Peta topografi Kepulauan Sula memperlihatkan kedudukan Pulau Sulabesi di sebelah selatan | |
![]() Peta interaktif Sulabesi | |
| Geografi | |
| Lokasi | Laut Seram, Laut Banda |
| Koordinat | 2°13′25″S 125°56′08″E / 2.2237°S 125.93547°E / -2.2237; 125.93547 |
| Kepulauan | Kepulauan Sula |
| Luas | 1.040 km2[1] |
| Panjang | 45 km |
| Lebar | 18 km |
| Titik tertinggi | 700 m[2][3] |
| Pemerintahan | |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Maluku Utara |
| Kabupaten | Kabupaten Kepulauan Sula |
| Kecamatan | Sanana, Sanana Utara, Sulabesi Barat, Sulabesi Selatan, Sulabesi Tengah, Sulabesi Timur |
| Kependudukan | |
| Penduduk | Sekitar 65.000 jiwa jiwa(2024)[4] |
| Kepadatan | Mohon hanya gunakan angka dan desimal titik untuk fungsi kepadatan otomatis |
| Info lainnya | |
| Zona waktu | |
Pulau Sulabesi (dikenal pula sebagai Pulau Sula Besi atau secara historis dinamai Pulau Sanana) adalah sebuah pulau utama di gugusan Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Pulau ini membentang sepanjang 45 kilometer dari utara ke selatan dan terletak di sebelah selatan Pulau Mangole, dipisahkan oleh perairan Selat Mangoli.[5]
Secara administratif, Pulau Sulabesi terbagi ke dalam enam wilayah kecamatan dan merupakan pusat administrasi, perdagangan, serta kebudayaan terbesar di Kabupaten Kepulauan Sula, dengan ibu kota kabupaten yang berkedudukan di Sanana. Pulau ini memiliki kepadatan penduduk tertinggi di kepulauan, menaungi komunitas masyarakat adat suku Sula dengan tatanan konfederasi tradisional Soa Gareha (Empat Soa) serta cagar budaya kolonial abad ke-17 Benteng De Verwachting.[6]
Sejarah dan arkeologi

Jejak prasejarah Paparan Sahul
Berdasarkan pemodelan jalur manusia purba, Pulau Sulabesi diperkirakan menjadi salah satu koridor transit migrasi manusia menuju wilayah Paparan Sahul sekitar 65.000 tahun yang lalu.[7]
Penelitian arkeologis di Desa Fat-Iba dan Manaf (Kecamatan Sulabesi Tengah) serta di Desa Wai Lia (Kecamatan Sulabesi Timur) menemukan artefak budaya berupa cangkang moluska *Turbo*, *Trochus*, kapak beliung dari cangkang *Tridacna*, serpihan keramik kuno, fragmen gelang batu, tatal batu api, serta sisa-sisa tulang manusia dan fauna purba. Penanggalan radiokarbon terhadap cangkang *Tridacna* di situs Fat-Iba menghasilkan usia antara 16.200 hingga 17.200 tahun sebelum masehi.[2]
Era Kesultanan Ternate dan benteng VOC (1652)
Dalam peta geopolitik maritim abad ke-16 hingga ke-19, Pulau Sulabesi berada dalam naungan kedaulatan Kesultanan Ternate. Sultan Ternate menempatkan pejabat tinggi perwakilan kesultanan bergelar Salahakan dan penguasa swatantra lokal bergelar Sangadji Sanana serta komandan militer bergelar Marsaoly untuk mengoordinasikan penarikan upeti hasil bumi seperti madu hutan, lilin lebah, getah damar, dan rotan.[8]
Pada tahun 1652, kongsi dagang Belanda (VOC) mendirikan benteng pertahanan batu di tepi pantai Sanana yang dinamai Benteng De Verwachting (Benteng Harapan).[5] Pendirian benteng ini difungsikan untuk menegakkan monopoli perdagangan rempah di kawasan perairan Maluku barat serta mengawasi rute pelayaran kapal-kapal niaga dari Bugis, Makassar, Buton, Jawa, dan Eropa pesaing.[9]
Geografi dan geologi

Pulau Sulabesi terletak di belahan selatan Kepulauan Sula, dibatasi oleh:
- Utara: Selat Mangoli (memisahkan Sulabesi dengan Pulau Mangole).
- Selatan: Laut Banda.
- Timur: Laut Seram.
- Barat: Perairan terbuka Laut Banda / perbatasan Sulawesi Tenggara.
Morfologi pulau membentang secara vertikal dari utara ke selatan, berbeda dengan orientasi Pulau Mangole dan Taliabu yang membentang horizontal dari barat ke timur.[8] Secara tektonik, kawasan ini terbentuk dari interaksi kompleks tubrukan antara Benua Mikro Banggai-Sula dengan lengan timur Sulawesi yang memicu pengangkatan struktural daratan. Sederet patahan normal bawah laut membentang di perairan sebelah barat Sulabesi, menandai zona transisi antara kerak benua dengan kerak samudra Cekungan Banda Barat Laut.[10]
Stratigrafi batuan daratan Sulabesi didominasi oleh dua formasi geologi utama:[11]
- Formasi Bobong: Lapisan batuan sedimen berumur Jura yang terdiri dari konglomerat, breksi, dan batu pasir kuarsa.
- Formasi Buya: Endapan batu serpih, batu lempung gampingan kaya fosil ammonit, serta sisipan kalkarenit.
Iklim di Pulau Sulabesi tergolong ke dalam iklim hutan hujan tropis (Af menurut klasifikasi Köppen) dengan pengaruh angin muson bahari dan curah hujan tahunan berkisar antara 1.000 hingga 1.800 mm.[1]
Pembagian administratif
Pulau Sulabesi terbagi ke dalam enam wilayah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sula:
| No | Nama Kecamatan | Ibu Kota Kecamatan | Karakteristik dan Wilayah Terkemuka |
|---|---|---|---|
| 1 | Sanana | Sanana | Pusat ibu kota kabupaten, pelabuhan utama, situs Benteng De Verwachting (1652), dan rumah adat agung Uma Ya Fai Gareha. |
| 2 | Sanana Utara | Malbufa | Gerbang pesisir utara berhadapan dengan Selat Mangoli; kampung asal kesenian Tari Laka Baka. |
| 3 | Sulabesi Barat | Kabau | Pesisir barat pulau menghadap perairan terbuka Laut Banda; sentra perikanan laut dalam dan perkebunan kelapa. |
| 4 | Sulabesi Tengah | Waibao | Wilayah bersejarah ditemukannya situs arkeologi gua prasejarah Fat-Iba dan Manaf. |
| 5 | Sulabesi Timur | Baleha | Dataran pesisir timur yang terkenal dengan objek wisata Tanjung Baleha dan situs Wai Lia. |
| 6 | Sulabesi Selatan | Fuata | Ujung selatan pulau yang berbatasan langsung dengan perairan bebas Laut Banda. |
Masyarakat dan kebudayaan

Penduduk pribumi Pulau Sulabesi adalah suku Sula (disebut setempat sebagai *Yafei Gareha* atau *Matapia Sua*). Hampir seluruh penduduk asli memeluk agama Islam yang berpadu harmonis dengan tatanan hukum adat kepulauan.[12]
Konsep konfederasi adat Soa Gareha
Tatanan kemasyarakatan di Pulau Sulabesi terhimpun ke dalam sistem konfederasi empat sayap wilayah adat yang dinamai Soa Gareha (Empat Soa):[13] 1. Soa Fagudu: Meliputi wilayah bagian selatan Pulau Sulabesi, berperan sebagai pilar kepemimpinan spiritual dan syariat adat. 2. Soa Falahu (atau Faahu): Meliputi wilayah bagian utara Pulau Sulabesi, berperan dalam diplomasi antarpulau. 3. Soa Fatcei: Meliputi wilayah bagian barat Pulau Sulabesi, terkenal dengan ketangkasan bahari dan keprajuritan. 4. Soa Mangon: Meliputi wilayah bagian timur Pulau Sulabesi, memiliki pertalian darah langsung dengan penduduk Pulau Mangoli.
Pusat permusyawaratan adat keempat sayap ini bertempat di rumah adat agung bersama yang dinamakan Uma Ya Fai Gareha di Kota Sanana. Semangat kekeluargaan masyarakat diikat oleh falsafah moral luhur: "Dad Hia Ted Sua" (Bersatu Membangun Sula).[13]
Sistem marga (fam) dan tradisi walima
Sistem kekerabatan masyarakat Sulabesi menganut garis ayah (patrilineal). Rumpun keluarga seketurunan terhimpun dalam satuan sosial yang disebut *matarumah*. Terdapat sekitar 151 marga (*fam*) tradisional yang terbagi dalam kluster prefiks *Uma-* (seperti *Umagapi, Umasugi, Umanailo*), morfem lokal (*Banapon, Buamona*), gelar adat kesultanan (*Sangadji, Marsaoly*), serta asimilasi perantau maritim (*Bacan, Buton, Tidore, Makasar, Galela, Jawa, Thes*).[14]
Kekuatan ikatan fam menjadi dasar bagi tradisi gotong royong tolong-menolong adat yang disebut walima, di mana warga saling membantu tenaga (*ambil tangan*) dan materiil dalam daur hidup daur hidup (kelahiran, khitanan, pernikahan, dan kematian *Patabet*).
Tradisi dan seni pertunjukan

- Bakayab Hai (Joko Kaha): Ritual adat penyambutan tamu kehormatan dengan injak tanah dan percikan air doa keselamatan.
- Ritual Penyerahan Upeti Yafai Gareha: Prosesi sakral tahunan perwakilan empat soa menyerahkan hasil bumi menggunakan perahu *arombai* kepada Sangadji Sanana.
- Tari Laka Baka: Tarian kolosal patriotisme para *Kapita Sula* (panglima perang) yang berakar dari Desa Malbufa.
- Tari Ronggeng Gala (Tari Gala): Tarian pergaulan dan silaturahmi berpasangan pria dan wanita diiringi tabuhan tifa.
Bahasa daerah
Masyarakat asli menuturkan bahasa Sula (*Li Sua*), bahasa dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia (Austronesia) cabang Maluku Tengah yang berkerabat dekat dengan bahasa Buru.[15] Di Pulau Sulabesi, bahasa ini terbagi ke dalam tiga variasi dialek utama:
- Dialek Fagudu (dituturkan di wilayah Sanana dan selatan Sulabesi)
- Dialek Falahu (dituturkan di pesisir utara Sulabesi)
- Dialek Fatcei (dituturkan di pesisir barat Sulabesi)
Dalam komunikasi antaretnis dan perdagangan sehari-hari di pasar Sanana, masyarakat menggunakan dialek Melayu Sula dan bahasa Indonesia baku.
Ekosistem dan keanekaragaman hayati
Pulau Sulabesi berada di zona biogeografis peralihan Wallacea di sebelah timur Garis Wallace. Kebanyakan dari jenis fauna darat menunjukkan pertalian biogeografis dengan pulau Sulawesi:
Mamalia dan kelelawar
Mamalia liar yang mendiami hutan perbukitan pulau antara lain musang luak, babi hutan, serta mamalia berkantung kuskus coklat (*Phalanger* sp.). Hewan endemik Wallacea babirusa dahulu pernah tercatat di pulau ini namun populasinya telah mengalami kepunahan lokal (*ekstirpasi*) akibat alih fungsi hutan dataran rendah.[16]
Sulabesi kaya akan keanekaragaman fauna kelelawar dan kalong pemakan buah, di antaranya kalong sulawesi (Acerodon celebensis), kalong hidung-tabung (Nyctimene cephalotes), paniki gua (Eonycteris spelaea), cecadu madu (Macroglossus minimus), serta kelelawar telanjang (Cheiromeles parvidens).[16]
Avifauna (Burung)
Kepulauan Sula bersama Kepulauan Banggai ditetapkan sebagai salah satu kawasan burung endemik (Endemic Bird Area / EBA) oleh BirdLife International.[17] Jenis burung langka yang menghuni pulau ini antara lain:
- Gosong sula (Megapodius bernsteinii)
- Rimba sula
- Raja-perling sula
- Kepudang-sungu sula
- Pergam putih
Pariwisata dan cagar budaya

- Wisata Cagar Budaya: Benteng De Verwachting (1652) di tepi pantai Sanana, rumah adat agung *Uma Ya Fai Gareha*, serta Masjid Raya Sanana.
- Wisata Pantai dan Bawah Laut: Pantai Pasir Putih Wai Ipa, Pantai Pastina, Tanjung Baleha di Sulabesi Timur, serta panorama terumbu karang pesisir Sulabesi Barat.
Aksesibilitas dan transportasi
Konektivitas Pulau Sulabesi dilayani oleh:
- Transportasi laut: Pelabuhan Sanana melayani kapal motor penumpang PT Pelni, kapal feri ASDP, dan armada kapal cepat perintis menuju Ternate, Ambon, Mangoli, dan Pulau Taliabu.
- Transportasi udara: Bandar Udara Emalamo di Sanana yang melayani penerbangan pesawat perintis rute Ternate dan Ambon.
Lihat pula
- Kepulauan Sula
- Kabupaten Kepulauan Sula
- Pulau Mangole
- Sanana, Kepulauan Sula
- Benteng De Verwachting
- Suku Sula
- Daftar fam Sula
- Bahasa Sula
Referensi
- 1 2 Duwila, R.; Tarore, R. C.; Takumansang, E. D. (2019). "Analisis Kemampuan Lahan di Pulau Sulabesi Kabupaten Kepulauan Sula". Spasial. 6 (3): 703–713.
- 1 2 Tanudirjo, D. A. (2001). Islands in Between: Prehistory of the Northeastern Indonesian Archipelago (Disertasi PhD). Canberra: The Australian National University. doi:10.25911/5d78d809b0b81.
- ↑
- ↑ Kabupaten Kepulauan Sula Dalam Angka 2024 (Laporan). Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Sula. 2024.
- 1 2 van Hulstijn, P. (1918). Memorie over de Soela-eilanden. Mededeelingen van het Encyclopaedisch Bureau, Aflevering XV (dalam bahasa Belanda). Weltevreden: Boekhandel Visser & Co.
- ↑ Andaya, Leonard Y. (1993). The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period (dalam bahasa Inggris). Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1490-8.
- ↑ Kealy, S.; Louys, J.; O'Connor, S. (2018). "Least-cost pathway models indicate northern human dispersal from Sunda to Sahul". Journal of Human Evolution. 125: 59–70. doi:10.1016/j.jhevol.2018.10.003.
- 1 2 de Clercq, F. S. A. (1890). Ternate: The Residency and Its Sultanate. Diterjemahkan oleh Taylor, P. M.; Richards, M. N. (1999). Washington, D. C.: Smithsonian Institution Libraries. doi:10.5479/sil.257041.39088000283481.
- ↑ Mansyur, S. (2006). "Sistem Pertahanan Kolonial di Maluku Abad XVI-XIX (Kajian Terhadap Pola Sebaran Benteng)". Kapata Arkeologi. 2 (3): 47–63.
- ↑ Rudyawan, A.; Hall, R. (2012). Structural Reassessment of the South Banggai-Sula Area: No Sorong Fault Zone. Indonesian Petroleum Association Thirty-Sixth Annual Convention & Exhibition.
- ↑ Surono; Sukarna, D. (1993), Peta Geologi Lembar Sanana, Maluku 1 : 250.000, Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
- ↑ Hidayah, Zulyani (2015). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-929-2.
- 1 2 "21 Tahun Perjalanan Sula Dad Hia Ted Sua: Refleksi Sejarah dan Kekerabatan Empat Soa". www.koranmalut.co.id. Koran Malut. 31-05-2024. Diakses tanggal 10-07-2024.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date=and|date= - ↑ Said, Rasna (2022). "Fungsi Sistem Marga pada Kekerabatan Masyarakat Sula di Kota Ternate Kelurahan Salahuddin" (PDF). Fakultas Ilmu Budaya Antropologi. Ternate, Indonesia: Universitas Khairun. Diakses tanggal 10-07-2024.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date= - ↑ Collins, James T. (1983). The Historical Relationships of the Languages of Central Maluku (dalam bahasa Inggris). Canberra: The Australian National University.
- 1 2 Monk, K. A.; De Fretes, Y.; Reksodiharjo-Lilley, G. (1997). The ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Sydney: Periplus Editions. ISBN 9789625930763.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Banggai and Sula Islands". Endemic Bird Areas factsheet. BirdLife International. 2020. Diakses tanggal 2020-05-23.
Bacaan lanjutan
- van Hulstijn, P. (1918), Memorie over de Soela-eilanden, Mededeelingen van het Encyclopaedisch Bureau, Aflevering XV (dalam bahasa Belanda), Weltevreden: Boekhandel Visser & Co.
- Andaya, Leonard Y. (1993), The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period (dalam bahasa Inggris), Honolulu: University of Hawaii Press, ISBN 978-0-8248-1490-8
- Tanudirjo, D. A. (2001), Islands in Between: Prehistory of the Northeastern Indonesian Archipelago, Canberra: The Australian National University
| Kecamatan | ||
|---|---|---|
| Geografi & Perairan | ||
| Sejarah & Cagar Budaya |
| |
| Suku & Kebudayaan |
| |
| Bahasa Daerah | ||
| Transportasi & Wisata |
| |
