Kamis, 24 September 2026
10:19 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Taksin

Taksin

Raja Thailand

Taksin
yang Agung
สมเด็จพระเจ้าตากสินมหาราช
Raja Borommaracha IV
250px-Monument_of_King_Taksin_in_Wat_Kungtapao_3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Raja Taksin di Istana Hat-Sung (Wat Khung Taphao, Provinsi Uttaradit, Thailand)
Raja Thonburi
Berkuasa28 Desember 1767 – Maret 1782
Penobatan28 Desember 1767
PendahuluEkkathat dari Ayutthaya (sebagai Raja Ayutthaya
PenerusBuddha Yodfa Chulaloke dari Rattanakosin (Rama I) (sebagai raja Rattanakosin)
Raja MudaInthraphithak
LahirSin Saetae (Zheng Zhao)
(1734-04-17)17 April 1734
Ayutthaya, Kerajaan Ayutthaya
Meninggal6 April 1782(1782-04-06) (umur 47)
Istana Thonburi, Thonburi, Kerajaan Thonburi
Pemakaman
AyahYong Saetae (Zheng Yong)
IbuNok-lang (kemudian Putri Phithak Thephamat)
PasanganSon (Ratu)
Chim dari Ligor (Putri permaisuri)
dan 18 selir
Keturunan30 putera dan puteri dengan beberapa selir termasuk:Inthraphithak, Chao Phraya Nakhon Noi
Nama takhta
Somdet Phra Borommaracha IV
WangsaDinasti Thonburi
AgamaBuddha

Yang Mulia Raja Taksin yang Agung (bahasa Thai:สมเด็จพระเจ้าตากสินมหาราช listen; Hanzi:鄭昭; Pinyin:Zhèng Zhāo; Teochew: Dênchao; 17 April 1734  7 April 1782) adalah satu-satunya raja Kerajaan Thonburi. Sang Raja pernah menjadi bangsawan di Kerajaan Ayutthaya dan kemudian menjadi pemimpin utama selama pembebasan Siam dari pendudukan Burma setelah Kejatuhan Ayutthaya kedua pada tahun 1467, dan penyatuan Siam berikutnya setelah jatuh di bawah berbagai panglima perang. Sang Raja mendirikan kota Thonburi sebagai ibukota baru, karena kota Ayutthaya hampir dihancurkan sepenuhnya oleh penjajah. Ia mulai berkuasa dari tanggal 28 Desember 1768 hingga 6 April 1782. Ia turun dari takhta setelah Raja Taksin dianggap gila dan kudeta menjatuhkannya pada Maret 1782.

Pemerintahan Raja Taksin ditandai dengan banyak perang. Sang Raja berjuang untuk mengusir invasi baru Burma dan untuk menaklukkan Kerajaan Lanna di Thailand utara, Kerajaan Laos, dan Kamboja yang mengancam.

Walaupun sebagian besar masa pemerintahannya didominasi oleh peperangan, Raja Taksin sangat mencurahkan perhatiannya pada politik, ekonomi, administrasi, dan kesejahteraan negara. Sang raja mengembangkan perdagangan dan membina hubungan dengan negara-negara asing. Ia juga memiliki program pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan dan kanal, pembangunan kembali kuil-kuil. Di bidang kesusastraan, Taksin berupaya menghidupkan kembali sastra juga berbagai cabang seni lainnya seperti drama, seni lukis, arsitektur, dan seni kriya. Raja juga mengeluarkan aturan untuk mengumpulkan dan mengatur berbagai naskah dalam rangka menyebarkan pendidikan dan pembelajaran agama.

Raja Taksin ditangkap dalam sebuah kudeta lalu dijatuhi hukuman mati pada tahun 1782. Kekuasaan kerajaan diteruskan oleh Maha Ksatriyaseuk, teman lama raja yang kemudian mendirikan Kerajaan Rattanakosin, naik tahta di sana juga pendiri Dinasti Chakri, yang sejak saat itu memerintah Thailand. Sebagai pengakuan atas jasanya, Raja Taksin mendapat gelar Maharaj (Yang Agung).

Pranala luar

Referensi

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Taksin.
Taksin
Lahir: 17 April 1734 Meninggal: 7 April 1782
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Ekkathat
(Raja Ayutthaya)
Raja Siam
1767–1782
Diteruskan oleh:
Buddha Yodfa Chulaloke
(Rama I)

(Kerajaan Rattanakosin Bangkok)
Asia
selain Timur Tengah
Eropa
Timur Tengah
dan Afrika
Di Amerika


Ikon rintisan

Artikel bertopik politikus ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan