| Opera Jakarta | |
|---|---|
| Sutradara | Sjuman Djaya |
| Produser |
|
| Skenario | Sjuman Djaya |
Berdasarkan | Opera Jakarta oleh Arswendo Atmowiloto |
| Pemeran |
|
| Penata musik | Marusya Nainggolan |
| Sinematografer | Soetomo Gandasubrata |
| Editor | Norman Benny |
Perusahaan produksi | PT. Gramedia Film |
Tanggal rilis | 1985 |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Bahasa Indonesia |
Opera Jakarta adalah film Indonesia tahun 1985 yang disutradarai oleh Sjuman Djaya. Film ini diperankan oleh Ray Sahetapy, Zoraya Perucha dan Deddy Mizwar. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul Opera Jakarta karya novelis Indonesia, Arswendo Atmowiloto.
Sinopsis
Klinem (Dewi Yull) pulang ke Bekonang, Solo untuk menyerahkan bayinya pada neneknya untuk diasuh. Oleh sang nenek bayi itu diberi nama Joko, dan dibesarkan tanpa tahu siapa ibunya. Setelah besar Joko sudah menunjukkan kegemarannya bertinju dan sering jadi pemimpin di antara kawan sebayanya. Beberapa tahun kemudian, di keluarga Yonosiswoyo yang otoriter, sedang kebingungan karena Rum (Zoraya Perucha), yang akan menikah sore harinya, pergi dari rumah tanpa ada yang tahu. Ayahnya, Widi Yonosiswoyo (Soekarno M. Noor) seorang insinyur dan kelas kakap beranak tujuh tinggal ditemani dua istri tuanya selama ini iri pada kekayaan dua istri tua dan tujuh anak. Pamannya, Soni Yonosiswoyo (Deddy Mizwar) adalah adik termuda dari ayahnya dan seorang jenderal dan kelas kakap juga beristri dua pergi mencari ditemani istri tuanya dan adik Rum yang selama ini iri pada kekayaan istri tua dan adik Rum. Rum yang punya banyak pacar lebih memilih Yoko (Ray Sahetapy) alias Joko, petinju populer tetapi liar sikap hidupnya. Rum tertarik karena keliarannya itu, apalagi setelah tahu latar belakang Yoko yang gelap waktu kecil, yang menderita sampai akhirnya tertolong karena kepandaiannya bertinju. Ketika hidupnya mulai sukses, Yoko pulang kampung tetapi menjumpai neneknya sudah meninggal karena terseret arus sungai Bengawan Solo yang sedang banjir. Yoko pergi ke Jakarta, jadi tokoh populer dan lambang pembangkang dan antikemapanan bagi anak-anak muda. Karena posisinya ini maka aparat keamanan melibatkan diri. Sebagai anggota aparat keamanan, Soni tidak bisa memahami jiwa Yoko ini, meski istri tuanya telah mengingatkan bahwa Yoko persis seperti dirinya pada waktu muda. Berbagai usaha telah dilakukan oleh banyak pihak untuk menjatuhkan Yoko. Yoko dituduh sebagai dalang kerusuhan sosial, dan terakhir dituduh sebagai pemerkosa. Ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bersih.
Rum akhirnya pulang dan bersiap menghadapi upacara pernikahannya dengan Santoso (Mathias Muchus) yang dijodohkan orangtuanya, tetapi tidak dicintainya. Di tengah upacara, segerombolan pemuda datang mengacaukan upacara. Penganten disandera. Mereka minta Yoko didatangkan yang bertujuan untuk menghindarkan Yoko dari pertandingan malam harinya yang akan dijadikan ladang pembantaian untuk menghancurkan reputasi Yoko. Teror berhasil digagalkan oleh Soni, para teroris terbunuh. Pemimpinnya ternyata Himan (Rano Karno), adik kandung Rum. Peristiwa ini membuat Yoko nekat menghadapi petinju Korea yang dihadapinya secara habis-habisan. Yoko menang. Keesokan harinya Rum menemuinya dan menyatakan akan kawin dengan Demas (Anwar Fuady), rekan sekantornya yang diam-diam mencintainya.[1]
Pemeran
- Ray Sahetapy sebagai Joko
- Zoraya Perucha sebagai Rum
- Deddy Mizwar sebagai Tony
- Rano Karno sebagai Himan
- Dina Mariana
- Soekarno M. Noor
- Nani Widjaja
- Cok Simbara
- Minati Atmanagara
- Joice Erna
- Ratna Riantiarno
- Dewi Yull sebagai Klinem
- Pitradjaja Burnama
- Deddy Sutomo
- Mathias Muchus sebagai Santoso
- Mangara Siahaan
- Adi Kurdi
- Frans Haryadi
- Ria Irawan
- Lina Budiarti
- Ida Leman
- Wenty Anggraini
- Ida Kusumah
- Nadia Yusharyahya
- Sofia Amang
- Dhalia
- Tino Karno
- A. Nugraha sebagai Demas
- Ramli Ivar
- HIM Damsyik
- Ami Prijono
- Nasri Cheppy
- Arthur Tobing
- Fendy Sukowati
- Anton Samiat
Penghargaan dan nominasi
| Penghargaan | Tahun | Kategori | Penerima | Hasil | Ref. |
|---|---|---|---|---|---|
| Festival Film Indonesia | 1986 | Film Cerita Panjang Terbaik | A. Budi Susilo dan J. Adisubrata | Nominasi | |
| Sutradara Terbaik | Sjuman Djaya | Nominasi | |||
| Pemeran Utama Pria Terbaik | Ray Sahetapy | Nominasi | |||
| Pemeran Pendukung Pria Terbaik | Deddy Mizwar | Menang | |||
| Sukarno M. Noor | Nominasi | ||||
| Penulis Skenario Terbaik | Sjuman Djaya | Nominasi | |||
| Pengarah Sinematografi Terbaik | Soetomo Gandasoebrata | Nominasi | |||
| Penyunting Gambar Terbaik | Norman Benny | Menang | |||
| Pengarah Artistik Terbaik | Djufri Tanissan | Nominasi | |||
| Penata Suara Terbaik | Norman Benny | Nominasi | |||
| Penata Musik Terbaik | Marusya Nainggolan | Nominasi |
Referensi
Sebagian atau keseluruhan dari artikel ini dicurigai telah melanggar hak cipta dari tulisan yang terletak di:
Disarankan untuk tidak melakukan perubahan apapun sampai masalah pelanggaran hak cipta di artikel ini diteliti pengguna lain dan diputuskan melalui konsensus
Kecuali kecurigaan hak cipta ini bisa dibuktikan salah dalam waktu paling lambat dua minggu, artikel ini akan dihapus
|
Pranala luar
Artikel bertopik film Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |