Minggu, 27 September 2026
14:04 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda

Hipotesis nebula

model yang menjelaskan pembentukan dan evolusi Tata Surya

Hipotesis nebula adalah model yang paling banyak diterima di bidang kosmogoni untuk menjelaskan pembentukan dan evolusi Tata Surya—serta sistem planet lainnya di alam semesta. Hipotesis ini menyatakan bahwa Tata Surya terbentuk dari gas dan debu yang mengorbit Matahari yang kemudian menggumpal membentuk planet-planet. Model ini dikembangkan oleh Immanuel Kant dan dipublikasikan dalam karyanya Universal Natural History and Theory of the Heavens (1755) dan kemudian direvisi pada tahun 1796 oleh Pierre Laplace.[1][2][3][4] Awalnya hanya diterapkan pada Tata Surya, proses pembentukan sistem planet sekarang dianggap terjadi di seluruh alam semesta.[5] Model tersebut menjelaskan berbagai sifat Tata Surya, termasuk orbit planet-planet yang hampir melingkar dan koplanar, dan gerakannya searah dengan rotasi Matahari. Beberapa unsur dari teori nebula awal masih tercermin dalam teori pembentukan planet saat ini, tetapi sebagian besarnya telah digantikan.

Menurut teori nebula, bintang terbentuk di awan molekul hidrogen yang masif dan padat—disebut awan molekul raksasa atau giant molecular clouds (GMC). Awan ini secara gravitasi tidak stabil, dan materi menyatu di dalamnya menjadi gumpalan yang lebih kecil dan lebih padat, yang kemudian berputar, runtuh, dan membentuk bintang. Pembentukan bintang adalah proses yang kompleks, yang selalu menghasilkan cakram protoplanet gas (proplyd) di sekitar bintang muda. Proses tersebut dapat melahirkan planet dalam keadaan tertentu, yang saat ini belum diketahui dengan baik. Dengan demikian, pembentukan sistem planet dianggap sebagai hasil alami dari pembentukan bintang. Bintang seperti Matahari biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 juta tahun supaya terbentuk, dengan cakram protoplanet berevolusi menjadi sistem planet selama 10–100 juta tahun berikutnya.[6]

Cakram protoplanet adalah cakram akresi yang memasok materi ke bintang pusat.[7] Awalnya sangat panas, cakram kemudian mendingin dalam tahap yang dikenal sebagai bintang T Tauri. Pada tahap ini, pembentukan butiran debu kecil yang tersusun dari batuan dan es menjadi mungkin. Butiran-butiran tersebut akhirnya dapat menggumpal menjadi planetesimal berukuran hingga beberapa kilometer. Jika cakram cukup masif, maka akresi yang tak terkendali dimulai, yang menghasilkan pembentukan embrio planet berukuran Bulan hingga Mars yang cepat—100.000 hingga 300.000 tahun. Di dekat bintang, embrio-embrio planet mengalami tahap penggabungan yang dahsyat, menghasilkan beberapa planet kebumian. Tahap terakhir ini membutuhkan waktu sekitar 100 juta hingga 1 miliar tahun.[6]

Pembentukan planet raksasa merupakan proses yang lebih rumit. Proses ini diduga terjadi di luar garis beku, tempat embrio planet terutama tersusun dari berbagai jenis es. Akibatnya, massanya beberapa kali lebih besar daripada di bagian dalam cakram protoplanet. Apa yang terjadi setelah pembentukan embrio belum sepenuhnya jelas. Beberapa embrio tampaknya terus bertumbuh dan akhirnya mencapai 5–10 kali massa Bumi—nilai ambang batas yang diperlukan untuk memulai akresi gas hidrogen-helium dari cakram.[8] Pengumpulan gas oleh inti pada awalnya merupakan proses yang lambat dan berlangsung selama beberapa juta tahun. Namun, setelah protoplanet yang sedang terbentuk mencapai sekitar 30 massa Bumi (M🜨), proses tersebut mengalami percepatan dan berlangsung secara tak terkendali. Planet-planet seperti Jupiter dan Saturnus diperkirakan mengumpulkan sebagian besar massanya hanya dalam waktu 10.000 tahun. Akresi berhenti ketika cadangan gas di cakram habis. Planet-planet yang telah terbentuk kemudian dapat bermigrasi dalam jarak yang sangat jauh, baik selama maupun setelah proses pembentukannya. Raksasa es seperti Uranus dan Neptunus diduga merupakan inti yang gagal, yang terbentuk terlalu lambat ketika cakram hampir menghilang.[6]

Referensi

  1. ↑ Abruzzo, Anthony J. The Origins of the Nebular Hypothesis – Or, the Genesis of a Theoretical Cul-de-sac The General Science Journal June 15;2009
  2. ↑ Swedenborg, Emanuel (1734). (Principia) Latin: Opera Philosophica et Mineralia (English: Philosophical and Mineralogical Works). Vol. I.
  3. ↑ http://www.newchurchhistory.org/articles/glb2007/baker.pdf
  4. ↑ See also footnote #569 in The Swedenborg Epic (Bookman, New York)
  5. ↑ Woolfson, M. M. (1993-03). "The Solar - Origin and Evolution". Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society (dalam bahasa Inggris). 34: 1–20. ISSN 0035-8738.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  6. 1 2 3 Montmerle, Thierry; Augereau, Jean-Charles; Chaussidon, Marc; Gounelle, Mathieu; Marty, Bernard; Morbidelli, Alessandro (2006-06). "From Suns to Life: A Chronological Approach to the History of Life on Earth 3. Solar System Formation and Early Evolution: the First 100 Million Years". Earth Moon and Planets (dalam bahasa Inggris). 98 (1–4): 39–95. doi:10.1007/s11038-006-9087-5. ISSN 0167-9295.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  7. ↑ Andrews, Robin George (2022-08-10). "Astronomers May Have Found the Galaxy's Youngest Planet". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2026-03-03.
  8. ↑ D'Angelo, Gennaro; Bodenheimer, Peter (2013-11-06), Three-Dimensional Radiation-Hydrodynamics Calculations of the Envelopes of Young Planets Embedded in Protoplanetary Disks, doi:10.48550/arXiv.1310.2211, diakses tanggal 2026-03-03
Topik utama
120px-PDS_70.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ukuran
dan jenis
Kebumian
Bergas
Jenis lainnya
Pembentukan
dan evolusi
Sistem
Bintang induk
Pendeteksian
Kelaikhunian
Katalog
Daftar
Lainnya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan