukisan atau bentuk seni lainnya untuk gereja-gereja Fransiskan, baik itu menampilkan Fransiskus sebagai orang suci atau menggambarkan beberapa kisah perjalanan hidupnya. Sebagian besar seni bergaya Fresko awal terdapat di Basilika Santo Fransiskus dari Assisi.

Tidak terhitung ilustrasi Santo Fransiskus dari Assisi pada abad ke-17 dan ke-18 dan rupa malaikat bernyanyi di gereja dan museum di penjuru Eropa Barat. Beragam variasi dalam penamaan ilustrasi, salah satunya menggambarkan Fransiskus dalam situasi "terhibur", "menyejukkan", "penglihatan ilahi" atau "pengangkatan". Kehadiran malaikat bernyanyi sendiri mungkin atau tidak disebutkan.[39]

  • Penggambaran Fransiskus dari Assisi
  • Santo Fransiskus dan momen perjalanan hidupnya, abad ke-13
    Santo Fransiskus dan momen perjalanan hidupnya, abad ke-13
  • "Saint Francis of Assisi Receiving the Stigmata", karya Jan van Eyck versi Turin sekitar tahun 1430-1432
    "Saint Francis of Assisi Receiving the Stigmata", karya Jan van Eyck versi Turin sekitar tahun 1430-1432
  • "The Stigmatization of St Francis", karya Domenico Veneziano tahun 1445
    "The Stigmatization of St Francis", karya Domenico Veneziano tahun 1445
  • "Saint Francis in the Desert Giovanni Bellini", karya Giovanni Bellini tahun 1480
    "Saint Francis in the Desert Giovanni Bellini", karya Giovanni Bellini tahun 1480
  • "Saint Francis with the Blood of Christ", karya Carlo Crivelli sekitar tahun 1500
    "Saint Francis with the Blood of Christ", karya Carlo Crivelli sekitar tahun 1500
  • "Saint Francis Receiving the Stigmata", karya Studio El Greco tahun 1585–1590
    "Saint Francis Receiving the Stigmata", karya Studio El Greco tahun 1585–1590
  • "Francis of Assisi with angel music", karya Francisco Ribalta sekitar tahun 1620
    "Francis of Assisi with angel music", karya Francisco Ribalta sekitar tahun 1620
  • "Saint Francis in Meditation", karya Francisco de Zurbarán tahun 1639
    "Saint Francis in Meditation", karya Francisco de Zurbarán tahun 1639
  • "Saint Francis of Assisi in Ecstasy", karya Jusepe de Ribera tahun 1639
    "Saint Francis of Assisi in Ecstasy", karya Jusepe de Ribera tahun 1639
  • "Saint Francis of Assisi in Ecstasy", karya Caravaggio sekitar tahun 1595
    "Saint Francis of Assisi in Ecstasy", karya Caravaggio sekitar tahun 1595
  • "Francis of Assisi visiting his convent while far away, in a chariot of fire", karya José Benlliure y Gil
    "Francis of Assisi visiting his convent while far away, in a chariot of fire", karya José Benlliure y Gil
  • "The Ecstasy of St. Francis", karya Stefano di Giovanni tahun 1444
    "The Ecstasy of St. Francis", karya Stefano di Giovanni tahun 1444
  • Nazario Gerardi sebagai Fransiskus di film "The Flowers of St. Francis" tahun 1950
    Nazario Gerardi sebagai Fransiskus di film "The Flowers of St. Francis" tahun 1950
  • Patung di Askeaton Abbey, Irlandia, diklaim dapat menyembuhkan sakit gigi, abad ke-14 sampai ke-15
    Patung di Askeaton Abbey, Irlandia, diklaim dapat menyembuhkan sakit gigi, abad ke-14 sampai ke-15

Dalam budaya populer

250px-Assisi_San_Francesco_BW_2.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Basilika Santo Fransiskus, Assisi
250px-Chania_-_Katholische_Kirche_-_Innenhof.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tampak patung Santo Fransiskus di halaman Gereja Katolik Khania, Yunani.

Film

  • The Flowers of St. Francis, sebuah film tahun 1950 yang disutradarai oleh Roberto Rossellini dan ditulis bersama dengan Federico Fellini. Fransiskus diperankan oleh Nazario Gerardi, seorang biarawan Fransiskan dari biara di Nocera Inferiore.
  • Francis of Assisi, sebuah film tahun 1961 karya Michael Curtiz, diadaptasi dari novel The Joyful Beggar oleh Louis de Wohl, di mana Fransiskus diperankan oleh Bradford Dilman. Sedangkan Klara diperankan oleh Dolores Hart yang kemudian menjadi seorang suster di Ordo Santo Benediktus.
  • Francis of Assisi, sebuah film televisi tahun 1966 karya Liliana Cavani, Fransiskus diperankan oleh Lou Castel.
  • The Hawks and the Sparrows, sebuah film tahun 1966 karya Pier Paolo Pasolini.
  • Brother Sun, Sister Moon, sebuah film tahun 1972 karya Franco Zeffirelli, Fransiskus diperankan oleh Graham Faulkner.
  • Fransesco, sebuah film tahun 1989 karya Liliana Cavani, menceritakan perjalanan Fransiskus dari seorang anak orang kaya menuju seorang religius yang humanis hingga menjadi santo secara penuh yang menyangkal dirinya. Fransiskus diperankan oleh Mickey Rourke.
  • St. Francis, sebuah film tahun 2002 karya Michele Soavi, Fransiskus diperankan oleh Raoul Bova.
  • Clare and Francis, sebuah film tahun 2007 karya Fabrizio Costa, dengan pemeran utama Mary Petruolo dan Ettore Bassi.
  • Pranchiyettan and the Saint, sebuah film satir tahun 2010 karya sinema Malayalam.
  • Finding St. Francis, sebuah fiilm tahun 2014 karya Paul Alexander.
  • L'ami – François d'Assise et ses frères, sebuah film tahun 2016 karya Renaud Fely dan Arnaud Louvet, dengan pemeran utama Elio Germano.
  • The Sultan and the Saint, sebuah film tahun 2016 karya Alexander Kronemer, dengan pemeran utama Alexander McPherson.
  • Sign of Contradiction,[40] sebuah film dokumenter tahun 2018 dengan narasumber Fr. Dave Pivonka, Kardinal Raniero Cantalamessa, dan narasumber lainnya yang mengkisahkan kebenaran akan Santo Fransiskus kepada penonton masa kini.
  • In Search of St. Francis of Assisi,[41] sebuah fillm dokumenter tentang para biarawan Fransiskan.
  • The Letter: A Message for our Earth,[42] sebuah film tahun 2022 di Youtube Originals karya Nicolas Brown, mengenai kisah Santo Fransiskus dan ensiklik Laudato si'.

Musik

  • Franz Lisz
    • Cantico del sol di Francesco d'Assisi, S.4 (karya paduan suara suci, 1862, 1880–81; versi Prelude untuk piano, S. 498c, 499, 499a; versi Prelude untuk organ, S. 665, 760; versi Hosannah untuk organ dan trombon bass, S.677)
    • St. François d'Assise: La Prédication aux oiseaux, No. 1 dari Deux Légendes, S.175 (piano, 1862–63)
  • William Henry Draper – All Creatures of Our God and King (himne parafrase dari Canticle of the Sun, diterbitkan tahun 1919)
  • Mario Castelnuovo-Tedesco – Fioretti (vokal dan orkestra, 1920)
  • Gian Francesco Malipiero – San Francesco d'Assisi (solois, paduan suara dan orkestra, 1920–21)
  • Hermann Suter – Le Laudi (Pujian) atau Le Laudi di San Francesco d'Assisi, berdasarkan Kidung Matahari, (oratorio, 1923)
  • Amy Beach – Canticle of the Sun (solois, paduan suara dan orkestra, 1928)
  • Paul HindemithNobilissima Visione (balet 1938)
  • Leo Sowerby – Canticle of the Sun (kantata untuk vokal campuran dengan iringan untuk piano atau orkestra, 1944)
  • Francis PoulencQuatre petites prières de St. François d'Assise (paduan suara pria, 1948)
  • Seth Bingham – The Canticle of the Sun (kantata untuk paduan suara campuran dengan soli ad lib. dan iringan untuk organ atau orkestra, 1949)
  • William WaltonCantico del sol (paduan suara, 1973–74)
  • Olivier MessiaenSt. François d'Assise (opera, 1975–83)
  • Juliusz Łuciuk – Święty Franciszek z Asyżu (oratorio untuk sopran, tenor, bariton, paduan suara campuran dan orkestra, 1976)
  • Peter Janssens – Franz von Assisi, Musikspiel (drama musikal, teks: Wilhelm Wilms, 1978)
  • Michele Paulicelli – Forza venite gente [it] (teater musikal, 1981)
  • John Michael TalbotTroubador of the Great King (1981), LP ganda yang disusun untuk menghormati ulang tahun ke-800 Santo Fransiskus dari Assisi.
  • Karlheinz StockhausenLuzifers Abschied (1982), adegan 4 opera Samstag aus Licht
  • Libby Larsen – I Will Sing and Raise a Psalm (paduan suara dan organ SATB, 1995)
  • Sofia GubaidulinaSonnengesang (cello solo, paduan suara kamar dan perkusi, 1997)
  • Juventude Franciscana – Balada de Francisco (vokal disertai gitar, 1999)
  • Angelo Branduardi – L'infinitamente piccolo (album, 2000)
  • Lewis Nielson – St. Francis Preaching to the Birds (konser untuk biola, 2005)
  • Peter Reulein (komposer) / Helmut Schlegel (libretto) – Laudato si' (oratorio, 2016)
  • Daniel Dorff – Flowers of St. Francis (solo untuk Bass Clarinet, 2013)
  • Mel Hornyak & Elliot Valentine Lee – Litany of the Martyrs, muncul di Adamandi (nomor musik, 2022)

Buku tentang Fransiskus (rekomendasi)

Ratusan buku telah ditulis tentang Fransiskus. Rekomendasi berikut berasal dari Biarawan Fransiskan Conrad Harkins (1935–2020), Direktur Institut Fransiskan di Universitas St. Bonaventure.[43]

  • Paul Sabatier, Life of St. Francis of Assisi (Scribner's, 1905).
  • Johannes Jurgensen, St. Francis of Assisi: A Biography (diterjemahkan oleh T. O'Conor Sloane; Longmans, 1912).
  • Arnaldo Fortini, Francis of Assisi (diterjemahkan oleh Helen Moak, Crossroad, 1981).
  • Nikos Kazantzakis, Saint Francis (Ο Φτωχούλης του Θεού, dalam bahasa Yunani; 1954)
  • John Moorman, St. Francis of Assisi (SPCK, 1963)
  • John Moorman, The Spirituality of St. Francis of Assisi (Our Sunday Visitor, 1977).
  • Erik Doyle, St. Francis and the Song of Brotherhood (Seabury, 1981).
  • Raoul Manselli, St. Francis of Assisi (diterjemahkan oleh Paul Duggan; Fransiskan, 1988).

Karya lain

  • Dalam puisi karya Rubén Darío "Los Motivos del Lobo", Fransiskus menjinakkan seekor serigala menyeramkan namun menyadari bahwa hati manusia menyimpan keinginan lebih buruk daripada hati binatang buas itu.
  • Dalam novel karya Fyodor Dostoevsky "The Brothers Karamazov", Ivan Karamazov memanggil nama "Pater Seraphicus", julukan yang disematkan pada Fransiskus, menggambarkan Zosima sebagai pembimbing spriitual Alyosha. Referensi ini dapat ditemukan pada Faust karya Goethe, bagian 2, babak 5, baris 11.918–25.[44]
  • Dalam buku "Mont St. Michel and Chartres", pada bab "Mystics" oleh Henry Brooks Adams membahas Fransiskus secara mendalam.
  • Francesco's Friendly World, sebuah direct-to-video animasi Kristiani karya Lyrick Studios di tahun 1996-1997 menceritakan Fransiskus dan kawan-kawan hewannya yang dapat berbicara dalam membangun kembali Gereja San Damiano.[45]
  • Rich Mullins ikut menulis Canticle of the Plains, sebuah musikal, dengan Mitch McVicker. Dirilis pada tahun 1997, film tersebut berdasarkan pada kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi, tetapi diceritakan sebagai kisah Barat.

Lihat pula

Doa-doa

Referensi

  1. "Saints of the Week!". www.resurrectionpeople.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-05-16. Diakses tanggal 2015-05-11.
  2. Jacob Dagger (November 30, 2006). "Blessing All Creatures, Great and Small". Duke Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-03-21. Diakses tanggal 2015-05-11.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 Brady & Cunningham 2020.
  4. Delio 2013.
  5. Tolan 2009.
  6. 20px-Wikisource-logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Herbermann, Charles, ed. (1913). Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.{{cite encyclopedia}}: |title= tidak ada atau kosong
  7. 1 2 20px-Wikisource-logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Herbermann, Charles, ed. (1913). Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.{{cite encyclopedia}}: |title= tidak ada atau kosong
  8. 1 2 Cross, F. L., ed. (2005). "Francis of Assisi". The Oxford dictionary of the Christian church. New York: Oxford University Press. ISBN 0199566712.
  9. "St. Francis of Assisi – Franciscan Friars of the Renewal". Franciscanfriars.com. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Desember 2019. Diakses tanggal 24 Oktober 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. Englebert, Omer (1951). The Lives of the Saints. New York: Barnes & Noble. hlm. 529. ISBN 978-1-56619-516-4.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal
  11. Dagger, Jacob (November–Desember 2006). "Blessing All Creatures, Great and Small". Duke Magazine. Diakses tanggal 1 Desember 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. 1 2 Chesterton, Gilbert Keith (1924). St. Francis of Assisi (Edisi 14). Garden City, New York: Image Books. hlm. 158.
  13. Chesterton (1924), pp. 40–41
  14. St. Bonaventure; Cardinal Manning (1988) [1867]. The Life of St. Francis of Assisi (from the Legenda Sancti Francisci) (Edisi 1988). Rockford, Illinois: TAN Books & Publishers. hlm. 190. ISBN 978-0-89555-343-0.
  15. 1 2 Cross, F. L., ed. (2005). "Francis of Assisi". The Oxford Dictionary of the Christian Church. New York: Oxford University Press. ISBN 0199566712.
  16. 1 2 3 4
  17. According to the Franciscan Order, Francis of Assisi personally experienced the Trinitarian indwelling for more times during his earthly life. See Fr. Guglielmo Spirito, OFM Conv (2009). Edizioni Studio Domenicano (ed.). Terra che diventa cielo – L'inabitazione trinitaria in san Francesco. Le frecce (dalam bahasa Italia and Spanyol). hlm. 312. ISBN 978-8870947397. OCLC 799697579. Templat:EAN. Also available in Spanish: A. Spirito (franciscano conventual), Guglielmo (1 de enero de 1994). El cielo en la tierra. La inhabitación trinitaria en s. Francisco a la luz de su tiempo y de sus escritos. Varia (2). Miscellanea Francescana. p. 312.
  18. de la Riva, Fr. John (2011). "Life of St. Francis". St. Francis of Assisi National Shrine. Diarsipkan dari asli tanggal 20 April 2021. Diakses tanggal 11 Juni 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. Kiefer, James E. (1999). "Francis of Assisi, Friar". Biographical sketches of memorable Christians of the past. Diakses tanggal 11 Juni 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. Chesterton (1924), pp. 54–56
  21. 1 2
  22. Chesterton (1924), pp. 107–108
  23. Fioretti quoted in: St. Francis, The Little Flowers, Legends and Lauds, trans. N. Wydenbruck, ed. Otto Karrer (London: Sheed and Ward, 1979) 244.
  24. Chesterton (1924), p. 130
  25. Runciman, Steven. History of the Crusades, vol. 3: The Kingdom of Acre and the Later Crusades, Cambridge University Press (1951, paperback 1987), pp. 151–161.
  26. Tolan 2009, hlm. 4–.
  27. Moses, Paul (1 November 2019). Diplomasi Damai Santo dan Sultan. Tangerang Selatan: Alvabet. hlm. 177–179. ISBN 978-623-220-069-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. Tolan 2009, hlm. 5.
  29. Bulla Gratias agimus, commemorated by Pope John Paul II in a Letter dated 30 November 1992. See also Tolan 2009, hlm. 258. On the Franciscan presence, including a historical overview, see, generally the official website at Custodia Diarsipkan 27 July 2011 di Wayback Machine. and Custodian of the Holy Land
  30. Le Goff, Jacques. Saint Francis of Assisi, 2003 ISBN0-415-28473-2 p. 44
  31. Miles, Margaret Ruth. The Word made flesh: a history of Christian thought, 2004 ISBN978-1-4051-0846-1 pp. 160–161
  32. Chesterton (1924), p. 131
  33. 1 2 "Medicine: St. Francis' Stigmata". TIME (dalam bahasa Inggris). 11 Maret 1935. Diakses tanggal 15 Agustus 2024.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  34. Armstrong, Regis J.; Hellmann, J. A. Wayne; Short, William J. (1999). Francis of Assisi – The Prophet: Early Documents, vol. 3: Early Documents (dalam bahasa Inggris). New City Press. hlm. 861. ISBN 978-1-56548-114-5. Diakses tanggal 14 Agustus 2024.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. "Key to Umbria: Assisi". www.keytoumbria.com. Diakses tanggal 9 Mei 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  36. "Saint Francis of Assisi's skeleton goes on public display for first time". The Guardian. Assisi. Agence France-Presse. 22 Februari 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  37. Hartung, Edward Frederick (1935). "ST. FRANCIS AND MEDIEVAL MEDICINE". Annals of Medical History. 7 (1): 85–91.
  38. Roberts, Holly (2020). "The Musical Rapture of Saint Francis of Assisi: Hagiographic Adaptations and Iconographic Influences". Music in Art: International Journal for Music Iconography. 45 (1–2): 72–86. ISSN 1522-7464.
  39. St. Francis of Assisi: Sign of Contradiction (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 2023-09-12
  40. In Search of Saint Francis of Assisi, Green Apple Entertainment. Retrieved 20 December 2019.
  41. "Pope Francis YouTube Doc 'The Letter: A Message For Our Earth' Launches From Vatican City – Trailer". Variety (dalam bahasa American English). 2022-10-04. Diakses tanggal 2022-11-25.
  42. Harkins, Conrad (1994). "Francis of Assisi: Recommended Resources". Christianity Today. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2021. Diakses tanggal 11 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. Медведев, Александр (2015). ""Сердце милующее": образы праведников в творчестве Ф. М. Достоевского и св. Франциск Ассизский". Известия Уральского федерального университета. Серия 2: Гуманитарные науки. №2 (139): 222–233. Diakses tanggal 11 Juli 2019 via www.academia.edu.{{cite journal}}: |volume= memiliki teks tambahanPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  44. "Mark Bernthal" (Video). www.markbernthal.com.


330px-Stfrancis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Santo Fransiskus dari Kota Assisi
330px-Franasis.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Santo Fransiskus dari Kota Assisi
  1. e.g., Jacques de Vitry, Letter 6 February or March 1220 and Historia orientalis (ca1223–1225) cap. XXII; Tommaso da Celano, Vita prima (1228), §57: the relevant passages are quoted in an English translation in Tolan 2009, hlm. 19– and Tolan 2009, hlm. 54 respectively.
  2. For grants of various permissions and privileges to Francis as attributed by later sources, see, e.g., Tolan 2009, hlm. 258–263. The first mention of the Sultan's conversion occurs in a sermon delivered by Bonaventure on 4 October 1267. See Tolan 2009, hlm. 168
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan