Senin, 21 September 2026
03:03 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Dignitatis Humanae

Deklarasi Katolik tentang Kebebasan Beragama

Catholic Declaration on Religious FreedomTemplat:SHORTDESC:Catholic Declaration on Religious Freedom
Bagian dari seri Gereja Katolik tentang
Ajaran sosial Katolik
Emblem of the Holy See
Ringkasan
40px-046CupolaSPietro.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalKatolik

Dignitatis humanae[a][b] (Tentang Martabat Manusia) adalah Deklarasi tentang Kebebasan Beragama dari Konsili Vatikan Kedua.[1] Dalam konteks maksud yang dinyatakan oleh konsili "untuk mengembangkan doktrin para paus baru-baru ini tentang hak-hak asasi manusia yang tidak dapat dilanggar dan tatanan konstitusional masyarakat", Dignitatis humanae menjelaskan dukungan gereja terhadap perlindungan kebebasan beragama. Ia menetapkan aturan dasar bagaimana gereja akan berhubungan dengan negara-negara sekuler.

Pengesahan langkah ini dengan suara 2.308 berbanding 70 dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah dewan tersebut.[2] Deklarasi ini diproklamasikan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 7 Desember 1965.

Dignitatis humanae menjadi titik perselisihan antara Vatikan dan umat Katolik tradisionalis yang berpendapat bahwa dokumen konsili tersebut tidak sesuai dengan ajaran Katolik yang telah dinyatakan secara otoritatif sebelumnya.

Isi dokumen

Dokumen Dignitatis Humanæ memiliki susunan sebagai berikut:

  1. Pendahuluan
  2. Ajaran Umum tentang Kebebasan Beragama (1-8)
  3. Kebebasan Beragama dalam Terang Wahyu (9-14)
  4. Penutup (15)

Nomor dalam tanda kurung adalah nomor subbab yang merupakan pasal referensi yang biasa digunakan sewaktu mengutip dokumen ini.

Pranala luar

Konstitusi [4]
Dekrit [9]
Pernyataan [3]
Catatan: Nomor dalam tanda kurung () di akhir nama setiap dokumen adalah urutan peresmian dokumen selama Konsili.
Ikon rintisan

Artikel bertopik Katolik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  1. Dokumen ini dikenal dengan incipit, yaitu kata-kata pertama dokumen dalam teks Latin asli, seperti yang lazim untuk dokumen Gereja Katolik serupa.
  2. pelafalan dalam bahasa Latin: [d̪iɲˈɲiː.t̪ä.t̪isˈuː.mä.ne]
  1. The full text of a translation into English is available from the Holy See's website Diarsipkan February 11, 2012, di Wayback Machine.
  2. "Thus, during the final vote on the morning of December 7 (when the fathers had to choose between a simple approval or disapproval of the last draft), Lefebvre was one of the 70 — about 3 percent of the total — who voted against the schema." Marcel Lefebvre: Signatory to Dignitatis humanae, by Brian Harrison
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan