| Nebukadnezar II | |
|---|---|
Sebagian dari apa yang disebut "prasasti Menara Babel", yang menggambarkan Nebukadnezar II di sebelah kanan dan menampilkan gambaran ziggurat agung Babilon (Etemenanki) di sebelah kiri[a] | |
| Raja Kekaisaran Babilonia Baru | |
| Berkuasa | 15 Agustus 605 SM – 7 Oktober 562 SM[2][3] |
| Penobatan | 7 September 605 SM[3] |
| Pendahulu | Nabopolassar |
| Penerus | Amel-Marduk |
| Lahir | ca 642 SM[b] Uruk, Kekaisaran Asyur Baru |
| Meninggal | 7 Oktober 562 SM (berusia ca 79/80) Babilon, Kekaisaran Babilonia Baru |
| Ayah | Nabopolassar |
| Pasangan | Amytis dari Media (?) |
| Keturunan | |
| Akkadia | Nabû-kudurri-uṣur |
| Dinasti | Dinasti Kasdim |
Nebukadnezar II,[d] atau lebih tepatnya dieja Nebukadrezar II, yang berarti "Nabu, lindungilah ahli warisku",[10] adalah raja kedua Kekaisaran Babilonia Baru, yang memerintah sejak kematian ayahnya, Nabopolassar, pada tahun 605 SM hingga kematiannya sendiri pada tahun 562 SM. Sering diberi gelar Nebukadnezar yang Agung,[11][12] ia dianggap sebagai raja terbesar kekaisaran tersebut,[10][13][14] yang terkenal atas kampanye militernya di Levan serta peranannya dalam sejarah Yahudi, dan atas proyek-proyek pembangunannya di ibu kotanya, Babilonia. Memerintah selama 43 tahun, Nebukadnezar merupakan raja dengan masa pemerintahan terlama dalam dinasti Babilonia Baru. Pada saat kematiannya, ia termasuk salah satu penguasa paling berkuasa di dunia.[13]
Mungkin dinamai menurut kakeknya yang bernama sama atau menurut Nebukadnezar I, salah satu raja prajurit terbesar Babilonia, Nebukadnezar II telah meraih kemasyhuran pada masa pemerintahan ayahnya dengan memimpin pasukan dalam Penaklukan Kekaisaran Asyur oleh Medo-Babilonia. Dalam Pertempuran Karkemis pada tahun 605 SM, Nebukadnezar menimpakan kekalahan telak terhadap pasukan Mesir yang dipimpin oleh Firaun Nekho II dan memastikan bahwa Kekaisaran Babilonia Baru akan menggantikan Kekaisaran Asyur Baru sebagai kekuatan dominan di Timur Dekat kuno. Tak lama setelah kemenangan ini, Nabopolassar wafat dan Nebukadnezar menjadi raja.
Meskipun karier militernya gemilang pada masa pemerintahan ayahnya, awal masa pemerintahan Nebukadnezar hanya membuahkan sedikit pencapaian dan diwarnai kegagalan invasi yang fatal ke Mesir. Kinerja ini membuat beberapa negara vasal Babilonia meragukan kekuatan Babilonia dan menjadi pemicu munculnya pemberontakan di seluruh kekaisarannya.[15] Setelah terlebih dahulu memadamkan beberapa pemberontakan di timur, Nebukadnezar mengalihkan perhatiannya ke Levan dan pada dekade 580 SM melancarkan serangkaian kampanye militer melawan negara-negara vasalnya yang membelot. Pada tahun 587 SM, Nebukadnezar mengepung Yerusalem serta menghancurkan kota tersebut dan Kerajaan Yehuda, lalu mendeportasi sebagian besar penduduknya dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Pembuangan ke Babilonia. Peristiwa ini membuat Nebukadnezar mendapat reputasi buruk dalam sejarah Yahudi. Melalui penaklukan ini, perebutan kota Fenisia yakni Tirus, serta berbagai kampanye lainnya di Levan, Nebukadnezar memulihkan kejayaan Kekaisaran Babilonia Baru di Timur Dekat kuno.
Di samping kampanye militernya, Nebukadnezar dikenang sebagai pembangun ulung yang mendirikan banyak bangunan keagamaan di Babilonia, termasuk Esagila dan Etemenanki, memperindah istana-istananya, serta mempercantik pusat upacaranya melalui renovasi jalan prosesi kota dan Gerbang Ishtar. Karena sebagian besar prasasti Nebukadnezar berkaitan dengan proyek pengerjaan bangunannya alih-alih pencapaian militer, ia sempat dipandang oleh para sejarawan terutama sebagai seorang pembangun daripada seorang pejuang.
Sumber
Hanya ada sedikit sumber aksara paku untuk periode antara tahun 594 SM dan 557 SM, yang mencakup sebagian besar masa pemerintahan Nebukadnezar II serta masa pemerintahan tiga penerus langsungnya, Amel-Marduk, Neriglissar, dan Labashi-Marduk.[16] Kelangkaan sumber ini mengakibatkan bahwa meskipun masa pemerintahan Nebukadnezar merupakan yang terpanjang di antara para raja Babilonia Baru, hal-hal yang diketahui secara pasti mengenai pemerintahannya justru lebih sedikit dibandingkan raja-raja lainnya. Meskipun segelintir sumber aksara paku yang ditemukan kembali (terutama Tawarikh Babilonia) mengonfirmasi beberapa peristiwa pada masa pemerintahannya (seperti konflik dengan Kerajaan Yehuda), peristiwa lainnya—seperti penghancuran Bait Salomo pada tahun 586 SM dan kampanye militer lainnya yang kemungkinan dilakukan oleh Nebukadnezar—tidak tercakup dalam dokumen aksara paku mana pun yang diketahui.[17]
Akibatnya, rekonstruksi sejarah untuk periode ini umumnya mengandalkan sumber-sumber sekunder berbahasa Ibrani, Yunani, dan Latin untuk menentukan peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu, di samping lauh-lauh kontrak dari Babilonia.[16] Meskipun sebagian pihak menganggap penggunaan sumber-sumber yang ditulis oleh penulis-penulis belakangan—yang banyak di antaranya dibuat beberapa abad setelah masa Nebukadnezar dan sering kali mencerminkan pandangan budaya mereka sendiri terhadap peristiwa serta tokoh yang dibahas—[18] menimbulkan masalah tersendiri yang mengaburkan batas antara sejarah dan tradisi, sumber-sumber ini juga lebih kecil kemungkinannya untuk menampilkan bias yang kerap terdapat dalam sumber-sumber kontemporer yang ditulis oleh penulis yang tunduk pada kekuasaan sang raja. Sebagaimana yang sering terjadi dalam sejarah kuno, pendekatan terbaik adalah memanfaatkan sumber-sumber tertulis yang ada dan bukti arkeologis untuk memahami masa pemerintahan Nebukadnezar.[17]
Latar belakang
Nama

Nama Nebukadnezar II dalam bahasa Akkadia adalah Nabû-kudurri-uṣur,[8] yang berarti "Nabu, lindungilah ahli warisku".[10] Nama ini sering ditafsirkan dalam kajian akademis terdahulu sebagai "Nabu, lindungilah perbatasan", mengingat kata kudurru juga dapat berarti 'perbatasan' atau 'batas'. Sejarawan modern lebih mendukung penafsiran 'ahli waris' daripada penafsiran 'perbatasan' untuk nama ini. Tidak ada alasan untuk memercayai bahwa orang Babilonia sengaja membuat nama ini sulit ditafsirkan atau memiliki makna ganda.[19]
Nabû-kudurri-uṣur biasanya dianglikisasi menjadi 'Nebuchadnezzar', mengikuti bentuk nama yang paling umum ditranskripsikan dalam Alkitab. Dalam bahasa Ibrani, nama tersebut ditulis sebagai נְבוּכַדְנֶאצַּר (Nəḇūḵaḏneʾṣṣar) dan dalam bahasa Yunani ditulis sebagai Ναβουχοδονόσορ (Nabouchodonosor). Beberapa pakar, seperti Donald Wiseman, lebih menyukai bentuk anglikisasi "Nebuchadrezzar", dengan huruf "r" bukannya "n", berdasarkan asumsi bahwa "Nebuchadnezzar" merupakan bentuk korup yang muncul belakangan dari nama kontemporer Nabû-kudurri-uṣur.[20]
Bentuk anglikisasi alternatif "Nebuchadrezzar" berasal dari bagaimana nama tersebut ditulis dalam Kitab Yeremia dan Kitab Yehezkiel, yaitu נְבוּכַדְרֶאצַּר (Nəḇūḵaḏreʾṣṣar), yang merupakan transliterasi yang lebih setia pada nama asli bahasa Akkadia. Pakar Asiriologi Adrianus van Selms pada tahun 1974 mengajukan gagasan bahwa varian dengan huruf "n" alih-alih "r" merupakan julukan yang kasar, yang berasal dari bentuk bahasa Akkadia seperti Nabû-kūdanu-uṣur, yang berarti 'Nabu, lindungilah bagal itu', meskipun tidak ada bukti konkret untuk gagasan ini. Van Selms percaya bahwa julukan semacam itu bisa jadi berasal dari masa awal pemerintahan Nebukadnezar, yang diwarnai oleh ketidakstabilan politik.[20]
Nama Nebukadnezar II, Nabû-kudurri-uṣur, identik dengan nama pendahulunya yang jauh, Nebukadnezar I (m. ca 1125–1104 SM), yang memerintah lebih dari lima abad sebelum masa Nebukadnezar II.[8] Seperti Nebukadnezar II, Nebukadnezar I adalah seorang raja prajurit ternama yang muncul pada masa pergolakan politik dan mengalahkan pasukan musuh-musuh Babilonia, yang dalam kasus Nebukadnezar I adalah bangsa Elam.[21] Meskipun nama teoforik yang menggunakan nama dewa Nabu lazim ditemukan dalam teks-teks dari era awal Kekaisaran Babilonia Baru, nama Nebukadnezar relatif jarang muncul, hanya disebutkan secara pasti sebanyak empat kali. Walaupun tidak ada bukti bahwa Nabopolassar menamai putranya dari nama Nebukadnezar I, Nabopolassar memiliki pengetahuan sejarah yang luas dan secara aktif berupaya menghubungkan pemerintahannya dengan masa Kekaisaran Akkadia, yang mendahuluinya hampir dua ribu tahun sebelumnya. Arti penting dari putra dan ahli warisnya yang menyandang nama salah satu raja terbesar Babilonia tentu tidak luput dari perhatian Nabopolassar.[22] Jika teori Jursa mengenai asal-usul Nabopolassar benar, ada kemungkinan lain bahwa Nebukadnezar II dinamai menurut nama kakeknya yang bernama sama, mengingat bangsa Babilonia menerapkan sistem patronim, alih-alih dinamai menurut raja sebelumnya.[22][23]
Asal-usul dan masa muda

Nebukadnezar adalah putra sulung Nabopolassar (m. 626–605 SM), pendiri Kekaisaran Babilonia Baru. Hal ini dikonfirmasi oleh prasasti-prasasti Nabopolassar, yang secara eksplisit menyebut Nebukadnezar sebagai "putra sulung"-nya, serta prasasti-prasasti dari masa pemerintahan Nebukadnezar, yang merujuk dirinya sebagai "putra pertama" atau "putra utama" Nabopolassar, dan sebagai "ahli waris sejati" atau "ahli waris sah" Nabopolassar.[24] Kekaisaran Babilonia Baru didirikan melalui pemberontakan Nabopolassar, dan perang sesudahnya, melawan Kekaisaran Asyur Baru, yang membebaskan Babilonia setelah hampir satu abad berada di bawah kendali Asyur. Perang tersebut mengakibatkan kehancuran total Asyur,[25] dan Kekaisaran Babilonia Baru yang bangkit menggantikannya memang kuat, tetapi dibangun secara tergesa-gesa dan tidak stabil secara politik.[26]
Karena Nabopolassar tidak pernah memperjelas garis keturunannya dalam prasasti mana pun, asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas. Para sejarawan belakangan mengidentifikasi Nabopolassar secara bervariasi sebagai orang Kasdim,[27][28][29] orang Asyur,[30] atau orang Babilonia.[31] Meskipun tidak ada bukti yang secara konklusif mengonfirmasi bahwa ia berasal dari Kasdim, istilah "Dinasti Kasdim" sering digunakan oleh sejarawan modern untuk keluarga kerajaan yang didirikannya, dan istilah "Kekaisaran Kasdim" tetap digunakan sebagai nama historiografis alternatif untuk Kekaisaran Babilonia Baru.[27]
Terlepas dari asal-usul etnisnya, Nabopolassar tampaknya terhubung kuat dengan kota Uruk,[29][32] yang terletak di sebelah selatan Babilon. Ada kemungkinan bahwa ia merupakan anggota elite penguasa kota tersebut sebelum menjadi raja,[29] dan terdapat kian banyak bukti bahwa keluarga Nabopolassar berasal dari Uruk, misalnya fakta bahwa putri-putri Nebukadnezar tinggal di kota tersebut.[33]
Pada tahun 2007, Michael Jursa mengajukan teori bahwa Nabopolassar adalah anggota keluarga politik terkemuka di Uruk, yang anggota-anggotanya tercatat sejak masa pemerintahan Esarhaddon (m. 681–669 SM). Untuk mendukung teorinya, Jursa menunjuk pada dokumen-dokumen yang menggambarkan bagaimana makam dan jasad "Kudurru", seorang almarhum gubernur Uruk, dinodai akibat kegiatan anti-Asyur dari kedua putra Kudurru, yaitu Nabu-shumu-ukin dan seorang putra yang namanya sebagian besar hilang. Penodaan tersebut bahkan sampai menyeret jasad Kudurru melewati jalan-jalan di Uruk. Kudurru dapat diidentifikasi sebagai Nebukadnezar (Nabû-kudurri-uṣur, dengan "Kudurru" hanyalah julukan umum yang dipendekkan), seorang pejabat terkemuka di Uruk yang menjabat sebagai gubernurnya di bawah raja Asyur Asyurbanipal (m. 669–631 SM) pada dekade 640-an SM.[4] Dalam tradisi Asyur, penodaan jasad menunjukkan bahwa almarhum dan keluarganya yang masih hidup adalah pengkhianat dan musuh negara, serta harus dimusnahkan secara total, yang berfungsi untuk menghukum mereka bahkan setelah kematian. Nama putra yang tidak tersimpan dalam surat tersebut diakhiri dengan ahi, nâsir, atau uṣur, dan jejak-jejak yang tersisa dapat cocok dengan nama Nabû-apla-uṣur, yang berarti Nabopolassar bisa jadi merupakan putra lain yang disebutkan dalam surat tersebut dan dengan demikian merupakan putra Kudurru.[4] Yang memperkuat hubungan ini adalah bahwa Nebukadnezar II tercatat sangat awal pada masa pemerintahan ayahnya, dari tahun 626/625 hingga 617 SM, sebagai imam agung kuil Eanna di Uruk, tempat ia sering tercatat dengan julukan "Kudurru".[4][5] Nebukadnezar pasti diangkat menjadi imam agung pada usia yang sangat muda, mengingat tahun kematiannya, 562 SM, berjarak 64 tahun setelah tahun 626 SM.[6] Putra kedua Kudurru yang asli, Nabu-shumu-ukin, juga tampaknya tercatat sebagai seorang jenderal terkemuka di bawah Nabopolassar, dan nama tersebut juga digunakan oleh Nebukadnezar II untuk salah satu putranya, kemungkinan untuk menghormati mendiang pamannya.[4]
Putra mahkota


Karier militer Nebukadnezar dimulai pada masa pemerintahan ayahnya, meskipun hanya sedikit informasi yang bertahan. Berdasarkan sebuah surat yang dikirim kepada bagian administrasi kuil Eanna, tampaknya Nebukadnezar berpartisipasi dalam kampanye ayahnya untuk merebut kota Harran pada tahun 610 SM.[34] Harran adalah kedudukan Asyur-uballit II, yang telah menghimpun sisa-sisa pasukan Asyur dan memerintah negara sisa Asyur Baru.[35] Kemenangan Babilonia dalam kampanye Harran dan kekalahan Asyur-uballit pada tahun 609 SM menandai berakhirnya monarki Asyur kuno, yang tidak pernah dipulihkan lagi.[36] Menurut Tawarikh Babilonia, Nebukadnezar juga memimpin pasukan di wilayah pegunungan yang tidak disebutkan secara spesifik selama beberapa bulan pada tahun 607 SM.[34]
Dalam perang melawan bangsa Babilonia dan Media, Asyur telah bersekutu dengan Firaun Psamtik I dari Dinasti Ke-26 Mesir, yang berkepentingan untuk memastikan kelangsungan hidup Asyur agar Asyur tetap dapat menjadi negara penyangga antara kerajaannya sendiri dan kerajaan Babilonia serta Media.[37] Setelah jatuhnya Harran, penerus Psamtik, Firaun Nekho II, secara pribadi memimpin pasukan besar ke bekas wilayah Asyur untuk membalikkan keadaan perang dan memulihkan Kekaisaran Asyur Baru,[38] meskipun usaha tersebut kurang lebih sia-sia karena Asyur sudah runtuh.[39] Karena Nabopolassar disibukkan dengan pertempuran melawan Urartu di utara, orang-orang Mesir menguasai Levant sebagian besar tanpa perlawanan, merebut wilayah-wilayah sejauh utara kota Karkemis di Suriah, tempat Nekho mendirikan basis operasinya.[40]
Kemenangan terbesar Nebukadnezar dari masa jabatannya sebagai putra mahkota terjadi pada Pertempuran Karkemis pada tahun 605 SM,[34] yang mengakhiri kampanye militer Nekho di Levant dengan memberikan kekalahan telak kepada pihak Mesir.[41][39] Nebukadnezar menjadi komandan tunggal pasukan Babilonia dalam pertempuran ini karena ayahnya memilih untuk tetap berada di Babilon,[25] mungkin karena sakit.[40] Pasukan Nekho dihancurkan secara total oleh pasukan Nebukadnezar, dengan sumber-sumber Babilonia mengklaim bahwa tidak ada satu pun orang Mesir yang selamat.[42] Catatan mengenai pertempuran tersebut dalam Tawarikh Babilonia berbunyi sebagai berikut:[34]
Raja Akkad[e] tinggal di rumah (sementara) Nebukadnezar, putra sulungnya (dan) putra mahkota mengumpulkan [pasukan Akkad]. Ia memimpin pasukannya dan berbaris ke Karkemis, yang berada di tepi sungai Efrat. Ia menyeberangi sungai di Karkemis. [...] Mereka bertempur bersama. Pasukan Mesir mundur di hadapannya. Ia memberikan [kekalahan] kepada mereka (dan) menghabisi mereka secara total. Di distrik Hamat, pasukan Akkad menyusul sisa-sisa pasukan [Mesir yang] berhasil melarikan diri [dari] kekalahan dan yang belum tertaklukkan. Mereka memberikan kekalahan kepada mereka (sehingga) tidak ada satu orang (Mesir) pun [yang kembali] ke rumah. Pada saat itu Nebukadnezar menaklukkan seluruh Ha[ma]t.[34]
Kisah kemenangan Nebukadnezar di Karkemis bergema sepanjang sejarah, muncul dalam banyak catatan kuno belakangan, termasuk dalam Kitab Yeremia dan Kitab Raja-raja di Alkitab. Berdasarkan geopolitik sesudahnya, dapat disimpulkan bahwa kemenangan ini mengakibatkan seluruh Suriah dan Israel berada di bawah kendali Kekaisaran Babilonia Baru, sebuah pencapaian yang oleh bangsa Asyur di bawah Tiglath-Pileser III (m. 745–727 SM) hanya dapat dicapai setelah lima tahun kampanye militer berkepanjangan.[34] Kekalahan Mesir di Karkemis memastikan bahwa Kekaisaran Babilonia Baru tumbuh menjadi kekuatan utama di Timur Dekat kuno, dan penerus yang tidak tertandingi dari Kekaisaran Asyur Baru.[25][44]
Masa pemerintahan
Naik takhta

Nabopolassar meninggal hanya beberapa minggu setelah kemenangan Nebukadnezar di Karkemis.[34] Pada saat ini, Nebukadnezar masih berada jauh dalam kampanyenya melawan bangsa Mesir,[42] setelah mengejar pasukan Mesir yang mundur ke wilayah di sekitar kota Hamat.[45] Kabar tentang kematian Nabopolassar mencapai perkemahan Nebukadnezar pada tanggal 8 Abu (akhir Juli),[45][46] dan Nebukadnezar dengan cepat menyelesaikan urusan dengan bangsa Mesir lalu bergegas kembali ke Babilonia,[42] tempat ia dinobatkan sebagai raja pada tanggal 1 Ulūlu (pertengahan Agustus).[45]
Kecepatan Nebukadnezar kembali ke Babilonia mungkin disebabkan oleh ancaman bahwa salah satu saudaranya (dua diketahui namanya: Nabu-shum-lishir[47][48] dan Nabu-zer-ushabshi)[49] dapat mengklaim takhta selama ketidakhadirannya. Meskipun Nebukadnezar telah diakui sebagai putra sulung dan ahli waris oleh Nabopolassar, Nabu-shum-lishir,[47] putra kedua Nabopolassar,[48] telah diakui sebagai "saudaranya yang setara", sebuah gelar yang kabur dan berbahaya.[47][f] Meskipun ada kemungkinan kekhawatiran ini, tidak ada upaya yang dilakukan untuk merebut takhtanya pada saat ini.[47]
Salah satu tindakan pertama Nebukadnezar sebagai raja adalah memakamkan ayahnya. Nabopolassar dibaringkan di dalam peti mati yang sangat besar, dihiasi dengan pelat emas berornamen dan pakaian indah bermanik-manik emas, yang kemudian ditempatkan di dalam istana kecil yang dibangunnya di Babilonia.[47] Tak lama setelah itu, sebelum akhir bulan tempat ia dimahkotai, Nebukadnezar kembali ke Suriah untuk melanjutkan kampanyenya. Tawarikh Babilonia mencatat bahwa "ia berpawai dengan penuh kemenangan", yang berarti ia menghadapi sedikit hingga tanpa perlawanan, lalu kembali ke Babilonia setelah beberapa bulan berkampanye.[45] Kampanye Suriah, meskipun menghasilkan sejumlah barang jarahan, tidak sepenuhnya sukses karena tidak menjamin cengkeraman Nebukadnezar atas wilayah tersebut. Tampaknya ia gagal menimbulkan rasa takut, mengingat tidak ada satu pun negara paling barat di Levant yang mengikrarkan kesetiaan kepadanya dan membayar upeti.[14]
Kampanye militer awal
Meskipun sedikit informasi yang tersisa mengenai hal tersebut, Tawarikh Babilonia menyimpan catatan singkat tentang aktivitas militer Nebukadnezar dalam sebelas tahun pertamanya sebagai raja. Pada tahun 604 SM, Nebukadnezar berkampanye di Levant sekali lagi, menaklukkan kota Askalon.[45] Menurut Tawarikh Babilonia, raja Askalon ditangkap dan dibawa ke Babilonia, dan kota tersebut dijarah serta diratakan dengan tanah. Penggalian modern di Askalon mengonfirmasi bahwa kota tersebut kurang lebih hancur pada saat ini.[51] Kampanye Askalon didahului oleh kampanye di Suriah, yang lebih sukses daripada kampanye pertama Nebukadnezar, menghasilkan sumpah kesetiaan dari para penguasa Fenisia.[14]

Pada tahun 603 SM, Nebukadnezar berkampanye di sebuah negeri yang namanya tidak tersimpan dalam salinan tawarikh yang tersisa. Tawarikh mencatat bahwa kampanye ini bersifat luas, mengingat catatannya menyebutkan pembangunan menara pengepungan besar dan pengepungan sebuah kota, yang namanya juga tidak tersisa. Anson Rainey berspekulasi pada tahun 1975 bahwa kota yang direbut adalah Gaza, sedangkan Nadav Na'aman berpendapat pada tahun 1992 bahwa kota itu adalah Kummuh di Anatolia tenggara. Pada paruh kedua abad ke-5 SM, beberapa dokumen menyebutkan kota Isqalanu (nama yang berasal dari Askalon) dan Hazzatu (nama yang kemungkinan berasal dari Gaza) di dekat kota Nippur, menunjukkan bahwa orang-orang buangan dari kedua kota ini tinggal di dekat Nippur, dan dengan demikian ada kemungkinan bahwa mereka ditangkap pada waktu yang hampir bersamaan.[45]
Pada tahun 602 SM dan 601 SM, Nebukadnezar berkampanye di Levant, meskipun sedikit informasi yang tersisa selain bahwa sejumlah "besar" barang rampasan dibawa dari Levant ke Babilonia pada tahun 602 SM.[45] Karena catatan untuk tahun 602 SM juga merujuk pada Nabu-shum-lishir, adik laki-laki Nebukadnezar, dalam konteks yang terfragmentasi dan tidak jelas, ada kemungkinan bahwa Nabu-shum-lishir memimpin pemberontakan melawan saudaranya dalam upaya merebut takhta pada tahun tersebut, terutama karena ia tidak lagi disebutkan dalam sumber apa pun setelah tahun 602 SM.[52] Kerusakan pada teks tersebut bagaimanapun membuat gagasan ini bersifat spekulatif dan konjektural.[45]

Dalam kampanye tahun 601 SM, Nebukadnezar berangkat dari Levant dan kemudian bergerak menuju Mesir. Terlepas dari kekalahan di Karkemis pada tahun 605 SM, Mesir masih memiliki pengaruh yang besar di Levant, meskipun wilayah tersebut secara lahiriah berada di bawah kekuasaan Babilonia. Dengan demikian, kampanye melawan Mesir adalah hal yang logis untuk menegaskan dominasi Babilonia, dan juga membawa manfaat ekonomi dan propaganda yang sangat besar, tetapi kampanye tersebut juga berisiko dan ambisius. Jalur menuju Mesir sangat sulit, dan kurangnya kontrol yang aman di kedua sisi Gurun Sinai dapat mendatangkan bencana.[53]
Invasi Nebukadnezar ke Mesir gagal – Tawarikh Babilonia menyatakan bahwa pasukan Mesir dan Babilonia mengalami menderita korban jiwa yang sangat besar.[53] Meskipun Mesir tidak ditaklukkan, kampanye tersebut berhasil membatasi minat Mesir di Levant untuk sementara waktu, mengingat Necho II mengurungkan ambisinya di wilayah tersebut.[54] Pada tahun 599 SM, Nebukadnezar mengarahkan pasukannya ke Levant lalu menyerang dan merampok orang-orang Arab di padang gurun Suriah. Meskipun tampaknya berhasil, tidak jelas apa pencapaian yang diperoleh dalam kampanye ini.[53]
Pada tahun 598 SM, Nebukadnezar berkampanye melawan Kerajaan Yehuda, berhasil merebut kota Yerusalem.[55] Yehuda merupakan sasaran utama perhatian Babilonia mengingat wilayah ini berada di episentrum persaingan antara Babilonia dan Mesir. Pada tahun 601 SM, raja Yehuda, Yoyakim, telah mulai secara terbuka menantang otoritas Babilonia, mengandalkan fakta bahwa Mesir akan memberikan dukungan untuk usahanya. Serangan pertama Nebukadnezar pada tahun 598–597 SM terhadap Yerusalem dicatat dalam Alkitab, tetapi juga dalam Tawarikh Babilonia,[51] yang menggambarkannya sebagai berikut:[51]
Tahun ketujuh [Nebukadnezar], pada bulan Kislimu, raja Akkad mengumpulkan pasukannya, bergerak ke Levant, dan mendirikan markas menghadap kota Yehuda [Yerusalem]. Pada bulan Addaru [awal 597 SM], hari kedua, ia merebut kota tersebut dan menangkap sang raja. Ia menempatkan di sana seorang raja pilihannya. Ia mengumpu[lkan] upeti yang sangat besar dan kembali ke Babilonia.[51]
Yoyakim telah meninggal selama pengepungan Nebukadnezar dan digantikan oleh putranya, Yekhonya, yang ditangkap dan dibawa ke Babilonia, dengan pamannya Zedekia diangkat menggantikannya sebagai raja Yehuda. Yekhonya dicatat masih hidup di Babilonia setelah itu, dengan catatan paling akhir pada tahun 592 atau 591 SM mencantumkannya di antara penerima jatah makanan di istana Nebukadnezar dan masih merujuk padanya sebagai 'raja tanah Yehuda'.[51]
Pada tahun 597 SM, pasukan Babilonia berangkat ke Levant lagi, tetapi tampaknya tidak melakukan kegiatan militer apa pun karena mereka segera berbalik setelah mencapai Efrat. Tahun berikutnya, Nebukadnezar menggerakkan pasukannya di sepanjang sungai Tigris untuk bertempur melawan orang-orang Elam, tetapi tidak ada pertempuran yang sebenarnya terjadi karena orang Elam mundur karena takut begitu Nebukadnezar berjarak satu hari perjalanan. Pada tahun 595 SM, Nebukadnezar tetap berada di rumah di Babilonia, tetapi segera harus menghadapi pemberontakan melawan kekuasaannya di sana, meskipun ia mengalahkan para pemberontak, dengan tawarikh menyatakan bahwa raja "membantai pasukan besarnya dengan pedang dan menaklukkan musuhnya." Tak lama setelah itu, Nebukadnezar kembali berkampanye di Levant dan mengamankan sejumlah besar upeti. Pada tahun terakhir yang dicatat dalam tawarikh, 594 SM, Nebukadnezar berkampanye di Levant sekali lagi.[55]
Ada beberapa tahun tanpa aktivitas militer yang patut dicatat sama sekali. Khususnya, Nebukadnezar menghabiskan seluruh tahun 600 SM di Babilonia, di mana tawarikh memberi alasan bagi raja dengan menyatakan bahwa ia tetap berada di Babilonia untuk "memperlengkapi kembali kuda-kuda dan kereta perangnya yang banyak". Beberapa tahun ketika Nebukadnezar menang juga hampir tidak dapat dianggap sebagai tantangan nyata. Menggerebek orang-orang Arab pada tahun 599 SM bukanlah pencapaian militer utama dan kemenangan atas Yehuda serta mundurnya orang Elam tidak dipastikan di medan perang. Oleh karena itu, tampaknya Nebukadnezar mencapai sedikit keberhasilan militer setelah kegagalan invasinya ke Mesir. Rekam jejak militer Nebukadnezar yang buruk memiliki konsekuensi geopolitik yang berbahaya. Menurut Alkitab, pada tahun keempat Zedekia sebagai raja Yehuda (594 SM), raja-raja Amon, Edom, Moab, Sidon, dan Tirus bertemu di Yerusalem untuk menangani kemungkinan melepaskan diri dari kontrol Babilonia.[56]
Bukti bahwa kendali Babilonia mulai terurai juga jelas terlihat dari catatan-catatan Babilonia kontemporer, seperti pemberontakan di Babilonia sendiri yang telah disebutkan sebelumnya, serta catatan mengenai seorang pria yang dieksekusi pada tahun 594 SM di Borsippa karena "melanggar sumpahnya kepada raja". Pelanggaran sumpah tersebut cukup serius sehingga hakim dalam persidangan tersebut adalah Nebukadnezar sendiri. Ada kemungkinan pula bahwa hubungan Babilonia–Media mulai merenggang, dengan adanya catatan tentang seorang "pembelot Media" yang ditempatkan di istana Nebukadnezar dan beberapa prasasti yang menunjukkan bahwa orang Media mulai dipandang sebagai "musuh". Pada tahun 594 SM, kegagalan invasi Mesir, dan kondisi kampanye-kampanye Nebukadnezar lainnya yang kurang memuaskan, sangat membayangi. Menurut pakar Asyriologi Israel Ephʿal, Babilonia pada saat ini dipandang oleh para sejawatnya lebih seperti "macan kertas" (yaitu ancaman yang tidak efektif) daripada sebuah kekaisaran besar, seperti Asyur beberapa dekade sebelumnya.[57]
Penghancuran Yerusalem

Sejak diangkat sebagai raja Yehuda, Zedekia menunggu saat yang tepat untuk melepaskan diri dari kendali Babilonia. Setelah kematian Firaun Necho II pada tahun 595 SM, campur tangan Mesir dalam urusan di Levant meningkat sekali lagi di bawah para penggantinya, Psamtik II (m. 595–589 SM) dan Apries (m. 589–570 SM), yang keduanya bekerja untuk mendorong pemberontakan anti-Babilonia.[51] Ada kemungkinan bahwa kegagalan Babilonia untuk menginvasi Mesir pada tahun 601 SM membantu mengilhami pemberontakan melawan Kekaisaran Babilonia.[58] Hasil dari upaya-upaya ini adalah pemberontakan terbuka Zedekia terhadap otoritas Nebukadnezar.[51] Sayangnya, tidak ada sumber aksara paku yang tersimpan dari masa ini dan satu-satunya catatan yang diketahui tentang jatuhnya Yehuda adalah catatan Alkitab.[51][59]

Pada tahun 589 SM, Zedekia menolak membayar upeti kepada Nebukadnezar, dan langkah ini segera diikuti oleh Ithobaal III, raja Tirus.[60] Pada tahun 587 SM, Amon, Edom, dan Moab juga memberontak.[61] Sebagai tanggapan atas pemberontakan Zedekia,[51] Nebukadnezar menaklukkan dan menghancurkan Kerajaan Yehuda pada tahun 586 SM,[51][59] salah satu pencapaian besar dalam masa pemerintahannya.[51][59] Kampanye tersebut, yang kemungkinan berakhir pada musim panas tahun 586 SM, mengakibatkan penjarahan dan penghancuran kota Yerusalem, kepunahan permanen Yehuda, dan pembuangan Babilonia, karena orang-orang Yahudi ditangkap dan dideportasi ke Babilonia.[51] Penggalian arkeologis mengonfirmasi bahwa Yerusalem dan daerah sekitarnya hancur dan mengalami depopulasi. Ada kemungkinan bahwa intensitas penghancuran yang dilakukan oleh Nebukadnezar di Yerusalem dan tempat lain di Levant disebabkan oleh penerapan kebijakan yang mirip dengan bumi hangus, yang bertujuan untuk mencegah Mesir mendapatkan pijakan di sana.[62]
Beberapa pemerintahan Yahudi diizinkan untuk tetap berada di wilayah tersebut di bawah gubernur Gedaliah, yang memerintah dari Mizpa di bawah pengawasan ketat Babilonia.[51] Menurut Alkitab, dan sejarawan Yahudi abad ke-1 M Flavius Yosefus, Zedekia mencoba melarikan diri setelah melawan orang-orang Babilonia, tetapi ditangkap di Yerikho dan mengalami nasib yang mengerikan. Menurut narasi tersebut, Nebukadnezar ingin menjadikannya sebagai peringatan mengingat Zedekia bukanlah raja vasal biasa, melainkan raja vasal yang diangkat langsung oleh Nebukadnezar. Karena itu, Zedekia diduga dibawa ke Riblah di Suriah utara, tempat ia harus menyaksikan putra-putranya dieksekusi sebelum matanya dicungkil, dan kemudian dikirim untuk dipenjarakan di Babilonia.[63]
Menurut Kitab Raja-raja dalam Alkitab, kampanye melawan Yehuda berlangsung lebih lama daripada perang Mesopotamia pada umumnya, dengan pengepungan Yerusalem berlangsung selama 18–30 bulan (tergantung pada perhitungannya), bukannya durasi khas yang kurang dari satu tahun. Apakah durasi pengepungan yang tidak biasa ini menunjukkan bahwa pasukan Babilonia lemah, tidak mampu menembus kota selama lebih dari satu tahun, atau bahwa Nebukadnezar pada saat ini telah berhasil menstabilkan kekuasaannya di Babilonia dan dengan demikian dapat berperang dengan sabar tanpa didesak oleh waktu untuk meningkatkan pengepungan, masih tidak pasti.[59]
Kampanye militer kemudian

Ada kemungkinan bahwa bangsa Mesir memanfaatkan situasi ketika Babilonia sedang disibukkan dengan pengepungan Yerusalem. Herodotus menggambarkan Firaun Apries berkampanye di Levant, merebut kota Sidon dan bertempur melawan orang-orang Tirus, yang menunjukkan invasi terbarui Mesir ke Levant.[60] Kecil kemungkinan Apries sesukses yang digambarkan Herodotus, mengingat tidak jelas bagaimana angkatan laut Mesir dapat mengalahkan angkatan laut kota-kota Fenisia yang lebih unggul, dan kalaupun beberapa kota telah direbut, kota-kota tersebut pasti tak lama kemudian jatuh kembali ke tangan Babilonia.[63] Tirus telah memberontak melawan Nebukadnezar pada waktu yang hampir bersamaan dengan Yehuda, dan Nebukadnezar bergerak untuk merebut kembali kota tersebut setelah berhasil menundukkan orang-orang Yahudi.[63]
Kitab Yehezkiel dalam Alkitab menggambarkan Tirus pada tahun 571 SM seolah-olah baru saja direbut oleh pasukan Babilonia.[64] Dugaan durasi pengepungan, yaitu 13 tahun,[65] hanya diberikan oleh Flavius Josephus, dan menjadi subjek perdebatan di antara para sarjana modern.[62] Catatan Josephus tentang masa pemerintahan Nebukadnezar jelas tidak sepenuhnya historis, karena ia menggambarkan Nebukadnezar, lima tahun setelah penghancuran Yerusalem, menginvasi Mesir, menangkap sang Firaun dan mengangkat Firaun lain untuk menggantikannya.[59] Sebuah stela dari Tahpanhes yang terungkap pada tahun 2011 mencatat bahwa Nebukadnezar mencoba menginvasi Mesir pada tahun 582 SM, meskipun pasukan Apries berhasil menghalau invasi tersebut.[66]
Josephus menyatakan bahwa Nebukadnezar mengepung Tirus pada tahun ketujuh dari masa pemerintahannya ("nya"), meskipun tidak jelas apakah "nya" dalam konteks ini merujuk pada Nebukadnezar atau Ithobaal III dari Tirus. Jika merujuk pada Nebukadnezar, pengepungan yang dimulai pada tahun 598 SM dan berlangsung selama tiga belas tahun, yang kemudian berlangsung bersamaan dengan pengepungan Yerusalem, kecil kemungkinan tidak disebutkan dalam catatan Babilonia. Jika yang dimaksud adalah tahun ketujuh Ithobaal, awal pengepungan secara konjektural dapat ditempatkan setelah jatuhnya Yerusalem. Jika pengepungan yang berlangsung selama 13 tahun diterima begitu saja, maka pengepungan tersebut tidak akan berakhir sebelum tahun 573 atau 572 SM.[65] Dugaan durasi pengepungan dapat dikaitkan dengan kesulitan dalam mengepung kota tersebut: Tirus di dunia kuno terdiri dari 2 kota: satu terletak di sebuah pulau 800 meter dari pantai, dan tidak dapat direbut tanpa dukungan angkatan laut. Kota kedua berada di daratan. Ini adalah bagian yang dikepung oleh Babilonia dan berhasil diterobos serta direbut pada tahun 571 SM. Nebukadnezar, yang mendapati kota itu kosong karena sebagian besar penduduk kota telah mundur ke pulau, memerintahkan agar kota daratan itu diratakan dengan tanah. Meskipun bagian pulau Tirus bertahan dari berbagai pengepungan, bagian itu baru berhasil direbut saat pengepungan oleh Iskandar Agung pada tahun 332 SM.[67]
Pada akhirnya, pengepungan diselesaikan dengan hancurnya bagian daratan Tirus. Bagian pulau dari kota tersebut dibiarkan begitu saja.[62][67] Tampaknya raja Tirus dan Nebukadnezar mencapai kesepakatan agar Tirus tetap diperintah oleh raja-raja vasal, meskipun mungkin di bawah kendali Babilonia yang lebih ketat daripada sebelumnya. Dokumen-dokumen dari Tirus menjelang akhir masa pemerintahan Nebukadnezar menunjukkan bahwa kota tersebut telah menjadi pusat urusan militer Babilonia di wilayah tersebut.[62] Menurut tradisi Yahudi belakangan, ada kemungkinan bahwa Ithobaal III digulingkan dan dibawa sebagai tawanan ke Babilonia, dengan raja lain, Baal II, diumumkan oleh Nebukadnezar untuk menggantikannya.[68]
Ada kemungkinan bahwa Nebukadnezar berkampanye melawan Mesir pada tahun 568–567 SM,[69][70] mengingat sebuah prasasti Babilonia yang terfragmentasi, yang diberi sebutan modern BM 33041, dari tahun tersebut mencatat kata "Mesir" serta kemungkinan jejak nama "Amasis" (nama Firaun yang menjabat saat itu, Amasis II, m. 570–526 SM). Sebuah stela Amasis dari tahun ke-4 masa pemerintahannya pada tahun 567 SM, yang juga terfragmentasi, mungkin juga menggambarkan serangan gabungan angkatan laut dan darat oleh orang-orang Babilonia. Bukti terbaru menunjukkan bahwa orang-orang Babilonia pada awalnya berhasil selama invasi dan memperoleh pijakan di Mesir, tetapi mereka dihalau oleh pasukan Amasis.[71][69][72][73] Jika Nebukadnezar benar-benar berkampanye melawan Mesir lagi, ia tidak berhasil lagi, mengingat Mesir tidak jatuh ke bawah kekuasaan Babilonia.[69]
Kampanye-kampanye Nebukadnezar di Levant, terutama yang ditujukan ke Yerusalem dan Tirus, menyelesaikan transformasi Kekaisaran Neo-Babilonia dari sebuah negara sisa Kekaisaran Neo-Asyur menjadi kekuatan dominan baru di Timur Dekat kuno.[62] Meskipun demikian, pencapaian militer Nebukadnezar dapat dipertanyakan,[14] mengingat perbatasan kekaisarannya, pada akhir masa pemerintahannya, tidak bertambah luas secara signifikan dan ia tidak berhasil menaklukkan Mesir. Bahkan setelah bertakhta selama beberapa dekade, kemenangan terbesar Nebukadnezar tetaplah kemenangannya atas bangsa Mesir di Karkemis pada tahun 605 SM, bahkan sebelum ia menjadi raja.[74]
Proyek pembangunan

Raja Babilonia secara tradisional adalah seorang pembangun dan pemugar, dan dengan demikian proyek-proyek pembangunan berskala besar penting sebagai faktor legitimasi bagi para penguasa Babilonia.[75] Nebukadnezar secara ekstensif memperluas dan membangun kembali ibu kotanya, Babilonia, dan interpretasi historis serta arkeologis paling modern dari kota tersebut mencerminkannya sebagaimana penampilannya setelah proyek-proyek pembangunan Nebukadnezar.[62] Proyek-proyek tersebut dimungkinkan melalui perekonomian yang makmur selama masa pemerintahan Nebukadnezar, yang ditopang oleh penaklukannya.[76] Prasasti-prasasti pembangunannya mencatat pekerjaan yang dilakukan pada banyak kuil, terutama pemugaran Esagila, kuil utama dewa nasional Babilonia Marduk, dan penyelesaian Etemenanki, sebuah zigurat besar yang dipersembahkan untuk Marduk.[62]

Pekerjaan ekstensif juga dilakukan pada struktur sipil dan militer. Di antara upaya paling mengesankan adalah pekerjaan yang dilakukan di sekitar pintu masuk seremonial utara kota tersebut, Gerbang Ishtar. Proyek-proyek ini mencakup pekerjaan pemugaran pada Istana Selatan, di dalam tembok kota, pembangunan Istana Utara yang sama sekali baru, di sisi lain tembok yang menghadap gerbang, serta pemugaran Jalan Prosesi Babilonia, yang membentang melewati gerbang, dan pemugaran gerbang itu sendiri.[76] Reruntuhan Istana Utara Nebukadnezar tidak tersimpan dengan baik sehingga struktur dan penampilannya tidak sepenuhnya dipahami. Nebukadnezar juga membangun istana ketiga, Istana Musim Panas, yang dibangun agak jauh di sebelah utara tembok kota bagian dalam di sudut paling utara tembok luar.[77]
Gerbang Ishtar yang dipugar dihiasi dengan bata berglasir biru dan kuning serta penggambaran lembu jantan (simbol dewa Adad) dan naga (simbol dewa Marduk). Bata serupa digunakan untuk tembok-tembok yang mengelilingi Jalan Prosesi, yang juga menampilkan penggambaran singa (simbol dewi Ishtar).[76] Jalan Prosesi Babilonia, satu-satunya jalan semacam itu yang telah diekskavasi di Mesopotamia, membentang di sepanjang tembok timur Istana Selatan dan keluar dari tembok kota bagian dalam di Gerbang Ishtar, melewati Istana Utara. Di sebelah selatan, jalan ini melewati Etemenanki, berbelok ke barat dan melintasi jembatan yang dibangun baik pada masa pemerintahan Nabopolassar maupun Nebukadnezar.[78]
Beberapa bata di Jalan Prosesi memuat nama raja Neo-Asyur Senakerib (m. 705–681 SM) di sisi bawahnya, yang mungkin menunjukkan bahwa pembangunan jalan tersebut telah dimulai sejak masa pemerintahannya, tetapi fakta bahwa sisi atas bata-bata tersebut semuanya memuat nama Nebukadnezar menunjukkan bahwa pembangunan jalan tersebut diselesaikan pada masa pemerintahan Nebukadnezar.[78] Bata berglasir seperti yang digunakan di Jalan Prosesi juga digunakan di ruang takhta Istana Selatan, yang dihiasi dengan penggambaran singa dan pohon kurma yang tinggi dan distilisasi.[76]
Nebukadnezar juga mengarahkan upaya pembangunan di kota Borsippa, dengan beberapa prasastinya mencatat pekerjaan pemugaran pada kuil kota tersebut, Ezida, yang dipersembahkan untuk dewa Nabu. Selain itu, Nebukadnezar juga memugar zigurat Ezida, E-urme-imin-anki, dan juga mengerjakan kuil Gula, Etila, serta sejumlah besar kuil dan tempat suci lainnya di kota tersebut. Nebukadnezar juga memperbaiki tembok-tembok Borsippa.[79]
Proyek pembangunan besar lainnya oleh Nebukadnezar meliputi Nar-Shamash, sebuah kanal untuk membawa air dari sungai Efrat ke dekat kota Sippar, dan Tembok Media, sebuah struktur pertahanan besar yang dibangun untuk mempertahankan Babilonia dari serangan dari utara.[80] Tembok Media adalah satu dari dua tembok yang dibangun untuk melindungi perbatasan utara Babilonia. Bukti lebih lanjut bahwa Nebukadnezar percaya bahwa utara adalah titik serangan paling mungkin dari musuh-musuhnya berasal dari fakta bahwa ia memperkuat tembok kota-kota utara, seperti Babilonia, Borsippa, dan Kisy, tetapi membiarkan tembok kota-kota selatan, seperti Ur dan Uruk, sebagaimana adanya.[81] Nebukadnezar juga memulai pekerjaan pada Kanal Kerajaan, yang juga dikenal sebagai Kanal Nebukadnezar, sebuah kanal besar yang menghubungkan sungai Efrat ke Tigris yang seiring waktu sepenuhnya mentransformasi pertanian di wilayah tersebut, tetapi struktur tersebut tidak diselesaikan hingga masa pemerintahan Nabonidus, yang memerintah sebagai raja terakhir Kekaisaran Neo-Babilonia dari tahun 556 hingga 539 SM.[80]
Kematian dan suksesi
Nebukadnezar meninggal di Babilonia pada tahun 562 SM.[13] Lauh terakhir yang diketahui bertanggal pada masa pemerintahan Nebukadnezar, dari Uruk, bertanggal pada hari yang sama, 7 Oktober, dengan lauh pertama yang diketahui dari penerusnya, Amel-Marduk, dari Sippar.[2] Tugas-tugas administratif Amel-Marduk kemungkinan dimulai sebelum ia menjadi raja, selama beberapa minggu atau bulan terakhir dari masa pemerintahan ayahnya saat Nebukadnezar sakit dan mendekati ajal.[82] Setelah memerintah selama 43 tahun, masa pemerintahan Nebukadnezar adalah yang terpanjang dari dinastinya[21] dan ia dikenang secara positif oleh orang-orang Babilonia.[83]
Naiknya Amel-Marduk ke takhta tampaknya tidak berjalan mulus.[84] Amel-Marduk bukanlah putra sulung Nebukadnezar yang masih hidup dan alasan mengapa ia dipilih sebagai putra mahkota tidak diketahui.[85][86] Pilihan ini sangat aneh mengingat beberapa sumber menunjukkan bahwa hubungan antara Nebukadnezar dan Amel-Marduk sangat buruk, dengan satu teks yang tersisa menggambarkan keduanya sebagai pihak-pihak dalam semacam konspirasi dan menuduh salah satu dari mereka (teks tersebut terlalu terfragmentasi untuk menentukan yang mana) gagal dalam tugas-tugas paling penting dari kewenangan raja Babilonia melalui eksploitasi penduduk Babilonia dan penistaan kuil-kuilnya.[85] Amel-Marduk juga pada satu titik tampaknya pernah dipenjarakan oleh ayahnya, kemungkinan karena aristokrasi Babilonia telah memproklamasikannya sebagai raja saat Nebukadnezar sedang pergi.[82] Ada kemungkinan bahwa Nebukadnezar bermaksud untuk menggantikan Amel-Marduk sebagai ahli waris dengan putra lain, tetapi meninggal sebelum melakukannya.[87]
Dalam salah satu prasasti akhir Nebukadnezar, yang ditulis lebih dari empat puluh tahun dalam masa pemerintahannya, ia menulis bahwa ia telah dipilih untuk menjadi raja oleh para dewa bahkan sebelum ia lahir. Penguasa Mesopotamia biasanya hanya menekankan legitimasi ilahi dengan cara seperti ini ketika legitimasi aktual mereka dipertanyakan, sebuah metode yang sering digunakan oleh para perebut takhta. Mengingat bahwa Nebukadnezar pada titik ini telah menjadi raja selama beberapa dekade dan merupakan ahli waris sah dari pendahulunya, prasasti tersebut sangat aneh, kecuali jika prasasti itu dimaksudkan untuk membantu melegitimasi penerus Nebukadnezar, Amel-Marduk, yang sebagai putra yang lebih muda dan mantan konspirator dapat dipandang bermasalah secara politik.[84]
Keluarga dan anak-anak

Tidak ada dokumen Babilonia kontemporer yang bertahan yang menyebutkan nama istri Nebukadnezar. Menurut Berossus, namanya adalah Amytis, putri Kiyaksares, raja orang Media. Berossus menulis bahwa '[Nabopolassar] mengirim pasukan untuk membantu Astyages, kepala suku dan satrap orang Media untuk mendapatkan seorang putri Astyages, Amyitis, sebagai istri bagi putranya [Nebukadnezar]'. Meskipun sejarawan Yunani kuno Ktesias justru menulis bahwa Amytis adalah nama putri Astyages yang telah menikah dengan Kirus I dari Persia, tampaknya lebih mungkin bahwa seorang putri Media akan menikah dengan anggota keluarga kerajaan Babilonia, mengingat hubungan baik yang terjalin antara keduanya selama masa pemerintahan Nabopolassar.[49]
Mengingat bahwa Astyages masih terlalu muda selama masa pemerintahan Nabopolassar untuk memiliki anak, dan belum menjadi raja, tampaknya lebih mungkin bahwa Amytis adalah saudara perempuan Astyages, dan dengan demikian putri dari pendahulunya, Kiyaksares.[88] Dengan menikahkan putranya dengan putri Kiyaksares, ayah Nebukadnezar, Nabopolassar, kemungkinan berusaha untuk mempererat persekutuan antara orang Babilonia dan orang Media.[89]
Menurut tradisi, Nebukadnezar membangun Taman Gantung Babilonia, salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, yang menampilkan semak-semak eksotis, tanaman merambat, dan pohon-pohon serta bukit-bukit buatan, aliran air, dan gundukan tanah, agar Amytis tidak terlalu merindukan pegunungan Media. Belum ada bukti arkeologis untuk taman-taman ini yang ditemukan.[90]
Nebukadnezar memiliki enam putra yang diketahui.[91] Sebagian besar dari putra-putra tersebut,[92] dengan pengecualian Marduk-nadin-ahi[86] dan Eanna-sharra-usur,[93] terbukti keberadaannya sangat lambat dalam masa pemerintahan ayah mereka. Ada kemungkinan bahwa mereka adalah hasil dari pernikahan kedua dan bahwa mereka bisa saja lahir relatif lambat dalam masa pemerintahan Nebukadnezar, kemungkinan setelah putri-putrinya yang diketahui.[92] Putra-putra Nebukadnezar yang diketahui adalah:

- Marduk-nadin-ahi (bahasa Akkadia: Marduk-nādin-aḫi)[92] – yang paling awal terbukti keberadaannya di antara anak-anak Nebukadnezar, terbukti dalam dokumen hukum, kemungkinan sebagai orang dewasa karena ia digambarkan mengelola lahannya sendiri, sudah sejak tahun ketiga Nebukadnezar sebagai raja (602/601 SM). Diduga sebagai putra sulung Nebukadnezar, jika bukan anak tertua, dan dengan demikian ahli warisnya yang sah.[94] Ia juga terbukti keberadaannya sangat lambat dalam masa pemerintahan Nebukadnezar, dinamai sebagai "pangeran kerajaan" dalam dokumen yang mencatat pembelian buah kurma oleh Sin-mār-šarri-uṣur, pelayannya, pada tahun 563 SM.[93][86]
- Eanna-sharra-usur (bahasa Akkadia: Eanna-šarra-uṣur)[93] – dinamai sebagai "pangeran kerajaan" di antara enam belas orang dalam sebuah dokumen di Uruk dari tahun 587 SM yang dicatat menerima jelai "untuk orang sakit".[93]
- Amel-Marduk (bahasa Akkadia: Amēl-Marduk),[82] awalnya bernama Nabu-shum-ukin (Nabû-šum-ukīn)[82] – menggantikan Nebukadnezar sebagai raja pada tahun 562 SM. Masa pemerintahannya diwarnai dengan intrik dan ia hanya memerintah selama dua tahun sebelum dibunuh dan takhtanya direbut oleh saudara iparnya, Neriglissar. Sumber-sumber Babilonia belakangan sebagian besar mengkritik masa pemerintahannya.[91][95] Amel-Marduk pertama kali terbukti keberadaannya, terutama sebagai putra mahkota, dalam sebuah dokumen tahun 566 SM.[96] Mengingat bahwa Amel-Marduk memiliki kakak laki-laki, Marduk-nadin-ahi, yang masih hidup hingga akhir tahun 563 SM, mengapa ia dinamai putra mahkota menjadi tidak jelas.[97]
- Marduk-shum-usur (bahasa Akkadia: Marduk-šum-uṣur[92] atau Marduk-šuma-uṣur)[93] – dinamai sebagai "pangeran kerajaan" dalam dokumen-dokumen dari tahun 564 SM dan 562 SM dari masa pemerintahan Nebukadnezar, yang mencatat pembayaran oleh juru tulisnya ke kuil Ebabbar di Sippar.[93]
- Mushezib-Marduk (bahasa Akkadia: Mušēzib-Marduk)[92] – dinamai sebagai "pangeran kerajaan" sekali dalam lauh kontrak dari tahun 563 SM.[93]
- Marduk-nadin-shumi (bahasa Akkadia: Marduk-nādin-šumi)[93] – dinamai sebagai "pangeran kerajaan" sekali dalam lauh kontrak dari tahun 563 SM.[93]
Tiga dari putri Nebukadnezar diketahui namanya:[33]
- Kashshaya (bahasa Akkadia: Kaššaya)[98] – terbukti keberadaannya dalam beberapa dokumen ekonomi dari masa pemerintahan Nebukadnezar sebagai "putri raja".[99] Namanya berasal dari asal-usul yang tidak jelas; nama tersebut mungkin diturunkan dari kata kaššû (orang Kassit).[100] Kashshaya terbukti keberadaannya dari teks-teks kontemporer sebagai penduduk (dan pemilik tanah di) Uruk.[33] Kashshaya biasanya, meskipun secara spekulatif, diidentifikasi sebagai putri Nebukadnezar yang menikah dengan Neriglissar.[92][101]
- Innin-etirat (bahasa Akkadia: Innin-ēṭirat)[102] – terbukti keberadaannya sebagai "putri raja" dalam sebuah dokumen tahun 564 SM yang mencatat pemberian status mār-banûtu[102] ("status orang merdeka")[103] kepada seorang budak bernama Nabû-mukkê-elip.[102] Dokumen yang dimaksud ditulis di Babilonia, tetapi nama-nama yang mencakup awalan ilahi Innin hampir hanya ada di Uruk, menunjukkan bahwa ia adalah penduduk kota tersebut.[33]
- Ba'u-asitu (bahasa Akkadia: Ba'u-asītu)[102] – terbukti keberadaannya sebagai pemilik sebidang tanah dalam sebuah dokumen ekonomi. Pembacaan dan makna yang tepat dari namanya agak tidak jelas. Paul-Alain Beaulieu, yang pada tahun 1998 menerbitkan terjemahan teks yang mengonfirmasi keberadaannya, percaya bahwa namanya paling baik diartikan sebagai "Ba'u adalah seorang tabib".[104] Dokumen tersebut ditulis di Uruk, tempat Ba'u-asitu diduga pernah tinggal.[33]
Ada kemungkinan bahwa salah satu putri Nebukadnezar menikah dengan pejabat tinggi Nabonidus,[105] meskipun tidak ada bukti untuk hal ini.[106] Pernikahan dengan putri Nebukadnezar dapat menjelaskan bagaimana Nabonidus dapat menjadi raja, dan juga menjelaskan mengapa tradisi-tradisi belakangan tertentu, seperti Kitab Daniel dalam Alkitab, menggambarkan putra Nabonidus, Belsyazar, sebagai putra (keturunan) Nebukadnezar.[105][107] Sebagai alternatif, tradisi-tradisi belakangan ini mungkin berasal dari propaganda kerajaan.[108]
Sejarawan Yunani kuno Herodotus menyebut nama "ratu agung terakhir" dari Kekaisaran Babilonia sebagai "Nitokris", meskipun nama itu, maupun nama lainnya, tidak terbukti keberadaannya dalam sumber-sumber Babilonia kontemporer. Deskripsi Herodotus tentang Nitokris berisi banyak materi legendaris yang membuatnya sulit untuk menentukan apakah ia menggunakan nama tersebut untuk merujuk pada istri atau ibu Nabonidus. Pada tahun 1982, William H. Shea mengusulkan bahwa Nitokris untuk sementara dapat diidentifikasi sebagai nama istri Nabonidus dan ibu Belsyazar.[109]
Warisan
Penilaian oleh sejarawan
Karena kelangkaan sumber, penilaian oleh para sejarawan mengenai karakter Nebukadnezar dan sifat masa pemerintahannya sangat bervariasi dari waktu ke waktu.[110] Ia biasanya dianggap sebagai raja terbesar dan paling bergengsi dari Kekaisaran Neo-Babilonia.[10][13][14]
Karena aktivitas militer bukanlah hal utama yang dijelaskan dalam prasasti raja Kekaisaran Neo-Babilonia mana pun terlepas dari pencapaian militer mereka yang sebenarnya, berbanding terbalik dengan prasasti dari para pendahulu Neo-Asyur mereka, prasasti Nebukadnezar sendiri mencatat sangat sedikit hal tentang perang-perangnya. Dari sekitar lima puluh prasasti yang diketahui dari sang raja, hanya satu prasasti yang membahas tindakan militer, dan dalam hal ini hanya konflik berskala kecil di wilayah Lebanon. Oleh karena itu, banyak pakar Asyriologi, seperti Wolfram von Soden pada tahun 1954, awalnya menganggap bahwa Nebukadnezar terutama adalah seorang raja pembangun, yang mencurahkan energi dan upayanya untuk membangun dan memugar negaranya.[110]
Perubahan besar dalam penilaian terhadap Nebukadnezar terjadi dengan diterbitkannya lauh-lauh Tawarikh Babilonia oleh Donald Wiseman pada tahun 1956, yang mencakup peristiwa-peristiwa geopolitik dari sebelas tahun pertama Nebukadnezar sebagai raja. Sejak penerbitan lauh-lauh ini dan seterusnya, para sejarawan beralih memandang Nebukadnezar sebagai seorang prajurit hebat, yang memberikan perhatian khusus pada pencapaian militer dalam masa pemerintahannya.[110]
Menurut sejarawan Josette Elayi, yang menulis pada tahun 2018, Nebukadnezar agak sulit dikarakterisasi karena kelangkaan materi sumber Babilonia. Elayi menulis tentang Nebukadnezar bahwa "[i]a adalah seorang penakluk, meskipun ada keraguan mengenai kemampuan militernya. Tidak ada kekurangan kualitas negarawan, mengingat keberhasilannya dalam membangun Kekaisaran Babilonia. Ia adalah seorang pembangun besar, yang memugar negara yang telah lama hancur akibat perang. Kurang lebih hanya itulah yang kita ketahui tentang dirinya karena Tawarikh Babilonia dan teks-teks lainnya berbicara sedikit tentang kepribadiannya."[14]
Dalam tradisi Yahudi dan Alkitab

Pembuangan Babilonia yang dimulai oleh Nebukadnezar berakhir dengan jatuhnya Babilonia ke tangan raja Akhemeniyah Kirus Agung pada tahun 539 SM. Dalam kurun waktu satu tahun setelah pembebasan mereka, beberapa orang Yahudi yang terbuang kembali ke tanah air mereka. Pembebasan mereka tidak banyak menghapus ingatan akan lima dekade penjara dan penindasan. Sebaliknya, catatan-catatan literatur Yahudi memastikan bahwa kisah-kisah kesulitan yang dialami oleh orang Yahudi, serta penguasa yang bertanggung jawab atas hal itu, akan dikenang sepanjang masa.[8] Kitab Yeremia menyebut Nebukadnezar sebagai "singa" dan "penghancur bangsa-bangsa".[111]
Kisah Nebukadnezar pun masuk ke dalam Perjanjian Lama di Alkitab.[8] Alkitab mengisahkan bagaimana Nebukadnezar menghancurkan Kerajaan Yehuda, mengepung, menjarah, dan menghancurkan Yerusalem, serta bagaimana ia membawa orang-orang Yahudi ke dalam pembuangan, menggambarkannya sebagai musuh yang kejam bagi orang Yahudi.[112] Alkitab juga menggambarkan Nebukadnezar sebagai penguasa sah pada masa itu atas seluruh bangsa di dunia, yang diangkat untuk memerintah dunia oleh Allah. Dengan demikian, Yehuda, melalui ketetapan ilahi, seharusnya mematuhi Nebukadnezar dan tidak memberontak. Nebukadnezar juga digambarkan melaksanakan hukuman mati yang diucapkan oleh Allah, membunuh dua nabi palsu. Kampanye penaklukan Nebukadnezar terhadap bangsa-bangsa lain digambarkan sejalan dengan kehendak Allah untuk dominasi Nebukadnezar.[113]
Nebukadnezar dirujuk tiga kali dalam Kitab Yeremia menggunakan julukan 'hambaku' [hamba Allah] – sebuah gelar yang biasanya terbatas pada beberapa tokoh yang digambarkan paling positif, seperti Yakub dan Daud. Klaas A. D. Smelik mencatat pada tahun 2004 bahwa "dalam Alkitab Ibrani, tidak ada kelompok yang lebih baik yang dapat dibayangkan selain mereka; pada saat yang sama, tidak ada kandidat yang lebih kecil kemungkinannya untuk gelar kehormatan ini daripada raja Babilonia Nebukadnezar".[114]
Ada kemungkinan bahwa julukan tersebut merupakan tambahan belakangan, karena tidak ada dalam versi Septuaginta Perjanjian Lama, mungkin ditambahkan setelah Nebukadnezar mulai dipandang dalam sudut pandang yang sedikit lebih menguntungkan daripada segera setelah penghancuran Yerusalem.[115] Sebagai alternatif, penjelasan teologis yang mungkin mencakup Nebukadnezar dipandang, terlepas dari kekejamannya, sebagai alat dalam memenuhi rencana universal Allah; atau mungkin bahwa menetapkannya sebagai "hamba" Allah adalah untuk menunjukkan bahwa pembaca tidak boleh takut kepada Nebukadnezar, melainkan kepada tuannya yang sebenarnya, yaitu Allah.[116]

Dalam Kitab Daniel, yang secara luas dianggap oleh para sarjana sebagai karya fiksi sejarah,[117][118][119][120] sosok Nebukadnezar sangat berbeda dari penggambarannya dalam Kitab Yeremia. Sebagian besar ia digambarkan sebagai penguasa yang tidak kenal ampun dan despotik. Sang raja bermimpi buruk, dan meminta orang-orang bijaknya, termasuk Daniel dan tiga temannya Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, untuk menafsirkan mimpi itu, tetapi menolak untuk menyatakan isi mimpi tersebut. Ketika para hamba memprotes, Nebukadnezar menjatuhkan hukuman mati kepada mereka semua, termasuk Daniel dan teman-temannya.[121]
Pada akhir cerita, ketika Daniel telah berhasil menafsirkan mimpi tersebut, Nebukadnezar menunjukkan rasa terima kasih yang besar, membanjiri Daniel dengan hadiah, mengangkatnya sebagai gubernur "provinsi Babilonia" dan menjadikannya kepala dari orang-orang bijak di kerajaan itu. Cerita kedua kembali menampilkan Nebukadnezar sebagai raja yang tirani dan kafir, yang, setelah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak untuk menyembah patung emas yang baru didirikan, menghukum mati mereka dengan dilemparkan ke dalam dapur api yang menyala-nyala. Mereka diselamatkan secara ajaib, dan Nebukadnezar kemudian mengakui Allah sebagai "tuan dari segala raja" dan "Allah dari segala allah".[121]
Meskipun Nebukadnezar juga disebutkan mengakui Allah orang Ibrani sebagai Allah yang sejati dalam pasal-pasal lain dari Kitab Daniel, terlihat jelas bahwa dugaan perpindahan keyakinannya ke Yudaisme tidak mengubah karakternya yang keras, mengingat ia mengumumkan bahwa siapa saja yang berbicara salah tentang Allah "akan dipenggal-penggal dan rumah mereka akan dijadikan timbunan kotoran". Dalam cerita ketiga, Daniel menafsirkan mimpi lain yang berarti bahwa Nebukadnezar akan kehilangan akal sehatnya dan hidup seperti binatang selama tujuh tahun sebelum dipulihkan ke keadaannya yang normal (Daniel 1-4).[121] Nebukadnezar dalam Kitab Daniel, seorang tiran yang plin-plan yang tidak konsisten dalam imannya, berlawanan dengan "hamba Allah" yang tipikal dalam kitab-kitab Alkitab lainnya.[122]

Mengingat Nebukadnezar dirujuk sebagai ayah Belsyazar dalam Kitab Daniel, ada kemungkinan bahwa penggambaran Nebukadnezar ini, terutama cerita tentang kegilaannya, sebenarnya didasarkan pada ayah Belsyazar yang sebenarnya, Nabonidus, raja terakhir Kekaisaran Neo-Babilonia (m. 556–539 SM). Tradisi Yahudi dan Helenistik yang terpisah ada mengenai Nabonidus yang pernah gila,[123] dan ada kemungkinan bahwa kegilaan ini hanya diatribusikan kembali kepada Nebukadnezar dalam Kitab Daniel melalui konflasi.[124][125]
Beberapa tradisi belakangan mengacaukan Nebukadnezar dengan penguasa-penguasa lain juga, seperti penguasa Asyur Asyurbanipal (m. 669–631 SM), penguasa Persia Artahsasta III (m. 358–338 SM), penguasa Seleukia Antiokhos IV Epifanes (m. 175–164 SM) dan Demetrios I Soter (m. 161–150 SM), serta penguasa Armenia Tigranes Agung (m. 95–55 SM).[126] Kitab Yudit apokrifa, yang kemungkinan menerapkan nama "Nebukadnezar" pada Tigranes Agung dari Armenia, merujuk Nebukadnezar sebagai "raja orang Asyur", bukannya orang Babilonia, dan menunjukkan bahwa Nebukadnezar masih dipandang sebagai raja yang jahat, yang bertanggung jawab atas penghancuran Yerusalem, penjarahan bait sucinya, penyanderaan orang-orang Yahudi di Babilonia, dan atas berbagai kejahatan yang diatribusikan kepadanya dalam tulisan-tulisan Yahudi belakangan.[127]
Lainnya
Nebukadnezar dirujuk sebagai Buḫt Nuṣṣur (بخت نصر) dalam karya-karya cendekiawan abad pertengahan al-Ṭabarī, di mana ia dikreditkan menaklukkan Mesir, Suriah, Fenisia, dan Arabia. Nebukadnezar historis tidak pernah menaklukkan Mesir, dan tampaknya al-Ṭabarī mengalihkan pencapaian raja Asyur Esarhadon (m. 681–669) kepadanya.[128] Dengan cara serupa Strabo, dengan mengutip Megasthenes, menyebutkan dalam daftar penakluk mitis dan semi-legendaris seorang Nabocodrosor yang pernah memimpin pasukan ke Pilar-Pilar Herkules dan dihormati oleh orang-orang Kasdim.[129]
Gelar
Dalam sebagian besar prasastinya, Nebukadnezar biasanya hanya digelari sebagai "Nebukadnezar, raja Babilonia, putra Nabopolassar, raja Babilonia" atau "Nebukadnezar, raja Babilonia, yang memelihara Esagil dan Ezida, putra Nabopolassar, raja Babilonia".[130] Dalam dokumen-dokumen ekonomi, Nebukadnezar juga diberi gelar kuno "raja Semesta Alam",[131] dan ia terkadang juga menggunakan gelar "raja Sumeria dan Akkad", yang digunakan oleh semua raja Neo-Babilonia.[132] Beberapa prasasti memberi Nebukadnezar versi gelar yang lebih terperinci, termasuk varian berikut, yang terbukti dalam sebuah prasasti dari Babilonia:[130]
Nebukadnezar, raja Babilonia, pangeran yang saleh, kesayangan dewa Marduk, penguasa agung yang dikasihi dewa Nabû, orang yang mempertimbangkan (dan) memperoleh hikmat, orang yang senantiasa mencari jalan keilahian mereka (dan) menghormati kekuasaan mereka, gubernur tak kenal lelah yang memperhatikan penyediaan pasokan Esagil dan Ezida setiap hari dan (yang) senantiasa mencari hal-hal baik untuk Babilonia dan Borsippa, orang yang bijaksana (dan) saleh yang memelihara Esagil dan Ezida, ahli waris utama Nabopolassar, raja Babilonia, adalah aku.[130]
Lihat pula
- Daftar tokoh Alkitab yang diidentifikasi dalam sumber ekstra-Alkitab
- Nebukadnezar (Blake) – lukisan terkenal abad ke-19 yang menggambarkan kisah Alkitab tentang kegilaan Nebukadnezar
- Nabucco – opera abad ke-19 karya Giuseppe Verdi yang secara longgar didasarkan pada kisah Alkitab tentang Nebukadnezar
- Prisma Nebukadnezar II
Catatan
- ↑ Karena prasasti pada stela tersebut ditulis oleh Nebukadnezar, ia tanpa keraguan adalah raja yang digambarkan di dalamnya. Stela ini merupakan satu dari hanya empat penggambaran kontemporer yang pasti mengenai Nebukadnezar yang diketahui, sementara tiga lainnya berupa ukiran pada dinding tebing di Lebanon dengan kondisi yang jauh lebih buruk daripada penggambaran pada stela ini. Ziggurat Etemenanki diduga menjadi inspirasi bagi Menara Babel dalam Alkitab, sehingga dinamai 'prasasti Menara Babel'.[1]
- ↑ Nebukadnezar diangkat menjadi imam agung kuil Eanna di Uruk oleh ayahnya pada tahun 626/625 SM.[4][5] Ia diperkirakan diangkat menjadi imam agung pada usia yang sangat muda, mengingat kematiannya terjadi lebih dari enam puluh tahun kemudian.[6] Tidak diketahui pada usia berapa orang Babilonia memenuhi syarat untuk menjadi imam, tetapi terdapat catatan mengenai imam-imam Babilonia yang baru ditahbiskan berusia 15 atau 16 tahun.[7]
- ↑ Ini adalah ejaan Ibrani dalam 13 kasus; dalam 13 kasus lainnya, ejaan Ibrani berupa salah satu dari berikut:
- נְבֻכַדְנֶאצַּר, Nəḇuḵaḏneʾṣṣar − dengan בֻ ḇu sebagai pengganti בוּ ḇū, dalam 2 Raja-Raja 24:1, 24:10, 25:1, 25:8, 1 Tawarikh 5:41 (alias 6:15), serta Yeremia 28:11 dan 28:14;
- נְבוּכַדְנֶצַּר, Nəḇūḵaḏneṣṣar – tanpa א ʾ (seperti ejaan Aram yang lazim), dalam Ezra 1:7 dan Nehemia 7:6;
- נְבֻכַדְנֶצַּר, Nəḇuḵaḏneṣṣar – dengan בֻ sebagai pengganti בוּ dan tanpa א (seperti ejaan Aram yang digunakan dalam Daniel 3:14, 5:11, dan 5:18), dalam Daniel 1:18 dan 2:1;
- נְבוּכַדְנֶצּוֹר, Nəḇūḵaḏneṣṣōr – tanpa א dan dengan צּוֹ (ṣ)ṣō sebagai pengganti צַּ (ṣ)ṣa, dalam Ezra 2:1;
- נְבוּכַדנֶאצַּר, Nəḇūḵaḏneʾṣṣar – tanpa sywa quiescens, dalam Yeremia 28:3 dan Ester 2:6.
- ↑ /ˌnɛbjʊkədˈnɛzər/ NEB-yuu-kəd-NEZ-ər; Neo-Babylonian Akkadian: 𒀭𒀝𒃻𒁺𒋀, alih aksara: Nabû-kudurri-uṣur;[8][9] Biblical Hebrew: נְבוּכַדְנֶאצַּר, alih aksara: Nəḇūḵaḏneʾṣṣar[c]
- ↑ "Akkad" di sini merujuk pada Babilonia[43] dan berasal dari nama kota Akkad, ibu kota Kekaisaran Akkadia kuno yang diusahakan oleh Nabopolassar untuk dihubungkan dengan dirinya.[22] "Raja Akkad" yang dirujuk di sini adalah Nabopolassar.[34]
- ↑ Kata yang diterjemahkan sebagai 'saudara yang setara', talīmu, juga secara alternatif diterjemahkan sebagai 'saudara terpilih', 'saudara dekat', atau 'saudara tersayang'. Terlepas dari interpretasi yang tepat, julukan tersebut dengan jelas mengilustrasikan kasih sayang yang besar dari Nabopolassar kepada putra keduanya. Kasih sayang publik semacam itu yang diberikan kepada saudara ahli waris takhta berkali-kali menyebabkan konflik dan perebutan takhta di kemudian hari.[50]
Referensi
Kutipan
- ↑ George 2011, hlm. 153–154.
- 1 2 Parker & Dubberstein 1942, hlm. 10.
- 1 2 Lipschits 2005, hlm. 35.
- 1 2 3 4 5 Jursa 2007, hlm. 127–134.
- 1 2 Popova 2015, hlm. 402.
- 1 2 Popova 2015, hlm. 403.
- ↑ Waerzeggers & Jursa 2008, hlm. 9.
- 1 2 3 4 5 Sack 2004, hlm. 1.
- ↑ Porten, Zadok & Pearce 2016, hlm. 4.
- 1 2 3 4 Saggs 1998.
- ↑ Wallis Budge 1884, hlm. 116.
- ↑ Sack 2004, hlm. 41.
- 1 2 3 4 Mark 2018.
- 1 2 3 4 5 6 Elayi 2018, hlm. 190.
- ↑ Darvill, Timothy (1 Januari 2009), "Nebuchadnezzar", The Concise Oxford Dictionary of Archaeology (dalam bahasa Inggris), Oxford University Press, doi:10.1093/acref/9780199534043.001.0001, ISBN 978-0-19-953404-3, diakses tanggal 27 Januari 2025
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Sack 1978, hlm. 129.
- 1 2 Sack 2004, hlm. 9.
- ↑ Sack 2004, hlm. x.
- ↑ Wiseman 1983, hlm. 3.
- 1 2 Wiseman 1983, hlm. 2–3.
- 1 2 Sack 2004, hlm. 2.
- 1 2 3 Nielsen 2015, hlm. 61–62.
- ↑ Jursa 2007, hlm. 127–133.
- ↑ Wiseman 1983, hlm. 5.
- 1 2 3 Sack 2004, hlm. 8.
- ↑ Beaulieu 1989, hlm. xiii.
- 1 2 Beaulieu 2016, hlm. 4.
- ↑ Johnston 1901, hlm. 20.
- 1 2 3 Bedford 2016, hlm. 56.
- ↑ The British Museum 1908, hlm. 10.
- ↑ Melville 2011, hlm. 16.
- ↑ Da Riva 2017, hlm. 78.
- 1 2 3 4 5 Beaulieu 1998, hlm. 198.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Ephʿal 2003, hlm. 179.
- ↑ Melville 2011, hlm. 20.
- ↑ Radner 2019, hlm. 141.
- ↑ Lipschits 2005, hlm. 16.
- ↑ Rowton 1951, hlm. 128.
- 1 2 Sack 2004, hlm. 7.
- 1 2 Wiseman 1991, hlm. 182.
- ↑ Lipschits 2005, hlm. 20.
- 1 2 3 Wiseman 1991, hlm. 230.
- ↑ Da Riva 2017, hlm. 77.
- ↑ Wiseman 1991, hlm. 183.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Ephʿal 2003, hlm. 180.
- ↑ Parker & Dubberstein 1942, hlm. 9.
- 1 2 3 4 5 Olmstead 1925, hlm. 35.
- 1 2 Wiseman 1983, hlm. 7.
- 1 2 Wiseman 1983, hlm. 8.
- ↑ Ayali-Darshan 2012, hlm. 26–27.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Beaulieu 2018, hlm. 228.
- ↑ Da Riva 2013, hlm. 198.
- 1 2 3 Ephʿal 2003, hlm. 180–181.
- ↑ Elayi 2018, hlm. 191.
- 1 2 Ephʿal 2003, hlm. 181.
- ↑ "Bible Gateway passage: Jeremiah 27:1-7 - New International Version". Bible Gateway (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Oktober 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ephʿal 2003, hlm. 181–183.
- ↑ Elayi 2018, hlm. 192.
- 1 2 3 4 5 Ephʿal 2003, hlm. 183.
- 1 2 Elayi 2018, hlm. 195.
- ↑ al-Nahar, Maysoun (11 Juni 2014). "The Iron Age and the Persian Period (1200–332 BC)". Dalam Ababsa, Myriam (ed.). Atlas of Jordan. Contemporain publications. Presses de l'Ifpo. hlm. 126–130. ISBN 9782351594384. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Juni 2018. Diakses tanggal 16 Juni 2018.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 Beaulieu 2018, hlm. 229.
- 1 2 3 Elayi 2018, hlm. 196.
- ↑ Ephʿal 2003, hlm. 184.
- 1 2 Ephʿal 2003, hlm. 186.
- ↑ Kahn 2018, hlm. 72–73.
- 1 2 Ephʿal 2003, hlm. 187.
- ↑ Elayi 2018, hlm. 200.
- 1 2 3 Ephʿal 2003, hlm. 187–188.
- ↑ Elayi 2018, hlm. 201.
- ↑ Kahn 2018, hlm. 77.
- ↑ The Elephantine Stela of Amasis
- ↑ The Chronicles of the Babylonian Kings, Nbk 329.
- ↑ Ephʿal 2003, hlm. 189.
- ↑ Porter 1993, hlm. 66.
- 1 2 3 4 Beaulieu 2018, hlm. 230.
- ↑ Baker 2012, hlm. 924.
- 1 2 Baker 2012, hlm. 925.
- ↑ Beaulieu 2018, hlm. 230–231.
- 1 2 Beaulieu 2018, hlm. 232.
- ↑ Baker 2012, hlm. 926.
- 1 2 3 4 Weiershäuser & Novotny 2020, hlm. 1.
- ↑ Nielsen 2015, hlm. 63.
- 1 2 Ayali-Darshan 2012, hlm. 26.
- 1 2 Ayali-Darshan 2012, hlm. 27.
- 1 2 3 Abraham 2012, hlm. 124.
- ↑ Ayali-Darshan 2012, hlm. 29.
- ↑ Lendering 1995.
- ↑ Wiseman 1991, hlm. 229.
- ↑ Polinger Foster 1998, hlm. 322.
- 1 2 Wiseman 1983, hlm. 9–10.
- 1 2 3 4 5 6 Beaulieu 1998, hlm. 200.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Wiseman 1983, hlm. 10.
- ↑ Abraham 2012, hlm. 124–125.
- ↑ Beaulieu 1998, hlm. 199.
- ↑ Popova 2015, hlm. 405.
- ↑ Abraham 2012, hlm. 125.
- ↑ Beaulieu 1998, hlm. 173.
- ↑ Beaulieu 1998, hlm. 173–174.
- ↑ Beaulieu 1998, hlm. 181.
- ↑ Wiseman 1991, hlm. 241.
- 1 2 3 4 Beaulieu 1998, hlm. 174.
- ↑ Botta 2009, hlm. 33.
- ↑ Beaulieu 1998, hlm. 174–175.
- 1 2 Wiseman 1983, hlm. 11.
- ↑ Collins 1993, hlm. 32.
- ↑ Wiseman 1991, hlm. 244.
- ↑ Chavalas 2000, hlm. 164.
- ↑ Shea 1982, hlm. 137–138.
- 1 2 3 Ephʿal 2003, hlm. 178.
- ↑ Shapiro 1982, hlm. 328.
- ↑ Smelik 2014, hlm. 110.
- ↑ Smelik 2014, hlm. 123–124.
- ↑ Smelik 2014, hlm. 110–12.
- ↑ Smelik 2014, hlm. 118–20.
- ↑ Smelik 2014, hlm. 133.
- ↑ Laughlin 1990, hlm. 95.
- ↑ Seow 2003, hlm. 4–6.
- ↑ Collins 2002, hlm. 2.
- ↑ Redditt 2008, hlm. 180.
- 1 2 3 Smelik 2014, hlm. 127–29.
- ↑ Smelik 2014, hlm. 129.
- ↑ Sack 1983, hlm. 63.
- ↑ Beaulieu 2007, hlm. 137.
- ↑ Henze 1999, hlm. 63.
- ↑ Boccaccini 2012, hlm. 56.
- ↑ Boccaccini 2012, hlm. 63–65.
- ↑ Retsö, Jan (2013). The Arabs in Antiquity: Their History from the Assyrians to the Umayyads. London, UK; New York City, US: Routledge. hlm. 187–89. ISBN 978-1-136-87289-1 – via Archive.
- ↑ Strabo, Geografi, 15.1.6
- 1 2 3 Babylonian royal inscriptions.
- ↑ Stevens 2014, hlm. 73.
- ↑ Da Riva 2013, hlm. 72.
Bibliografi
- Abraham, Kathleen (2012). "A Unique Bilingual and Biliteral Artifact from the Time of Nebuchadnezzar II in the Moussaieff Private Collection". Dalam Lubetski, Meir; Lubetski, Edith (ed.). New Inscriptions and Seals Relating to the Biblical World. Atlanta: Society of Biblical Literature. ISBN 978-1589835566.
- Ayali-Darshan, Noga (2012). "A Redundancy in Nebuchadnezzar 15 and Its Literary Historical Significance". JANES. 32: 21–29.
- Baker, Heather D. (2012). "The Neo-Babylonian Empire". Dalam Potts, D. T. (ed.). A Companion to the Archaeology of the Ancient Near East. Blackwell Publishing Ltd. hlm. 914–930. doi:10.1002/9781444360790.ch49. ISBN 9781405189880.
- Beaulieu, Paul-Alain (1989). Reign of Nabonidus, King of Babylon (556-539 BC). Yale University Press. doi:10.2307/j.ctt2250wnt. ISBN 9780300043143. JSTOR j.ctt2250wnt. OCLC 20391775.
- Beaulieu, Paul-Alain (1998). "Ba'u-asītu and Kaššaya, Daughters of Nebuchadnezzar II". Orientalia. 67 (2): 173–201. JSTOR 43076387.
- Beaulieu, Paul-Alain (2007). "Nabonidus the Mad King: A Reconsideration of His Steles from Harran and Babylon". Dalam Heinz, Marlies; Feldman, Marian H. (ed.). Representations of Political Power: Case Histories from Times of Change and Dissolving Order in the Ancient Near East. Eisenbrauns. ISBN 978-1575061351.
- Beaulieu, Paul-Alain (2016). "Neo-Babylonian (Chaldean) Empire". The Encyclopedia of Empire. John Wiley & Sons, Ltd. hlm. 1–5. doi:10.1002/9781118455074.wbeoe220. ISBN 978-1118455074.
- Beaulieu, Paul-Alain (2018). A History of Babylon, 2200 BC - AD 75. Pondicherry: Wiley. ISBN 978-1405188999.
- Bedford, Peter R. (2016). "Assyria's Demise as Recompense: A Note on Narratives of Resistance in Babylonia and Judah". Dalam Collins, John J.; Manning, J. G. (ed.). Revolt and Resistance in the Ancient Classical World and the Near East: In the Crucible of Empire. Brill Publishers. ISBN 978-9004330184.
- Boccaccini, Gabriele (2012). "Tigranes the Great as "Nebuchadnezzar" in the Book of Judith". Dalam Xeravits, Géza G. (ed.). A Pious Seductress: Studies in the Book of Judith. Göttingen: Walter de Gruyter. ISBN 978-3110279986.
- Botta, Alejandro F. (2009). The Aramaic and Egyptian Legal Traditions at Elephantine: An Egyptological Approach. T&T Clark International. ISBN 978-0567045331.
- Chavalas, Mark W. (2000). "Belshazzar". Dalam Freedman, David Noel; Myers, Allen C. (ed.). Eerdmans Dictionary of the Bible. Eerdmans. ISBN 978-9053565032.
- Collins, John J. (1993). Cross, Frank Moore (ed.). Daniel: A commentary on the Book of Daniel. Minneapolis: Fortress Press. doi:10.2307/j.ctvb936s4. ISBN 0-8006-6040-4. JSTOR j.ctvb936s4.
- Collins, John J. (2002). "Current Issues in the Study of Daniel". Dalam Collins, John J.; Flint, Peter W.; VanEpps, Cameron (ed.). The Book of Daniel: Composition and Reception. Vol. I. BRILL. ISBN 978-0391041271.
- Elayi, Josette (2018). The History of Phoenicia. Lockwood Press. doi:10.2307/j.ctv11wjrh. ISBN 978-1937040819. JSTOR j.ctv11wjrh. S2CID 198105413.
- Ephʿal, Israel (2003). "Nebuchadnezzar the Warrior: Remarks on his Military Achievements". Israel Exploration Journal. 53 (2): 178–191. JSTOR 27927044.
- Da Riva, Rocio (2013). "Nebuchadnezzar II's Prism (EŞ 7834): A New Edition". Zeitschrift für Assyriologie. 103 (2): 196–229. doi:10.1515/za-2013-0005. S2CID 163482606.
- Da Riva, Rocio (2017). "The Figure of Nabopolassar in Late Achaemenid and Hellenistic Historiographic Tradition: BM 34793 and CUA 90". Journal of Near Eastern Studies. 76 (1): 75–92. doi:10.1086/690464. S2CID 222433095.
- George, Andrew R. (2011). "A Stele of Nebuchadnezzar II". CUSAS. 17: 153–169.
- Henze, Matthias (1999). The Madness of King Nebuchadnezzar: The Ancient Near Eastern Origins and Early History of Interpretation of Daniel 4. Leiden: BRILL. ISBN 978-9004114210.
- Johnston, Christopher (1901). "The Fall of Nineveh". Journal of the American Oriental Society. 22: 20–22. doi:10.2307/592409. JSTOR 592409.
- Jursa, Michael (2007). "Die Söhne Kudurrus und die Herkunft der neubabylonischen Dynastie" [The Sons of Kudurru and the Origins of the New Babylonian Dynasty]. Revue d'assyriologie et d'archéologie orientale (dalam bahasa German). 101 (1): 125–136. doi:10.3917/assy.101.0125.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - Kahn, Dan’el (2018). "Nebuchadnezzar and Egypt: An Update on the Egyptian Monuments". Hebrew Bible and Ancient Israel. 7 (1): 65–78. doi:10.1628/hebai-2018-0005. S2CID 188600999.
- Laughlin, John C. (1990). "Belshazzar". Dalam Mills, Watson E.; Bullard, Roger Aubrey (ed.). Mercer Dictionary of the Bible. Mercer University Press. ISBN 9780865543737.
- Lipschits, Oled (2005). The Fall and Rise of Jerusalem: Judah under Babylonian Rule. Eisenbrauns. ISBN 978-1575060958.
- Melville, Sarah C. (2011). "The Last Campaign: the Assyrian Way of War and the Collapse of the Empire". Dalam Lee, Wayne E. (ed.). Warfare and Culture in World History. New York: New York University Press. ISBN 978-0814752784.
- Nielsen, John P. (2015). ""I Overwhelmed the King of Elam": Remembering Nebuchadnezzar I in Persian Babylonia". Dalam Silverman, Jason M.; Waerzeggers, Caroline (ed.). Political Memory in and After the Persian Empire. SBL Press. ISBN 978-0884140894.
- Olmstead, A. T. (1925). "The Chaldaean Dynasty". Hebrew Union College Annual. 2: 29–55. JSTOR 23502505.
- Parker, Richard A.; Dubberstein, Waldo H. (1942). Babylonian Chronology 626 B.C. – A.D. 45 (PDF). Chicago: The University of Chicago Press. OCLC 2600410.
- Polinger Foster, Karen (1998). "Gardens of Eden: Exotic Flora and Fauna in the Ancient Near East" (PDF). Yale F&ES Bulletin. 1998: 320–329. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 28 Agustus 2006.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Popova, Olga (2015). "The Royal Family and its Territorial Implantation during the Neo-Babylonian Period". KASKAL. 12 (12): 401–410. doi:10.1400/239747.
- Porten, Bezalel; Zadok, Ran; Pearce, Laurie (2016). "Akkadian Names in Aramaic Documents from Ancient Egypt". Bulletin of the American Schools of Oriental Research. 375 (375): 1–12. doi:10.5615/bullamerschoorie.375.0001. JSTOR 10.5615/bullamerschoorie.375.0001. S2CID 163575000.
- Porter, Barbara N. (1993). Images, Power, and Politics: Figurative Aspects of Esarhaddon's Babylonian Policy. American Philosophical Society. ISBN 9780871692085.
- Radner, Karen (2019). "Last Emperor or Crown Prince Forever? Aššur-uballiṭ II of Assyria according to Archival Sources". State Archives of Assyria Studies. 28: 135–142.
- Redditt, Paul L. (2008). Introduction to the Prophets. Eerdmans. ISBN 978-0-8028-2896-5.
- Rowton, M. B. (1951). "Jeremiah and the Death of Josiah". Journal of Near Eastern Studies. 2 (10): 128–130. doi:10.1086/371028. S2CID 162308322.
- Sack, Ronald H. (1978). "Nergal-šarra-uṣur, King of Babylon as seen in the Cuneiform, Greek, Latin and Hebrew Sources". Zeitschrift für Assyriologie und vorderasiatische Archäologie. 68 (1): 129–149. doi:10.1515/zava.1978.68.1.129. S2CID 161101482.
- Sack, Ronald H. (1983). "The Nabonidus Legend". Revue d'Assyriologie et d'archéologie orientale. 77 (1): 59–67. JSTOR 23282496.
- Sack, Ronald H. (2004). Images of Nebuchadnezzar: The Emergence of a Legend (Edisi 2nd Revised and Expanded). Selinsgrove: Susquehanna University Press. ISBN 1-57591-079-9.
- Seow, C.L. (2003). Daniel. Westminster John Knox Press. ISBN 9780664256753.
- Shapiro, David S. (1982). "The Seven Questions of Amos". Tradition: A Journal of Orthodox Jewish Thought. 20 (4): 327–331. JSTOR 23260505.
- Shea, William H. (1982). "Nabonidus, Belshazzar, and the Book of Daniel: an Update". Andrews University Seminary Studies. 20 (2): 133–149.
- Smelik, Klaas A. D. (2014). "My Servant Nebuchadnezzar: The Use of the Epithet "My Servant" for the Babylonian King Nebuchadnezzar in the Book of Jeremiah". Vetus Testamentum. 64 (1): 109–134. doi:10.1163/15685330-12301142. JSTOR 43894101.
- Stevens, Kahtryn (2014). "The Antiochus Cylinder, Babylonian Scholarship and Seleucid Imperial Ideology" (PDF). The Journal of Hellenic Studies. 134: 66–88. doi:10.1017/S0075426914000068. JSTOR 43286072.
- The British Museum (1908). A Guide to the Babylonian and Assyrian Antiquities. London: British Museum. OCLC 70331064.
- Waerzeggers, Caroline; Jursa, Michael (2008). "On the Initiation of Babylonian Priests". Zeitschrift für Altorientalische und Biblische Rechtsgeschichte. 14: 1–38.
- Wallis Budge, Ernest Alfred (1884). Babylonian Life and History. London: Religious Tract Society. OCLC 3165864.
- Weiershäuser, Frauke; Novotny, Jamie (2020). The Royal Inscriptions of Amēl-Marduk (561–560 BC), Neriglissar (559–556 BC), and Nabonidus (555–539 BC), Kings of Babylon (PDF). Eisenbrauns. ISBN 978-1646021079.
- Wiseman, Donald J. (1983). Nebuchadrezzar and Babylon: The Schweich Letters. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0197261002.
- Wiseman, Donald J. (2003) [1991]. "Babylonia 605–539 B.C.". Dalam Boardman, John; Edwards, I. E. S.; Hammond, N. G. L.; Sollberger, E.; Walker, C. B. F. (ed.). The Cambridge Ancient History: III Part 2: The Assyrian and Babylonian Empires and Other States of the Near East, from the Eighth to the Sixth Centuries B.C. (Edisi 2nd). Cambridge University Press. ISBN 0-521-22717-8.
Sumber situs web
- "Inscriptions by Babylonian kings". Open Richly Annotated Cuneiform Corpus. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2021. Diakses tanggal 25 Mei 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Lendering, Jona (1995). "Cyaxares". Livius. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2021. Diakses tanggal 23 Mei 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Mark, Joshua J. (2018). "Nebuchadnezzar II". World History Encyclopedia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2021. Diakses tanggal 17 Desember 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Saggs, Henry W. F. (1998). "Nebuchadnezzar II". Encyclopaedia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2020. Diakses tanggal 27 Februari 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
Kutipan tentang Nebukadnezar II di Wikikutip
Nebukadnezar II Lahir: ca 642 BC Meninggal: 562 BC | ||
| Didahului oleh: Nabopolassar |
Raja Babilonia 605 –562 BC |
Diteruskan oleh: Amel-Marduk |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Seniman | |
| Orang | |
| Lain-lain | |