Minggu, 27 September 2026
02:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Telanjang dada

Telanjang dada

keadaan di saat batang tubuh di atas pinggang atau pinggul ditampilkan secara terbuka

330px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_een_meisje_uit_de_Preanger_West_Java_TMnr_60012410.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perempuan Sunda yang bertelanjang dada, foto diambil sekitar 1880 hingga 1920
330px-Jakarta_slumlife64.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang pria yang bertelanjang dada.

Telanjang dada adalah aktivitas manusia yang dilakukan tanpa mengenakan baju.[1] Istilah ini biasanya tidak digunakan untuk wanita, karena laki-laki lebih sering telanjang dada dibandingkan perempuan, hal ini dikarenakan menurut pandangan umum bertelanjang dada bagi perempuan dianggap sebagai hal yang tabu.[2] Dalam bahasa Inggris, perempuan telanjang dada disebut dengan istilah topless. Banyak laki-laki, seperti petani dan pekerja tambang yang bekerja dengan telanjang dada karena faktor cuaca. Telanjang dada kini sudah menjadi budaya masyarakat.

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Badende_vrouwen_in_een_meer_Preanger_TMnr_60019220.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wanita mandi bertelanjang dada di danau di daerah Priangan (1910-1930)

Dalam masyarakat tradisional

250px-Noies_wichita.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dua orang Wichita dalam pakaian musim panas (1870)
250px-Image_from_page_938_of_%22Bulletin%22_%281901%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keluarga Mohave, 1901

Sikap terhadap praktik bertelanjang dada sangat bervariasi di berbagai budaya dan dari waktu ke waktu. Tidak mengenakan pakaian di atas pinggang, baik bagi perempuan maupun laki-laki, merupakan hal yang lumrah dalam budaya tradisional di Amerika Utara, Afrika, Australia, dan Kepulauan Pasifik hingga kedatangan para misionaris Kristen. Praktik ini pun masih terus menjadi norma di banyak budaya pribumi saat ini. Praktik tersebut juga menjadi hal yang biasa di berbagai budaya Asia sebelum ekspansi Islam pada abad ke-13 dan ke-14.[3]

Peradaban Minoa

Selama era Minoa Pertengahan (2000–1600 SM), kaum perempuan mengenakan blus ketat dengan potongan rendah di bagian depan yang memperlihatkan payudara. Bentuk payudara semakin ditegaskan oleh pinggang yang ramping, mirip dengan bentuk tubuh yang dihasilkan oleh korset pada akhir abad ke-19.[4]

Amerika Utara

Praktik ini juga menjadi hal yang lazim di kalangan suku Mohave dan suku Wichita.

Afrika

250px-Himba_lady_preparing_deodorant.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Junge_Hamer_in_S%C3%BCd%C3%A4thiopien.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Di antara suku Himba di Namibia utara (kiri) dan suku Hamar (kanan) di Etiopia selatan, bertelanjang dada merupakan norma sosial bagi perempuan.

Di antara perempuan suku Himba di Namibia utara dan suku Hamar di Etiopia selatan, serta kelompok tradisional lainnya di Afrika, bertelanjang dada merupakan norma sosial bagi perempuan. Praktik bertelanjang dada pada perempuan juga dapat menjadi bagian penting dari perayaan budaya setempat. Sebagai contoh, dalam upacara Tarian Kertas tahunan, gadis-gadis remaja berusia antara 16 hingga 20 tahun menari tanpa penutup dada di hadapan raja Zulu.[5]

Australia

Praktik tradisional bertelanjang dada dapat memicu konflik lintas budaya dan hukum. Pada tahun 2004, kepolisian Australia melarang anggota komunitas Papunya menggunakan taman kota di Alice Springs untuk membawakan tarian tradisional Aborigin yang melibatkan penari perempuan bertelanjang dada.[6]

India

Di wilayah tertentu di India utara, beberapa perempuan tidak mengenakan pakaian bagian atas kecuali saat musim dingin sebelum penaklukan Muslim di India. Perempuan dan laki-laki biasanya mengenakan antriya di bagian tubuh bawah dan bertelanjang dada dari pinggang ke atas, selain dari perhiasan. Ini merupakan bentuk pakaian standar kecuali jika perempuan memilih untuk mengenakan sari, yang dalam hal ini mereka menutupi tubuh bagian atas mereka dengan jubah.[7][8]

Bertelanjang dada merupakan norma bagi perempuan di antara beberapa komunitas di India Selatan dan Sri Lanka hingga abad ke-19 atau awal abad ke-20. Komunitas tersebut meliputi orang Tamil di sepanjang Pesisir Koromandel, Tiyan dan masyarakat lainnya di Pesisir Malabar, suku Kadar di Pulau Cochin, Toda, Cheruman (Pulayar), Kuruba, Koraga, Nikobar, dan Uriya.[9]

Indonesia

330px-Romualdo_locatelli_young_balinese_girl_with_hibiscus.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gadis Bali muda bertelanjang dada dengan bunga sepatu, karya Romualdo Locatelli (ca 1939)

Di Kepulauan Indonesia, bertelanjang dada merupakan norma di antara suku Dayak, Jawa, dan Bali sebelum masuknya Islam dan kontak dengan budaya Barat. Dalam masyarakat Jawa dan Bali, perempuan biasa bertelanjang dada untuk bekerja atau beristirahat dengan nyaman. Di antara suku Dayak, hanya perempuan berpayudara besar atau perempuan menikah dengan payudara mengendur yang menutupi payudara mereka karena payudara tersebut mengganggu pekerjaan mereka.[9][butuh klarifikasi]

Jepang

Dalam masyarakat tradisional Jepang, bertelanjang dada (hadanugi) dan telanjang bulat (maru hadaka) diterima secara luas secara budaya dan moral bagi laki-laki maupun perempuan, dengan pengecualian bagi kalangan bangsawan samurai.[10] Bukan hal yang aneh melihat perempuan, muda maupun tua, dengan bagian dada terbuka.[11] Francis Hall, pada tahun 1861, menggambarkan pertemuan semacam itu: "Pintu geser rumah terbuka lebar ke arah jalan karena teriknya cuaca musim panas dan setengah lusin perempuan, yang telah menikah sebagaimana ditandai oleh gigi hitam mereka, berbaring menelungkup dan bertumpu pada siku mereka di atas tatami. Masing-masing telah menanggalkan pakaian bagian atas dari bahu mereka dan bertelanjang dada hingga ke pinggang, menyeimbangkan ketelanjangan ini dengan menyingsingkan pakaian bagian bawah hingga kaki mereka terbuka sampai ke paha. Wajah mereka menghadap ke tengah ruangan dan kaki mereka membentuk lingkar luar dari sebuah lingkaran."[12]

Korea

Pada abad ke-16, jeogori (Korea: 저고리, pakaian bagian atas) perempuan berukuran panjang dan longgar serta menutupi pinggang.[13] Panjang jeogori perempuan berangsur-angsur memendek: tingginya sekitar 65 cm pada abad ke-16, 55 cm pada abad ke-17, 45 cm pada abad ke-18, dan 28 cm pada abad ke-19, bahkan beberapa di antaranya mencapai pendek 14,5 cm.[13] Heoritti (허리띠) atau jorinmal (졸잇말) dikenakan untuk menutupi payudara.[13] Tren mengenakan jeogori pendek dengan heoritti dimulai oleh para gisaeng dan dengan cepat menyebar ke perempuan dari kelas atas.[13] Di antara perempuan kelas rakyat biasa dan kelas bawah, timbul tradisi memperlihatkan payudara setelah melahirkan untuk menunjukkan dengan bangga bahwa mereka telah melahirkan seorang anak laki-laki, yaitu seorang penerus laki-laki.[14]

Wisatawan seperti warga Amerika Harry A. Franck mengamati bahwa mereka "memperlihatkan kepada publik bagian tubuh yang justru disembunyikan oleh perempuan di sebagian besar bangsa lain".[15]

Laos

Di Laos, pria asal Prancis Henri Mouhot mengambil foto perempuan Laos pada tahun 1858 yang menggambarkan para gadis dengan payudara tertutup dan perempuan yang telah menikah dengan seluruh payudaranya terbuka di depan umum, karena memperlihatkan payudara untuk menyusui dianggap tidak bersifat seksual.[16]

Timur Tengah

Di sebagian besar negara Timur Tengah, bertelanjang dada tidak diterima secara sosial setidaknya sejak awal berdirinya Islam (abad ke-7), karena adanya standar Islam mengenai kesopanan perempuan. Meskipun demikian, bertelanjang dada merupakan hal yang lumrah dalam beberapa budaya pra-Islam di Jazirah Arab, Mesir, Asyur, dan Mesopotamia. Tunisia dan Mesir menjadi pengecualian di antara negara-negara Arab, yang mengizinkan wisatawan asing berenang tanpa penutup dada di pantai-pantai pribadi.[17]

Pasifik Selatan

Tuvaluwoman1894.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Potret seorang perempuan di Tuvalu pada tahun 1894 oleh Graf Rudolf Festetics de Tolna

Di Pasifik Selatan, bertelanjang dada merupakan hal yang umum sebelum terjadinya kontak dengan misionaris Barat, tetapi kini sudah jarang dijumpai. Di wilayah seberang laut Prancis Moorea, bertelanjang dada merupakan hal yang biasa.[18] Di Kepulauan Marshall, perempuan secara tradisional bertelanjang dada sebelum berkontak dengan misionaris Barat dan hingga kini tidak mengobjektifikasi secara seksual payudara perempuan sebagaimana yang umum terjadi di sebagian besar masyarakat Barat.[19] Perempuan Kepulauan Marshall biasanya berenang dengan mengenakan muumuu mereka yang kini terbuat dari bahan poliester halus yang cepat kering.[20] Penggunaan bikini dan baju renang satu potong yang menutupi payudara di Kepulauan Marshall sebagian besar hanya terlihat di pantai-pantai khusus dan kolam renang terbatas gaya Barat, seperti yang ada di resor pribadi atau di fasilitas pemerintah Amerika Serikat di Atol Kwajalein di dalam Situs Uji Coba Pertahanan Rudal Balistik Ronald Reagan.[21][22]

Thailand

Dalam masyarakat tradisional Thailand, perempuan berpakaian serupa dengan laki-laki, hanya mengenakan pakaian bagian bawah yang longgar sementara biasanya bertelanjang dada.[23] Sebelum diperkenalkannya tata berpakaian Barat, perempuan Thailand digambarkan berpakaian lengkap maupun bertelanjang dada di tempat umum. Hingga awal abad ke-20, perempuan dari Thailand utara mengenakan sarung tabung panjang (Pha-Sin), yang diikat tinggi di atas pinggang dan di bawah payudara mereka yang terbuka. Modernisasi di bawah Raja Chulalongkorn mendorong perempuan setempat untuk menutupi payudara mereka dengan blus.[24] Antara tahun 1939 dan 1942, pemerintah Field Marshal Plaek Pibulsonggram mengeluarkan serangkaian standar budaya; Mandat 10 yang dikeluarkan pada 8 September 1941 menginstruksikan rakyat Thailand untuk tidak tampil di tempat umum "tanpa berpakaian secara pantas". Pakaian yang tidak pantas mencakup "tidak mengenakan baju atau hanya mengenakan kain sarung".[25][26]

Vietnam

Selama Perang Vietnam, tentara Amerika Serikat (G.I.) bertemu dengan penduduk asli Dataran Tinggi Tengah, yaitu para perempuan Montagnard, yang digambarkan oleh Letnan Infanteri A.T. Lawrence sebagai "sepenuhnya tanpa rasa canggung dalam ketelanjangan dada mereka".[27]

Dalam masyarakat Barat

Di sebagian besar masyarakat Barat, merupakan suatu norma budaya bagi anak perempuan setelah masa pubertas, jika tidak lebih awal, untuk menutupi payudara mereka terutama saat berada di tempat umum, sebagai bentuk kesopanan. Setidaknya, secara budaya tidak dapat diterima bagi perempuan untuk memperlihatkan puting dan areola mereka di depan umum. Meskipun banyak perempuan tidak menganggap payudara mereka sebagai objek seksual, sebagian besar tidak akan menentang norma sosial tersebut, apalagi menantang berbagai undang-undang yang mengatur tentang bertelanjang dada.[butuh rujukan] Hingga baru-baru ini, perempuan yang bertelanjang dada di tempat umum dapat dikenakan sanksi atas perbuatan tidak sopan, Tindakan amoral, atau undang-undang serupa.[butuh rujukan] Perempuan dan hukum di sebagian besar negara Barat umumnya tidak menganggap payudara sebagai sesuatu yang tidak senonoh.[butuh rujukan] Beberapa perempuan berkampanye untuk apa yang mereka sebut sebagai "kebebasan bertelanjang dada" (topfreedom), yang bertujuan untuk mengubah undang-undang tersebut. Ketatnya etika ini bervariasi tergantung pada konteks sosial. Sebagai contoh, pada acara budaya tertentu norma ini dapat diperlonggar, seperti pada Fantasy Fest, Mardi Gras di New Orleans, dan Karnaval di Rio de Janeiro. Hal yang sama juga berlaku di pantai khusus bertelanjang dada.[butuh rujukan]

250px-Fouquet_Madonna.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Agnès Sorel, yang dikenal kerap tampil bertelanjang dada di istana Prancis, menjadi model untuk lukisan Perawan dan Anak Dikelilingi Malaikat karya Jean Fouquet (c. 1450).

Busana yang memperlihatkan payudara

Dalam banyak masyarakat Eropa antara era Renaisans dan abad ke-19, payudara yang terbuka dapat diterima, sementara kaki, pergelangan kaki, atau bahu perempuan yang terbuka justru dianggap tidak sopan.[28] Selama era Renaisans, banyak seniman sangat dipengaruhi oleh gaya dan budaya Yunani klasik,[29] dan penggambaran subjek telanjang serta setengah telanjang dalam berbagai bentuk berkembang pesat dalam seni, patung, dan arsitektur pada periode tersebut.[29] Di kalangan bangsawan dan kelas atas, penampilan payudara juga mengaitkan hubungan dengan patung dan seni telanjang Yunani klasik, serta bentuk payudara yang klasik terkadang dianggap sebagai simbol status, tanda kecantikan, kekayaan, atau posisi sosial. Untuk menjaga penampilan payudara tetap kencang dan muda, perempuan dapat mempekerjakan ibu susuan untuk menyusui anak-anak mereka.[30]

Mode busana perempuan yang memperlihatkan payudara dapat ditelusuri kembali ke wanita simpanan abad ke-15 Agnès Sorel, selir dari Charles VII dari Prancis, yang gaunnya di istana Prancis terkadang memperlihatkan salah satu atau kedua payudaranya. (Penggambaran Perawan Maria oleh Jean Fouquet dengan payudara kiri terbuka diyakini menggunakan Sorel sebagai modelnya.) Perempuan bangsawan berusaha mengabadikan payudara mereka dalam lukisan, seperti dalam kasus Simonetta Vespucci, yang potretnya dengan payudara terbuka dilukis oleh Piero di Cosimo sekitar tahun 1480. Selama abad ke-16, mode busana perempuan yang menampilkan payudara merupakan hal yang umum dalam masyarakat, mulai dari Ratu hingga pekerja seks komersial, dan ditiru oleh semua kalangan.[31]

Mode serupa menjadi populer di Inggris pada abad ke-17 ketika dikenakan oleh Ratu Mary II dan oleh Henrietta Maria dari Prancis, istri dari Charles I dari Inggris, yang untuknya arsitek Inigo Jones merancang kostum masque yang sepenuhnya memperlihatkan kedua payudaranya.[29]

Dalam sebuah survei terhadap 190 masyarakat yang berbeda, para peneliti menemukan bahwa sangat sedikit yang mengaitkan payudara terbuka dengan seksualitas, namun terdapat keharusan bagi perempuan untuk menutupi payudara mereka.[32] Standar yang berbeda berlaku untuk karya seni, salah satu contohnya adalah kubah Gedung Kapitol Amerika Serikat yang menampilkan fresko tahun 1865 yang menggambarkan dewi-dewi dengan payudara terbuka.[33]

Kegiatan bertelanjang dada

Dalam beberapa olahraga, standar pakaian laki-laki adalah bertelanjang dada, terutama di sebagian besar olahraga air seperti berenang, diving, berselancar atau polo air, dan dalam versi pantai olahraga lainnya, seperti voli pantai. Hal ini juga berlaku untuk berbagai olahraga berat, seperti tinju dan gulat. Aturan tinju profesional biasanya melarang celana pendek dari laki-laki yang mengenakan kemeja. Telanjang dada juga dilakukan pada saat-saat tertentu, di mana aktivitas akan dirasa lebih nyaman jika dilakukan tanpa mengenakan baju. Dalam pemeriksaan kasus kriminal, polisi terkadang meminta pelaku untuk bertelanjang dada untuk memudahkan penggeledahan.

330px-Workers%2C_Kota_Kinabalu%2C_Malaysia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para pekerja di Kota Kinabalu, Malaysia.

Dalam budaya populer

Orang Prancis secara tradisional santai dengan ketelanjangan dan hiburan topless, dan para penari dan aktris tampil topless pada tahun 1910-an[34][35] dan kemudian di teater musikal dan film. Topless dalam hiburan bertahan hingga hari ini di Folies Bergère dan Moulin Rouge. Beberapa grup wanita juga tampil topless, seperti dua grup wanita yang disebut The Ladybirds (satu di San Francisco (es) dan satu lagi di Kopenhagen (es)) yang tampil topless pada akhir 1960-an.[36]

Wanita juga terkadang bekerja di tempat khusus dewasa untuk tampil atau berpose telanjang dada dalam bentuk hiburan erotis komersial. Tempat-tempat ini dapat berkisar dari klub striping murah dan bar telanjang dada hingga kabaret kelas atas seperti Moulin Rouge.

Saat ini, toplessness telah diintegrasikan ke dalam budaya arus utama: di festival, karnaval, dan protes di seluruh dunia. Contoh utamanya adalah Karnaval di Rio de Janeiro, di mana ketelanjangan adalah bagian dari tradisi nasional.[37]

Ketelanjangan wanita juga umum terjadi selama Mardi Gras di New Orleans,[38][39] di mana wanita "telanjang" (secara singkat mengekspos) payudara mereka dengan imbalan untaian manik-manik plastik dan di Karnaval Rio de Janeiro, di mana wanita terkadang tampil telanjang hingga pinggang di atas panggung.

Pada tanggal 12 Juni 1964, San Francisco Chronicle menerbitkan foto halaman depan seorang wanita dalam monokini dengan payudara terbuka. Dua minggu kemudian, pada 22 Juni 1964, Carol Doda mulai menari telanjang dada dengan monokini[40] (dirancang oleh Rudy Gernreich) di Condor Club di lingkungan Pantai Utara San Francisco. Debutnya sebagai penari telanjang dada ditampilkan di majalah Playboy pada bulan April 1965. Doda adalah penari topless modern pertama di Amerika Serikat, yang menghidupkan kembali era olok-olok pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat. Wali kota San Francisco John Shelley mengatakan "topless adalah bagian terbawah dari pornografi".[41] Dalam beberapa hari, para wanita memamerkan payudara mereka di banyak klub yang berjajar di Broadway Street di San Francisco, mengantarkan era bar bertelanjang dada.

Referensi

  1. ↑ "Arti kata telanjang dada". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud. KBBI Daring. Diakses tanggal 18 Desember 2022.
  2. ↑ satuharapan.com, PT Satu Harapan Media |. "Perempuan New York Perjuangkan Hak Telanjang Dada - Satu Harapan". satuharapan.com. Diakses tanggal 2022-12-18.
  3. ↑ Fernando, Romesh (15 November 1992). "The Garb of Innocence: A Time of Toplessness". Diarsipkan dari asli tanggal Agustus 16, 2023. Diakses tanggal 14 Januari 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Lee in, Mireille M. (2000). "Deciphering Gender in Minoan Dress". Reading the Body: Representations and Remains in the Archaeological Record: 116.
  5. ↑ "Image of dancers at the Reed Dance festival 2011". Kzn-media.photoshelter.com. 2011-09-10. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Januari 2013. Diakses tanggal 2012-08-01.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "Aborigines' fury over topless ban". BBC News. 27 Februari 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 23, 2023.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Hyecho. "Wang ocheonchukguk jeon" of AD. 727 Diarsipkan 21 November 2023 di Wayback Machine.
  8. ↑ A. L. Bhasham. "The Wonder That Was India" Diarsipkan 8 May 2023 di Wayback Machine.
  9. 1 2 Hans Peter Duerr. "Der Mythos vom Zivilisationsprozeß 4. Der erotische Leib"
  10. ↑ Masquelier, Adeline (20 Desember 2005). Dirt, Undress, and Difference: Critical Perspectives on the Body's Surface (dalam bahasa Inggris). Indiana University Press. hlm. 149–150. ISBN 978-0-253-11153-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Masquelier, Adeline (20 Desember 2005). Dirt, Undress, and Difference: Critical Perspectives on the Body's Surface (dalam bahasa Inggris). Indiana University Press. hlm. 152. ISBN 978-0-253-11153-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Masquelier, Adeline (20 Desember 2005). Dirt, Undress, and Difference: Critical Perspectives on the Body's Surface (dalam bahasa Inggris). Indiana University Press. hlm. 154. ISBN 978-0-253-11153-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. 1 2 3 4 허윤희. "조선 여in 저고리 길이 300년간 2/3나 짧아져". 조선닷컴 (dalam bahasa Korea). Diarsipkan dari asli tanggal Januari 4, 2023. Diakses tanggal 6 September 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Han, Hee-sook (2004). "Women's Life during the Chosŏn Dynasty". International Journal of Korean History (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 142. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2019. Diakses tanggal 6 September 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ Harry A. Franck, Wandering in Northern China, Century, 1923, p. 10
  16. ↑ M. Henri Mouhot, Travels in the Central parts of Indo-China, Cambodia and Laos Diarsipkan 3 November 2023 di Wayback Machine. (1864)
  17. ↑ Rovere, Elizabeth. "Culture and Tradition in the Arab Countries: American Returns Touched by the Land and the People". The Habiba Chaouch Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal Oktober 18, 2016. Diakses tanggal 2013-07-28.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ "About Moorea Island". Tahiti Sun Travel. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Maret 2012. Diakses tanggal 9 Maret 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ Briand, Greta; Peters, Ruth (2010). "Community Perspectives on Cultural Considerations for Breast and Cervical Cancer Education among Marshallese Women in Orange County, California" (PDF). Californian Journal of Health Promotion. 8 (8): 84–89. doi:10.32398/cjhp.v8iSI.2045. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 14 Juli 2014. Diakses tanggal 23 Agustus 2015.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ "Marshall Islands". Encyclopedia.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Desember 2012. Diakses tanggal 25 Agustus 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ "Marshallese Culture". Safaritheglobe.com. Diarsipkan dari asli tanggal Februari 17, 2015. Diakses tanggal 18 Juli 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ "Marshall Islands Facts, information, pictures". Encyclopedia.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Desember 2012. Diakses tanggal 18 Juli 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ Atkins, Gary L. (1 Januari 2012). Imagining Gay Paradise: Bali, Bangkok, and Cyber-Singapore (dalam bahasa Inggris). Hong Kong University Press. hlm. 10–11. ISBN 978-988-8083-23-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Desember 2023. Diakses tanggal 10 Desember 2023.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. ↑ "Traditional Dress". Window to Chiang Mai. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 4, 2023. Diakses tanggal 25 Juli 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ "Vol. 58" (PDF). The Royal Gazette (Thailand). 58: 113. 21 Januari 1941. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 9 Juni 2012. Diakses tanggal 4 Juni 2010.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. ↑ M. Smith. Physician at the Court of Siam (1947) p. 79 cited in Note 3 of Chapter: Southeast Asia in "Der erotische Leib"
  27. ↑ Lawrence, A. T. (26 November 2014). Crucible Vietnam: Memoir of an Infantry Lieutenant (dalam bahasa Inggris). McFarland. hlm. 118. ISBN 978-0-7864-5470-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Desember 2023. Diakses tanggal 10 Desember 2023.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ C. Willett Cunnington dan Phillis Cunnington, The History of Underclothes. London: Faber & Faber, 1981. ISBN978-0-486-27124-8
  29. 1 2 3 Lucy Gent and Nigel Llewellyn, eds., Renaissance Bodies: The Human Figure in English Culture c. 1540–1660. London: Reaktion Books, 1990.
  30. ↑ "French Caricature". University of Virginia Health System. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Juni 2010. Diakses tanggal 13 Januari 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  31. ↑ "Historian Reveals Janet Jackson's 'Accidental' Exposing of Her Breast was the Height of Fashion in the 1600s". University of Warwick. 5 Mei 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Agustus 2004.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  32. ↑
  33. ↑ "Apotheosis of Washington". aoc.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 September 2024. Diakses tanggal 4 Februari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  34. ↑ "Toplessness - The Art and Popular Culture Encyclopedia". www.artandpopularculture.com. Diakses tanggal 2025-05-12.
  35. ↑ "Toplessness - Infogalactic: the planetary knowledge core". infogalactic.com. Diakses tanggal 2025-05-12.
  36. ↑ "All-Female Bands of the 1960s – Happy Women's History Month! – Eric Brightwell". ericbrightwell.com. Diakses tanggal 2025-05-12.
  37. ↑ "Toplessness - a sy". toplessbucksbabes.com.au. Diakses tanggal 2025-05-12.
  38. ↑ "Mardi Gras History". mardigrastraditions.com. Diakses tanggal 2025-05-12.
  39. ↑ "How to Catch Beads during Mardi Gras (No, Not That Way)". hnoc.org. Diakses tanggal 2025-05-12.
  40. ↑ "Review: Carol Doda Topless at the Condor". minamurray.com. Diakses tanggal 2025-05-12.
  41. ↑ "Nudmameco". epo.wikitrans.net. Diakses tanggal 2025-05-12.

Daftar pustaka

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Toplessness.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan