Senin, 21 September 2026
10:02 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia

pemerintahan darurat berumur pendek yang berpusat di Bukittinggi, Sumatra Barat, Indonesia

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
250px-Rumah_Jama_PDRI.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 250px-Kantor_PDRI_Koto_Tinggi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Atas: Kantor pusat PDRI di Bidar Alam
Bawah: Kantor pusat PDRI di Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota
Informasi
Didirikan22 Desember 1948 (1948-12-22)
Dibubarkan13 Juli 1949 (1949-07-13)
Negara Indonesia
PemimpinKetua
Nama pemimpinSyafruddin Prawiranegara
Ditunjuk olehPresiden
Badan utamaKabinet Darurat
Kementerian11
Bertanggung jawab kepadaPemerintah Indonesia
Kantor pusatBukittinggi
Bidar Alam
Koto Tinggi
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
250px-Nicolaes_Visscher_Indiae_Orientalis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kerajaan Kutai 4001635
Tarumanagara 450900
Kerajaan Kalingga 500782
Kerajaan Melayu 6711347
Sriwijaya 6711028
Kerajaan Sunda 6621579
Kerajaan Galuh 6691482
Kerajaan Bima 7091621
Mataram Kuno 7161016
Kerajaan Bali 9141908
Kerajaan Kahuripan 10191046
Kerajaan Janggala 10421135
Kerajaan Kadiri 10421222
Kerajaan Singasari 12221292
Majapahit 12931478
Kesultanan Peureulak 8401292
Kerajaan Haru 12251613
Kesultanan Ternate 12571914
Kesultanan Samudera Pasai 12671521
Kesultanan Bone 13001905
Kerajaan Kaimana 13091963
Kesultanan Gowa 13201957
Kesultanan Limboto 13301863
Kerajaan Pagaruyung 13471833
Kesultanan Brunei 13681888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 13851878
Kesultanan Melaka 14051511
Kesultanan Sulu 14051851
Kesultanan Cirebon 14451677
Kesultanan Demak 14751554
Kerajaan Giri 14811680
Kesultanan Bolango 14821862
Kesultanan Aceh 14961903
Kerajaan Balanipa 1511sekarang
Kesultanan Banten 15261813
Kesultanan Banjar 1526sekarang
Kerajaan Kalinyamat 15271599
Kesultanan Johor 15281877
Kesultanan Pajang 15681586
Kesultanan Mataram 15861755
Kerajaan Fatagar 16001963
Kesultanan Jambi 16151904
Kesultanan Bima 16201958
Kesultanan Palembang 16591823
Kesultanan Sumbawa 16741958
Kesultanan Kasepuhan 16791815
Kesultanan Kanoman 16791815
Kesultanan Siak 17231945
Kesunanan Surakarta 1745sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755sekarang
Kesultanan Kacirebonan 18081815
Kesultanan Deli 18141946
Kesultanan Lingga 18241911
Awal Kemerdekaan 19451949
Republik Indonesia Serikat 19491950
Demokrasi Liberal 19501959
Demokrasi Terpimpin 19591965
Transisi 19651966
Orde Baru 19661998
Reformasi 1998sekarang
Garis waktu
20px-Flag_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalIndonesia
250px-Rumah_Jama_PDRI.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah Jama, kantor pusat PDRI di Bidar Alam
250px-Kantor_PDRI_Koto_Tinggi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kantor pusat PDRI di Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (bahasa Inggris:Emergency Government of the Republic of Indonesia) didirikan oleh pihak Republik Indonesia setelah Belanda menduduki ibu kota Yogyakarta di Jawa Tengah, lokasi ibu kota sementara Republik selama Revolusi Nasional Indonesia. Pemerintahan ini didirikan di Kota Bukittinggi dan dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara.[1]

Latar belakang

250px-20_tahun_G.K.B.I_%28page_53_crop%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
foto Rusli Rahim

Tidak lama setelah ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda II, mereka berulangkali menyiarkan berita bahwa RI sudah bubar. Karena para pemimpinnya, seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir sudah menyerah dan ditahan.

Mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki ibu kota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember sore hari, Syafruddin Prawiranegara bersama Kol. Hidayat, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra, mengunjungi Teuku Muhammad Hasan, Gubernur Sumatra/Ketua Komisaris Pemerintah Pusat di kediamannya, untuk mengadakan perundingan. Malam itu juga mereka meninggalkan Bukittinggi menuju Halaban,[2] daerah perkebunan teh, 15 km di selatan Kota Payakumbuh.

Sejumlah tokoh pimpinan republik yang berada di Sumatera Barat dapat berkumpul di Halaban, dan pada 22 Desember 1948 mereka mengadakan rapat yang dihadiri antara lain oleh Syafruddin Prawiranegara, T. M. Hassan, Mr. Sutan Mohammad Rasjid, Kolonel Hidayat, Mr. Lukman Hakim, Ir. Indratjahja, Ir. Mananti Sitompul, Maryono Danubroto, Direktur BNI Mr. A. Karim, Rusli Rahim dan Mr. Latif. Walaupun secara resmi kawat Presiden Soekarno belum diterima, tanggal 22 Desember 1948, sesuai dengan konsep yang telah disiapkan, maka dalam rapat tersebut diputuskan untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dengan susunan sebagai berikut:

Keesokan harinya, 23 Desember 1948, Sjafruddin berpidato:

"... Belanda menyerang pada hari Minggu, hari yang biasa dipergunakan oleh kaum Nasrani untuk memuja Tuhan. Mereka menyerang pada saat tidak lama lagi akan merayakan hari Natal Isa AS, hari suci dan perdamaian bagi umat Nasrani. Justru karena itu semuanya, maka lebih-lebih perbuatan Belanda yang mengakui dirinya beragama Kristen, menunjukkan lebih jelas dan nyata sifat dan tabiat bangsa Belanda: Liciknya, curangnya, dan kejamnya.
Karena serangan tiba-tiba itu mereka telah berhasil menawan Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, dan beberapa pembesar lain. Dengan demikian, mereka menduga menghadapi suatu keadaan negara republik Indonesia yang dapat disamakan dengan Belanda sendiri pada suatu saat negaranya diduduki Jerman dalam Perang Dunia II, ketika rakyatnya kehilangan akal, pemimpinnya putus asa dan negaranya tidak dapat ditolong lagi.
Tetapi kita membuktikan bahwa perhitungan Belanda itu sama sekali meleset. Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin-pemimpin kita yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung kepada Sukarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah tumbuh hilang berganti.
Kepada seluruh Angkatan Perang Negara RI kami serukan: Bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh."

Sesungguhnya, sebelum Soekarno dan Hatta menyerah, mereka sempat mengetik dua buah kawat. Pertama, memberi mandat kepada Menteri Kemakmuran Mr. Sjafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatra. Kedua, jika ikhtiar Sjafruddin gagal, maka mandat diberikan kepada Mr. A.A.Maramis untuk mendirikan pemerintah dalam pengasingan di New Delhi, India. Namun, Sjafruddin sendiri tidak pernah menerima kawat itu. Berbulan-bulan kemudian barulah ia mengetahui tentang adanya mandat tersebut.

Perlawanan

Sejak itu PDRI menjadi musuh nomor satu Belanda. Tokoh-tokoh PDRI harus bergerak terus sambil menyamar untuk menghindari kejaran dan serangan Belanda.

Mr. T.M Hasan yang menjabat sebagai Wakil Ketua PDRI, merangkap Menteri Dalam Negeri, Agama, Pendidikan dan Kebudayaan, menuturkannya bahwa rombongan mereka kerap tidur di hutan belukar, di pinggir sungai Batanghari, dan sangat kekurangan bahan makanan. Mereka pun harus menggotong radio dan berbagai perlengkapan lain. Kondisi PDRI yang selalu bergerilya keluar masuk hutan itu diejek radio Belanda sebagai Pemerintah Dalam Rimba Indonesia.

Sjafruddin membalas,

Kami meskipun dalam rimba, masih tetap di wilayah RI, karena itu kami pemerintah yang sah. Tapi, Belanda waktu negerinya diduduki Jerman, pemerintahnya mengungsi ke Inggris. Padahal menurut UUD-nya sendiri menyatakan bahwa kedudukan pemerintah haruslah di wilayah kekuasaannya. Apakah Inggris jadi wilayah kekuasaan Belanda? Yang jelas pemerintah Belanda tidak sah.
250px-Tugu_PDRI_Pasar_Koto_Tinggi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tugu PDRI di Koto Tinggi, Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota

Perlawanan bersenjata dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia serta berbagai laskar di Jawa, Sumatra serta beberapa daerah lain. PDRI menyusun perlawanan di Sumatra. Tanggal 1 Januari 1949, PDRI membentuk 5 wilayah pemerintahan militer di Sumatra:

Konsolidasi

250px-Sjafruddin_Prawiranegara.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sjafruddin Prawiranegara, Ketua PDRI

Sekitar satu bulan setelah agresi militer Belanda, dapat terjalin komunikasi antara pimpinan PDRI dengan keempat Menteri yang berada di Jawa. Mereka saling bertukar usulan untuk menghilangkan dualisme kepemimpinan di Sumatra dan Jawa.

Setelah berbicara jarak jauh dengan pimpinan Republik di Jawa, maka pada 31 Maret 1949 Prawiranegara mengumumkan penyempurnaan susunan pimpinan Pemerintah Darurat Republik Indonesia sebagai berikut:

Pejabat di bidang militer:

Kemudian tanggal 16 Mei 1949, dibentuk Komisariat PDRI untuk Jawa yang dikoordinasikan oleh Mr. Susanto Tirtoprojo, dengan susunan sbb.:

Selain dr. Sudarsono, Wakil RI di India, Mr. Alexander Andries Maramis, Menteri Luar Negeri PDRI yang berkedudukan di New Delhi, India, dan Lambertus N. Palar, Ketua delegasi Republik Indonesia di PBB, adalah tokoh-tokoh yang sangat berperan dalam menyuarakan Republik Indonesia di dunia internasional sejak Belanda melakukan Agresi Militer Belanda II. Dalam situasi ini, secara de facto, Mr. Syafruddin Prawiranegara adalah Kepala Pemerintah Republik Indonesia.

Pemulihan pemerintahan dan pengembalian mandat

Menjelang pertengahan 1949, posisi Belanda makin terjepit. Dunia internasional mengecam agresi militer Belanda. Sedang di Indonesia,pasukannya tidak pernah berhasil berkuasa penuh. Ini memaksa Belanda menghadapi RI di meja perundingan.

Belanda memilih berunding dengan utusan Soekarno-Hatta yang ketika itu statusnya tawanan. Perundingan itu menghasilkan Perjanjian Roem-Royen. Hal ini membuat para tokoh PDRI tidak senang, Jendral Sudirman mengirimkan kawat kepada Sjafruddin, mempertanyakan kelayakan para tahanan maju ke meja perundingan. Namun, Sjafruddin berpikiran untuk mendukung dilaksanakannya perjanjian Roem-Royen.

Setelah Perjanjian Roem-Royen, Mohammad Natsir meyakinkan Syafruddin Prawiranegara untuk datang ke Jakarta, menyelesaikan dualisme pemerintahan RI, yaitu PDRI yang dipimpinnya, dan Kabinet Hatta, yang secara resmi tidak dibubarkan.

Setelah Persetujuan Roem-Royen ditandatangani, pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Pada sidang tersebut, Pemerintah Hatta mempertanggungjawabkan peristiwa 19 Desember 1948. Wakil Presiden Hatta menjelaskan 3 soal, yakni hal tidak menggabungkan diri kepada kaum gerilya, hal hubungan Bangka dengan luar negeri dan terjadinya Persetujuan Roem-Royen.

250px-Markas_PDRI_di_Bidar_Alam%2C_Solok_Selatan%2C_Sumatera_Barat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Markas PDRI di Bidar Alam, Solok Selatan, Sumatera Barat.

Sebab utama Soekarno-Hatta tidak ke luar kota pada tanggal 19 Desember sesuai dengan rencana perang gerilya, adalah berdasarkan pertimbangan militer, karena tidak terjamin cukup pengawalan, sedangkan sepanjang yang diketahui dewasa itu, seluruh kota telah dikepung oleh pasukan payung Belanda. Lagi pula pada saat yang genting itu tidak jelas tempat-tempat yang telah diduduki dan arah-arah yang diikuti oleh musuh. Dalam rapat di istana tanggal 19 Desember 1948 antara lain KSAU Soerjadi Soerjadarma mengajukan peringatan pada pemerintah, bahwa pasukan payung biasanya membunuh semua orang yang dijumpai di jalan-jalan, sehingga jika mereka ke luar maka haruslah dengan pengawalan senjata yang kuat.

250px-Bekas_Gedung_Stasiun_Pemancar_Radio_AURI%2C_Alat_Komunikasi_PDRI_di_Bidar_Alam_Tahun_1949.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bekas Gedung Stasiun Pemancar Radio AURI, Alat Komunikasi PDRI di Bidar Alam Tahun 1949

Pada sidang tersebut, secara formal Syafruddin Prawiranegara menyerahkan kembali mandatnya, sehingga dengan demikian, M. Hatta, selain sebagai Wakil Presiden, kembali menjadi Perdana Menteri. Setelah serah terima secara resmi pengembalian Mandat dari PDRI, tanggal 14 Juli, Pemerintah RI menyetujui hasil Persetujuan Roem-Royen, sedangkan KNIP baru mengesahkan persetujuan tersebut tanggal 25 Juli 1949.

Peringatan

250px-Tugu_Peringatan_Basis_PDRI_di_Bidar_Alam%2C_Solok_Selatan%2C_Sumatera_Barat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tugu Peringatan Basis PDRI di Bidar Alam, Solok Selatan, Sumatera Barat

Sejak 2006, pemerintah Indonesia memperingati tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara. Peringatan tersebut mengacu pada peristiwa PDRI yang telah menyelematkan eksistensi kepemimpinan Republik Indonesia akibat Agresi Militer Belanda II.[3]

Lihat pula

Rujukan

  1. "Dinas Kebudayaan Sumbar". disbud.sumbarprov.go.id. Diakses tanggal 2025-08-16.
  2. Efendi, Feni (2024). Kumpulan peristiwa PDRI di Sekitar Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Payakumbuh: Penerbit Fahmi Karya. ISBN 978-623-89016-6-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. "Hari Bela Negara 19 Desember, Sejarah Penting yang Sepi Peringatan". Padangkita.com. 2020-12-20. Diakses tanggal 2020-12-20.

Pranala luar

Bacaan lanjutan

  • J.R. Chaniago. Amrin Imran, Saleh D. Djamhari, 2003, Pemerintan Darurat Repoublik Indonesia (PDRI) dalam Perang Kemerdekasan, Perhimpunan Kekerabatan Nusantara, Jakarta.
Periode
250px-Sejarah_Indonesia.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kolonialisme
Nasionalisme
1945–1965
1966–1998
1998–sekarang
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan