Minggu, 20 September 2026
14:55 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Tuhfat al-Nafis

Tuhfat al-Nafis

250px-Tuhfat_alnafis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tuhfat alnafis

Tuhfat al-Nafis (Bahasa Arab: Hadiah yang berharga) adalah buku sejarah karangan Raja Ali Haji, sastrawan dari Riau dan pangeran Kesultanan Riau-Lingga keturunan Melayu -Bugis. Buku ini ditulis pada tahun 1885 dalam huruf Jawi. Dalam buku ini dicatat kejadian-kejadian yang berlangsung pada abad ke-18 dan 19 di berbagai negeri Melayu.

Ada empat manuskrip Tuhfat al-Nafis yang diketahui. Naskah yang disalin pada 1890 diterbitkan pada 1923 untuk Journal of the Malayan Branch Royal Asiatic Society, London.[1]

Isi buku

Tuhfat al-Nafis diawali dengan ringkasan yang diambil dari Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), dan kemudian menceritakan dengan lebih terinci sejarah Kesultanan Johor-Riau. Figur dinamis dalam Tuhfat adalah para pangeran Bugis, yang dengan kecekatan militer dan diplomasi mereka berhasil meraih kedudukan penting di negeri-negeri Riau, Selangor, Sambas dan Matan-Sukadana.

Tema yang berulang dalam paruh pertama Tuhfat adalah konflik antara orang-orang Minangkabau dari Siak dan angkatan aliansi Bugis dan Melayu. Konflik ini terjadi baik di wilayah Riau dan di Kedah, Selangor, Siak dan Kalimantan. Paruh kedua yang meliputi pertengahan abad ke-18 sampai 1864 menceritakan berkembangnya permusuhan antara orang-orang Bugis dan Melayu di Riau, dan dua serbuan yang dipimpin oleh orang-orang Bugis terhadap Belanda di Melaka pada 1756 dan 1784. Serangan terakhir ini berakhir ketika Belanda menandatangani perjanjian dengan sultan Riau yang menyatakan kerajaannya hanya merupakan bawahan (fief) dari Serikat Dagang Hindia Belanda (VOC).

Meskipun berpusat pada sejarah Riau dan Johor Tuhfat al-Nafis juga memadukan sejarah berbagai negeri Melayu lainnya seperti Siak, Kedah, Selangor, Kelantan, dan pantai barat Kalimantan.

Lihat pula

Rujukan


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan