Panarukan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Monumen 1000 Km Anyer-Panarukan | |||||
| Koordinat: 7°42′10″S 113°57′24″E / 7.7028°S 113.9567°E / -7.7028; 113.9567 | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Situbondo | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Ir. Ida Martiyana | ||||
| Populasi (2025) | |||||
| • Total | 60.032 jiwa | ||||
| Kode pos | 68351 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.12.06 | ||||
| Kode BPS | 3512090 | ||||
| Luas | 60,05 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 8 | ||||
| |||||
Panarukan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Situbondo. Panarukan berbatasan langsung dengan ibu kota kabupaten di sebelah timur. Panarukan adalah kawasan bersejarah yang dikenal sebagai ujung timur dari pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) pada zaman kolonial Belanda. Jalan ini membentang dari Anyer di Banten, dan menjadi cikal bakal dari Jalur Pantura yang sekarang menjadi jalan raya terpenting di Pulau Jawa.[1] Panarukan pada zaman kolonial dahulu adalah kota pelabuhan yang ramai, sebelum mengalami pendangkalan hingga kejayaannya meredup.[2] Bahkan Situbondo pernah disebut sebagai Kabupaten Panarukan sebelum berubah nama secara resmi pada tahun 1972.[3]
Beberapa ikon dari Panarukan di antaranya adalah Monumen 1000 Km Anyer-Panarukan, Pelabuhan Panarukan, serta berbagai pantai.[4] Pelabuhan Panarukan memang tidak seramai dulu, tetapi sekarang tetap dimanfaatkan terutama untuk sektor perikanan. Sedangkan dari sektor pariwisata, terdapat destinasi populer seperti Pantai Pathek, Muara Kasih, dan Berigeen.[5] Panarukan memiliki berbagai bangunan bersejarah seperti Stasiun Situbondo dan Stasiun Panarukan. Stasiun tersebut terbengkalai dengan tidak adanya jalur kereta aktif di Situbondo.[6] Selain itu, juga terdapat Pabrik Gula (PG) Wringinanom yang masih beroperasi hingga sekarang.[7]
Geografi

Panarukan adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Situbondo bagian tengah. Geografi Panarukan berupa dataran rendah dan berbatasan dengan lautan di sebelah baratnya. Sebagian besar wilayah Panarukan berupa lahan persawahan yang banyak ditanami padi hingga tebu, sedangkan bagian pesisirnya banyak terdapat tambak. Sebagian besar desa di kecamatan ini berada di barat Situbondo Kota, tetapi juga ada desa di selatan kota seperti Sumberkolak. Sungai utama yang melintasi kecamatan ini adalah Sungai Sampean yang berhilir di dekat Pelabuhan Panarukan. Sungai tersebut membawa banyak sedimen yang menimbulkan pendangkalan di sekitar Pelabuhan Panarukan, sehingga lama-kelamaan pelabuhan ini ditinggalkan.
Batas wilayah Kecamatan Panarukan adalah sebagai berikut:[8]
| Utara | Kecamatan Mangaran |
|---|---|
| Timur | Kecamatan Situbondo |
| Selatan | Kecamatan Kendit |
| Barat | Selat Madura |
Sejarah

Sejak zaman dahulu, Panarukan merupakan salah satu kota pelabuhan penting di Pulau Jawa. Panarukan semakin berkembang pesat pada masa kolonial Belanda. Pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Panarukan dipilih sebagai ujung timur dari Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) atau yang sekarang dikenal sebagai Jalur Pantura. Jalan tersebut selesai dibangun pada tahun 1811 dan sekarang diperingati dalam Monumen 1000 Km Anyer-Panarukan di Kecamatan Panarukan.[1] Tidak hanya itu, Daendels juga menerapkan kebijakan untuk merombak sistem administrasi Pulau Jawa. Salah satunya dengan membentuk Karesidenan Besuki yang mencakup beberapa kabupaten seperti Kabupaten Besuki dan Panarukan. Panarukan sendiri berdiri sekitar tahun 1850-an dengan Bupati pertamanya adalah Raden Tumenggung Ario Soerioamidjojo.[9] Nama Kabupaten Panarukan tetap bertahan hingga tahun 1972 dan berganti menjadi Kabupaten Situbondo yang beribu kota di Situbondo pada masa Bupati Achmad Tahir.[10]
Banyak infrastruktur penting yang dibangun di Panarukan pada zaman kolonial Belanda seperti Pelabuhan Panarukan. Pelabuhan Panarukan sendiri dikelola oleh perusahaan bernama Panaroekan Maatchapiij dan memiliki fungsi sebagai pelabuhan internasional untuk mengekspor komoditas seperti kopi, tembakau, dan gula yang banyak ditanam di Jember dan Bondowoso. Pelabuhan ini mengalami kemerosotan pasca kemerdekaan Indonesia karena dua faktor utama. Pertama adalah manajemen yang buruk dari pengelola baru yaitu BUMN PT Djakarta Lloyd, serta pendangkalan akibat aliran sedimen Sungai Sampean. Infrastruktur penting lainnya di zaman ini adalah Stasiun Panarukan dengan rute yang terhubung hingga Jember. Baik stasiun maupun rute tersebut sekarang telah dinonaktifkan dan terbengkalai.[11][12]
Galeri
- Pelabuhan Panarukan dan Sungai Sampean dari atas
- Kantor pos dan telegraf
- Suasana di dekat dermaga
- Perahu nelayan di Panarukan
- Pertunjukkan "wayang wong" dan "tayuban" yang diadakan RA. Ario Soedibiokoesoemo
- Pemandangan laut dan Gunung Ringgit
- Penyeberangan sungai di Panarukan
- Perahu di Panarukan
- Kunjungan Gubernur Jenderal ke Panarukan tahun 1912
- Benteng di Panarukan (1805)
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Panarukan terdiri dari 8 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun atau kampung, yakni sebagai berikut:
| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Kampung | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Alasmalang | Krajan, Karang Polo, Karang Projo, Karang Rejo, Pancor, Tanah Anyar | [8] |
| 2 | Duwet | Krajan, Bugur, Duwet Selatan, Paras, Pathek Barat, Pathek Timur | [8] |
| 3 | Gelung | Gelung, Gumuk | [8] |
| 4 | Kilensari | Bataan, Karangsari, Kilen Selatan, Pesisir, Somangkaan, Tanah Anyar | [8] |
| 5 | Paowan | Paowan, Ardiwilis, Bukkolan, Kesambiyan, Locancang, Nangkaan | [8] |
| 6 | Peleyan | Krajan, Dhaja Gudang, Kota Bedah, Mumbulsari, Pasarean, Tokengan | [8] |
| 7 | Sumberkolak | Krajan Barat, Krajan Timur, Dam Bantungan, Langai, Pareyaan Utara, Pareyaan Selatan, Randu, Tribungan | [8] |
| 8 | Wringinanom | Krajan, Barat Kebun, Blikeran, Kom, Pao Gadung, Sabrang, Wringinanom Timur | [8] |
Tempat terkenal


- Pelabuhan Panarukan
- Pasar Panarukan
- Pasar Sumberkolak
- Stasiun Situbondo (Sumberkolak) dan Stasiun Panarukan - stasiun yang nonaktif dan terbengkalai
- Pabrik Gula (PG) Wringinanom
- Puskesmas Panarukan
Pariwisata
- Monumen 1000 Km Anyer-Panarukan
- Pantai Pathek / Grand Pathek
- Pantai Muara Kasih
- Pantai Berigeen
Referensi
- 1 2 Chuk Shatu Widharsa (2022-04-11). "Mengulik Sejarah Raya Daendels di Situbondo, Titik 1.000 KM Panarukan". DETIK JATIM.
- ↑ Novi Husdinariyanto (2026-02-09). "Menghidupkan kembali kejayaan Pelabuhan Panarukan". ANTARA JATIM.
- ↑ Syamsul Muarif (2021-09-11). "Kabupaten Panarukan, Nama Besar yang Terlupakan". TITIAN.id.
- ↑ Chuk Shatu Widarsha (2022-04-11). "Begini Kondisi Monumen 1.000 KM Anyer-Panarukan di Situbondo". DETIK JATIM.
- ↑ Ali Sodiqin (2026-01-05). "Pantai Grand Pathek Situbondo, Pantai Buatan Berbasis Desa dengan Kuliner dan Fasilitas Lengkap di Jawa Timur". RADAR BANYUWANGI.
- ↑ "Sejarah Jalur Kereta Api Kalisat–Panarukan, Penyebab Penutupan, dan Peluang Reaktivasi". NGOPIBARENG.id. 2026-01-28.
- ↑ Novi Husdinariyanto (2023-06-04). "PG Wringin Anom targetkan produksi gula pasir 9.725 ton". ANTARA JATIM.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Situbondo Dalam Angka 2026. BPS Kabupaten Situbondo. 2026-02-27.
- ↑ Jati Saputra Nuriansyah, Intan Aninditya, Moh. Yopi Putra Ramadhani, Hastrida Firdaus Iva, Rizqy Syahrul Romadhon (2022). "Dari Besuki ke Bondowoso: Perkembangan kawasan frontier terakhir di Jawa 1800-1930". Historiography: Journal of Indonesian History and Education. 2 (4). Universitas Negeri Malang.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) - ↑ Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 1972 tentang Perubahan Nama Dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daerah Kabupaten Panarukan.
- ↑ Ika Ningtyas (2015-05-28). "Senja yang Sempurna di Jalur Daendels". TEMPO.
- ↑ Susi Ivvaty (2016-03-18). "Susur Rel: Panarukan yang Menghubungkan". KOMPAS.
| Kecamatan | ||
|---|---|---|
