Selasa, 13 Oktober 2026
02:08 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Soekarnoisme

Soekarnoisme

Bagikan:
Black-and-white portrait photograph of Marx facing left
Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia serta Presiden Pertama dan Satu Satunya Republik Indonesia Serikat
120px-Dr._Ir._Soekarno%2C_10_Orang_Indonesia_Terbesar_Sekarang_%281952%29%2C_p7_%283x4_close_cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini bagian dari
seri tentang
Soekarno

Presiden pertama Indonesia

Soekarno's signature
120px-Indonesian_Presidential_Seal_gold.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Galeri: Gambar, Suara, Video

Soekarnoisme adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada kerangka pemikiran, filosofi politik, dan pandangan dunia yang berakar dari gagasan-gagasan Soekarno, proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia. Ideologi ini merupakan sintesis dari nilai-nilai perjuangan nasional yang dipadukan dengan pemikiran progresif mengenai kemandirian bangsa di panggung internasional.[1]

Fondasi Pemikiran

Soekarnoisme berpijak pada keyakinan bahwa bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang merdeka secara politis, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Ideologi ini menolak keras ketergantungan pada kekuasaan asing yang dianggap sebagai sisa-sisa feodalisme dan kolonialisme.[2]

Nasionalisme dan Kemanusiaan

Nasionalisme dalam Soekarnoisme tidak bersifat sempit atau chauvinis. Soekarno merumuskan bahwa nasionalisme Indonesia harus hidup dalam "taman sari internasionalisme", di mana kecintaan pada bangsa dijalankan bersamaan dengan rasa hormat terhadap kemanusiaan universal.[3][a]

Ekonomi Politik Marhaenisme

Salah satu pilar utama Soekarnoisme adalah Marhaenisme. Konsep ini menekankan perlindungan terhadap rakyat kecil—yang disebut sebagai "Marhaen"—dari eksploitasi sistem kapitalisme global.[4] Soekarno berpendapat bahwa kemerdekaan Indonesia belum lengkap tanpa adanya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali.

Dampak Politik dan Luar Negeri

250px-Soekarno_at_KAA.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Soekarno saat Konferensi Asia Afrika 1955.

Dalam ranah kebijakan luar negeri, Soekarnoisme mewujud dalam sikap anti-imperialisme yang militan. Soekarno memperkenalkan istilah NEKOLIM untuk menyebut kekuatan-kekuatan yang berusaha menjajah kembali negara-negara berkembang.[2][b]

Selain itu, upaya penyatuan kekuatan domestik melalui konsep NASAKOM menjadi salah satu bagian paling krusial dalam dinamika Soekarnoisme pada masa Demokrasi Terpimpin.[3] Strategi ini ditujukan untuk mengonsolidasikan seluruh kekuatan revolusioner demi mempertahankan kedaulatan negara dari ancaman disintegrasi.

Kritik dan Relevansi Kontemporer

Di era pasca-reformasi, Soekarnoisme kembali diangkat oleh berbagai kalangan sebagai bentuk perlawanan terhadap neoliberalisme. Meskipun banyak menuai kritik di masa lalu terkait otoritarianisme pada era Demokrasi Terpimpin, prinsip-prinsip ekonomi kerakyatan Soekarno tetap menjadi referensi penting bagi para pengambil kebijakan di Indonesia.[1]

Referensi

  1. 1 2 "Soekarnoisme sebagai Ideologi". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 31 Mei 2026.
  2. 1 2 "Apa Itu Soekarnoisme?". Kompas.com. Diakses tanggal 31 Mei 2026.
  3. 1 2 "Soekarnoisme dan Marhaenisme". Historia.id. Diakses tanggal 31 Mei 2026.
  4. ↑ "Mengenal Marhaenisme, Ideologi yang Dicetuskan Soekarno". Detik.com. Diakses tanggal 31 Mei 2026.

Catatan

  1. ↑ Konsep ini sering disebut sebagai sosio-nasionalisme yang menggabungkan nasionalisme dan sosialisme.
  2. ↑ Doktrin ini menjadi pendorong utama Indonesia dalam menginisiasi Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan