
| ||
|---|---|---|
|
Prakemerdekaan Kebijakan dalam negeri Kebijakan luar negeri Media dan warisan |
||
Soekarnoisme adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada kerangka pemikiran, filosofi politik, dan pandangan dunia yang berakar dari gagasan-gagasan Soekarno, proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia. Ideologi ini merupakan sintesis dari nilai-nilai perjuangan nasional yang dipadukan dengan pemikiran progresif mengenai kemandirian bangsa di panggung internasional.[1]
Fondasi Pemikiran
Soekarnoisme berpijak pada keyakinan bahwa bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang merdeka secara politis, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Ideologi ini menolak keras ketergantungan pada kekuasaan asing yang dianggap sebagai sisa-sisa feodalisme dan kolonialisme.[2]
Nasionalisme dan Kemanusiaan
Nasionalisme dalam Soekarnoisme tidak bersifat sempit atau chauvinis. Soekarno merumuskan bahwa nasionalisme Indonesia harus hidup dalam "taman sari internasionalisme", di mana kecintaan pada bangsa dijalankan bersamaan dengan rasa hormat terhadap kemanusiaan universal.[3][a]
Ekonomi Politik Marhaenisme
Salah satu pilar utama Soekarnoisme adalah Marhaenisme. Konsep ini menekankan perlindungan terhadap rakyat kecil—yang disebut sebagai "Marhaen"—dari eksploitasi sistem kapitalisme global.[4] Soekarno berpendapat bahwa kemerdekaan Indonesia belum lengkap tanpa adanya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali.
Dampak Politik dan Luar Negeri

Dalam ranah kebijakan luar negeri, Soekarnoisme mewujud dalam sikap anti-imperialisme yang militan. Soekarno memperkenalkan istilah NEKOLIM untuk menyebut kekuatan-kekuatan yang berusaha menjajah kembali negara-negara berkembang.[2][b]
Selain itu, upaya penyatuan kekuatan domestik melalui konsep NASAKOM menjadi salah satu bagian paling krusial dalam dinamika Soekarnoisme pada masa Demokrasi Terpimpin.[3] Strategi ini ditujukan untuk mengonsolidasikan seluruh kekuatan revolusioner demi mempertahankan kedaulatan negara dari ancaman disintegrasi.
Kritik dan Relevansi Kontemporer
Di era pasca-reformasi, Soekarnoisme kembali diangkat oleh berbagai kalangan sebagai bentuk perlawanan terhadap neoliberalisme. Meskipun banyak menuai kritik di masa lalu terkait otoritarianisme pada era Demokrasi Terpimpin, prinsip-prinsip ekonomi kerakyatan Soekarno tetap menjadi referensi penting bagi para pengambil kebijakan di Indonesia.[1]
Referensi
- 1 2 "Soekarnoisme sebagai Ideologi". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 31 Mei 2026.
- 1 2 "Apa Itu Soekarnoisme?". Kompas.com. Diakses tanggal 31 Mei 2026.
- 1 2 "Soekarnoisme dan Marhaenisme". Historia.id. Diakses tanggal 31 Mei 2026.
- ↑ "Mengenal Marhaenisme, Ideologi yang Dicetuskan Soekarno". Detik.com. Diakses tanggal 31 Mei 2026.
Catatan
- ↑ Konsep ini sering disebut sebagai sosio-nasionalisme yang menggabungkan nasionalisme dan sosialisme.
- ↑ Doktrin ini menjadi pendorong utama Indonesia dalam menginisiasi Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika.