Minggu, 20 September 2026
23:04 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Komedo

60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Komedo
SpesialisasiDermatologi Sunting ini di Wikidata

Komedo merupakan lesi non-radang berupa penyumbatan keratin dan sebum pada bukaan folikel rambut (pori-pori kulit). Komedo biasa mengandung bakteri, khususnya Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, atau Malassezia furfur.[1]

Faktor Risiko, Penyebab, dan Patomekanisme

Penyebab dan risiko yang ditimbulkan komedo sangat beragam. Faktor yang berkemungkinan seseorang berisiko mengalami penyumbatan pori-pori adalah genetik. Faktor lain yaitu adanya kondisi yang menyebabkan resistensi insulin (seperti diabetes melitus tipe dua) dan tingginya kadar dehidroepiandrosteron (DHEA) serum. DHEA merupakan prekursor hormon testosteron dan DHT. Pada sindrom ovarium polikistik (PCOS), dihidrotestosteron (DHT) merupakan salah satu bentuk hormon androgen poten yang diubah menjadi DHEA. Hal ini menjelaskan orang dengan sindrom ovarium polikistik dapat memiliki acne.[2] Faktor lain yang dapat berperan misalnya produk-produk berminyak (seperti pomade), pakaian, dan keringat. Faktor seperti pola makan (produk turunan susu) masih belum diketahui apakah dapat memengaruhi acne.[2][3]

Penyebab acne vulgaris yang menyebabkan munculnya komedo ini sampai sekarang masih belum diketahui. Patogenesis (mekanisme) penyakit acne vulgaris bersifat kompleks. Hingga kini, ada empat unsur yang mendasari patomekanisme terbentuknya acne, yaitu:

  1. Hiperproliferasi epidermis folikel
  2. Produksi sebum
  3. Bakteri Propionibacterium acnes
  4. Respons peradangan (inflamasi) dan imun

Patomekanisme acne dianggap diawali dengan adanya mikrokomedo yang diakibatkan oleh proliferasi berlebih lapisan epidermis pada bagian atas folikel rambut (infundibulum) bersamaan dengan meningkatnya adhesi (penempelan) keratinosit (sel kulit tanduk). Hingga kini, masih belum diketahui apa yang memprakarsai dan menstimulasi proliferasi berlebih dan peningkatan adhesi antarkeratinosit ini. Kedua hal ini menyebabkan obstruksi (penyumbatan) yang memungkinkan keratin, sebum, dan bakteri berakumulasi sehingga terjadi dilasi (pelebaran) pada bagian infundibulum folikel.

Selanjutnya, produksi sebum di dalam folikel berperan dalam patomekanisme acne vulgaris. Kandungan utama sebum, trigliserida, akan dipecah oleh bakteri flora normal folikel P. acnes menjadi asam lemak bebas (free fatty acids). Asam lemak ini justru mendorong pertumbuhan P. acnes dan berimbas pada reaksi peradangan. Reaksi peradangan ini nantinya akan menghasilkan gejala-gejala dan tanda-tanda peradangan kulit seperti kemerahan, rasa nyeri, dan nanah.[4][3]

Kondisi yang memungkinan munculnya komedo

Komedo muncul pada beberapa jenis penyakit kulit. Penyakit paling umum adalah akne vulgaris (istilah umum: adalah jerawat. Kondisi yang menyerupai acne-tetapi bukan merupakan acne sejati--seperti erupsi kulit imbas produk kosmetik, tidak memiliki lesi komedo, walaupun penampakannya mirip akne. Erupsi kulit (istilah umum: beruntusan) ini acapkali muncul misal setelah menggunakan produk kulit di wajah yang tidak cocok. Acne jenis lain seperti imbas obat-obatan steroid seperti Sindrom Cushing dan kondisi lain akibat berlebihnya hormon kortisol dalam tubuh, hiperkortisisme, juga memiliki gejala serupa akne vulgaris, tetapi tidak memiliki komedo. Sehingga, kondisi tersebut tidak dapat disebut sebagai akne vulgaris atau jerawat. Kondisi lain adalah nevus comedonicus yang menyerupai penyakit langka yang menyerupai komedo terbuka, tetapi sesungguhnya bukan komedo.[4]

Penyakit lain yang memiliki lesi kulit berupa komedo adalah hidradenitis suppurativa. Pada penyakit ini, komedo yang muncul biasa berupa komedo terbuka yang seolah membentuk terowong (open-ended comedones) dan biasa muncul pada lipatan kulit seperti ketiak.[4]

Jenis komedo

Komedo dibagi menjadi dua:[1][3]

  • Komedo terbuka (blackhead): komedo yang bukaan folikel rambutnya terdilasi (melebar), sehingga sumbatannya terlihat jelas pada permukaan kulit.
  • Komedo tertutup (whitehead): komedo yang bukaan folikel atau lubang pori-porinyanya tidak terdilasi (melebar) secara lebar, sehingga terlihat seperti papula. Sumbatan keratin dan sebum tidak terlihat jelas pada permukaan kulit karena masih tertutup lapisan kulit luar (epidermis). Karena keratin dan sebum ini tidak dapat keluar, sumbatan ini dapat sewaktu-waktu ruptur (pecah) dan menyebabkan lesi kulit yang sifatnya meradang.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 Dorland's Illustrated Medical Dictionary. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2012. hlm. 390. ISBN 978-1-4160-6257-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 Williams, Hywel C.; Dellavalle, Robert P.; Garner, Sarah (2011). "Acne vulgaris". The Lancet. 379 (9813): 361–372. doi:https://doi.org/10.1016/S0140-6736(11)60321-8.{{cite journal}}: Periksa nilai |doi=; Tautan eksternal dalam |doi=
  3. 1 2 3 Kang, Sewon; Amagai, Masayuki; Bruckner, Anna L.; Enk, Alexander H.; Margolis, David J.; McMichael, Amy J.; Orringer, Jeffrey S. (2019). Fitzpatrick's Dermatology. McGraw-Hill Education. ISBN 978-0-07-183783-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. 1 2 3 Wolff, Klaus; Johnson, Richard Allen; Saavedra, Arturo P. (2013). Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. McGraw Hill Education. ISBN 978-0-07-179303-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Klasifikasi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan