Rabu, 07 Oktober 2026
14:02 WIB
TERKINI
Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara
Pakubuwana IX

Pakubuwana IX

Susuhunan Surakarta

Bagikan:
Biografi ini memerlukan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Bantulah untuk menambahkan referensi atau sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah.
Cari sumber: "Pakubuwana IX" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Pakubuwana IX
ꦥꦏꦸꦧꦸꦮꦤ꧇꧙꧇
Sri Susuhunan Pakubuwana IX
lossy-page1-250px-KITLV_A94_-_Pakoe_Boewono_IX%2C_soesoehoenan_van_Soerakarta_in_hofkledij%2C_KITLV_82601_%28cropped%29.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susuhunan Surakarta ke-8
Berkuasa1861 – 1893
PendahuluSusuhunan Pakubuwana VIII
PenerusSusuhunan Pakubuwana X
Gubernur JenderalLudolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele
Ary Prins
Pieter Mijer
James Loudon
J.W. van Lansberge
Frederik s'Jacob
Otto van Rees
Cornelis Pijnacker Hordijk
Lahir(1830-12-22)22 Desember 1830
Hindia Belanda Surakarta, Hindia Belanda
Meninggal16 Maret 1893(1893-03-16) (umur 62)
Hindia Belanda Surakarta, Hindia Belanda
Pemakaman
AyahSusuhunan Pakubuwana VI
IbuGKR. Ageng
PasanganGKR. Pakubuwana
GKR. Maduretna
(dan 53 istri selir)[1]
Nama lengkap
Gusti Raden Mas Duksina
Nama takhta
Sahandhap Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Ingkang Jumeneng kaping Sanga ing Nagari Surakarta Hadiningrat
WangsaWangsa Mataram
AgamaIslam

Sri Susuhunan Pakubuwana IX (sering disingkat sebagai PB IX 22 Desember 1830 – 16 Maret 1893) adalah susuhunan Surakarta yang memerintah tahun 1861–1893.

Pemerintahan

Nama aslinya adalah Gusti Raden Mas Duksina, putra Pakubuwana VI. Ia masih berada di dalam kandungan saat ayahnya dibuang ke Ambon oleh Belanda karena mendukung pemberontakan Pangeran Diponegoro. Ia sendiri kemudian lahir pada tanggal 22 Desember 1830. Setelah menginjak dewasa, Raden Mas Duksina bergelar KGPH. Prabuwijaya.

Pakubuwana IX naik takhta menggantikan Pakubuwana VIII (paman ayahnya) pada tanggal 30 Desember 1861. Pemerintahannya ini banyak dilukiskan oleh Ranggawarsita dalam karya-karya sastranya, misalnya dalam Serat Kalatida.

Hubungan antara Pakubuwana IX dengan Ranggawarsita sendiri kurang harmonis karena fitnah pihak Belanda bahwa Mas Pajangswara (ayah Ranggawarsita yang menjabat sebagai juru tulis keraton) telah membocorkan rahasia persekutuan antara Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro. Akibatnya, Pakubuwana VI pun dibuang ke Ambon. Hal ini membuat Pakubuwana IX membenci keluarga Mas Pajangswara, padahal juru tulis tersebut ditemukan tewas mengenaskan karena disiksa dalam penjara oleh Belanda.

Ranggawarsita sendiri berusaha memperbaiki hubungannya dengan raja melalui persembahan naskah Serat Cemporet. Saat itu karier Ranggawarsita sendiri sudah memasuki senja. Ia mengungkapkan kegelisahan hatinya melalui Serat Kalatida, karyanya yang sangat populer.

Dalam Serat Kalatida, Ranggawarsita memuji Pakubuwana IX sebagai raja bijaksana, namun dikelilingi para pejabat yang suka menjilat mencari keuntungan pribadi. Zaman itu disebutnya sebagai Zaman Edan.

Pakubuwana IX memiliki dua permaisuri yakni GKR. Pakubuwana serta GKR. Maduretna, serta dikaruniai 57 putra-putri. Semasa kepemimpinan Pakubuwana IX, keadaan Kasunanan Surakarta mengalami kemajuan yang pesat. Bangunan fisik Keraton Surakarta banyak yang direnovasi, seperti Siti Hinggil, Panggung Sangga Buwana, dan lain-lain, sehingga ia juga terkenal dengan sebutan Sinuhun Bangun Kedhaton. Sebagai seorang raja, Pakubuwana IX juga aktif menulis karya sastra, di antaranya Serat Wulang Putri, Serat Jayeng Sastra, Serat Menak Cina, Serat Wirayatna, dan beberapa karya sastra lainnya.

Pemerintahan Pakubuwana IX berlangsung selama 32 tahun dan berakhir saat kematiannya pada tanggal 16 Maret 1893. Ia digantikan putranya sebagai raja Kasunanan Surakarta selanjutnya, bergelar Pakubuwana X.

Referensi

Kepustakaan

  • Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Lihat pula

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Pakubuwono IX.
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Susuhunan Pakubuwana VIII
Susuhunan Surakarta
1861-1893
Diteruskan oleh:
Susuhunan Pakubuwana X

Pakubuwana II
PB II
(1745–1749)

Pakubuwana III
PB III
(1749–1788)

Pakubuwana IV
PB IV
(1788–1820)

Pakubuwana V
PB V
(1820–1823)

Pakubuwana VI
PB VI
(1823–1830)

Pakubuwana VII
PB VII
(1830–1858)

Pakubuwana VIII
PB VIII
(1858–1861)

Pakubuwana IX
PB IX
(1861–1893)

Pakubuwana X
PB X
(1893–1939)

Pakubuwana XI
PB XI
(1939–1945)

Pakubuwana XII
PB XII
(1945–2004)

Pakubuwana XIII
PB XIII
(2004–2025)

Pakubuwana XIV (Purbaya)
PB XIV
(Purbaya)

(2025–sekarang)

Pakubuwana XIV (Hangabehi)
PB XIV
(Hangabehi)

(2025–sekarang)


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh Kota Surakarta ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan