Kamis, 05 November 2026
12:11 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Museum Tekstil (Jakarta)

Museum Tekstil (Jakarta)

museum di Indonesia

Bagikan:
Museum Tekstil (Jakarta)
250px-Musetextil.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Museum_Tekstil_%28Jakarta%29&revid=30056872&groups=_7b949bf6792de2f3316b5516b8129d90b4e20444&parser=parsoid
LokasiKecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Indonesia
Koordinat6°11′S 106°49′E / 6.19°S 106.81°E / -6.19; 106.81
250px-Museum_Tekstil_16.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Museum Tekstil tampak dari depan

Museum Tekstil merupakan museum yang diresmikan pada tanggal 28 Juni 1976 oleh Ibu Tien Suharto. Letak museum menempati gedung tua di Jalan K.S. Tubun / Kota Bambu Selatan No. 4[1] Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat.[2] Pada masa revolusi 1945, bangunannya dipergunakan sebagai markas tentara pertama di Indonesia.[3]

Pendirian museum tekstil bertujuan melestarikan budaya tekstil Indonesia.[4] Ada pun visi museumnya adalah menjadikan Museum Tekstil sebagai pusat pelestarian wastra Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan budaya yang bertaraf Internasional.[5] Ide ini didukung penuh oleh himpunan Wastraprema yaitu sebuah komunitas pencinta kain, tenun dan batik Indonesia.[6] Selain sebagai museum, bangunan ini merangkap sebagai situs cagar budaya dengan nomber SK menteri 0128/M/1998 pada tanggal 27 Februari 1988[7]

Sejarah

250px-Musetextil.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Museum Tekstil, Tampak Muka

Pada abad ke-19, bangunan museum ini merupakan rumah pribadi warga negara Prancis. Kemudian dibeli oleh Konsul Turki bernama Abdul Azis Al Mussawi Al Kazimi yang menetap di Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 1942 kepemilikan bangunan ini beralih ke Karel Christian Crucq.[4]

Tiga tahun kemudian pada 1945, bangunan ini dipilih untuk menjadi markas “Front Pelopor Pemuda” dan “Barisan Keamanan Rakyat” dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.[8]

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan tahun 1947 didiami oleh Lie Sion Pin. Pada tahun 1952 dibeli oleh Departemen Sosial dan diperuntukkan sebagai kantor dan penginapan bagi para pegawai.[8] Dilanjutkan pada tanggal 25 Oktober 1975 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta oleh Departemen Sosial, yang untuk kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto sebagai Museum Tekstil dan disaksikan oleh Bapak Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta.[9] Proses peresmian digelar dengan di mana gedung pamer utama dilengkapi dengan koleksi awal yang merupakan sumbangan dari Himpunan Wastraprema sebanyak 500 buah.[5][8][10][11]

Pendirian museum tekstil dilatarbelakangi oleh penurunan tren kain tradisional yang dimulai pada tahun 1970. Penurunan tersebut diiringi dengan berkurangnya pemahaman mengenai penggunaannya serta kuantitas dan kualitas kain tradisional.[12] Tak ayal, terdapat dorongan dari para pencinta kain tradisional untuk membuat organisasi yang berorientasi pada pelestarian kain tradisional. Organisasi Wastraprema pun terbentuk, mereka menyumbangkan 500 kain tradisional kepada pemerintahan DKI Jakarta.[13]

Setelah peresmian, pada tahun 1985 dibangun dua gedung baru yang dipergunakan untuk ruang perawatan, ruang penyimpanan koleksi, ruang pengenalan wastra, auditorium, perpustakaan dan kantor.[14] Pada tahun 1998, perluasan area dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta. Gedung tua yang berlokasi di Jl. KS Tubun No. 2 ditetapkan sebagai sarana penunjang kegiatan museum dan dinamakan Galeri Tekstil Kontemporer. Galeri Tekstil Kontemporer ini berperan sebagai tempat pengunjung untuk terlibat langsung dalam mengembangkan tekstil kontemporer di Indonesia.[9]

Sementara itu, Gedung II baru diresmikan pada tanggal 21 November 2000. Peresmiannya bertepatan dengan Pameran Koleksi Batik Iwan Tirta, hasil kerja sama dengan Wastraprema dan Yayasan Mitra Museum Indonesia.[9]

Selanjutnya, pada tanggal 2 Oktober 2010 Museum Tekstil melakukan bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia dan meresmikan Galeri Batik yang menyajikan koleksi Batik dari seluruh Indonesia. Pada satu waktu, UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia piagam Warisan Budaya Tak Benda.[13]

Tipe dan Kepemilikan

Museum Tekstil (Jakarta) merupakan museum Tipe A, yang ditandai dengan koleksi, pengelolaan, serta fasilitas dengan standar museum nasional. Koleksi-koleksi yang disediakan pun beragam dan representatif dari berbagai kota di Indonesia.[15]

Sementara bila dilihat dari topik yang direpresentasikan, maka museum ini termasuk museum khusus. Museum tekstil (Jakarta) hanya memiliki satu fokus, yaitu seni tekstil, Seni tekstil tersebut kemudian dijabarkan lewat wastra seperti batik dan tenun.[15]

Soal pengelolaan dan kepemilikan, museum ini merupakan satu dari antara museum-museum yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. Museum ini dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Berada di bawah naungan pemerintah, museum tekstil tidak hanya berperan dalam mendukung pelestarian warisan budaya Indonesia namun juga edukasi dan promosi pariwisata.[15]

Visi dan Misi

Visi

Visi yang dimiliki oleh Museum Tekstil (Jakarta) adalah menjadi pusat pelestarian wastra Indonesia sekaligus destinasi wisata seni dan budaya bertaraf internasional.[15]

Misi

Visi yang ada direalisasikan lewat beberapa misi, antara lain:

  • Meningkatkan kualitas sumber daya manusia;
  • Memperluas pelayanan edukasi kepada masyarakat;
  • Memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak;
  • Menyelenggarakan pameran, penelitian, dan perawatan koleksi secara berkelanjutan.[15]

Akses Masuk

Museum Tekstil dibuka setiap hari kecuali hari Senin dan libur nasional, mulai pukul 9.00 WIB hingga 15.00 WIB. Biaya masuk sebesar Rp5.000 (dewasa) atau Rp3.000 (mahasiswa) atau Rp2.000 (pelajar) untuk sekali masuk.[16] Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan layanan masuk museum secara gratis bagi warga dengan tiga kategori, yakni penyandang disabilitas, lanjut usia dan peserta didik penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang berlaku mula 20 Januari 2017.[17]

Fasilitas

Menemani ruang koleksi, museum ini juga menyediakan fasilitas berupa taman edukasi dan rumah panggung. Taman edukasi dirancang dengan memanfaatkan taman museum untuk memperkenalkan, mempromosikan, dan melestarikan pengetahuan serta praktik berbagai pewarnaan alami di Indonesia. [3] Luasnya 2.000m² dengan pepohonan yang biasa dijadikan pewarna alami. Contoh pohon yang ditanam di sana adalah pohon nangka (pewarna kuning), pohon sawo (pewarna coklat), pohon lobi-lobi (pewarna merah)[6]

Sementara ruang panggung dapat ditemukan di sisi belakang museum. Ruang panggung ini secara istimewa di sediakan untuk para pengunjung yang memiliki ketertarikan pada pembuatan batik.[3]

Sebagai ruang publik, museum ini juga membuka penawaran dan kerja sama dalam bentuk penyewaan. Ruangan yang disewakan antara lain plaza, ruang serbaguna museum, ruang pamer utama, ruang auditorium lantai 1, dan taman dalam. Museum juga terbuka menjalin kerja sama untuk produksi film, rekaman, dan sejenisnya. [8]

Koleksi

Museum ini memulai kerja pelestariannya dengan 500 kain yang lambat laun bertambah menjadi sekitar 3000 helai.[3] 50 batik koleksi Museum Tekstil di antaranya kain panjang batik tulis Sidomukti (Surakarta), selendang Loc Chan (Rembang), kain panjang (Cirebon), kain panjang Kawung Kamboja (Solo), dan kain sarung Poleng Madepun (Jawa Tengah). Ada pula tujuh batik yang didesain gambar tokoh-tokoh Irlandia di antaranya, Saint Brigid, Children of Lir, dan Queen Maeve.[18] Museum Tekstil juga menyimpan sejumlah koleksi batik yang dihibahkan oleh Eiko Adnan Kusuma.[19]

Koleksi wastra perpaduan akulturasi budaya China, India, Islam dan Eropa juga dimiliki museum ini, di antaranya kain panjang, sarung, selendang, ikat kepala dan kain di meja sembahyang (tokwi) milik warga Tionghoa.[20]

Selain koleksi kain, terdapat juga koleksi pewarna batik alami, motif-motif cap batik, tata cara proses membatik dan berbagai macam interior-interior yang bermotif batik seperti tempat tidur, furniture, topeng & wayang golek.[21] Koleksi tenun, selendang, sarung, stagen, tekstil/kain panjang, dengan corak batik maupun tidak juga disajikan dan dipamerkan di museum ini.[22]

Referensi

  1. ↑ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. GROGOL PETAMBURAN". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 29 Mei 2025.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=; no-break space karakter dalam |access-date= pada posisi 7
  2. ↑ Fadilah, Raihan (2025-03-11). "15 rekomendasi museum di Jakarta untuk study tour". Antara News. Diakses tanggal 2025-05-28.
  3. 1 2 3 4 "Tur Virtual Museum Tekstil Jakarta - Google Arts & Culture". Google Seni & Budaya. Diakses tanggal 2026-10-11.
  4. 1 2 Marijan, Kacung (2012). Album Budaya: Direktori Museum Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 236.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 "Museum Tekstil". www.mitramuseumjakarta.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-17. Diakses tanggal 2022-06-16.
  6. 1 2 Dimyati, Edi (2010). 47 Museum Jakarta. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 55–59. ISBN 978-979-22-5501-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ "Museum Tekstil - Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya". cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-17. Diakses tanggal 2022-06-16.
  8. 1 2 3 4 "Museum Tekstil". www.mitramuseumjakarta.id. Diakses tanggal 2026-10-11.
  9. 1 2 3 "Museum Tekstil". museum.co.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-10-11.
  10. ↑ "Tekstil"". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-08-17. Diakses tanggal 2018-08-17.
  11. ↑ "Museum Tekstil". asosiasimuseumindonesia.org. Diakses tanggal 2022-06-16.
  12. ↑ "HBIM Jakarta | Disbud DKI Jakarta". hbimjakarta.com. Diakses tanggal 2025-05-28.
  13. 1 2 "Museum Tekstil". www.mitramuseumjakarta.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-16. Diakses tanggal 2022-06-16.
  14. ↑ Kompasiana.com (2024-11-30). "Museum Tekstil Jakarta: Destinasi Baru untuk Menjelajahi Keindahan Warisan Tekstil Indonesia". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-05-28.
  15. 1 2 3 4 5 "Museum Tekstil: Warisan Wastra Nusantara di Jantung Jakarta". Visit Indonesia. Diakses tanggal 2026-10-11.
  16. ↑ Wanadriani Santosa, Lia (2015-12-10). "Museum Tekstil buka workshop membatik gratis". Antara News. Diakses tanggal 2025-05-28.
  17. ↑ "Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2017 tentang Layanan Gratis Masuk Taman Margasatwa Ragunan, Tugu Monumen Nasional dan Museum pada Hari Biasa Bagi Masyarakat Tertentu". JDIH - Jakarta. 27 Januari 2017. Diakses tanggal 2025-05-28.{{cite web}}: |first= tidak memiliki |last=
  18. ↑ Mawaddah Putri, Lifia (2024-09-11). "Museum Tekstil rayakan 40 tahun RI-Irlandia dengan pameran batik". Antara News. Diakses tanggal 2025-05-28.
  19. ↑ "Museum Tekstil Peringati , Hari Batik Nasional Bersama Masyarakat Secara Daring". reporter.id. 2 Oktober 2020. Diakses tanggal 27 Mei 2026.
  20. ↑ Dharma Shanti, Hreeloita (2025-05-27). "Pameran wastra di Museum Tekstil angkat keindahan akulturasi budaya". Antara News. Diakses tanggal 2025-05-28.
  21. ↑ Maulana, Doni (2021-07-02). "Museum Tekstil". dinaskebudayaan.jakarta.go.id (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-17. Diakses tanggal 2022-06-16.
  22. ↑ "Dinas Kebudayaan DKI Jakarta". dinaskebudayaan.jakarta.go.id. Diakses tanggal 2026-10-11.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Textile Museum (Jakarta).
Jakarta Barat
Jakarta Pusat
Jakarta Selatan
Jakarta Timur
Jakarta Utara
Kepulauan Seribu
Kepulauan Seribu
60px-Coat_of_arms_of_Jakarta.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jakarta Barat
Jakarta Pusat
Jakarta Selatan
Jakarta Timur
Jakarat Utara

6°11′18″S 106°48′35″E / 6.18835°S 106.80962°E / -6.18835; 106.80962

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan