Senin, 12 Oktober 2026
17:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM

Sidabukke

salah satu marga Batak Toba

Bagikan:
Sidabungke Sidabukke
Aksara Batakᯘᯪᯑᯅᯮᯰᯂᯩ
(Surat Batak Toba)
Nama marga
  • Sidabungke
  • Sidabukke
  • Dabungke
  • Dabukke
Nama/penulisan alternatif
Artisi + da + bungke/bukke
(merujuk pada tempat pengasingan; yang diasingkan)
Silsilah
Generasi dari Si Raja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadijulu
(Nai Ambaton)
5Raja Nabolon
6Tamba Tua
7Lumban Toruan
8Tuan Rumahorbo
(Tuan Pinahorbo)
9Tuan Dihorbo
10Guru Sumundut
11Napitu Raja
12Sidabungke
Nama lengkap tokohRaja Sinalin
(Raja Sidabungke)
Nama istriBoru Sidabutar
Nama anak (putra)
  • 1. Ompu Dungkit Talun
  • 2. Guru Marsait Lipan
  • 3. Ompu Niunggul
Kekerabatan
Mataniari binsarSidabutar
Asal
SukuBatak
Etnis
Daerah asalSimanindo, Samosir
Monumen
Lokasi tugu
osm-intl,10,2.7415559,98.7711993,200x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Sidabukke&revid=30023118&groups=_5d86606b26479de1987b68ce2cbdda47f6b688eb&parser=parsoid
Map

Sidabungke (Surat Batak: ᯘᯪᯑᯅᯮᯰᯂᯩ; lebih lazim ditulis atau disebut sebagai Sidabukke) adalah salah satu marga Batak Toba. Leluhur marga Sidabungke merupakan keturunan dari Tuan Sorbadijulu. Marga Sidabungke secara resmi bukan lagi bagian dari Parna, karena melanggar perjanjian yang dilakukan oleh leluhur mereka terdahulu, yaitu Raja Sidabungke.[1]

Tarombo (Silsilah)

Raja Sinalin
(Raja Sidabungke)

Boru Sidabutar
Ompu Dungkit Talun
Boru Napitu
Guru Marsait Lipan
(Saragi Sidabungke)
Boru Situngkir
Ompu Niunggul
Boru Napitu
Ompu Ombing
(Saragih Sidabungke)
Ama ni Unggul
Boru Sitanggang
Ompu Sininta
Boru Napitu
Ompu Pasu
Boru Sidauruk
Ompu Bangun
Boru Siadari

Sidabungke merupakan marga yang sebenarnya adalah keturunan dari marga Napitu, turunan dari Tamba Tua, yang merupakan bagian dari Parsadaan Nai Ambaton (Parna). Namun karena leluhur Sidabukke yaitu Raja Sinalin dahulu melanggar perjanjian yang diadakan di antara keturunan Nai Ambaton, yaitu dengan cara menikahi saudarinya sendiri, sesama keturunan Nai Ambaton, hal ini membuat Raja Sinalin diasingkan dari marga Napitu dan Parsadaan Nai Ambaton dan akhirnya menyandang marga baru yaitu Sidabungke, dan marga ini pun berdiri sendiri secara independen tanpa bergabung dengan parsadaan/pomparan/punguan dengan marga lain.

Raja Sinalin (Raja Sidabungke) menikahi Boru Sidabutar, putri dari Raja Sidabutar dan memiliki tiga orang putra, yaitu (1) Ompu Dungkit Talun, (2) Guru Marsait Lipan, dan (3) Ompu Niunggul. Putra pertama yang bernama Ompu Dungkit Talun sendiri menikahi Boru Napitu dan menetap di Sibatubatu; Kemudian putra kedua yaitu Guru Marsait Lipan menikahi Boru Situngkir dan merantau ke Silalahi Nabolak dan menggunakan marga Saragi Sidabungke. Namun karena tidak kunjung dikaruniai anak, Guru Marsait Lipan pun mengangkat salah satu anak adiknya Ompu Niunggul, yaitu Ompu Ombing menjadi anaknya dan di kemudian hari, keturunan Ompu Ombing masuk ke dalam kelompok marga Saragih dan menyandang marga Saragih Sidabungke. Hal ini menimbulkan polemik tersendiri, yang mana sebagian kelompok marga Saragih Sidabungke mengklaim diri mereka sebagai bagian dari Parna walaupun pada dasarnya, mereka sebenarnya telah keluar secara sangat resmi dari Parsadaan Nai Ambaton (Parna). Lalu putra ketiga yaitu Ompu Niunggul menikahi Boru Napitu dan menetap di Huta Sidabungke yang dibuka oleh ayahnya. Ompu Niunggul memperoleh lima anak tetapi salah satu anaknya diadopsi oleh kakak laki-lakinya. Mereka berlima antara lain adalah (1) Ama ni Unggul yang menikah dengan Boru Sitanggang, (2) Ompu Sininta yang menikah dengan Boru Napitu, putri dari Ompu Bonanihuta Napitu, (3) Ompu Pasu yang menikah dengan Boru Sidauruk, (4) Ompu Bangun yang menikah dengan Boru Siadari, dan (5) Ompu Ombing.

Turi-turian (Kisah) Marga Sidabungke

Pada zaman dahulu, di Huta Sangkal Sibatubatu Samosir, bermukim di perkumpulan keluarga Napitu Raja (Pitu Raja). Napitu Raja memiliki tiga orang putra dari hasil pernikahan-nya dengan Ompu Boru Malau, yaitu:

  1. Ompu Bahal Batu
  2. Ompu Bunga Dapdap
  3. Raja Sinalin (Sidabungke)

Anak sulung Napitu Raja yang bernama Raja Sinalin melihat seorang gadis nan cantik rupawan putri Raja Sidabutar lalu mengingininya sebagai istri. Niat Raja Sinalin sampai ke telinga Napitu Raja. Napitu Raja menasihati Raja Sinalin agar menghentikan niatnya karena marga Sidabutar dan marga Napitu masih keluarga besar Parna yang diikat hukum adat tidak boleh saling kawin mawin merujuk pada Tona ni Raja Nai Ambaton. Nasihat Napitu Raja tidak dihiraukan Raja Sinalin. Raja Sinalin tetap melanggengkan niatnya memperistri ito-nya (saudaranya), Boru Sidabutar secara diam-diam di luar upacara adat istiadat yang berlaku pada masanya.

Mengetahui boru-nya di-per-istri secara diam-diam oleh Raja Sinalin. Pihak Raja Sidabutar selaku parboru marah/murka besar lalu menuntut agar Raja Sinalin dan istrinya dihukum tegas berdasarkan Tona ni Raja Nai Ambaton. Sementara pihak Raja Napitu terkesan ragu-ragu menegakkan hukum adat berdasarkan Tona ni Raja Nai Ambaton. Napitu Raja hanya mengasingkan anak sulungnya tersebut di suatu hutan bersama Boru Sidabutar yang menjadi istri terlarangnya. Sikap Napitu Raja kala itu sempat menuai konflik kecil antara pihak Raja Sidabutar dengan pihak Napitu Raja. Di suatu hutan yang menjadi tempat pengasingan Raja Sinalin dan istri terlarangnya. Mereka tinggal dan membuka lahan pertanian. Mereka tinggal disana hingga berketurunan, terpencil dari segala urusan sosial kemasyarakatan.

Suatu hari di Sangkal Sibatubatu, Raja Napitu menyelenggarakan Horja Bius. Napitu Raja mengharap kehadiran anak sulungnya bernama Raja Sinalin dalam acara adat itu, lalu menyuruh utusan menyampaikan pada Raja Sinalin yang berada dipengasingan. Pada hari pelaksanaan Horja Bius, Raja Sinalin tidak kunjung tiba. Napitu Raja menyuruh salah satu di antara anaknya menjemput Raja Sinalin di pengasingan. Menanggapi pesan ayahnya, Raja Sinalin berkata sembari mencangkul “Di hamu ma pestamu na i, bungke on ma di au“. Kembali dari pengasingan Raja Sinalin, adik Raja Sinalin membisikkan pada Napitu Raja apa yang diucapkan oleh Raja Sinalin. Sontak saja Napitu Raja murka lalu mengumumkan pada hadirin dan berkata “Mulai sadari on, ndang anakku be Sinalin, paloas ma bungkena i diallang. Jala mulai sadari on, ndang adong be na margoar Sinalin ianakhonhu, nunga mate be Sinalin anggo di ahu". Sejak hari itu, Napitu Raja tidak mau tahu menahu lagi mengenai Raja Sinalin. Menyikapi pengumuman Napitu Raja, masyarakat sekitar menyebut Sinalin jadi Si Bungke/Si Bukke sebagai cikal bakal Sidabungke/Sidabukke.

Peristiwa Horja Bius Raja Napitu di Sibatubatu yang tidak dihadiri Raja Sinalin menyebabkan Raja Napitu meniadakan nama Raja Sinalin dari daftar keturunannya. Pasca Horja Bius Napitu Raja, tarombo (silsilah) Napitu Raja sebagai berikut:

  1. Ompu Bahal Batu
  2. Ompu Bunga Dapdap

Mengetahui nama Sinalin dihapus dari keturunan Napitu Raja. Raja Sinalin semakin sakit hati hingga melampiaskan dendamnya dengan sengaja menghimbau keturunannya untuk menikahi Boru Napitu. Himbauan Sidabungke membuahkan hasil di mana marga Sidabungke semakin banyak yang menikahi Boru Napitu di Sangkal Sibatubatu dan di daerah lainnya. Alhasil, kita dapat saksikan di Sibatubatu marga Sidabungke lazim mar-hulahula pada marga Napitu. Tidak hanya sampai disitu. Tradisi kawin mawin antara marga Sidabungke dan marga Napitu di Sibatubatu merembet pada marga Parna lainnya. Maka jangan heran jika disuatu wilayah kita temukan marga Sidabungke memper-istri Boru Sidabutar atau sebaliknya. Marga Munte mem-per-istri Boru Sidabungke atau sebaliknya, demikian pula dengan marga Parna lainnya.

Di pengasingannya. Raja Sinalin memiliki tiga anak laki-laki, yaitu:

  1. Ompu Dungkit Talun
  2. Guru Marsait Lipan
  3. Ompu Niunggul

Tiga anak laki-laki Raja Sidabungke mengemban nama ayahnya menjadi marga mandiri. Anak sulung Raja Sidabungke menetap di Sibatubatu. Keturunan Ompu Dungkit Talun menuruti himbauan Raja Sidabungke untuk menikahi Boru Napitu. Adapun marga Sidabungke yang mar-hulahula pada marga Napitu di Sibatubatu, mayoritas keturunan Ompu Dungkit Talun. Keturunan Ompu Dungkit Talun sigap memanggil tulang pada marga Parna di manapun bertemu, dan tidak pernah menyebut dirinya Parna.

Anak kedua Raja Sidabungke bernama Guru Marsait Lipan merantau ke Huta Silalahi Nabolak. Di Huta Silalahi Nabolak, Guru Marsait Lipan menikah tetapi tidak berketurunan, lalu mengangkat salah satu anak laki-laki adiknya, yaitu Ompu Niunggul bernama Ompu Ombing lalu dibesarkan di Huta Silalahi Nabolak. Ompu Ombing dewasa mengenal Ompu Partumpuan Saragi, anak sulung Tuan Saragi, cucu Saragi Tua yang bermukim di negeri Tongging. Ompu Ombing pintar mengambil hati Ompu Partumpuan Saragi. Kebaikan hati Ompu Partumpuan Saragi dimanfaatkan Ompu Ombing, lalu Dia sering berkunjung ke rumah Ompu Partumpuan Saragi di Tongging dan mengaku marga Saragi. Kedekatannya dengan Ompu Pertumpuan Saragi dimanfaatkan Ompu Ombing dengan mengaku sebagai anak Ompu Partumpuan Saragi. Hubungan baik Ompu Ombing dengan Ompu Partumpuan Saragi tidak di-sia-sia-kan Ompu Ombing. Alhasil, Ompu Partumpuan Saragi bersedia menikahkan Ompu Ombing dengan Boru Silalahi di rumah Ompu Partumpuan Saragi disekitar Tongging, sekaligus menabalkan marga Saragi pada Ompu Ombing Sidabungke. Maka oleh karena itu, lahirlah sebutan marga Saragi Sidabungke di sekitar Tongging. Keturunan Ompu Ombing yang memangku marga Saragi Sidabungke di sekitar Tongging menyebar ke wilayah Simalungun. Dengan demikian, lahirlah sebutan marga Saragih Sidabungke di Simalungun dari keturunan Ompu Ombing Sidabungke.

Anak bungsu Raja Sidabungke bernama Ompu Niunggul berdiam di Huta Sidabungke bersama Raja Sidabungke. Di Huta Sidabungke, Ompu Niunggul menikah lalu memperoleh lima anak laki-laki:

  1. Ama ni Unggul
  2. Ompu Sininta
  3. Ompu Pasu
  4. Ompu Bangun
  5. Ompu Ombing

Anak Ompu Niunggul dari yang sulung sampai keempat, menikah dan berdiam di Huta Sidabungke Sibatubatu. Kecuali anak bungsunya bernama Ompu Ombing yang menjadi anak angkat Ompu Partumpuan Saragi dan menikah di rumah Ompu Partumpuan Saragi yang bermukim di Tongging. Keturunan Ompu Niunggul menyebar dari Huta Sidabungke Sibatubatu.

Bagi mereka yang merantau ke Simalungun, Pakpak Dairi dan Tanah Karo lalu bertemu dengan keturunan Ompu Ombing Sidabungke yang telah memangku sebutan Saragi Sidabungke atau Saragih Sidabungke. Mereka turut mengaku marga Saragi Sidabungke atau Saragih Sidabungke. Maka, tidak heran jika makin banyak yang memangku sebutan Saragi Sidabungke atau Saragih Sidabungke di berbagai daerah sebaran, tetapi mereka tidak dapat menjelaskan tarombo-nya. Golongan yang ketiga ini masih ada yang bersikeras mengaku sebagai bagian dari Parna, tetapi hanya mengaku-ngaku saja. Ketika diminta mengurai tarombo-nya, hanya berdalil “pokoknya kami Parna”. Dewasa ini. Di berbagai wilayah tertentu, masih muncul marga Saragi Sidabungke atau Saragih Sidabungke merasa dirinya Parna hanya bermodalkan embel-embel Saragi atau Saragih. Mereka mengira dirinya keturunan Saragi Tua. Sebaliknya, di antara marga keturunan Saragi Tua juga masih ada yang terkecoh dengan sebutan Saragi Sidabungke atau Saragih Sidabungke.

Pertentangan

Meskipun merupakan keturunan Tuan Sorbadijulu (Nai Ambaton), marga Sidabungke tidak lagi diidentifikasi sebagai bagian dari Parsadaan Nai Ambaton (Parna) karena pada leluhur mereka terdahulu telah menikah dengan Boru Sidabutar, yang juga merupakan keturunan dari Tuan Sorbadijulu (Nai Ambaton). Dan Kemudian banyak keturunan Sidabungke yang menikah dengan Boru Napitu dengan tujuan untuk memenuhi pesan dari leluhur mereka terdahulu yaitu Raja Sidabungke yang berpesan kepada keturunannya supaya mengawini Boru Napitu.[butuh rujukan]

Ragam penulisan

Dalam alfabet Latin, marga ini ditulis dalam beragam variasi karena pengaruh perbedaan fonem antara bahasa Batak Toba dengan bahasa Indonesia. Beberapa variasinya, antara lain:

  1. Sidabungke
  2. Sidabukke
  3. Dabungke
  4. Dabukke

Tokoh

Beberapa tokoh yang bermarga Sidabungke, di antaranya adalah:

Referensi

  1. ↑ Vergouwen, Jacob Cornelis (1964). The social organisation and customary law of the Toba-Batak of northern Sumatra. Internet Archive. Den Haag: Martinus Nijhoff.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan