Sambei adalah teks nyanyian rakyat Rejang yang berisikan syair maupun pantun berupa metafora-metafora dalam bahasa Rejang kuno, yang dihasilkan dari proses spontan dan ekspresif tergantung pada konteks dan situasi sambei tersebut dilantunkan, atau disebut juga sebagai prosesi nyambei.[1] Dalam bahasa Rejang, sambei atau nyambei berarti berkumpul atau bermusyawarah, khususnya dalam konteks upacara adat.[2]
Sambei sebagai tradisi dan ekspresi kebudayaan Rejang telah diwariskan secara turun-temurun. Makna yang terkandung dalam teks sambei dilahirkan dari gagasan dan ide kebudayaan Rejang secara keseluruhan. Jika dikelompokkan ke dalam jenis folklor atau budaya rakyat, sambei atau nyambei termasuk ke dalam tradisi setengah lisan karena terdapat unsur ritual, tarian, benda-benda sakral, dan tokoh-tokoh adat yang wajib dihadirkan.[1]
Secara khusus, tradisi sambei yang dilakukan dalam tarian kejai disebut juga sebagai sambei andak, yang bagiannya terdiri dari pengela atau pembuka syair, dan andak atau penutup dengan irama yang berbeda.[1][3] Tradisi sambei andak sebagai tradisi sastra lisan menggunakan tiga bahasa, antara lain bahasa Rejang, Lembak, dan Besemah. Faktor yang mempengaruhi penggunaan tiga bahasa dalam tradisi ini, antara lain migrasi kelompok-kelompok sosiokultural yang dapat mempertahankan bahasanya dalam waktu yang lama, serta faktor tapal batas wilayah yang saling berdekatan dan tidak membatasi diri oleh wilayah administrasi.[4] Pendapat lain menyatakan bahwa tradisi sambei dipengaruhi oleh lebih dari 40 suku, termasuk suku Jawa. Jejak tradisi sambei juga tercatat dalam buku The History of Sumatra yang ditulis oleh penjelajah asal Inggris, William Marsden, pada tahun 1785.[5]
Pada tahun 2025, sambei sebagai tradisi lisan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada kategori Sastra Lisan bersamaan dengan diselenggarakannya Festival Tradisi Lisan Bengkulu.[6][7]
Tujuan
Sambei digunakan sebagai media ekspresi dalam mengutarakan perasaan antar pesambei, atau pelaku sambei. Umumnya sambei digunakan untuk menjalin hubungan kekerabatan seperti dalam upacara pernikahan sehingga seringkali berisi pujian terkait kecantikan, kelincahan, kegagahan, maupun ketangkasan seseorang.[1]
Selain ditujukan untuk menjalin kekerabatan, sambei juga memiliki tujuan dalam pranata kebudayaan lainnya, seperti penyambutan raja, peringatan kematian, dan momentum lainnya jika dibutuhkan dan tidak terikat pada tatanan ritual. Hal tersebut berkaitan dengan awal mula sambei yang terbentuk dari proses spontan dan ekspresif sehingga karyanya bersifat kontekstual dan situasional.[1]
Pelaksanaan
Salah satu penggunaan sambei dalam tradisi nyambei dilakukan pada saat prosesi tarian kejai, yaitu yang disebut sebagai sambei andak. Dalam tarian tersebut, anok sangei, yaitu penari kejai yang merupakan perempuan dan laki-laki muda, tidak diperkenankan untuk berinteraksi secara langsung sehingga mereka saling berinteraksi dengan cara nyambei. Ketika anok sangei tengah menari, jakso, yaitu yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan tari kejai, akan memerintahkan pemain musik untuk berhenti sebagai tanda bahwa nyambei akan dimulai.[1][2]
Rujukan
- 1 2 3 4 5 6 Ramadhanty, Riqqah Dhiya; Sarwono, Sarwit; Purwadi, Agus Joko (2020). "Nyambei dalam Bimbang Pernikahan pada Etnik Rejang". Jurnal Ilmiah Korpus. 4 (1): 98–107. doi:10.33369/jik.v4i1.8355.
- 1 2 Rezaki, Putri Sari; Nerosti (2026-06-24). "STRUKTUR DAN FUNGSI TARI KEJEI DALAM UPACARA PERKAWINAN DI KELURAHAN TALANG ULU KABUPATEN REJANG LEBONG". Avant-garde: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan (dalam bahasa Inggris). 4 (2): 143–152. doi:10.24036/bt6s7d12. ISSN 2986-5646.
- ↑ Center, Media (2025-10-16). "Sastra Lisan 'Nyambei' Dari Rejang Lebong Resmi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional". Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-10-04.
- ↑ "Memahami Tradisi "Sambei Ngandak" Sebagai Bentuk Sastra Lisan Trilingual". RUBO - Rumah Budaya dan Sejarah. 2025-03-04. Diakses tanggal 2026-10-04.
- ↑ "Kisah Haru dan Penuh Perjuangan, di Balik Penetapan Nyambei Sastra Lisan Khas Rejang Lebong Menjadi WBTB". 2025-10-15. Diakses tanggal 2026-10-04.
- ↑ Center, Media (2025-10-21). "Nyambei Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Rejang Lebong Tuan Rumah Revitalisasi Tradisi Lisan 2025". Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-10-04.
- ↑ Center, Media (2025-10-27). "Pemkab Rejang Lebong Matangkan Persiapan Festival Tradisi Lisan Bengkulu 2025, Tradisi Nyambei Akan Tampil". Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-10-04.