Senin, 19 Oktober 2026
23:49 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Beras

Beras

Bagikan:
Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Oktober 2026)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
  • Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris.
  • Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
  • Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
  • Setelah menerjemahkan, {{Translated|en|Rice}} harus ditambahkan di halaman pembicaraan untuk memastikan kesesuaian hak cipta.
  • Untuk panduan lebih lanjut, lihat Wikipedia:Panduan dalam menerjemahkan artikel.
Untuk tumbuhan, lihat padi.
Biji-bijian serealia dan makanan pokokTemplat:SHORTDESC:Biji-bijian serealia dan makanan pokok
Untuk kegunaan lain, lihat Beras (disambiguasi).
500px-20201102.Hengnan.Hybrid_rice_Sanyou-1.6.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tanaman padi (Oryza sativa) dengan malai bercabang yang mengandung banyak bulir pada setiap batang
500px-Rice_grains_%28IRRI%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Beras dari berbagai varietas di International Rice Research Institute (IRRI)

Beras adalah biji-bijian serealia dan, dalam bentuknya yang telah didomestikasi, merupakan makanan pokok bagi lebih dari separuh populasi dunia, terutama di Afrika dan Asia. Beras adalah biji dari spesies rumput Oryza sativa (padi Asia) atau, yang lebih jarang, Oryza glaberrima (padi Afrika). Padi Asia didomestikasi di Tiongkok sekitar 13.500 hingga 8.200 tahun yang lalu, sedangkan padi Afrika didomestikasi secara mandiri di Afrika Barat sekitar 3.000 tahun yang lalu. Beras telah menjadi hal yang umum di banyak budaya di seluruh dunia. Pada tahun 2023, sebanyak 800 juta ton beras diproduksi, menempatkannya di posisi ketiga setelah tebu dan jagung. Hanya sekitar 8% beras yang diperdagangkan secara internasional. Tiongkok, India, dan Indonesia adalah konsumen beras terbesar. Sebagian besar beras yang diproduksi di negara berkembang terbuang setelah panen akibat berbagai faktor seperti buruknya transportasi dan penyimpanan. Hasil panen padi dapat menurun akibat hama termasuk serangga, pengerat, dan burung, serta oleh gulma, dan penyakit seperti blas padi. Polikultur padi tradisional seperti pertanian padi-itik, dan pengendalian hama terpadu modern bertujuan untuk mengendalikan kerusakan akibat hama dengan cara yang berkelanjutan.

Gabah kering digiling untuk menghilangkan lapisan luarnya. Bergantung pada seberapa banyak lapisan yang dihilangkan, produk yang dihasilkan berkisar dari beras pecah kulit hingga beras dengan embrio dan beras putih. Sebagian beras dipratanak agar lebih mudah dimasak. Beras tidak mengandung gluten. Meskipun menyediakan protein, beras tidak memiliki semua asam amino esensial yang dibutuhkan untuk kesehatan yang baik. Berbagai jenis beras dikonsumsi di seluruh dunia. Komposisi komponen pati di dalam biji beras, yakni amilosa dan amilopektin, memberikan sifat tekstur yang berbeda.[1] Beras bulir panjang, dari kultivar Indica, cenderung tetap utuh saat dimasak, serta memiliki tekstur yang kering dan pera (tidak pulen). Varietas beras aromatik, seperti basmati dan melati, banyak digunakan dalam masakan Asia, dan dibedakan oleh profil rasanya yang kuat dan beraroma kacang.[2] Beras bulir sedang, baik dari kultivar Japonica maupun Indica, atau hibrida dari keduanya, memiliki tekstur yang lembap dan empuk serta cenderung lengket.[3] Varietasnya termasuk Calrose, yang menjadi cikal bakal industri beras California, Carnaroli, yang dijuluki sebagai raja beras Italia karena sifat masaknya yang sangat baik,[4] dan beras hitam, yang tampak ungu tua karena tingginya kadar antosianin. Beras hitam juga dikenal sebagai beras terlarang karena pada zaman Tiongkok kuno penggunaannya dikhususkan untuk keluarga kerajaan.[5] Beras bulir pendek, terutama dari kultivar Japonica, memiliki bentuk oval dan tekstur yang lengket. Beras ini sangat banyak digunakan dalam masakan Jepang seperti sushi (menggunakan beras seperti Koshihikari, Hatsushimo, dan Sasanishiki, yang unik menurut iklim dan letak geografis di berbagai wilayah Jepang),[6] karena bentuknya tetap terjaga saat dimasak. Beras jenis ini juga digunakan untuk hidangan manis seperti mochi (dengan beras ketan), dan dalam masakan Eropa seperti risotto (dengan beras arborio) dan paella (dengan beras bomba, yang sebenarnya merupakan varietas Indica).[2] Nasi putih yang telah dimasak mengandung 29% karbohidrat dan 2% protein, beserta sejumlah mangan. Beras emas adalah varietas yang diproduksi melalui rekayasa genetika agar mengandung vitamin A.

Produksi padi diperkirakan telah menyebabkan lebih dari 1% dari total emisi gas rumah kaca global pada tahun 2022. Prediksi mengenai bagaimana hasil panen padi akan terpengaruh oleh perubahan iklim bervariasi di berbagai wilayah geografis dan konteks sosial-ekonomi. Dalam budaya manusia, beras memainkan peran penting dalam berbagai agama dan tradisi, seperti dalam upacara pernikahan.


Etimologi

Pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada abad ke-13, kata rice berasal dari bahasa Prancis Kuno ris, yang diturunkan melalui bahasa Latin oriza dan berkerabat dengan kata Sanskerta vrihi-s ("beras").[7]

Deskripsi

Tanaman padi dapat tumbuh hingga lebih dari 1 m (3 ft); jika berada di air yang dalam, panjangnya dapat mencapai 5 m (16 ft). Dari benih hingga panen, diperlukan waktu sekitar enam bulan.[8] Satu tanaman dapat memiliki beberapa batang berdaun atau anakan. Batang tegak memiliki ruas-ruas yang tersusun sepanjang batang; dari setiap ruas tumbuh daun panjang dan ramping.[9] Bunga yang menyerbuk sendiri dihasilkan dalam sebuah malai, yaitu perbungaan bercabang yang muncul dari ruas terakhir pada batang. Sebuah malai dapat memiliki hingga 350 bulir, yang masing-masing mengandung bagian bunga jantan dan betina (kepala sari dan ovulum). Ovulum yang dibuahi berkembang menjadi biji yang dapat dimakan atau kariopsis.[10]

Padi merupakan serealia yang termasuk dalam famili Poaceae. Sebagai tanaman tropis, padi dapat ditanam selama dua musim yang berbeda (musim kemarau dan musim hujan) sepanjang tersedia cukup air.[11] Padi biasanya merupakan tanaman semusim, tetapi di daerah tropis dapat bertahan sebagai tanaman perenial, menghasilkan ratun.[12]

  • Anatomi bunga padi: bulir (kiri), tanaman dengan anakan (tengah), kariopsis (kanan atas), malai (kanan)
    Anatomi bunga padi: bulir (kiri), tanaman dengan anakan (tengah), kariopsis (kanan atas), malai (kanan)
  • Detail tanaman padi yang menunjukkan bunga-bunga yang mengelompok dalam malai. Kepala sari jantan menonjol ke udara sehingga dapat menyebarkan serbuk sari.
    Detail tanaman padi yang menunjukkan bunga-bunga yang mengelompok dalam malai. Kepala sari jantan menonjol ke udara sehingga dapat menyebarkan serbuk sari.

Agronomi

Budidaya

Seperti semua tanaman pertanian, pertumbuhan padi bergantung pada faktor lingkungan biotik dan abiotik. Faktor biotik utama adalah varietas tanaman, hama, dan penyakit tanaman. Faktor abiotik meliputi jenis tanah, apakah lahan merupakan dataran rendah atau dataran tinggi, jumlah hujan atau air irigasi, suhu, panjang siang, dan intensitas cahaya matahari.[13]

Benih padi dapat ditanam langsung di lahan tempat tanaman akan tumbuh, atau bibit dapat ditumbuhkan di persemaian kemudian dipindahkan ke lahan. Penanaman langsung membutuhkan sekitar 60 hingga 80 kilogram per hektare (54 hingga 71 pon/ekar) benih, sedangkan transplantasi membutuhkan lebih sedikit, sekitar 40 kilogram per hektare (36 pon/ekar), tetapi memerlukan jauh lebih banyak tenaga kerja.[14] Sebagian besar padi di Asia ditanam dengan cara transplantasi secara manual. Transplantasi mekanis membutuhkan waktu lebih singkat, tetapi memerlukan lahan yang dipersiapkan dengan baik serta bibit yang ditumbuhkan pada alas atau baki agar sesuai dengan mesin.[15] Padi tidak tumbuh dengan baik jika terus-menerus terendam.[16] Padi dapat ditanam di berbagai lingkungan, bergantung pada ketersediaan air. Pengaturan yang umum adalah lahan dataran rendah dikelilingi oleh pematang dan digenangi air hingga kedalaman beberapa sentimeter sampai sekitar satu minggu sebelum waktu panen; metode ini membutuhkan banyak air. Teknik "pembasahan dan pengeringan bergantian" menggunakan lebih sedikit air. Salah satu bentuknya adalah menggenangi lahan hingga kedalaman 5 cm (2 inci), kemudian membiarkan permukaan air turun hingga 15 cm (6 inci) di bawah permukaan tanah, yang diukur dengan melihat ke dalam tabung air lahan berlubang yang ditanam di dalam tanah, kemudian mengulangi siklus tersebut.[17] Varietas padi air dalam dapat bertahan terhadap genangan hingga kedalaman lebih dari 50 sentimeter selama sedikitnya satu bulan.[18] Padi gogo ditanam tanpa penggenangan, di wilayah berbukit atau pegunungan; tanaman ini bergantung pada pertanian tadah hujan seperti gandum atau jagung.[19]

250px-Kerbau_Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Membajak sawah terasering dengan kerbau di Jawa
250px-Cambodian_farmers_planting_rice.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Petani menanam padi dengan tangan di Kamboja
250px-Rice-planting-machine_2%2Ckatori-city%2Cjapan.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penanaman padi secara mekanis di Jepang

Pemanenan

Di seluruh Asia, padi yang belum digiling atau "gabah" (bahasa Melayu padi), secara tradisional dihasilkan melalui pertanian petani kecil, dengan pemanenan secara manual. Pertanian yang lebih besar menggunakan mesin seperti mesin pemanen kombinasi untuk mengurangi kebutuhan tenaga kerja.[20] Biji padi siap dipanen ketika kadar airnya mencapai 20–25%. Pemanenan meliputi pemotongan, penumpukan batang yang telah dipotong, perontokan untuk memisahkan gabah, dan pembersihan dengan penampian atau pengayakan.[21] Gabah dikeringkan sesegera mungkin untuk menurunkan kadar air hingga tingkat yang aman dari kapang. Pengeringan tradisional mengandalkan panas matahari, dengan gabah ditebarkan di atas tikar atau permukaan jalan.[22]

330px-Rice_farmers_Mae_Wang_Chiang_Mai_Province.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Setelah panen, jerami padi dikumpulkan dengan cara tradisional dari sawah kecil di Mae Wang, Thailand
250px-NP_India_burning_48_%286315309342%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pembakaran sisa tanaman padi untuk mempersiapkan lahan bagi penanaman gandum di Sangrur, India
250px-Nellu.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pengeringan padi di Peravoor, India

Evolusi

Filogeni

Informasi lebih lanjut: Oryza sativa

Spesies padi yang dapat dimakan merupakan anggota klade BOP dalam famili rumput-rumputan, Poaceae. Subfamili padi, Oryzoideae, merupakan kelompok saudara dari bambu, Bambusoideae, dan subfamili serealia Pooideae. Genus padi Oryza merupakan salah satu dari sebelas genus dalam Oryzeae; genus ini merupakan kelompok saudara dari Phyllorachideae. Spesies padi yang dapat dimakan, O. sativa dan O. glaberrima, termasuk di antara sekitar 300 spesies atau subspesies dalam genus tersebut.[23]

Poaceae

rumput lainnya

klade PACMAD

(termasuk rumput C4, jagung, sorgum)

klade BOP
Oryzoideae

Streptogyneae

Ehrharteae

Phyllorachideae

Oryzeae

Padi liar termasuk Zizania

Oryza

spesies dan subspesies padi lainnya

O. sativa (padi Asia)

O. glaberrima (padi Afrika)

Bambusoideae (bambu)

Pooideae (rumput dan serealia termasuk gandum, jelai)

Sejarah

Artikel utama: Sejarah budidaya padi
500px-KITLV_40091_-_Kassian_C%C3%A9phas_-_Relief_of_the_hidden_base_of_Borobudur_-_1890-1891.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Relief dasar tersembunyi Borobudur dari abad ke-9 di Indonesia menggambarkan lumbung padi dan tanaman padi yang diserang tikus.

Padi Oryza sativa pertama kali didomestikasi di Tiongkok sekitar 9.000 tahun yang lalu,[24] oleh masyarakat kebudayaan Neolitikum di wilayah hulu dan hilir Yangtze, yang masing-masing berkaitan dengan penutur Hmong–Mien dan pra-Austronesia.[25][26][27][28] Alel fungsional untuk ketidakmudahan rontok, yang merupakan indikator penting domestikasi pada serealia, serta lima polimorfisme nukleotida tunggal lainnya, identik pada indica dan japonica. Hal ini menunjukkan satu peristiwa domestikasi untuk O. sativa.[29] Bentuk indica dan japonica dari padi Asia sama-sama berasal dari satu peristiwa domestikasi di Tiongkok dari padi liar Oryza rufipogon.[30][29] Meskipun terdapat bukti tersebut, tampaknya padi indica muncul ketika japonica tiba di India sekitar 4.500 tahun yang lalu dan berhibridisasi dengan padi lain, baik proto-indica yang belum didomestikasi maupun padi liar O. nivara.[31]

Padi diperkenalkan sejak awal kepada kebudayaan Sino-Tibet di Tiongkok utara sekitar 6.000 hingga 5.600 tahun yang lalu,[32][33][26] serta ke Semenanjung Korea dan Jepang sekitar 5.500 hingga 3.200 tahun yang lalu.[34][35] Padi juga dibawa ke Taiwan oleh kebudayaan Dapenkeng sekitar 5.500 hingga 4.000 tahun yang lalu, sebelum menyebar ke selatan melalui migrasi Austronesia ke Asia Tenggara Kepulauan, Madagaskar, dan Guam, tetapi tidak berhasil bertahan dalam perjalanan menuju wilayah Pasifik lainnya.[25][36][37] Padi mencapai penutur Austroasiatik dan Kra-Dai di Asia Tenggara Daratan dan Tiongkok selatan sekitar 5.000 tahun yang lalu.[25][38]

Padi menyebar ke seluruh dunia melalui budidaya, migrasi, dan perdagangan, dan akhirnya mencapai Benua Amerika sebagai bagian dari pertukaran Kolumbus setelah tahun 1492.[39] Oryza glaberrima (padi Afrika), yang kini lebih jarang dibudidayakan, didomestikasi secara independen di Afrika sekitar 3.000 tahun yang lalu,[39][40] dan diperkenalkan ke Benua Amerika oleh bangsa Spanyol.[41] Di Amerika Utara Britania pada awal Perang Kemerdekaan Amerika, beras telah menjadi komoditas ekspor paling bernilai keempat, setelah tembakau, gandum, dan ikan.[42]

Perdagangan

500px-Rice_production%2C_World%2C_2024.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Produksi beras
Produksi beras – 2023 (juta ton)
 India207
 Tiongkok207
 Bangladesh59
 Indonesia54
 Vietnam43
 Thailand33
Dunia800[43]

Produksi

Pada tahun 2023, produksi beras dunia mencapai 800 juta ton dan dipimpin oleh Tiongkok dan India dengan gabungan 52% dari total produksi.[43] Hal ini menempatkan beras di posisi ketiga dalam daftar tanaman berdasarkan produksi, setelah tebu dan jagung.[43] Produsen utama lainnya adalah Bangladesh, Indonesia, dan Vietnam.[43] Sebanyak 90% produksi dunia berasal dari Asia.[44]

  • Produksi tanaman pertanian utama dunia berdasarkan komoditas
    Produksi tanaman pertanian utama dunia berdasarkan komoditas[45]
  • Produksi beras
    Produksi beras[45]

Rekor hasil

500px-Rice_yields%2C_World%2C_2024_%28cropped%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hasil padi

Hasil rata-rata dunia untuk padi adalah 47 ton metrik per hektare (21 ton pendek per ekar) pada tahun 2022.[46] Yuan Longping dari National Hybrid Rice Research and Development Center Tiongkok mencatat rekor dunia hasil padi pada tahun 1999 sebesar 171 ton metrik per hektare (76 ton pendek per ekar) pada lahan demonstrasi. Pencapaian ini menggunakan padi hibrida yang dikembangkan secara khusus dan System of Rice Intensification (SRI), sebuah inovasi dalam budidaya padi.[47]

Ketahanan pangan

Beras merupakan makanan pokok utama di Asia, Amerika Latin, dan beberapa bagian Afrika,[48] dan menjadi sumber pangan bagi lebih dari separuh populasi dunia.[44] Namun, sebagian besar hasil panen dapat hilang setelah panen akibat transportasi, penyimpanan, dan penggilingan yang tidak efisien. Seperempat hasil panen di Nigeria hilang setelah panen. Kehilangan selama penyimpanan mencakup kerusakan oleh jamur kapang jika beras tidak dikeringkan secara memadai. Di Tiongkok, kehilangan dalam silo logam modern hanya 0,2%, dibandingkan dengan 7–13% ketika beras disimpan oleh rumah tangga pedesaan.[49]

Pengolahan

Animasi lima tahap yang menunjukkan penghilangan lapisan berturut-turut dari butir padi mentah, dimulai dari gabah dengan sekam yang tidak dapat dimakan hingga beras putih yang dipoles.
Pengolahan beras menghilangkan satu atau beberapa lapisan untuk menghasilkan produk yang dapat dipasarkan.
  1. Beras dengan sekam
  2. Beras merah
  3. Beras dengan lembaga
  4. Beras putih dengan sisa bekatul residu
  5. Dipoles

Biji padi kering digiling untuk menghilangkan lapisan luar, yaitu sekam dan bekatul. Lapisan tersebut dapat dihilangkan dalam satu tahap, dua tahap, atau, seperti pada penggilingan komersial, melalui proses bertahap yang meliputi pembersihan, pengupasan sekam, pemisahan, pemolesan, penggolongan, dan penimbangan.[50] Beras merah hanya dihilangkan sekamnya yang tidak dapat dimakan.[51] Penggilingan lebih lanjut menghilangkan bekatul dan lembaga sehingga menghasilkan produk yang semakin putih.[51] Beras pratanak menjalani proses pengukusan sebelum digiling. Proses ini membuat biji lebih keras dan memindahkan sebagian vitamin dan mineral dari biji ke bagian putih beras sehingga zat-zat tersebut tetap tersimpan setelah penggilingan.[51]

Perdagangan

Angka perdagangan dunia jauh lebih kecil dibandingkan angka produksi karena kurang dari 8% beras yang diproduksi diperdagangkan secara internasional. Tiongkok, yang merupakan pengekspor beras pada awal 2000-an, telah menjadi importir beras terbesar di dunia pada tahun 2013.[52] Negara-negara berkembang merupakan pemain utama dalam perdagangan beras dunia; pada tahun 2012, India merupakan pengekspor beras terbesar, dengan Thailand dan Vietnam sebagai dua pengekspor terbesar lainnya.[53]

Konsumsi dunia

Pada tahun 2016, negara-negara yang mengonsumsi beras paling banyak adalah Tiongkok (29% dari total), India, dan Indonesia.[54] Pada tahun 2020, Bangladesh mengambil posisi ketiga dari Indonesia. Rata-rata tahunan pada periode 2020 hingga 2023 menunjukkan bahwa Tiongkok mengonsumsi 154 juta ton beras, India 109 juta ton, sedangkan Bangladesh dan Indonesia masing-masing sekitar 36 juta ton. Di seluruh dunia, konsumsi beras per kapita menurun pada abad ke-21 karena masyarakat di Asia dan wilayah lainnya mengonsumsi lebih sedikit serealia dan lebih banyak daging. Pengecualiannya adalah Afrika Sub-Sahara, tempat konsumsi beras per kapita dan jumlah penduduk sama-sama meningkat.[55]

Sebagai makanan

Artikel utama: Beras sebagai makanan

Sifat konsumsi

Beras merupakan makanan yang umum dikonsumsi di seluruh dunia. Varietas beras biasanya diklasifikasikan menjadi berbutir pendek, sedang, dan panjang. Varietas Oryza sativa indica biasanya berbutir panjang; varietas Oryza sativa japonica biasanya berbutir pendek atau sedang. Beras berbutir pendek, dengan pengecualian Bomba dari Spanyol, biasanya lengket ketika dimasak dan cocok untuk puding. Beras melati Thailand bersifat aromatik dan, tidak seperti beras berbutir panjang pada umumnya, agak lengket dengan tekstur lembut. Beras basmati India berbutir sangat panjang dan aromatik. Beras Arborio, yang digunakan untuk risotto, berukuran sedang, berbentuk lonjong, dan cukup lengket. Beras sushi Jepang merupakan varietas berbutir pendek yang lengket.[56]

Gizi

Nasi putih matang, berbutir sedang, tidak diperkaya
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi544 kJ (130 kcal)
28.6 g
0.2 g
2.4 g
VitaminKuantitas
%AKG†
Tiamina (B1)
2%
0.02 mg
Riboflavin (B2)
2%
0.02 mg
Niasin (B3)
3%
0.4 mg
Asam pantotenat (B5)
8%
0.41 mg
Vitamin B6
4%
0.05 mg
Folat (B9)
1%
2 μg
MineralKuantitas
%AKG†
Kalsium
0%
3 mg
Zat besi
2%
0.2 mg
Magnesium
4%
13 mg
Mangan
18%
0.38 mg
Fosfor
5%
37 mg
Potasium
1%
29 mg
Sodium
0%
0 mg
Seng
4%
0.4 mg
Komponen lainnyaKuantitas
Air69 g
†Persen AKG berdasarkan rekomendasi Amerika Serikat untuk orang dewasa.

Nasi putih matang terdiri atas 69% air, 29% karbohidrat, 2% protein, dan mengandung lemak dalam jumlah yang dapat diabaikan (tabel). Dalam takaran acuan 100 gram (3,5 oz), nasi putih matang menyediakan 130 kalori energi makanan dan mengandung mangan dalam kadar sedang (18% AKG), tanpa zat gizi mikro lain dalam jumlah yang signifikan (semuanya kurang dari 10% Nilai Harian).[57]

Pada tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia sangat merekomendasikan fortifikasi beras dengan besi, dan secara bersyarat merekomendasikan fortifikasi dengan vitamin A dan asam folat.[58]

Beras tidak mengandung gluten, sehingga cocok bagi orang yang menjalani diet bebas gluten.[59] Beras dapat menjadi sumber protein yang baik, tetapi bukan protein lengkap karena tidak mengandung semua asam amino esensial dalam jumlah yang memadai untuk kesehatan yang baik.[60]

Kandungan logam berat pada beras

Beras dapat memiliki kandungan logam berat, di antaranya arsenik, kadmium, timbal, dan raksa.[61][62][63][64][65] Dari survei yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 145 merek beras yang dijual, 1 dari 4 yang diteliti mengandung kadar arsenik melebihi ambang batas aman untuk konsumsi. Dan seluruh beras yang diteliti mengandung kandungan arsenik antara 63 hingga 188 ppb, dengan ambang batas aman yang telah ditetapkan di negara itu adalah 100 ppb.[63] Sebuah laporan oleh FDA menemukan bahwa di antara serealia, beras memiliki kandungan arsenik enam kali lipat lebih banyak.[65] Uni Eropa mengatur secara ketat penggunaan beras sebagai bahan baku produk makanan bayi untuk meminimalisasi paparan arsenik, kadmium, dan timbal pada bayi.[66][67][68] Bundesinstitut für Risikobewertung menyarankan agar orangtua memilih serealia lain untuk bahan baku makanan bayi selagi bisa.[69]

Kandungan logam berat pada beras merupakan hal yang sudah lama diketahui karena padi adalah tumbuhan yang dapat menyerap logam berat dengan mudah. Ditambah budidaya di lahan yang senantiasa terendam air dan tanah yang anoksik dan ber-pH rendah membuat penyerapan logam berat oleh akar semakin mudah.[62] Sumber arsenik di dalam tanah bervariasi, tetapi akhir-akhir ini sumber antropogenik, yaitu aktivitas penambangan dan pembakaran batu bara oleh pembangkit listrik dan pabrik merupakan sumber terbesar.[70] Hal ini menjadikan sentra produksi beras yang berdekatan dengan kawasan industri dan pembangkit listrik seperti pantai utara Jawa menjadi yang paling rentan dalam pencemaran logam berat di dalam beras.[71]

Studi lain menemukan bahwa beras yang diproduksi di Asia mengandung logam berat paling banyak.[64]

Arsenik memiliki dampak menghambat perkembangan otak, sehingga konsumsi beras dalam jumlah besar sejak dini dapat menghambat perkembangan otak anak-anak.[butuh rujukan] Konsumsi beras yang besar kemungkinan terkait dengan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia suatu negara.[butuh rujukan]

No Negara Konsumsi beras per kapita[72]

kg/kapita/tahun

HDI tahun 2023[73]
1 Bangladesh 257.48 0.685
2 Kamboja 249.30 0.606
3 Laos 241.35 0.617
4 Vietnam 204.16 0.766
5 Filipina 190.31 0.720
6 Myanmar 188.83 0.609
7 Indonesia 184.64 0.728
8 Sri Lanka 181.67 0.766
9 Bhutan 168.91 0.698
10 Thailand 168.22 0.798
Rata-rata dunia 0.756
Rata-rata anggota OECD (negara maju) 0.916

Maka tidak heran jika di Indonesia, mereka yang selalu lolos olimpiade sains nasional adalah anak orang kaya yang sehari-harinya makan roti dan kentang.

Beras emas

Artikel utama: Beras emas

Beras emas merupakan varietas yang dihasilkan melalui rekayasa genetika untuk mensintesis beta-karoten, prekursor vitamin A, di dalam endosperma bulir beras. Varietas ini ditujukan untuk ditanam dan dikonsumsi di berbagai wilayah dunia yang mengalami prevalensi defisiensi vitamin A.[74][75] Beras emas mendapat penolakan dari aktivis anti-GMO, seperti di Filipina.[76] Pada tahun 2016, lebih dari 100 laureat Nobel mendorong penggunaan organisme hasil rekayasa genetika, seperti beras emas, karena manfaat yang dapat dihasilkannya.[77]

Beras dan perubahan iklim

Gas rumah kaca dari produksi beras

250px-NP_Rice_Emissions18_%285687953086%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para ilmuwan mengukur emisi gas rumah kaca dari beras

Pada tahun 2022, emisi gas rumah kaca dari budidaya padi diperkirakan mencapai 5,7 miliar ton CO2e, yang mewakili 1,2% dari total emisi.[78] Dalam sektor pertanian, padi menghasilkan hampir setengah emisi gas rumah kaca dari lahan pertanian,[79] sekitar 30% emisi metana pertanian dan 11% emisi dinitrogen monoksida pertanian.[80] Metana dilepaskan dari sawah yang mengalami penggenangan jangka panjang karena kondisi tersebut menghambat tanah menyerap oksigen atmosfer, sehingga menyebabkan fermentasi anaerobik bahan organik di dalam tanah.[81] Emisi dapat dibatasi dengan menanam varietas baru, tidak melakukan penggenangan secara terus-menerus, dan membuang jerami.[79]

Emisi metana dari budidaya padi dapat dikurangi melalui pengelolaan air yang lebih baik, dengan menggabungkan penanaman kering dan satu kali pengeringan, atau menerapkan urutan penggenangan dan pengeringan. Cara ini menghasilkan pengurangan emisi hingga 90% dibandingkan dengan penggenangan penuh dan bahkan dapat meningkatkan hasil panen.[82]

Dampak perubahan iklim terhadap produksi beras

Prediksi mengenai dampak perubahan iklim terhadap budidaya padi bervariasi. Hasil panen padi global diproyeksikan menurun sekitar 3,2% untuk setiap kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1 °C,[83] sementara penelitian lain memprediksi bahwa produksi padi global akan meningkat pada awalnya, kemudian mencapai titik datar pada pemanasan sekitar 3 °C (2091–2100 dibandingkan dengan 1850–1900).[84]

Dampak perubahan iklim terhadap budidaya padi berbeda-beda menurut lokasi geografis dan konteks sosial ekonomi. Misalnya, kenaikan suhu dan penurunan radiasi matahari selama tahun-tahun terakhir abad ke-20 menurunkan hasil padi sebesar 10–20% di 200 pertanian di tujuh negara Asia. Hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan respirasi pada malam hari.[85][86] IRRI memperkirakan hasil padi Asia akan turun sekitar 20% untuk setiap kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1 °C. Selain itu, padi tidak mampu menghasilkan bulir jika bunganya mengalami suhu 35 °C atau lebih selama lebih dari satu jam, sehingga tanaman akan gagal panen dalam kondisi tersebut.[87][88]

Di Lembah Po di Italia, varietas beras risotto Arborio dan Carnaroli mengalami hasil panen yang buruk akibat kekeringan pada abad ke-21. Ente Nazionale Risi [it] sedang mengembangkan varietas tahan kekeringan; varietas nuovo prometeo memiliki akar yang dalam sehingga mampu bertahan terhadap kekeringan, tetapi tidak cocok untuk risotto.[89]

Hama, gulma, dan penyakit

Hama dan gulma

250px-Chinese_rice_grasshopper_%28Oxya_chinensis%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Belalang padi Tiongkok (Oxya chinensis)

Hasil panen padi dapat berkurang akibat pertumbuhan gulma dan berbagai jenis hama, termasuk serangga, nematoda, dan hewan pengerat seperti tikus, siput, serta burung.[90] Hama serangga utama pada padi meliputi ulat grayak, kepik padi, kepik hitam, penggerek batang, ulat tanah, wereng, wereng daun, kutu putih, jangkrik, dan belalang.[91] Resurgensi populasi wereng cokelat dapat disebabkan oleh penggunaan insektisida berspektrum luas secara berlebihan,[92] dan penggunaan pupuk nitrogen dalam jumlah tinggi dapat memperparah ledakan populasi, sebagaimana pada kutu daun.[93] Kondisi cuaca dapat berkontribusi terhadap ledakan hama: ledakan lalat puru padi diperparah oleh curah hujan tinggi pada musim hujan, sementara ledakan thrips berkaitan dengan kekeringan.[94]

Penyakit

Artikel utama: List of rice diseases
Rice_blast.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Padi sehat (kiri) dan padi yang terserang blas padi

Blas padi, yang disebabkan oleh jamur Magnaporthe grisea, merupakan penyakit paling serius pada padi yang sedang tumbuh.[95] Penyakit ini dan hawar daun bakteri (disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae) secara konsisten merupakan dua penyakit padi terburuk di dunia; keduanya termasuk dalam sepuluh penyakit terpenting pada semua tanaman budidaya.[96] Penyakit padi utama lainnya meliputi hawar pelepah (disebabkan oleh Rhizoctonia solani), gosong palsu (Ustilaginoidea virens), dan hawar malai bakteri (Burkholderia glumae).[96] Penyakit virus meliputi kerdil berumpun padi, kerdil padi, tungro padi, dan belang kuning padi.[97]

Tanaman padi melawan penyakit dengan membentuk pertahanan menggunakan molekul spesies oksigen reaktif di lokasi masuknya patogen. Pertahanan tersebut dimulai ketika pola molekuler terkait patogen (PAMP) terdeteksi, yang memicu respons imun alami, baik imunitas yang dipicu PAMP maupun imunitas yang dipicu efektor. Imunitas tersebut memerlukan gen Os-NADP-ME2. Jamur blas padi Magnaporthe oryzae menggunakan efektor avirulensi AVR-Pii untuk menghambat enzim malat NADP pada padi. Dampaknya adalah menekan kemampuan tanaman menghasilkan spesies oksigen reaktif, sehingga imunitas alaminya gagal.[98]

Pengelolaan hama

Perlindungan tanaman mengembangkan teknik berkelanjutan untuk mengelola hama padi.[99] Pengelolaan hama berkelanjutan didasarkan pada empat prinsip: keanekaragaman hayati, ketahanan tanaman inang, ekologi lanskap, dan hierarki dalam lanskap—mulai dari biologis hingga sosial.[100] Penggunaan pestisida oleh petani sering kali tidak diperlukan,[101] dan pestisida justru dapat menyebabkan resurgensi populasi hama padi seperti wereng cokelat, baik dengan membunuh serangga yang bermanfaat maupun meningkatkan reproduksi hama tersebut.[102] International Rice Research Institute (IRRI) menunjukkan pada tahun 1993 bahwa pengurangan penggunaan pestisida sebesar 87,5% dapat menyebabkan penurunan jumlah hama secara keseluruhan.[103]

250px-Penggembala_Bebek.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang petani menggembalakan bebeknya di sawah, Jawa Tengah

Petani di Tiongkok, Indonesia, dan Filipina secara tradisional mengendalikan gulma dan hama melalui praktik polikultur berupa pemeliharaan bebek dan terkadang ikan di sawah. Praktik ini menghasilkan tanaman tambahan yang bernilai, memakan hewan hama berukuran kecil, memberikan pupuk alami bagi padi, dan dalam kasus bebek juga mengendalikan gulma.[104][105]

Tanaman padi menghasilkan pertahanan kimianya sendiri untuk melindungi diri dari serangan hama. Beberapa bahan kimia sintetis, seperti herbisida 2,4-D, menyebabkan tanaman meningkatkan produksi senyawa pertahanan tertentu sehingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap beberapa jenis hama.[106] Sebaliknya, bahan kimia lain, seperti insektisida imidacloprid, tampaknya memicu perubahan ekspresi gen pada padi yang membuat tanaman lebih rentan terhadap hama tertentu.[107]

Pemulia tanaman telah menghasilkan kultivar padi yang mengandung ketahanan terhadap berbagai hama serangga. Pemuliaan tanaman konvensional untuk varietas tahan hama dibatasi oleh berbagai tantangan, seperti pemeliharaan hama untuk pengujian serta keragaman dan evolusi hama yang terus berlangsung. Gen ketahanan dicari dari spesies padi liar, dan teknik rekayasa genetika diterapkan.[108]

Ekotipe dan kultivar

Artikel utama: Daftar kultivar padi
250px-Rice_diversity.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Beberapa dari banyak kultivar dalam koleksi benih padi IRRI

International Rice Research Institute memelihara Bank Gen Padi Internasional, yang menyimpan lebih dari 100.000 varietas padi.[109][110]

Sebagian besar Asia Tenggara membudidayakan varietas beras ketan atau beras pulen.[111] Kultivar padi berdaya hasil tinggi yang sesuai untuk dibudidayakan di Afrika, yang disebut New Rice for Africa (NERICA), telah dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi kemiskinan di Afrika Sub-Sahara.[112]

Kultivar padi juga dikelompokkan berdasarkan kondisi lingkungan, musim tanam, dan musim panen, yang disebut ekotipe. Beberapa kelompok utama adalah tipe Jepang (dibudidayakan di Jepang), tipe "bulu" dan "tjereh" (Indonesia); "aman" (tanaman musim dingin utama), "aus" ("aush", musim panas), dan "boro" (musim semi) (Benggala dan Assam).[113][114] Terdapat kultivar yang beradaptasi terhadap genangan air yang dalam, dan kultivar tersebut umumnya disebut "padi apung".[115]

Genom lengkap padi berhasil diurutkan pada tahun 2005, menjadikannya tanaman budidaya pertama yang mencapai status tersebut.[116] Sejak saat itu, genom ratusan jenis padi, baik liar maupun budidaya, termasuk spesies padi Asia dan Afrika, telah diurutkan.[117]

Bioteknologi

Varietas berdaya hasil tinggi

Artikel utama: Revolusi Hijau

Varietas berdaya hasil tinggi merupakan kelompok tanaman yang dikembangkan selama Revolusi Hijau untuk meningkatkan produksi pangan dunia secara drastis. Varietas padi Revolusi Hijau pertama, IR8, dihasilkan pada tahun 1966 di International Rice Research Institute melalui persilangan antara varietas Indonesia bernama "Peta" dan varietas Tiongkok bernama "Dee Geo Woo Gen".[118] Varietas Revolusi Hijau dibiakkan agar memiliki batang pendek dan kuat sehingga padi tidak rebah atau roboh. Hal ini memungkinkannya tetap tegak dan produktif meskipun diberikan pupuk dalam jumlah besar.[118]

Padi C4 merupakan padi yang diusulkan yang menggunakan fiksasi karbon C4 untuk meningkatkan efisiensi fotosintesis dan dengan demikian meningkatkan hasil panen.[119] Konsorsium C4 Rice diluncurkan pada tahun 2006.[120] Konsorsium tersebut mengeksplorasi penggunaan lima gen jagung untuk memungkinkan padi menghasilkan asam malat dari karbon dioksida. Jika berhasil, hal ini juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman.[121] Penelitian terus dilakukan hingga 2026 untuk membuat prototipe perubahan baik pada metabolisme maupun anatomi daun.[122]

Ekspresi protein manusia

Ventria Bioscience telah memodifikasi secara genetik padi untuk mengekspresikan laktoferin dan lisozim, yang merupakan protein yang biasanya ditemukan dalam air susu ibu, serta albumin serum manusia. Protein-protein tersebut memiliki efek antivirus, antibakteri, dan antijamur.[123] Beras yang mengandung protein tambahan tersebut dapat digunakan sebagai komponen dalam larutan rehidrasi oral untuk mengobati penyakit diare, sehingga memperpendek durasinya dan mengurangi kekambuhan. Suplemen tersebut juga dapat membantu mengatasi anemia.[124]

Toleransi terhadap banjir

Artikel utama: Padi rawa dalam
250px-Researchers_checking_deep_water_rice.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para peneliti International Rice Research Institute memeriksa padi rawa dalam di Filipina

Di daerah yang rawan banjir, petani telah lama menanam varietas toleran banjir yang dikenal sebagai padi rawa dalam. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, banjir memengaruhi sekitar 20 juta hektare (49 juta ekar) lahan setiap tahun.[125]

Banjir secara historis menyebabkan kerugian hasil panen yang sangat besar, seperti di Filipina, ketika pada tahun 2006 tanaman padi senilai $65 juta hilang akibat banjir.[126]

Varietas padi standar tidak dapat bertahan terhadap genangan air yang stagnan selama lebih dari sekitar satu minggu karena kondisi tersebut menghalangi tanaman memperoleh kebutuhan penting seperti sinar matahari dan pertukaran gas. Kultivar Swarna Sub1 dapat bertahan dalam kondisi terendam selama satu minggu, menggunakan karbohidrat secara efisien dan terus tumbuh.[125] Padi yang disebut "padi selam"[127] dengan transgen Sub1A memiliki toleransi yang kuat terhadap perendaman hingga dua minggu, sehingga memberikan peningkatan besar pada kelangsungan hidup tanaman petani saat banjir. IRRI telah menciptakan varietas Sub1A dan mendistribusikannya ke Bangladesh, India, Indonesia, Nepal, dan Filipina.[128]

Toleransi terhadap kekeringan

Kekeringan merupakan tekanan lingkungan yang signifikan bagi produksi padi, dengan sekitar 19–23 juta hektare (47–57 juta ekar) produksi padi tadah hujan di Asia Selatan dan Asia Tenggara sering kali berada dalam risiko.[129][130] Dalam kondisi kekeringan, tanpa air yang cukup untuk memungkinkan tanaman memperoleh tingkat nutrien yang diperlukan dari tanah, varietas padi komersial konvensional dapat terdampak parah—seperti yang terjadi misalnya di India pada awal abad ke-21.[131]

International Rice Research Institute melakukan penelitian untuk mengembangkan varietas padi toleran kekeringan, termasuk varietas Sahbhagi Dhan, Sahod Ulan, dan Sookha Dhan, yang saat ini digunakan oleh petani masing-masing di India, Filipina, dan Nepal.[130] Selain itu, pada tahun 2013, National Institute for Agrobiological Sciences Jepang memimpin sebuah tim yang berhasil memasukkan gen DEEPER ROOTING 1 (DRO1), dari varietas padi padi gogo Filipina Kinandang Patong, ke dalam varietas padi komersial populer IR64, sehingga menghasilkan sistem perakaran yang jauh lebih dalam pada tanaman yang dihasilkan.[131] Hal ini meningkatkan kemampuan tanaman padi untuk memperoleh nutrien yang diperlukan selama kekeringan dengan mengakses lapisan tanah yang lebih dalam, sebagaimana ditunjukkan oleh uji coba yang menunjukkan bahwa hasil padi IR64 + DRO1 turun 10% dalam kondisi kekeringan sedang, dibandingkan dengan 60% pada varietas IR64 yang tidak dimodifikasi.[131][132]

Toleransi terhadap garam

Informasi lebih lanjut: Toleransi tanaman terhadap air laut
250px-Agriculture_in_Bangladesh_12.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebagian besar padi di Bangladesh ditanam di daerah pesisir dataran rendah yang memiliki masalah salinitas tanah.

Salinitas tanah merupakan ancaman besar terhadap produktivitas tanaman padi, terutama di daerah pesisir dataran rendah selama musim kemarau.[129][133] Misalnya, sekitar 1 juta hektare (2,5 juta ekar) daerah pesisir Bangladesh terdampak oleh tanah salin.[134] Konsentrasi garam yang tinggi tersebut dapat sangat memengaruhi fisiologi tanaman padi, terutama selama tahap awal pertumbuhan, sehingga petani sering kali terpaksa meninggalkan daerah tersebut.[135]

Kemajuan telah dicapai dalam mengembangkan varietas padi yang mampu mentoleransi kondisi tersebut; hibrida yang dihasilkan dari persilangan varietas padi komersial IR56 dengan spesies padi liar Oryza coarctata merupakan salah satu contohnya.[136] O. coarctata dapat tumbuh di tanah dengan salinitas dua kali batas toleransi varietas normal, tetapi tidak menghasilkan beras yang dapat dimakan.[136] Varietas hibrida yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute menggunakan kelenjar daun khusus yang mengeluarkan garam ke atmosfer. Varietas tersebut dihasilkan dari satu embrio yang berhasil dari 34.000 persilangan antara kedua spesies; tanaman tersebut kemudian mengalami persilangan balik dengan IR56 dengan tujuan mempertahankan gen yang bertanggung jawab terhadap toleransi garam yang diwarisi dari O. coarctata.[135]

Toleransi terhadap suhu dingin

Padi sensitif terhadap suhu di bawah 12 °C. Penyemaian dilakukan setelah suhu rata-rata harian secara konsisten berada di atas batas tersebut. Suhu rata-rata di bawah batas tersebut mengurangi pertumbuhan; jika berlangsung lebih dari empat hari, perkecambahan dan pertumbuhan bibit terganggu dan bibit dapat mati. Pada tanaman yang lebih besar yang mengalami suhu dingin, blas padi lebih mudah berkembang sehingga hasil panen berkurang secara serius. Pada tahun 2022, para peneliti masih mempelajari mekanisme toleransi terhadap suhu dingin pada padi dan dasar genetiknya.[137] Varietas tahan dingin, termasuk beras untuk risotto dan beras basmati, berhasil diuji pada tanah gambut di Inggris pada tahun 2025. Jika, sebagaimana diperkirakan, pemanasan global meningkatkan suhu sebesar 2 °C atau lebih, padi dapat dibudidayakan di seluruh negeri tersebut.[138]

Mengurangi emisi metana

Produksi padi di sawah berbahaya bagi lingkungan karena pelepasan metana oleh bakteri metanogenik. Bakteri tersebut hidup di tanah tergenang yang anaerob, dengan memanfaatkan nutrien yang dilepaskan oleh akar padi. Memasukkan gen SUSIBA2 dari jelai ke dalam padi mengubah produksi biomassa dari akar ke tajuk, mengurangi populasi metanogen dan menghasilkan pengurangan emisi metana hingga 97%. Selain itu, modifikasi tersebut meningkatkan jumlah bulir padi.[139][140]

Organisme model

Padi digunakan sebagai organisme model untuk menyelidiki mekanisme meiosis dan perbaikan DNA pada tumbuhan tingkat tinggi.[141] Misalnya, penelitian menggunakan padi menunjukkan bahwa gen OsRAD51C diperlukan untuk perbaikan patahan untai ganda DNA secara akurat selama meiosis.[142]

Dalam budaya manusia

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Beeld_van_Dewi_Sri_de_rijstgodin_TMnr_60016918.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca kuno dewi padi Dewi Sri[143][144] dari Jawa (ca abad ke-9)

Beras memainkan peran penting dalam agama dan kepercayaan populer tertentu. Dalam upacara pernikahan Hindu, beras yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan kesucian dilemparkan ke dalam api, sebuah kebiasaan yang dimodifikasi dalam pernikahan Barat, ketika orang melemparkan beras ke pasangan yang baru menikah.[145] Dalam pernikahan Melayu, beras digunakan dalam berbagai hidangan khusus pernikahan seperti beras ketan manis.[146] Di Jepang dan Filipina, anggur beras digunakan dalam pernikahan dan perayaan lainnya.[147] Dewi Sri adalah dewi kepulauan Indo-Malaysia yang dalam mitologi berubah menjadi beras atau tanaman pangan lainnya.[144] Awal musim penanaman padi ditandai di negara-negara Asia termasuk Nepal dan Kamboja dengan Upacara Pembajakan Kerajaan.[148][149][150]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Rosell, Cristina M.; Marco, Cristina (2008). "Rice". Gluten-Free Cereal Products and Beverages. Elsevier. doi:10.1016/b978-012373739-7.50006-x. ISBN 978-0-12-373739-7.
  2. 1 2 "Rice varieties". The Culinary Pro.
  3. ↑ "Exploring Medium-Grain Rice Varieties". The Perfect Rice. Maret 28, 2024.
  4. ↑ Paolini, David; Vuga, Michela (1999). From Rice to Risotto. Cartago. ISBN 978-1-900826-29-7.
  5. ↑ Oikawa, Tetsuo; Maeda, Hiroaki; Oguchi, Taichi; Yamaguchi, Takuya; Tanabe, Noriko; Ebana, Kaworu; Yano, Masahiro; Ebitani, Takeshi; Izawa, Takeshi (2015). "The Birth of a Black Rice Gene and Its Local Spread by Introgression". The Plant Cell. 27 (9). Oxford University Press: 2401–2414. Bibcode:2015PlanC..27.2401O. doi:10.1105/tpc.15.00310. PMC 4815089. PMID 26362607.
  6. ↑ "What rice to use for sushi?". Tabimori Incorporated, Japan.
  7. ↑ "Rice". Online Etymology Dictionary. 2026. Diakses tanggal September 24, 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "Types of rice". Oldways Whole Grains Council. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 17, 2025. Diakses tanggal April 17, 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "Oryza sativa L." Royal Botanic Gardens, Kew. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 7, 2023. Diakses tanggal Desember 6, 2023.
  10. ↑ "The Rice Plant". Rice Hub. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 5, 2023. Diakses tanggal Desember 6, 2023.
  11. ↑ Kawure, S.; Garba, A.A.; Fagam, A.S.; Shuaibu, Y.M.; Sabo, M.U.; Bala, R.A. (Desember 31, 2022). "Performance of Lowland Rice (Oryza sativa L.) as Influenced by Combine Effect of Season and Sowing Pattern in Zigau". Journal of Rice Research and Developments. 5 (2). doi:10.36959/973/440.
  12. ↑ "The Rice Plant and How it Grows". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 6, 2009.
  13. ↑ Beighley, Donn H. (2010). "Growth and Production of Rice". Dalam Verheye, Willy H. (ed.). Soils, Plant Growth and Crop Production Volume II. EOLSS Publishers. hlm. 49. ISBN 978-1-84826-368-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 11, 2021. Diakses tanggal November 28, 2020.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ "How to plant rice". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Desember 29, 2023. Diakses tanggal Desember 29, 2023.
  15. ↑ "Transplanting". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Desember 29, 2023. Diakses tanggal Desember 29, 2023.
  16. ↑ Uphoff, Norman. "More rice with less water through SRI - the System of Rice Intensification" (PDF). Cornell University. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal Desember 26, 2011. Diakses tanggal Mei 13, 2012.
  17. ↑ "Water Management". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 4, 2023. Diakses tanggal November 4, 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ Catling, David (1992). "Deepwater Rice Cultures in the Ganges-Brahmaputra Basin". Rice in Deep Water. International Rice Research Institute. hlm. 2. ISBN 978-971-22-0005-2.
  19. ↑ Gupta, Phool Chand; O'Toole, J. C. O'Toole (1986). Upland Rice: A Global Perspective. International Rice Research Institute. ISBN 978-971-10-4172-4.
  20. ↑ "Harvesting systems". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 3, 2024. Diakses tanggal Januari 3, 2024.
  21. ↑ "Harvesting". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 6, 2023. Diakses tanggal Desember 6, 2023.
  22. ↑ "Drying". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Desember 6, 2023. Diakses tanggal Desember 6, 2023.
  23. ↑ Soreng, Robert J.; Peterson, Paul M.; Romaschenko, Konstantin; Davidse, Gerrit; Teisher, Jordan K.; Clark, Lynn G.; Barberá, Patricia; Gillespie, Lynn J.; Zuloaga, Fernando O. (2017). "A worldwide phylogenetic classification of the Poaceae (Gramineae) II: An update and a comparison of two 2015 classifications". Journal of Systematics and Evolution. 55 (4): 259–290. Bibcode:2017JSyEv..55..259S. doi:10.1111/jse.12262. hdl:10261/240149.
  24. ↑ Fornasiero, Alice; Wing, Rod A.; Ronald, Pamela (Januari 2022). "Rice domestication". Current Biology. 32 (1): R20–R24. Bibcode:2022CBio...32..R20F. doi:10.1016/j.cub.2021.11.025. hdl:10754/674966. PMID 35015986.
  25. 1 2 3 Bellwood, Peter (Desember 2011). "The Checkered Prehistory of Rice Movement Southwards as a Domesticated Cereal—from the Yangzi to the Equator". Rice. 4 (3–4): 93–103. Bibcode:2011Rice....4...93B. doi:10.1007/s12284-011-9068-9. hdl:1885/58842.
  26. 1 2 He, Keyang; Lu, Houyuan; Zhang, Jianping; Wang, Can; Huan, Xiujia (Desember 2017). "Prehistoric evolution of the dualistic structure mixed rice and millet farming in China". The Holocene. 27 (12): 1885–1898. Bibcode:2017Holoc..27.1885H. doi:10.1177/0959683617708455.
  27. ↑ Hsieh, Jaw-shu; Hsing, Yue-ie Caroline; Hsu, Tze-fu; Li, Paul Jen-kuei; Li, Kuang-ti; Tsang, Cheng-hwa (Desember 24, 2011). "Studies on Ancient Rice—Where Botanists, Agronomists, Archeologists, Linguists, and Ethnologists Meet". Rice. 4 (3–4): 178–183. Bibcode:2011Rice....4..178H. doi:10.1007/s12284-011-9075-x.
  28. ↑ Chi, Zhang; Hung, Hsiao-Chun (2008). "The Neolithic of Southern China—Origin, Development, and Dispersal". Asian Perspectives. 47 (2): 299–329. doi:10.1353/asi.0.0004. hdl:10125/17291. JSTOR 42928744. Gale A191316867 Project MUSE 257900.
  29. 1 2 Vaughan, Duncan A.; Lu, Bao-Rong; Tomooka, Norihiko (April 2008). "The evolving story of rice evolution". Plant Science. 174 (4): 394–408. Bibcode:2008PlnSc.174..394V. doi:10.1016/j.plantsci.2008.01.016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  30. ↑ Molina, J.; Sikora, M.; Garud, N.; Flowers, J. M.; Rubinstein, S.; et al. (2011). "Molecular evidence for a single evolutionary origin of domesticated rice". Proceedings of the National Academy of Sciences. 108 (20): 8351–8356. Bibcode:2011PNAS..108.8351M. doi:10.1073/pnas.1104686108. PMC 3101000. PMID 21536870.
  31. ↑ Choi, Jae; et al. (2017). "The Rice Paradox: Multiple Origins but Single Domestication in Asian Rice". Molecular Biology and Evolution. 34 (4): 969–979. doi:10.1093/molbev/msx049. PMC 5400379. PMID 28087768.
  32. ↑ Zhang, Jianping; Lu, Houyuan; Gu, Wanfa; Wu, Naiqin; Zhou, Kunshu; et al. (Desember 17, 2012). "Early Mixed Farming of Millet and Rice 7800 Years Ago in the Middle Yellow River Region, China". PLOS One. 7 (12) e52146. Bibcode:2012PLoSO...752146Z. doi:10.1371/journal.pone.0052146. PMC 3524165. PMID 23284907.
  33. ↑ Fuller, Dorian Q. (Desember 2011). "Pathways to Asian Civilizations: Tracing the Origins and Spread of Rice and Rice Cultures". Rice. 4 (3–4): 78–92. Bibcode:2011Rice....4...78F. doi:10.1007/s12284-011-9078-7.
  34. ↑ Crawford; Shen (1998). "The Origins of rice agriculture: recent progress in East Asia". Antiquity. 72 (278): 858–866. doi:10.1017/S0003598X00087494.
  35. ↑ Crawford, G. W. & Lee, G.-A. (Maret 2003). "Agricultural Origins in the Korean Peninsula". Antiquity. 77 (295): 87–95. doi:10.1017/s0003598x00061378.
  36. ↑ Beaujard, Philippe (Agustus 2011). "The first migrants to Madagascar and their introduction of plants: linguistic and ethnological evidence" (PDF). Azania: Archaeological Research in Africa. 46 (2): 169–189. doi:10.1080/0067270X.2011.580142. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal Juli 31, 2019. Diakses tanggal Juni 19, 2024.
  37. ↑ Carson, Mike T. (2012). "An overview of latte period archaeology" (PDF). Micronesica. 42 (1/2): 1–79. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal April 12, 2019. Diakses tanggal Januari 25, 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  38. ↑ Higham, Charles F. W.; Douka, Katerina; Higham, Thomas F. G.; Hart, John P. (September 18, 2015). "A New Chronology for the Bronze Age of Northeastern Thailand and Its Implications for Southeast Asian Prehistory". PLOS One. 10 (9) e0137542. Bibcode:2015PLoSO..1037542H. doi:10.1371/journal.pone.0137542. PMC 4575132. PMID 26384011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. 1 2 Choi, Jae Young (Maret 7, 2019). "The complex geography of domestication of the African rice Oryza glaberrima". PLOS Genetics. 15 (3) e1007414. doi:10.1371/journal.pgen.1007414. PMC 6424484. PMID 30845217.
  40. ↑ Cubry, Philippe; Tranchant-Dubreuil, Christine; Thuillet, Anne-Céline; Monat, Cécile; Ndjiondjop, Marie-Noelle; et al. (2018). "The Rise and Fall of African Rice Cultivation Revealed by Analysis of 246 New Genomes". Current Biology. 28 (14): 2274–2282.e6. Bibcode:2018CBio...28E2274C. doi:10.1016/j.cub.2018.05.066. PMID 29983312.
  41. ↑ National Research Council (1996). "African Rice". Lost Crops of Africa: Volume I: Grains. Vol. 1. National Academies Press. Bibcode:1996nap..book.2305N. doi:10.17226/2305. ISBN 978-0-309-04990-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 22, 2009. Diakses tanggal Juli 18, 2008.
  42. ↑ Morgan, Kenneth (Juli 1995). "The Organization of the Colonial American Rice Trade". The William and Mary Quarterly. 52 (3): 433–452. doi:10.2307/2947294. JSTOR 2947294.
  43. 1 2 3 4 "Rice production in 2023; Crops/Regions/World list/Production Quantity/Year (from pick lists)". FAOSTAT, UN Food and Agriculture Organization, Corporate Statistical Database. 2023. Diakses tanggal Oktober 27, 2025.
  44. 1 2 Fukagawa, Naomi K.; Ziska, Lewis H. (Oktober 11, 2019). "Rice: Importance for Global Nutrition". Journal of Nutritional Science and Vitaminology. 65 (Supplement): S2–S3. doi:10.3177/jnsv.65.S2. PMID 31619630.
  45. 1 2 FAO (2025). World Food and Agriculture – Statistical Yearbook 2025. FAO. doi:10.4060/cd4313en. ISBN 978-92-5-140174-3.
  46. ↑ "FAOSTAT: Production-Crops, 2022 data". United Nations Food and Agriculture Organization. 2022. Diarsipkan dari asli tanggal Juni 19, 2012. Diakses tanggal Januari 12, 2012.
  47. ↑ Yuan, Longping (2010). "A Scientist's Perspective on Experience with SRI in China for Raising the Yields of Super Hybrid Rice" (PDF). Cornell University. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal November 20, 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  48. ↑ "Food Staple". National Geographic Education. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 31, 2023. Diakses tanggal Desember 6, 2023.
  49. ↑ Kumar, Deepak; Kalita, Prasanta (Januari 15, 2017). "Reducing Postharvest Losses during Storage of Grain Crops to Strengthen Food Security in Developing Countries". Foods. 6 (1): 8. doi:10.3390/foods6010008. PMC 5296677. PMID 28231087.
  50. ↑ "Milling". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 15, 2023. Diakses tanggal Januari 4, 2024.
  51. 1 2 3 "Types of rice". Rice Association. Diarsipkan dari asli tanggal Agustus 2, 2018. Diakses tanggal Agustus 2, 2018.
  52. ↑ Cendrowski, Scott (Juli 25, 2013). "The Rice Rush". Fortune. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 4, 2024. Diakses tanggal Januari 4, 2024.
  53. ↑ Chilkoti, A. (Oktober 30, 2012). "India and the Price of Rice". Financial Times. London. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 20, 2013.
  54. ↑ "Global rice consumption continues to grow". Grain Central. Maret 26, 2018. Diakses tanggal Desember 5, 2023.
  55. ↑ "Rice Sector at a Glance". Economic Research Service, US Department of Agriculture. September 27, 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 4, 2023. Diakses tanggal Desember 5, 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  56. ↑ "Types of rice". The Rice Association. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Maret 24, 2024. Diakses tanggal Maret 24, 2024.
  57. ↑ "FoodData Central: Rice, white, medium-grain, cooked, unenriched". Departemen Pertanian Amerika Serikat. April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 23, 2023. Diakses tanggal Desember 5, 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  58. ↑ L. M., De-Regil; J. P., Peña-Rosas; A., Laillou; R., Moench-Pfanner; L. A., Mejia; et al. (2018). Guideline: Fortification of Rice with Vitamins and Minerals as a Public Health Strategy. Organisasi Kesehatan Dunia. ISBN 978-92-4-155029-1. PMID 30307723. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Maret 21, 2021. Diakses tanggal Desember 5, 2023.
  59. ↑ Niewinski, Mary M. (April 2008). "Advances in Celiac Disease and Gluten-Free Diet". Journal of the American Dietetic Association. 108 (4): 661–672. doi:10.1016/j.jada.2008.01.011. PMID 18375224.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  60. ↑ Wu, Jianguo G.; Shi, Chunhai; Zhang, Xiaoming (Maret 2002). "Estimating the amino acid composition in milled rice by near-infrared reflectance spectroscopy". Field Crops Research. 75 (1): 1–7. Bibcode:2002FCrRe..75....1W. doi:10.1016/s0378-4290(02)00006-0.
  61. ↑ "Toxic Metals Found in All Rice Samples in New Report". Pulmonology Advisor (dalam bahasa American English). Mei 22, 2025. Diakses tanggal Oktober 22, 2025.
  62. 1 2 "MSU researchers, community leaders address arsenic in rice and other issues of food safety | Water Alliance". water.msu.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal Oktober 22, 2025.
  63. 1 2 https://hbbf.org/sites/default/files/2025-05/Arsenic-in-Rice-Report_May2025_R5_SECURED.pdf
  64. 1 2 Ngo, Hien Thi Thu; Hang, Nguyen Thi Thuy; Nguyen, Xuan Cuong; Nguyen, Ngoc Thi Minh; Truong, Hai Bang; Liu, Chong; La, Duc Duong; Kim, Sung Su; Nguyen, D. Duc (Desember 1, 2024). "Toxic metals in rice among Asian countries: A review of occurrence and potential human health risks". Food Chemistry. 460: 140479. doi:10.1016/j.foodchem.2024.140479. ISSN 0308-8146.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  65. 1 2 https://health.hawaii.gov/heer/files/2019/10/Protect-your-baby-from-Arsenic-in-Rice-and-Other-Foods-2019.pdf
  66. ↑ Karagas, Margaret R.; Punshon, Tracy; Sayarath, Vicki; Jackson, Brian P.; Folt, Carol L.; Cottingham, Kathryn L. (Juni 1, 2016). "Association of Rice and Rice-Product Consumption With Arsenic Exposure Early in Life". JAMA pediatrics. 170 (6): 609–616. doi:10.1001/jamapediatrics.2016.0120. ISSN 2168-6211. PMC 5215769. PMID 27111102.
  67. ↑ annaritan (September 3, 2025). "Iron-Fortified Rice Cereal - is it still a first food for babies starting solids? Do I need to use rice cereal". Nourish Little Lives (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal Oktober 31, 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  68. ↑ https://pure.qub.ac.uk/files/217196260/RiceDiets.pdf
  69. ↑ "Frequently asked questions on arsenic in rice and rice products". Bundesinstitut für Risikobewertung (dalam bahasa Inggris). Desember 22, 2020. Diakses tanggal Oktober 31, 2025.
  70. ↑ Zohra, Fatema Tuj; Afsin, Afia; Al Mamun, Abdullah; Ashikur Rahaman, Md.; Mizanur Rahman, Md. (2024). Kumar, Nitish; Hashmi, Muhammad Zaffar; Wang, Shuhong (ed.). Source and Distribution of Arsenic in Soil and Water Ecosystem (dalam bahasa Inggris). Cham: Springer Nature Switzerland. hlm. 27–46. doi:10.1007/978-3-031-52614-5_2. ISBN 978-3-031-52614-5.
  71. ↑ https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1109/1/012084/pdf
  72. ↑ "Which Country Eats the Most Rice?". www.helgilibrary.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal Desember 23, 2025.
  73. ↑ "List of countries by Human Development Index". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). Desember 12, 2025.
  74. ↑ "Golden Rice Q&A". Golden Rice Project. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Februari 14, 2022. Diakses tanggal Januari 3, 2024.
  75. ↑ Ye, Xudong; Al-Babili, Salim; Klöti, Andreas; Zhang, Jing; Lucca, Paola; et al. (Januari 14, 2000). "Engineering the Provitamin A (β-Carotene) Biosynthetic Pathway into (Carotenoid-Free) Rice Endosperm". Science. 287 (5451): 303–305. Bibcode:2000Sci...287..303Y. doi:10.1126/science.287.5451.303. PMID 10634784.
  76. ↑ Lynas, Mark (Agustus 26, 2013). "Anti-GMO Activists Lie About Attack on Rice Crop (and About So Many Other Things)". Slate Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 1, 2021. Diakses tanggal Agustus 21, 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  77. ↑ Roberts, Richard J. (2018). "The Nobel Laureates' Campaign Supporting GMOs". Journal of Innovation & Knowledge. 3 (2): 61–65. doi:10.1016/j.jik.2017.12.006. hdl:10419/190730.
  78. ↑ "Sectors: Rice cultivation". climatetrace.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 6, 2023. Diakses tanggal Desember 7, 2023.
  79. 1 2 Qian, Haoyu; Zhu, Xiangchen; Huang, Shan; Linquist, Bruce; Kuzyakov, Yakov; et al. (Oktober 2023). "Greenhouse gas emissions and mitigation in rice agriculture". Nature Reviews Earth & Environment. 4 (10): 716–732. Bibcode:2023NRvEE...4..716Q. doi:10.1038/s43017-023-00482-1. hdl:20.500.12327/2431.
  80. ↑ Gupta, Khushboo; Kumar, Raushan; Baruah, Kushal Kumar; Hazarika, Samarendra; Karmakar, Susmita; Bordoloi, Nirmali (Juni 2021). "Greenhouse gas emission from rice fields: a review from Indian context". Environmental Science and Pollution Research International. 28 (24): 30551–30572. Bibcode:2021ESPR...2830551G. doi:10.1007/s11356-021-13935-1. PMID 33905059.
  81. ↑ Neue, Heinz-Ulrich (1993). "Methane Emission from Rice Fields". BioScience. 43 (7): 466–474. doi:10.2307/1311906. JSTOR 1311906.
  82. ↑ Searchinger, Tim; Adhya, Tapan K. (2014). "Wetting and Drying: Reducing Greenhouse Gas Emissions and Saving Water from Rice Production". World Resources Institute. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Juni 19, 2023. Diakses tanggal Mei 3, 2024.
  83. ↑ Zhao, Chuang; Liu, Bing; Piao, Shilong; Wang, Xuhui; Lobell, David B.; et al. (Agustus 29, 2017). "Temperature increase reduces global yields of major crops in four independent estimates". Proceedings of the National Academy of Sciences. 114 (35): 9326–9331. Bibcode:2017PNAS..114.9326Z. doi:10.1073/pnas.1701762114. PMC 5584412. PMID 28811375.
  84. ↑ Iizumi, Toshichika; Furuya, Jun; Shen, Zhihong; Kim, Wonsik; Okada, Masashi; et al. (Agustus 10, 2017). "Responses of crop yield growth to global temperature and socioeconomic changes". Scientific Reports. 7 (1): 7800. Bibcode:2017NatSR...7.7800I. doi:10.1038/s41598-017-08214-4. PMC 5552729. PMID 28798370.
  85. ↑ Welch, Jarrod R.; Vincent, Jeffrey R.; Auffhammer, Maximilian; Moya, Piedad F.; Dobermann, Achim; Dawe, David (Agustus 9, 2010). "Rice yields in tropical/subtropical Asia exhibit large but opposing sensitivities to minimum and maximum temperatures". Proceedings of the National Academy of Sciences. 107 (33): 14562–14567. doi:10.1073/pnas.1001222107. PMC 2930450. PMID 20696908.
  86. ↑ Black, Richard (Agustus 9, 2010). "Rice yields falling under global warming". BBC News: Science & Environment. Diarsipkan dari asli tanggal April 5, 2018. Diakses tanggal Agustus 9, 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  87. ↑ Singh, S.K. (2016). "Climate Change: Impact on Indian Agriculture & its Mitigation". Journal of Basic and Applied Engineering Research. 3 (10): 857–859.
  88. ↑ Rao, Prakash; Patil, Y. (2017). Reconsidering the Impact of Climate Change on Global Water Supply, Use, and Management. IGI Global. hlm. 330. ISBN 978-1-5225-1047-5.
  89. ↑ Spaggiari, Ottavia (Februari 29, 2024). "Risotto crisis: the fight to save Italy's beloved dish from extinction". The Guardian.
  90. ↑ "Pests and diseases management". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 4, 2024. Diakses tanggal Januari 4, 2024.
  91. ↑ "Insects". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 4, 2024. Diakses tanggal Januari 4, 2024.
  92. ↑ Chelliah, S.; Heinrichs, E. A. (1980). "Factors Affecting Insecticide-Induced Resurgence of the Brown Planthopper, Nilaparvata lugens on Rice". Environmental Entomology. 9 (6): 773–777. doi:10.1093/ee/9.6.773.
  93. ↑ Jahn, Gary C.; Almazan, Liberty P.; Pacia, Jocelyn B. (2005). "Effect of Nitrogen Fertilizer on the Intrinsic Rate of Increase of Hysteroneura setariae (Thomas) (Homoptera: Aphididae) on Rice (Oryza sativa L.)". Environmental Entomology. 34 (4): 938. doi:10.1603/0046-225X-34.4.938.
  94. ↑ Douangboupha, B.; Khamphoukeo, K.; Inthavong, S.; Schiller, J. M.; Jahn, G. C. (2006). "Chapter 17: Pests and diseases of the rice production systems of Laos" (PDF). Dalam Schiller, J. M.; Chanphengxay, M. B.; Linquist, B.; Rao, S. A. (ed.). Rice in Laos. Los Baños, Filipina: International Rice Research Institute. hlm. 265–281. ISBN 978-971-22-0211-7. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal April 3, 2012.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  95. ↑ Dean, Ralph A.; Talbot, Nicholas J.; Ebbole, Daniel J.; et al. (April 2005). "The genome sequence of the rice blast fungus Magnaporthe grisea". Nature. 434 (7036): 980–986. Bibcode:2005Natur.434..980D. doi:10.1038/nature03449. PMID 15846337.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  96. 1 2 Liu, Wende; Liu, Jinling; Triplett, Lindsay; Leach, Jan E.; Wang, Guo-Liang (Agustus 4, 2014). "Novel Insights into Rice Innate Immunity Against Bacterial and Fungal Pathogens". Annual Review of Phytopathology. 52 (1): 213–241. Bibcode:2014AnRvP..52..213L. doi:10.1146/annurev-phyto-102313-045926. PMID 24906128.
  97. ↑ Hibino, H. (1996). "Biology and epidemiology of rice viruses". Annual Review of Phytopathology. 34 (1). Annual Reviews: 249–274. Bibcode:1996AnRvP..34..249H. doi:10.1146/annurev.phyto.34.1.249. PMID 15012543.
  98. ↑ Singh, Raksha; Dangol, Sarmina; Chen, Yafei; Choi, Jihyun; Cho, Yoon-Seong; Lee, Jea-Eun; Choi, Mi-Ok; Jwa, Nam-Soo (Mei 31, 2016). "Magnaporthe oryzae Effector AVR-Pii Helps to Establish Compatibility by Inhibition of the Rice NADP-Malic Enzyme Resulting in Disruption of Oxidative Burst and Host Innate Immunity". Molecules and Cells. 39 (5): 426–438. doi:10.14348/molcells.2016.0094. PMC 4870191. PMID 27126515.
  99. ↑ Jahn, Gary C.; Khiev, B.; Pol, C.; Chhorn, N.; Pheng, S.; Preap, V. (2001). "Developing sustainable pest management for rice in Cambodia". Dalam Suthipradit, S.; Kuntha, C.; Lorlowhakarn, S.; Rakngan, J. (ed.). Sustainable Agriculture: Possibility and Direction. Bangkok (Thailand): National Science and Technology Development Agency. hlm. 243–258.
  100. ↑ Savary, S.; Horgan, F.; Willocquet, L.; Heong (2012). "A review of principles for sustainable pest management in rice". Crop Protection. 32: 54. Bibcode:2012CrPro..32...54S. doi:10.1016/j.cropro.2011.10.012.
  101. ↑ "Bangladeshi farmers banish insecticides". SCIDEV.net. Juli 30, 2004. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 26, 2008. Diakses tanggal Mei 13, 2012.
  102. ↑ Wu, Jincai; Ge, Linquan; Liu, Fang; Song, Qisheng; Stanley, David (Januari 7, 2020). "Pesticide-Induced Planthopper Population Resurgence in Rice Cropping Systems". Annual Review of Entomology. 65 (1): 409–429. doi:10.1146/annurev-ento-011019-025215. PMID 31610135.
  103. ↑ Hamilton, Henry Sackville (Januari 18, 2008). "The pesticide paradox". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 19, 2012.
  104. ↑ Bezemer, Marjolein (Oktober 23, 2022). "Mixed farming increases rice yield". reNature Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 11, 2019. Diakses tanggal Januari 2, 2024.
  105. ↑ Cagauan, A. G.; Branckaert, R. D.; Van Hove, C. (2000). "Integrating fish and azolla into rice-duck farming in Asia" (PDF). Naga (ICLARM Quarterly). 23 (1): 4–10. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal Maret 14, 2024. Diakses tanggal Januari 5, 2024.
  106. ↑ Xin, Zhaojun; Yu, Zhaonan; Erb, Matthias; Turlings, Ted C. J.; Wang, Baohui; et al. (April 2012). "The broad-leaf herbicide 2,4-dichlorophenoxyacetic acid turns rice into a living trap for a major insect pest and a parasitic wasp". New Phytologist. 194 (2): 498–510. Bibcode:2012NewPh.194..498X. doi:10.1111/j.1469-8137.2012.04057.x. PMID 22313362.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  107. ↑ Cheng, Yao; Shi, Zhao-Peng; Jiang, Li-Ben; Ge, Lin-Quan; Wu, Jin-Cai; Jahn, Gary C. (Maret 2012). "Possible connection between imidacloprid-induced changes in rice gene transcription profiles and susceptibility to the brown plant hopper Nilaparvatalugens Stål (Hemiptera: Delphacidae)". Pesticide Biochemistry and Physiology. 102 (3): 213–219. Bibcode:2012PBioP.102..213C. doi:10.1016/j.pestbp.2012.01.003. PMC 3334832. PMID 22544984.
  108. ↑ Makkar, Gurpreet Singh; Bhatia, Dharminder; Suri, K.S.; Kaur, Simranjeet (2019). "Insect resistance in Rice (Oryza sativa L.): overview on current breeding interventions". International Journal of Tropical Insect Science. 39 (4): 259–272. Bibcode:2019IJTIS..39..259M. doi:10.1007/s42690-019-00038-1.
  109. ↑ "The International Rice Genebank – conserving rice". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Oktober 23, 2012.
  110. ↑ Jackson, M. T. (September 1997). "Conservation of rice genetic resources: the role of the International Rice Genebank at IRRI". Plant Molecular Biology. 35 (1–2): 61–67. Bibcode:1997PMolB..35...61J. doi:10.1023/A:1005709332130. PMID 9291960.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  111. ↑ Sattaka, Patcha (Desember 27, 2016). "Geographical Distribution of Glutinous Rice in the Greater Mekong Sub-region". Journal of Mekong Societies. 12 (3): 27–48. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 8, 2021. Diakses tanggal November 8, 2023.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  112. ↑ "NERICA: Rice for Life" (PDF). Africa Rice Center (WARDA). 2001. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal Desember 4, 2003. Diakses tanggal Juli 7, 2008.
  113. ↑ T. Morinaga (1968), "Origin and geographical distribution of Japanese rice" (PDF), Trop. Agric. Res. Ser., 3: 1–15
  114. ↑ Kabir, S. M. Humayun (2012). "Rice". Dalam Sirajul Islam; Ahmed A. Jamal (ed.). Banglapedia: National Encyclopedia of Bangladesh (Edisi Second). Asiatic Society of Bangladesh. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 20, 2008.
  115. ↑ Rice. Cgiar.org. Retrieved on 2012-05-13.
  116. ↑ Gillis, Justin (Agustus 11, 2005). "Rice Genome Fully Mapped". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Maret 30, 2017. Diakses tanggal September 10, 2017.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  117. ↑ Shang, Lianguang; Li, Xiaoxia; He, Huiying; Yuan, Qiaoling; Song, Yanni; et al. (2022). "A super pan-genomic landscape of rice". Cell Research. 32 (10): 878–896. Bibcode:2022CelRe..32..878S. doi:10.1038/s41422-022-00685-z. PMC 9525306. PMID 35821092.
  118. 1 2 Hettel, Gene (November 18, 2016). "IR8—a rice variety for the ages". Rice Today. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 29, 2023. Diakses tanggal Desember 29, 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  119. ↑ "The C4 Rice Project". The C4 Rice Project.
  120. ↑ von Caemmerer, Susanne; Quick, W. Paul; Furbank, Robert T. (Juni 29, 2012). "The Development of C4 Rice: Current Progress and Future Challenges". Science. 336 (6089): 1671–1672. doi:10.1126/science.1220177. PMID 22745421.
  121. ↑ Kleiner, Kurt (November 18, 2022). "Is Hacking Photosynthesis the Key to Increasing Crop Yields?". Smithsonian Magazine.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  122. ↑ "History of the C4 Rice Project". The C4 Rice Project. November 12, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  123. ↑ Marris, E. (Mei 18, 2007). "Rice with human proteins to take root in Kansas". Nature. doi:10.1038/news070514-17.
  124. ↑ Bethell, D.R.; Huang, J. (Juni 2004). "Recombinant human lactoferrin treatment for global health issues: iron deficiency and acute diarrhea". BioMetals. 17 (3): 337–342. doi:10.1023/B:BIOM.0000027714.56331.b8. PMID 15222487.
  125. 1 2 Debrata, Panda; Sarkar, Ramani Kumar (2012). "Role of Non-Structural Carbohydrate and its Catabolism Associated with Sub 1 QTL in Rice Subjected to Complete Submergence". Experimental Agriculture. 48 (4): 502–512. doi:10.1017/S0014479712000397.
  126. ↑ ""Climate change-ready rice". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Oktober 28, 2012. Diakses tanggal Oktober 31, 2013.
  127. ↑ Gautam, Priyanka; et al. (2017). "Nutrient Management for Enhancing Submergence Tolerance in Rice" (PDF). Cuttack, Odisha, India: National Rice Research Institute. hlm. 3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal Juni 3, 2024. Diakses tanggal Mei 13, 2024. NRRI Research Bulletin No. 13
  128. ↑ Emerick, Kyle; Ronald, Pamela C. (2019). "Sub1 Rice: Engineering Rice for Climate Change". Cold Spring Harbor Perspectives in Biology. 11 (12) a034637. doi:10.1101/cshperspect.a034637. PMC 6886445. PMID 31182543.
  129. 1 2 "Drought, submergence and salinity management". International Rice Research Institute (IRRI). Diarsipkan dari asli tanggal November 1, 2013. Diakses tanggal September 29, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  130. 1 2 ""Climate change-ready rice". International Rice Research Institute. International Rice Research Institute (IRRI). Diarsipkan dari asli tanggal Maret 14, 2014. Diakses tanggal September 29, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  131. 1 2 3 Palmer, Neil (2013). "Newly-discovered rice gene goes to the root of drought resistance". CIAT Blog. International Center for Tropical Agriculture. Diarsipkan dari asli tanggal November 3, 2013. Diakses tanggal September 29, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  132. ↑ "Roots breakthrough for drought resistant rice". Phys.org. 2013. Diarsipkan dari asli tanggal November 2, 2013. Diakses tanggal September 30, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  133. ↑ "Rice Breeding Course, Breeding for salt tolerance in rice, on line". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal Mei 5, 2017.
  134. ↑ "Fredenburg, P. (2007). "Less salt, please". International Rice Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal November 1, 2013. Diakses tanggal September 30, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  135. 1 2 "Barona-Edna, Liz (April 15, 2013). "Wild parent spawns super salt tolerant rice". Rice Today. Diakses tanggal Januari 3, 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  136. 1 2 ""Breakthrough in salt-resistant rice research—single baby rice plant may hold the future to extending rice farming". Integrated Breeding Platform (IBP). 2013. Diarsipkan dari asli tanggal November 2, 2013. Diakses tanggal Oktober 6, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  137. ↑ Li, Junhua; Zhang, Zeyong; Chong, Kang; Xu, Yunyuan (2022). "Chilling tolerance in rice: Past and present". Journal of Plant Physiology. 268 153576. Bibcode:2022JPPhy.26853576L. doi:10.1016/j.jplph.2021.153576. PMID 34875419.
  138. ↑ Rannard, Georgina (September 28, 2025). "Dismissed as a joke, UK's first rice crop ripe for picking after hot summer". BBC News.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  139. ↑ Su, J.; Hu, C.; Yan, X.; Jin, Y.; Chen, Z.; et al. (Juli 2015). "Expression of barley SUSIBA2 transcription factor yields high-starch low-methane rice". Nature. 523 (7562): 602–606. Bibcode:2015Natur.523..602S. doi:10.1038/nature14673. PMID 26200336.
  140. ↑ Gerry, C. (Agustus 9, 2015). "Feeding the World One Genetically Modified Tomato at a Time: A Scientific Perspective". Universitas Harvard. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 10, 2015. Diakses tanggal September 11, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  141. ↑ Luo, Qiong; Li, Yafei; Shen, Yi; Cheng, Zhukuan (Maret 2014). "Ten years of gene discovery for meiotic event control in rice". Journal of Genetics and Genomics. 41 (3): 125–137. doi:10.1016/j.jgg.2014.02.002. PMID 24656233.
  142. ↑ Tang, Ding; Miao, Chunbo; Li, Yafei; Wang, Hongjun; Liu, Xiaofei; Yu, Hengxiu; Cheng, Zhukuan (2014). "OsRAD51C is essential for double-strand break repair in rice meiosis". Frontiers in Plant Science. 5: 167. Bibcode:2014FrPS....5..167T. doi:10.3389/fpls.2014.00167. PMC 4019848. PMID 24847337.
  143. ↑ Agus Dermawan T (September 25, 2021). "Menjumpai Dewi Sri pada Hari Tani". kompas.id. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Februari 14, 2023. Diakses tanggal Februari 14, 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  144. 1 2 Wessing, Robert (1990). "Sri and Sedana and Sita and Rama: Myths of Fertility and Generation". Asian Folklore Studies. 49 (2): 235–257. doi:10.2307/1178035. JSTOR 1178035.
  145. ↑ Ahuja, Subhash C.; Ahuja, Uma (2006). "Rice in religion and tradition". 2nd International Rice Congress, October 9–13, 2006. New Delhi: 45–52.
  146. ↑ Muhammad, Rosmaliza; Zahari, Mohd Salehuddin Mohd; Ramly, Alina Shuhaida Muhammad; Ahmad, Roslina (2013). "The Roles and Symbolism of Foods in Malay Wedding Ceremony". Procedia - Social and Behavioral Sciences. 101: 268–276. doi:10.1016/j.sbspro.2013.07.200.
  147. ↑ Ahuja, Uma; Thakrar, Rashmi; Ahuja, S. C. (2001). "Alcoholic rice beverages". Asian Agri-History. 5 (4): 309–319.
  148. ↑ "Cambodia marks beginning of farming season with royal ploughing ceremony". Xinhua (dalam bahasa Inggris). Maret 21, 2017. Diarsipkan dari asli tanggal Mei 3, 2018. Diakses tanggal Desember 6, 2021.
  149. ↑ "Ceremony Predicts Good Year". Khmer Times. Mei 23, 2016. Diakses tanggal Desember 6, 2021.
  150. ↑ Sen, S. (Juli 2, 2019). "Ancient royal paddy planting ceremony marked". The Himalayan Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 6, 2021. Diakses tanggal Desember 6, 2021.

Bacaan lebih lanjut

Wikibooks logo
Wikibooks Cookbook memiliki resep/modul di

Templat:Varieties of rice Templat:Rice production Templat:Cereals Templat:Rice dishes

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan