Selasa, 27 Oktober 2026
07:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Arnold de Vlaming

Bagikan:
Arnold de Vlaming
Gubernur Hindia Belanda di Kepulauan Maluku
Informasi pribadi
LahirArnold de Vlaming van Oudtshoorn
1618 (1618)
Meninggal11 Februari 1662

Arnold de Vlaming van Oudtshoorn (lahir tahun 1618 di Beverwijk, Holandia Utara, Belanda) adalah seorang Gubernur Hindia Belanda di Kepulauan Maluku. Dia merupakan anak dari Volckert de Vlaming van Oudshoorn dan Maritge Braems, dia juga mempunyai tujuh saudara kandung, yaitu Cornelis de Vlaming van Oudtshoorn, Pieter de Vlaming van Oudtshoorn, Margaretha de Vlaming van Oudtshoorn, Maria de Vlaming van Oudtshoorn, Gijsbert de Vlaming van Oudtshoorn, dan Diederick de Vlaming van Oudtshoorn.

Karier

Hingga sekitar tahun 1800an, cengkeh, lada, dan pala hanya dapat ditemukan di Kepulauan Maluku yang sekarang menjadi bagian dari Indonesia dan dahulu dijuluki sebagai Kepulauan Rempah-Rempah. Rempah-rempah memiliki banyak kegunaan, yakni sebagai obat, untuk bumbu makanan dan minuman, dan sebagai parfum. Cengkih seharusnya menjadi obat untuk hilang ingatan dan sakit gigi, lada untuk mabuk laut dan ruam. Namun, volume perdagangan rempah-rempah tetap kecil karena hanya sedikit orang yang mampu membeli barang mewah seperti itu. Mengingat potensi pasar yang terbatas, satu-satunya kemungkinan bagi pedagang untuk mendapatkan banyak uang adalah dengan mengontrol transportasi ke Eropa. Sejak tahun 1500an, Portugis berhasil melakukannya. Kemudian sekitar tahun 1660an monopoli jatuh ke tangan VOC kemudian Inggris mengeluhkan bahwa tidak mungkin memindahkan satu cengkih tanpa izin dari Belanda.[1]

Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (1587-1629) dan banyak lainnya juga menggunakan kekerasan untuk mengamankan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku dan menyingkirkan persaingan Inggris. Penduduk asli Banda diperbudak dengan kejam dan bahkan dibantai oleh VOC. VOC membuat pohon cengkih milik musuh dicabut dan desa-desa dibakar. Ekspedisi Hongi adalah ekspedisi militer inspeksi oleh armada bersenjata Praus. Kata "hongi" berasal dari pulau Ternate di Maluku yang berarti "armada". Setidaknya dibutuhkan sepuluh tahun sebelum cengkih dapat dipanen dari pohon muda. Jadi, penduduk kehilangan mata pencaharian dan tidak punya pilihan selain pindah atau mati kelaparan.[2]

Pada tahun 1651, setelah masa yang kurang lebih tenang, pemberontakan baru melawan kekuasaan Belanda pecah di Maluku. Untuk melindungi monopoli perdagangan cengkih, VOC sekali lagi memberlakukan pembatasan penanaman pohon cengkih. Majira, seorang kepala suku Huamual di Pulau Seram, menolak untuk menghancurkan sebagian dari perkebunan muda dan juga ingin menjual cengkih kepada pedagang Asia. Amasser, sebuah kota di pulau Sulawesi yang diperintah oleh Kesultanan Gowa, mendukung para pemberontak, seperti yang dilakukan Kesultanan Ternate.

Pada periode antara 1651 dan 1656, gubernur Maluku, Arnold de Vlaming, berhasil menekan pemberontakan dengan bantuan kepala suku di Maluku, dengan menggunakan kora-kora sebagai armadanya. Belakangan ini peristiwa tersebut disebut dengan nama Perang Besar Ambon atau Perang Huamual.

Penulis sejarah Levinus Bor, yang menemani Arnold de Vlamingh van Oudshoorn, melaporkan kampanye terakhir dalam buku yang berjudul Amboinseoorlogen door Arnold de Vlaming van Oudshoorn als superintendent, overd'oosterse gewesten oorlogaftig ten eind gebracht. Setelah Perang Ambon, penanaman cengkih dibatasi hanya di Pulau Ambon dan Haruku, Saparua, dan Nusalaut dengan dibangunnya benteng Belanda yang kokoh, monopoli perdagangan cengkih kini sudah di tangan VOC.

Pada awal tahun 1770an, para pelaut dari Perancis menyelundupkan potongan rempah-rempah ke Mauritius yang terletak di Samudra Hindia, tetapi butuh tiga puluh tahun lagi sebelum perkebunan muda menghasilkan cukup cengkih untuk mematahkan monopoli. Baru pada tahun 1795, ketika Inggris menduduki pemukiman Belanda di Maluku, budidaya cengkih dan pala menyebar ke seluruh Indonesia dan kemudian ke bagian lain dunia juga.[3]

Referensi

  1. ↑ Leaves of the same tree: trade and ethnicity in the Straits of Melaka, By Leonard Y. Andaya. England and the Netherlands: the ties between two nations The spice trade
  2. ↑ "Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek". resources.huygens.knaw.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 13 Februari 2022.
  3. ↑ "Biography of Arnold de Vlaming". www.biografischportaal.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 13 Februari 2022.
Masa Kekuasaan
Perusahaan Hindia Timur Belanda
(1610–1800)
Flag of the Dutch East India Company
Flag of the Dutch East India Company
Masa Kekuasaan
Hindia Belanda Pertama
(1800–1811)
Masa Kekuasaan
Kerajaan Inggris
(1800–1811)
Masa Kekuasaan
Hindia Belanda Kedua
(1811–1949)
Komisaris Tinggi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan