Rabu, 04 November 2026
14:41 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Museum Kereta Api Bondowoso

Museum Kereta Api Bondowoso

museum di Indonesia

Bagikan:
Stasiun Bondowoso

330px-LiveryPapanStasiun_2020.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-PapanNamaStasiun_BO.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
330px-Stasiun_Bondowoso_2019.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tampak depan Museum Kereta Api Bondowoso, 2019
Lokasi
Koordinat7°55′01″S 113°49′46″E / 7.9169154°S 113.8294028°E / -7.9169154; 113.8294028
Ketinggian+253 m
Operator
Letak
Jumlah peron2 (satu peron sisi dan satu peron pulau yang sama-sama agak tinggi)
Jumlah jalur2 (jalur 2: sepur lurus)
LayananHanya museum.
Konstruksi
Jenis strukturAtas tanah
Gaya arsitekturIndische Empire, Neoklasik
Informasi lain
Kode stasiun
Sejarah
Dibuka1 Oktober 1897
Ditutup2004;22 tahun lalu (2004)
Tanggal penting
Dibuka kembaliAgustus 17, 2016;10 tahun lalu (2016-08-17) (sebagai museum kereta api)
Fasilitas dan teknis
FasilitasParkir Musala Toilet 
Diagram lintasan stasiun
ke Tangsil
Jl. Imam Bonjol
Jl. Ki S. Mangunsarkoro
ke Nangkaan
Lokasi pada peta
osm-intl,13,-7.9169154,113.8294028,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Museum_Kereta_Api_Bondowoso&revid=29969842&groups=_bca667e96e82b657c6aa23176e6eece18d6692d9&parser=parsoid
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L •B
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
250px-Peron_Bondowoso_2023.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kondisi peron di Stasiun Bondowoso dengan stablingan gerbong seri GR di jalur 1
250px-Papan_Nama_Bondowoso_2023.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Papan nama Stasiun Bondowoso, 2023.

Museum Kereta Api Bondowoso (bahasa Inggris:Bondowoso Rail and Train Museum) adalah stasiun kereta api nonaktif yang sekarang dialihfungsikan sebagai museum sejarah perkeretaapian. Museum ini secara administratif terletak di Kademangan, Bondowoso, Bondowoso;[3] termasuk dalam Wilayah Penjagaan Aset IX Jember pada ketinggian +253 m. Museum ini sekarang dikelola oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso.[4]

Museum ini merupakan museum perkeretaapian ketiga di Indonesia setelah Ambarawa dan Sawahlunto. Jika Lawang Sewu disertakan sebagai museum perkeretaapian, maka museum ini adalah museum perkeretaapian keempat di Indonesia.

Museum Kereta Api Bondowoso, beserta seluruh stasiun dalam Jalur kereta api Kalisat–Panarukan masuk dalam prioritas reaktivasi sesuai Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 yang akan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Sejarah

Pembangunan jalur kereta api Kalisat–Panarukan

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_stationsgebouw_te_Bondowoso_op_Oost-Java_TMnr_60009788.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Stasiun Bondowoso (lk. 1927-1929).
lossy-page1-250px-KITLV_A930_-_Het_station_te_Bondowoso%2C_KITLV_44375.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Stasiun Bondowoso (lk. 1920-1940).

Asal-usul pembangunan jalur kereta api Kalisat–Panarukan dapat dilacak dari megaproyek Staatsspoorwegen (SS) mengembangkan jalur kereta api yang mempersatukan Pulau Jawa. Salah satunya adalah lintas Probolinggo–Kalisat–Panarukan. SS, yang berdiri pada tanggal 6 April 1875,[5] memanfaatkan konsesi izin pembangunan jalur kereta apinya dari Pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api Bogor–Yogyakarta, Surabaya–Solo dan Surabaya–Malang, serta Surabaya–Probolinggo.

Begitu SS puas mengembangkan jalur tersebut, jalur kereta apinya kemudian dipanjangkan lagi hingga menjangkau kota pelabuhan Panarukan yang kala itu sudah dipersatukan dengan kota-kota penting lainnya di Jawa dengan Jalan Raya Pos Daendels. Jalur Probolinggo–Panarukan itu sendiri tertuang dalam konsesi tertanggal 23 Juni 1893, sepaket dengan rencana pembangunan jalur cabang ke Pasirian untuk keperluan pengangkutan pasir besi. Pada mulanya pihak SS memutuskan membangun jalur cabang ini dari Randuagung, tetapi per 1894, SS mengalihkan jalur cabangnya itu ke Stasiun Klakah karena jaraknya relatif dekat bila dibandingkan dengan dari Randuagung.[6]

Meneruskan jalur kereta api Pasuruan–Probolinggo pada tahun 1884, SS membangun jalur ini dengan penuh tantangan. Jalur kereta apinya sendiri membelah hutan dan kebun, melewati tempat-tempat terpencil, hingga akhirnya sampailah di Jember pada tanggal 1 Juli 1897. Segmen terakhirnya, Jember–Kalisat–Panarukan, beroperasi pada tanggal 1 Oktober 1897. Stasiun Bondowoso beroperasi setelah jalur segmen terakhir ini selesai.[7]

Gerbong maut Bondowoso

Stasiun ini menjadi saksi bisu tragedi gerbong maut Bondowoso. Sebanyak seratus pejuang ditawan serdadu Belanda dalam rangkaian Agresi Militer Belanda I. Pada tanggal 23 November 1947 subuh itu, tawanan yang semula ditahan di Penjara Bondowoso digiring ke Stasiun Bondowoso untuk dinaikkan di kereta api menuju Surabaya. Tercatat ada tiga gerbong untuk mengangkut tawanan, yaitu GR 5769 dan GR 4416 yang masih memiliki lubang angin kecil, serta GR 10152 yang sama sekali tidak memiliki lubang angin.[8]

Karena ukuran gerbong-gerbong itu kecil, udara pengap menjadi awal dari tragedi ini. Mulai dari kesulitan bernapas hingga tidak diberi makan dan minum jelas membuat mereka tidak mampu bertahan hidup lama. Mereka bahkan meminum air kencing. Mashoed (2004) menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada saat matahari benar-benar terik. Enam belas jam perjalanan, kereta tiba di Stasiun Wonokromo dalam keadaan tak ada satu pun orang yang mampu bertahan hidup di dalam pengapnya gerbong maut tersebut,[9][10] yaitu yang berada di dalam gerbong GR 10152.[11] Empat puluh enam orang tewas dalam peristiwa tersebut, sedangkan 12 orang sakit parah, 30 orang lemas tak berdaya, dan 12 orang selamat.[9]

Penutupan jalur Kalisat–Panarukan

Pada saat-saat terakhir jalur Kalisat–Panarukan beroperasi, hanya kereta api lokal Jember–Panarukan yang rutin beroperasi di jalur ini. Kereta api tersebut sering ditarik lokomotif diesel hidraulis produksi Henschel (BB303) dengan susunan rangkaian berupa tiga unit kereta penumpang ekonomi non-AC dan tiga unit gerbong barang. Kereta penumpang ini dahulu difungsikan untuk mengumpan penumpang dari pelosok Situbondo menuju Stasiun Jember. Stasiun ini dinonaktifkan penuh pada tahun 2004 oleh PT KA beserta jalur dan seluruh layanannya karena prasarana yang tua dan kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.[12]

Pengoperasian sebagai museum

250px-Batu_Peresmian_Museum_Kereta_Api_Bondowoso_2023.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Batu Peresmian Museum Kereta Api Bondowoso

Setelah stasiun ini nonaktif untuk pelayanan perkeretaapian umum seiring dengan dinonaktifkannya jalur tersebut, kondisi stasiun ini dalam keadaan sangat terpuruk dan terlupakan. Meskipun stasiun ini masih dapat dikatakan "terawat" dengan baik, pada kenyataannya stasiun ini tak pernah digunakan. Tak ada renovasi, hanya sesekali ada pengecatan ulang. Tak ada seorang pun yang bisa dipercaya merawat bangunan heritage peninggalan SS ini.

Wacana reaktivasi jalur kereta api ini terus mengemuka sejak 2009[12] tetapi tidak ada satu pun langkah konkret yang bisa diambil. Pasalnya, PT KAI kini hanya bertindak sebagai operator, bukan menjadi pemilik prasarana serta tidak ikut mengkaji apakah jalur ini pantas direaktivasi atau tidak. Jalur tersebut kini menjadi kewenangan Direktorat Jenderal Perkeretaapian sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.[13][14] Namun pada tahun 2022 sesuai hasil studi kelayakan, jalur ini masuk dalam prioritas reaktivasi sesuai Perpres 80 Tahun 2019 yang akan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian.

Bangunan stasiun ini kini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI. Untuk mengawali langkah reaktivasi, Pemerintah Kabupaten Bondowoso memutuskan untuk membuat perjanjian kerja sama preservasi stasiun ini. Pemilihan Stasiun Bondowoso ini sama sekali bukan tanpa alasan. Dipilihnya stasiun ini adalah untuk mengenang tragedi gerbong maut Bondowoso yang telah menewaskan pejuang kemerdekaan Indonesia yang menjadi tawanan Belanda. Stasiun ini kini diresmikan sebagai museum pada tanggal 17 Agustus 2016 oleh Bupati Bondowoso saat itu, Amin Said Husni, untuk memperingati 71 tahun Kemerdekaan Indonesia.[15][16]

Di samping museum, stasiun ini juga melayani penjualan tiket. Saat ini progres terkait reaktivasi jalur ini baru sampai pada tahap studi kelayakan dan jalur ini dinyatakan lolos studi sehingga wacana reaktivasi menguat kembali.

Bangunan, tata letak, dan koleksi

Museum kereta api in Bondowoso, IndonesiaTemplat:SHORTDESC:Museum kereta api in Bondowoso, Indonesia
Museum Kereta Api Bondowoso
Bondowoso Rail and Train Museum
250px-Bondowoso_Station_Platform.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bagian peron Stasiun Bondowoso, terdapat gerbong pupuk di jalur 1
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Museum_Kereta_Api_Bondowoso&revid=29969842&groups=_60673c15e3a476d8fd1fa7e5d9ab2590342a8bee&parser=parsoid
Didirikan17 Agustus 2016
LokasiJalan Imam Bonjol, Kademangan, Bondowoso, Bondowoso, Indonesia
Koordinat7°55′01″S 113°49′46″E / 7.91695°S 113.82948°E / -7.91695; 113.82948
JenisMuseum kereta api
Situs webheritage.kai.id

Pada saat aktif sebagai stasiun, Stasiun Bondowoso memiliki enam jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus. Karena emplasemennya sudah beralih fungsi menjadi rumah penduduk, jalurnya dipangkas menjadi dua saja. Jalur 1 stasiun ini diparkirkan gerbong pupuk berjenis GW/GRU.

Arsitektur stasiun ini tidak jauh berbeda dengan stasiun-stasiun SS lainnya yang dibangun pada abad ke-19; dan mirip dengan Stasiun Bandung generasi pertama.[17] Bangunan stasiun telah disesuaikan dengan iklim setempat sehingga terkesan luwes dengan lingkungan sekitarnya. Ornamen sulur-suluran serta pilar-pilar ala Yunani banyak dijumpai di dekat pintu dan jendela, memberi kesan anggun pada bangunan utama stasiun. Sebelum dipreservasi, bangunan stasiun ini dicat putih dengan kombinasi hijau pada teritisan, kayu-kayu, dan ornamennya. Namun setelah dipreservasi, warna-warna tersebut digantikan dengan warna korporat bangunan PT KAI.[18]

250px-Tuas_Sinyal_Bondowoso_2023.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tuas sinyal mekanik di Stasiun Bondowoso, dipotret 2023
250px-Gamtek_Stasiun_Bondowoso_2023.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambar teknik desain Stasiun Bondowoso pada masa Staatsspoorwegen

Museum ini memiliki koleksi yang lebih terbatas bila dibandingkan museum kereta api lainnya di Indonesia. Koleksi museum ini adalah handel persinyalan mekanik Alkmaar, tiket Edmondson, miniatur-miniatur lokomotif dan kereta penumpang zaman uap, salinan foto-foto sejarah, serta mebel/furnitur pendukung administrasi stasiun.

Peralatan lainnya yang juga dikoleksi di stasiun ini adalah atribut perusahaan, handsign, tongkat Semboyan 40, mesin tik, telepon otomatis (toka), stempel, dan reglemen perusahaan. Sesekali juga diputarkan film-film yang mendokumentasikan kereta api pada zaman dahulu di sudut-sudut ruangan serta terdapat informasi mengenai peristiwa tragedi gerbong maut Bondowoso. Untuk meningkatkan pelayanan, fasilitas lain seperti musala dan toilet dibuat seperti layaknya stasiun, dengan dipasangnya papan penunjuk fasilitas yang wujudnya terlihat seperti layaknya bandara.

Galeri

  • Tampak depan Stasiun Bondowoso atau Museum Kereta Api Bondowoso, dipotret 2023
    Tampak depan Stasiun Bondowoso atau Museum Kereta Api Bondowoso, dipotret 2023
  • Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi Selatan menghadap utara, dipotret 2023
    Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi Selatan menghadap utara, dipotret 2023
  • Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi utara menghadap selatan, dipotret 2023
    Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi utara menghadap selatan, dipotret 2023
  • Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi utara menghadap selatan, dipotret 2023
    Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi utara menghadap selatan, dipotret 2023
  • Papan nama lama Stasiun Bondowoso yang sudah usang tidak dipakai
    Papan nama lama Stasiun Bondowoso yang sudah usang tidak dipakai
  • Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi selatan yang masih terdapat wesel bandul, 2023
    Emplasemen Stasiun Bondowoso sisi selatan yang masih terdapat wesel bandul, 2023
  • Sinyal tebeng pengulang di sisi utara Stasiun Bondowoso, 2023
    Sinyal tebeng pengulang di sisi utara Stasiun Bondowoso, 2023
  • Kondisi sinyal masuk Stasiun Bondowoso sisi selatan / pihak Nangkaan, 2023
    Kondisi sinyal masuk Stasiun Bondowoso sisi selatan / pihak Nangkaan, 2023
  • Sinyal masuk Stasiun Bondowoso sisi utara / pihak Tangsil, 2023
    Sinyal masuk Stasiun Bondowoso sisi utara / pihak Tangsil, 2023
  • Pos wesel di sisi utara emplasemen Stasiun Bondowoso, 2023
    Pos wesel di sisi utara emplasemen Stasiun Bondowoso, 2023
  • Pos wesel di sisi selatan emplasemen Stasiun Bondowoso, 2023
    Pos wesel di sisi selatan emplasemen Stasiun Bondowoso, 2023
  • Tuas Siemens & Halske untuk palang pintu perlintasan sebidang di sisi utara Stasiun Bondowoso, 2023
    Tuas Siemens & Halske untuk palang pintu perlintasan sebidang di sisi utara Stasiun Bondowoso, 2023
  • Tampak luar bangunan subdepo lokomotif Bondowoso menjadi pemukiman warga, 2023.
    Tampak luar bangunan subdepo lokomotif Bondowoso menjadi pemukiman warga, 2023.
  • Tampak dalam bangunan subdepo lokomotif di dekat Stasiun Bondowoso, 2023.
    Tampak dalam bangunan subdepo lokomotif di dekat Stasiun Bondowoso, 2023.
  • Keterangan berbahasa Belanda "Geverfd 10-9-41" yang tertulis di sudut atap bangunan subdepo, 2023
    Keterangan berbahasa Belanda "Geverfd 10-9-41" yang tertulis di sudut atap bangunan subdepo, 2023

Referensi

  1. ↑ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).
  2. ↑ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020.
  3. ↑ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Bondowoso". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 31 Mei 2025.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=; no-break space karakter dalam |access-date= pada posisi 7
  4. ↑ Susilo, Tunggul. ""PKS" Museum Kereta Api Bondowoso Belum Terealisasi". ANTARA News. Diakses tanggal 2019-07-20.
  5. ↑ Reitsma, S.A. (1925). Boekoe Peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia Belanda. Weltevreden: Topografische Inrichting.
  6. ↑ "Wijziging van de Aansluiting van den Zijtak naar Pasirian aan de Hoofdlijn Probolinggo-Panaroekan". de Indische gids. 16: 1173. 1894.
  7. ↑ Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 1921–1932.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=
  8. ↑ Prastiwi, Devira (2015-08-08). Yulianingsih, Tanti (ed.). "Di Balik Kisah Pilu 'Gerbong Maut' Bondowoso". Liputan6.com. Diakses tanggal 2019-07-20.
  9. 1 2 Kartomihardjo, P.; Saptono, P.; Soekarsono (1986). Monumen Perjuangan Jawa Timur. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  10. ↑ Mashoed, H., 1942- (2004). Sejarah dan budaya Bondowoso (Edisi Cet. 1). Surabaya: Papyrus. ISBN 9798910214. OCLC 58597469.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  11. ↑ F, Ni Luh Made Pertiwi (ed.). "Kisah Mencekam di Balik Gerbong Maut". Kompas.com. Diakses tanggal 2019-07-20.
  12. 1 2 "Jalur Kereta Api Kalisat-Panarukan Segera Dibuka". Tempo.co. 2009-01-12. Diakses tanggal 2019-07-20.
  13. ↑ "Jalur KA Jember-Panarukan Belum Bisa Diaktifkan". Republika Online. 2014-05-23. Diakses tanggal 2019-07-20.
  14. ↑ "Bupati Situbondo Akui Telah Ajukan Aktivasi Jalur KA Kalisat-Panarukan". rri.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-20. Diakses tanggal 2019-07-20.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  15. ↑ Dewi, Tertia Lusiana. "Destinasi Baru Bondowoso - 17 Agustus Nanti Jawa Timur Resmi Punya Museum Kereta Api Pertama". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2019-07-20.
  16. ↑ Prodjo, Wahyu Adityo. Asdhiana, I Made (ed.). "Ini Museum KA Pertama di Jatim, Diresmikan 17 Agustus". Kompas.com. Diakses tanggal 2019-07-20.
  17. ↑ Raap 2017, hlm. 83.
  18. ↑ Surojo, A.; Antariksa; Suryasari, N. (2011). "Pelestarian Bangunan Stasiun Bondowoso". Arsitektur E-Journal. 4 (2): 106–122.

Daftar pustaka

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Bondowoso Rail and Train Museum.
Stasiun sebelumnya Piktogram dari KA Jarak Jauh Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Nangkaan
menuju Kalisat
Kalisat–Panarukan Tangsil


Ikon rintisan

Artikel bertopik stasiun kereta api di Jawa Timur ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan