Kamis, 15 Oktober 2026
20:57 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Tupai kecil

Tupai kecil

Spesies mamalia

Bagikan:
Tupai kerdil[1]
250px-Tupaia_minor_-_Museo_Civico_di_Storia_Naturale_Giacomo_Doria_-_Genoa%2C_Italy_-_DSC02511.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tupaia minor
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
T. minor
Nama binomial
Tupaia minor
Miller, 1903
250px-Pygmy_Treeshrew_area.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta persebaran
Artikel takson sembarang

Tupai kecil[3] Tupaia minor) adalah salah satu spesies tupai yang berada dalam famili Tupaiidae.[1] Spesies ini adalah spesies asli yang berada di wilayah Thailand, Malaysia, dan Indonesia.[2] Nama yang dipakai hingga saat ini berasal dari kata dalam bahasa Melayu tupai yang dalam bahasa Inggris disebut squirrell yang memiliki arti lain dalam bahasa Indonesia yaitu bajing, dan hewan sejenis yang menyerupainya.[4]

Persebaran

T. minor tersebar di wilayah semenanjung Thailand, semenanjung Malaysia, Sumatra, Kepulauan Lingga (Indonesia), Kalimantan, Pulau Laut (Indonesia), serta Banggi dan Balambangan (Malaysia). Dari katalog lokal Malaysia berjudul Catalogue of Mammal Skins in Sarawak Museum, Kuching, Sarawak, lebih dari 30 ekor individu dari T. minor telah ditemukan sejak tahun 1891 hingga 1991. Spesimen sebagian besar ditangkap di Gunung Penrisen, Gunung Dulit, Gunung Poi, Gunung Gading, Bau, Ulu Baram, Saribas, Kuching, dan Lembaga Penelitian Hutan setempat. Spesies ini tidak memiliki catatan fosil.[5]

Morfologi dan penampilan

T. minor dapat dibedakan dari spesies tupai lainnya dari sisi penampilannya. Hewan ini memiliki bulu tubuh yang bagian atasnya dibalut paduan warna terang dan gelap, umumnya berwarna coklat zaitun berbintik-bintik. Bagian atas inilah yang mencolok dan sering memiliki semburat kemerahan ke arah bagian belakang tubuh.[6] Panjang anggota tubuhnya sama dan memiliki cakar yang panjang. Total panjang maksimumnya adalah sekitar 450 mm, di mana setengahnya merupakan ekor.[7] Ekornya panjang dan tipis, dan sisi atasnya berwarna lebih gelap dari tubuh.[6]

Perilaku, pola makan, dan reproduksi

T. minor adalah hewan diurnal (aktif di siang hari). Dan sering terlihat pada ketinggian 3 hingga 8 meter dari permukaan tanah, terkadang bisa mencapai 20 meter, berjalan berpindah sepanjang liana atau antar dahan pepohonan kecil.[6] Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di tanah dan di semak-semak rendah, bersarang di akar pohon dan kayu yang tumbang. T. minor bergerak dalam postur semiplantigrade (nyaris menapakkan kaki secara sempurna) yang memungkinkannya menjaga pusat gravitasinya tetap pada pohon. Cakar di tangan dan kakinya cukup tajam dan agak melengkung, yang berguna untuk memanjat.[8]

T. minor adalah hewan omnivora; makanannya termasuk serangga dan buah. Scandentia memiliki signifikansi ekonomi yang kecil karena tidak banyak merusak tanaman atau perkebunan. Namun, T. minor dapat menjadi penyebar benih untuk beberapa spesies Ficus.[9]

Hewan ini melahirkan dari satu hingga tiga anak sekaligus setelah periode kehamilan 45 hingga 55 hari. Umur maksimum mereka adalah sekitar 9 hingga 10 tahun.[10]

Referensi

  1. 1 2 (Inggris)MSW3. 2005. Tupaia minor [terhubung berkala]. http://www.departments.bucknell.edu/biology/resources/msw3/browse.asp?id=11900014 [4 Apr 2014]
  2. 1 2 Cassola, F. (2016). "Tupaia minor". The IUCN Red List of Threatened Species. 2016. IUCN: e.T41497A22279656. doi:10.2305/IUCN.UK.2016-2.RLTS.T41497A22279656.en. Diakses tanggal 15 Januari 2018.
  3. ↑ "Checklist of the mammals of Indonesia : scientific name and distribution area table in Indonesia including CITES, IUCN, and Indonesian category for conservation". LIPI. 2019. Diakses tanggal 1 Maret 2026.
  4. ↑ Wilkinson, R. J. (1901). A Malay-English dictionary Kelly & Walsh Limited, Hongkong, Shanghai and Yokohama.
  5. ↑ Jacobs, L.L. 1980. Siwalik fossil tree shrews. Comparative biology and evolutionary relationships of tree shrews. New York. Plenum Press. Pg. 202-203
  6. 1 2 3 Payne, J., Francis, C. M. and Phillipps, K., 1985. Mammals of Borneo. The Sabah Society with World Wildlife Fund Malaysia. Pg. 163.{{cite book}}: |title= tidak ada atau kosongPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  7. ↑ Feldhamer, G.A., Drickamer, L.C., Vessey, S.H., and Merritt, J.F., 1999. Mammalogy : Adaptation, Diversity and Ecology. United States: McGraw-Hill. Pg. 202-203
  8. ↑ Lelevier, M. and L. Olson. 2005. "Tupaia minor" (On-line), Animal Diversity Web. Accessed January 7, 2009 at http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Tupaia_minor.html.
  9. ↑ Shanahan, M., S. Compton. 2000. Fig-Eating by Bornean Tree Shrews (Tupaia spp.): Evidence for a Role as Seed Dispersers. Wilson, D.E., and Reeder D.M., 1993. Mammal species of the world, second edition. Smithsonian Institution Press. Pg. 132
  10. ↑ Lelevier, M. & L. Olson (2005). "Tupaia minor" (On-line). Animal Diversity Web. Diakses tanggal 7 Januari 2009.
Spesies Scandentia (tupai) yang masih hidup bedasarkan famili
Tupaiidae
Anathana
Dendrogale
Tupaia
Ptilocercidae
Ptilocercus
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan