Sabtu, 31 Oktober 2026
04:37 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pisau raut

Pisau raut

Alat pengerat rotan

Bagikan:
Pisau raut
330px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_mes_met_gedraaid_handvat_TMnr_A-3044e.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah pisau raut dari Kalimantan, Indonesia, sebelum 1890.
Jenis Pisau
Negara asal Kalimantan, Indonesia
Sejarah pemakaian
Digunakan oleh Suku Dayak, Orang Asli, Suku Melayu
Spesifikasi
Panjang 7.5cm sampai 12.5cm (bilah)
Tipe pedang Satu mata, menyerupai pahat
Tipe gagang Tanduk rusa, kayu
Jenis sarung Kulit jomok/Artocarpus elasticus (varian Melayu) atau bambu (varian Dayak)

Pisau raut adalah sejenis pisau yang digunakan untuk mengerat rotan. Pisau dibawa berdampingan dengan mandau, senjata tradisional suku Dayak. Meskipun ditempatkan dalam sarung yang sama dengan sarung mandau, pisau raut lebih banyak digunakan sebagai alat kerajinan.

Deskripsi

Pisau raut dapat ditemukan di penjuru Pulau Kalimantan di Indonesia. Alat ini dikenal dengan berbagai nama berbeda menurut suku-suku Dayak yang berbeda: disebut munbat oleh suku Iban, langgei oleh suku Ngaju, jabang oleh suku Dayak di Baranjan, dll. Pisau raut digunakan untuk memanen dan mengolah rotan serta sebagai alat untuk mengukir kayu. Meskipun pisau raut ditempatkan pada sarung yang sama dengan mandau, pisau raut bukanlah senjata.[1]

Pisau raut terdiri dari sebuah bilah kecil dan gagang kayu. Panjang bilahnya sekitar 10 sentimeter (3,9 in) dan agak melengkung. Bilahnya dipasang pada gagang kayu yang kira-kira tiga kali lebih panjang dari bilahnya. Mata pisau dipasang pada gagang dengan cara direkatkan pada gagang kayu menggunakan semacam resin damar diambil dari pohon damar kemudian diikat dengan tali rotan. Pada versi lain, bilahnya cembung di satu sisi dan cekung di sisi lain, mirip dengan desain mandau Dayak, senjata yang jauh lebih besar.[2]

Gagang pisau raut lebih panjang daripada bilahnya, panjangnya bisa 30 sentimeter (12 in) sampai 40 sentimeter (16 in). Gagangnya juga sedikit melengkung, mengikuti kurva yang sama dengan bilahnya. Gagang kayu ini sering dihiasi dengan pita bertatahkan ukiran halus yang terbuat dari tanduk kerbau atau rusa jantan. Di ujung gagang terdapat kenop yang juga terbuat dari tanduk rusa jantan, atau terkadang dari tulang atau gading berwarna terang, memberikan kontras dengan gagang yang biasanya berwarna gelap. Kenopnya dihiasi dengan representasi dari makhluk mitos khas seni Dayak, misalnya kepala naga aso bergaya di atas sosok orang berjongkok.[2]

Pisau raut digunakan dengan cara memegangnya di antara ibu jari dan jari telunjuk. Gagangnya dipegang erat di antara tulang rusuk dan lengan bawah, atau di bawah ketiak. Pisau raut digunakan dengan menggunakan kekuatan tubuh, pada saat yang sama juga digunakan untuk mengerjakan detail halus.[3]

Di Kalimantan, pisau raut dibawa dengan mandau dalam sarung yang terpisah. Sarung yang digunakan untuk pisau raut terbuat dari daun lontar dan ditempelkan pada bagian belakang sarung untuk mandau.[3]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Stone 2013, hlm. 503.
  2. 1 2 van Zonneveld 2001, hlm. 108.
  3. 1 2 van Zonneveld 2001, hlm. 109.

Karya yang dikutip

Senjata tradisional, pelindung, dan senjata berbasis bubuk mesiu wilayah Indonesia
Senjata tradisional
Pedang
Belati & pisau
Perimbas & parang
Senjata hantam
Senjata galah atau tombak
Senjata lentur
Senjata lainnya
Keris display
Meriam perunggu isian belakang dan garuda kayu
Peurise teumaga
Senjata berbasis Mesiu
Senjata api
Meriam
Dari nama
Pelindung dan pakaian
Perisai
Zirah
Helm


120px-Flag_map_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik senjata ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan