Rabu, 04 November 2026
05:12 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Katedral Banjarmasin

Katedral Banjarmasin

gereja di Indonesia

Bagikan:
Katedral Banjarmasin
Gereja Katedral Keluarga Kudus di Banjarmasin
250px-Gereja_Katedral_Banjarmasin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Katedral Banjarmasin
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Katedral_Banjarmasin&revid=29969408&groups=_8c3966440ca9320109262047aab01d321bc1307e&parser=parsoid
Informasi umum
LokasiBanjarmasin, Kalimantan Selatan
NegaraIndonesia
DenominasiGereja Katolik Roma
Situs webkatedralbanjarmasin.org
Sejarah
DedikasiKeluarga Kudus
Tanggal konsekrasi28 Juni 1931
Arsitektur
StatusKatedral, gereja paroki
Status fungsionalAktif
ArsitekRoestenhurg
GayaNeo-Gotik
Administrasi
ParokiKatedral
DekenatKota
KeuskupanBanjarmasin
Klerus
UskupVictorius Dwiardy, O.F.M. Cap.

Katedral Banjarmasin yang bernama resmi Gereja Katedral Keluarga Kudus (bahasa Belanda: Heilige Familie Kathedraal, bahasa Inggris: Holy Family Cathedral), adalah sebuah gereja katedral Katolik yang menjadi pusat kedudukan dan takhta Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Gereja ini merupakan salah satu katedral tertua di Kalimantan.

Bangunan awal didirikan pada 28 Juni 1931, berupa sebuah gedung kayu yang sebelumnya digunakan sebagai losmen di Jalan Lambung Mangkurat nomor 4. Namun, pada 19 April 1936, gereja dipindahkan ke bangunan baru di Jalan Lambung Mangkurat nomor 40, yang dibangun dengan bahan beton sehingga lebih kokoh.

Pada tahun 1938, seiring dengan terbentuknya Prefektur Apostolik Banjarmasin, gereja ini resmi diangkat menjadi katedral, menandai perannya sebagai pusat kehidupan rohani umat Katolik di wilayah tersebut.[1]

Sejarah

Awal pembangunan (1931–1936)

Pada dekade 1920-an, ketika para misionaris Keluarga Kudus (MSF) memulai misinya di Banjarmasin, mulai bermunculanlah umat Katolik di daerah tersebut. Pada awalnya, ibadah dilaksanakan di luar ruangan maupun di rumah-rumah umat. Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah umat, pada tahun 1931 dibelilah sebuah losmen kayu sederhana yang terletak di Jalan Boomstraat No. 4 (kini Jalan Lambung Mangkurat). Losmen tersebut kemudian dirombak sehingga menjadi tempat ibadah yang layak. Di gereja sederhana itu, umat melaksanakan ibadah serta menerima berbagai sakramen. Ibadah awal dipimpin oleh para pastor misionaris, yakni Pastor Vosen, MSF dan Pastor Groen, MSF.

250px-Foto_lama_1931.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gereja Katedral pertama, terletak di Jl. Lambung Mangkurat No.4, sekarang menjadi gedung Telkom (1931)

Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Katolik di Banjarmasin terus meningkat. Gereja lama yang berasal dari bangunan losmen tersebut semakin rapuh dan tidak lagi memadai. Maka pada tahun 1935, MSF membeli sebidang tanah kosong yang berlokasi di Jalan Lambung Mangkurat No. 40 yang sebelumnya dimiliki perusahaan dagang Borsumij. Tanah itu semula diberikan kepada pemerintah pada tahun 1921 untuk dijadikan kompleks gubernuran, tetapi rencana tersebut dibatalkan karena lokasinya berdekatan dengan penjara tua yang kurang terawat. Tanah tersebut kemudian disewa, lalu dibeli oleh MSF dengan harga 5.746 Gulden Belanda.

Gereja Katedral baru dirancang oleh Roestenbrug, seorang arsitek Belanda. Beberapa minggu kemudian, rancangan selesai, dan pembangunan pun dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Pastor Groen pada 20 November 1935. Pembangunan diawasi oleh Bruder Longinus sebagai penanggung jawab. Gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur neo-Gotik khas Eropa, menggunakan batu bata dan semen—material yang langka pada masa itu—serta dilengkapi menara setinggi 17 meter.

  • Pastor Groen, MSF, meletakkan salib sebagai penanda lokasi pembangunan altar saat pembangunan Gereja Katedral berlangsung (1935).
    Pastor Groen, MSF, meletakkan salib sebagai penanda lokasi pembangunan altar saat pembangunan Gereja Katedral berlangsung (1935).
  • Bruder Longinus, MSF ikut mengawasi pembangunan Gereja Katedral.
    Bruder Longinus, MSF ikut mengawasi pembangunan Gereja Katedral.

Dalam waktu lima bulan, pembangunan selesai dengan total biaya 29.000 Gulden. Rinciannya: 22.000 Gulden untuk pembangunan gereja, dan 7.000 Gulden untuk pengukuran lahan serta pembangunan rumah pastoran di sebelah gereja. Setelah bangunan selesai, Perayaan Ekaristi terakhir di gereja lama dilaksanakan pada 16 Maret 1936. Kemudian, pada 22 Maret 1936, misa pertama dirayakan di gereja baru.

Satu minggu setelah Paskah, tepatnya 19 April 1936, gereja diberkati oleh Pastor Groen yang saat itu menjabat sebagai Superior MSF. Upacara pemberkatan dihadiri oleh Komandan Teritorial KNIL, Komandan KNIL setempat, Wakil Residen (karena Residen sedang sakit), Sekretaris Kotapraja, serta pimpinan Serikat Islam setempat. Lagu-lagu Gregorian dinyanyikan oleh para bruder Kongregasi Maria Tak Bernoda (MTB). Dalam khotbahnya, Pastor Groen mengangkat Mazmur 122 sebagai tema utama: “Aku gembira ketika orang berkata kepadaku: Marilah kita ke rumah Allah.”

  • Menara gereja dalam tahap penyelesaian (1936).
    Menara gereja dalam tahap penyelesaian (1936).
  • Foto bersama umat katolik di depan Gereja Katedral selesai Pemberkatan Gereja Katedral (1936).
    Foto bersama umat katolik di depan Gereja Katedral selesai Pemberkatan Gereja Katedral (1936).
  • Gereja Katedral selesai dibangun.
    Gereja Katedral selesai dibangun.

Maka dipindahkanlah Gereja Katedral dari bangunan lama berupa losmen kayu yang sudah tua dan rapuh ke gedung baru yang dibangun dengan bahan beton yang lebih kokoh. Sejak saat itu, gereja tersebut dikenal oleh masyarakat Banjarmasin dengan sebutan “Gereja Batu”, karena konstruksinya yang berbeda dari bangunan sekitarnya yang umumnya masih menggunakan kayu. Hingga kini, sebutan tersebut tetap melekat sebagai identitas khas Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin.

Sebelum kemerdekaan (1936–1945)

250px-Mgr._Jacobus_Kusters_bersama_para_umat_Katolik_di_Laham.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mgr. Jacobus Kusters bersama para umat Katolik di Laham.

Katedral Banjarmasin awalnya merupakan bagian dari Vikariat Apostolik Borneo Olandese. Namun, pada 21 Mei 1938 dibentuklah Prefektur Apostolik Banjarmasin yang dimekarkan dari Vikariat tersebut. Prefektur Apostolik ini kemudian dipimpin oleh Mgr. Jacobus Kusters.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, bendera Sang Saka Merah Putih pernah dikibarkan di menara Gereja Katedral Banjarmasin pada masa perjuangan kemerdekaan. Pada masa pendudukan Jepang, Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin sempat dialihfungsikan menjadi gedung pengadilan oleh pemerintah militer Jepang.

Meski demikian, umat Katolik di Banjarmasin berupaya keras melindungi bagian Panti Imam agar bangunan utama tetap terjaga. Berkat usaha tersebut, gereja ini tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga menjadi simbol keteguhan iman umat Katolik di tengah masa sulit. Oleh karena itu, Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin dan komunitas Katolik di kota ini sering dikaitkan dengan sejarah pergerakan kemerdekaan di Banjarmasin.

Pasca kemerdekaan (1945–1999)

250px-Misa1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suasana misa di Gereja Katedral pada sekitar tahun 1950-an.

Dalam perjalanan sejarah Gereja Katedral, pada tanggal 10 Maret 1949 Prefektur Apostolik Banjarmasin ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Banjarmasin di bawah pimpinan Pater Johannes Groen, M.S.F. Setelah ditahbiskan menjadi uskup pada 16 Juni 1949, Groen dilantik sebagai Vikaris Apostolik Banjarmasin pada 15 Oktober 1949. Meskipun Gereja Katolik dilarang di sebagian wilayah Kalimantan Selatan, Banjarmasin tetap menjadi pusat kegiatan gerejawi bagi umat Katolik.

  • Johannes Groen, Bapa Vikaris Apostolik di Banjarmasin
    Johannes Groen, Bapa Vikaris Apostolik di Banjarmasin

Pada tanggal 6 Januari 1954, Mgr. Wilhelmus Johannes Demarteau, M.S.F. menerima penunjukan sebagai Vikaris Apostolik Banjarmasin yang kedua. Lima bulan kemudian, pada 5 Mei 1954, ia ditahbiskan menjadi Vikaris Apostolik Banjarmasin bergelar Uskup Tituler Arsinoes in Cypro di Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin oleh Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia Georges de Jonghe d'Ardoye, M.E.P. Adapun Vikaris Apostolik Semarang Albertus Soegijapranata, S.J. dan Vikaris Apostolik Borneo Belanda Tarcisius Henricus Josephus van Valenberg, O.F.M. Cap. bertindak sebagai uskup penahbis pendamping. Motto tahbisannya adalah Apostolus Jesu Christi yang berarti "Rasul Yesus Kristus". Pada 3 Januari 1961, Vikariat Apostolik Banjarmasin ditingkatkan menjadi Keuskupan Banjarmasin.

  • Misa tahbisan episkopal Mgr. Wilhelmus Demarteau, MSF
  • 250px-Misa_1954%281%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • 330px-Misa_1954%282%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • 250px-Misa_1954%283%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • 330px-Misa_1954%284%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-AltarGereja2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Panti imam Gereja Katedral sekitar tahun 1950-an.

Katedral Banjarmasin mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik dari segi bertambahnya jumlah umat, perbaikan infrastruktur, maupun pelayanan dalam kegiatan gereja. Puncak perkembangan tersebut terjadi pada 3 Januari 1961, ketika Vikariat Apostolik Banjarmasin resmi ditingkatkan menjadi Keuskupan Sufragan Bandjarmasin yang berada di bawah naungan Keuskupan Agung Pontianak. Keuskupan baru ini dipimpin oleh Mgr. Wilhelmus Joannes sebagai uskup pertama yang memimpin Keuskupan Banjarmasin.

Pada dekade 1980-an, dibangun Gedung Aula Sasana Sehati di belakang Gereja Katedral Banjarmasin. Gedung ini difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan pelayanan gereja, seperti retret, pertemuan umat, serta perayaan misa besar pada hari raya Paskah dan Natal. Selain itu, keberadaan gedung ini juga membantu mengatasi keterbatasan kapasitas umat di dalam gereja utama, sehingga umat dapat tetap mengikuti perayaan liturgi dengan lebih nyaman.

  • Peresmian dan pemberkatan Gedung Sasana Sehati pada tahun 1989.
    Peresmian dan pemberkatan Gedung Sasana Sehati pada tahun 1989.

Sebagai pusat Keuskupan Banjarmasin, gereja ini menjadi tempat penting bagi umat Katolik di wilayah tersebut untuk beribadah dan menerima sakramen. Selain itu, gereja ini juga menjadi pusat kegiatan pastoral, sosial, dan keagamaan, seperti katekese, pembaptisan, pernikahan, dan pemakaman. Mayoritas umat Katolik di Keuskupan Banjarmasin saat ini terdiri dari para pendatang dan bukan berasal dari Suku Banjar. Bahkan umat Katolik Suku Dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah juga dapat dianggap sebagai pendatang.[butuh rujukan]

Ada beberapa alasan yang menyebabkan hampir tidak terdapat umat Katolik dari Suku Banjar. Salah satunya adalah keterbatasan kegiatan misi dan penyebaran agama, serta kurangnya pewartaan Injil dan nilai-nilai iman Katolik yang terbuka kepada masyarakat Banjar. Kondisi ini menyebabkan pengetahuan mengenai agama Katolik di kalangan masyarakat Banjar yang mayoritas beragama Islam relatif terbatas. Selain itu, pada masa awal perkembangan misi Katolik di Kalimantan, perhatian lebih banyak diarahkan kepada Suku Dayak yang dipandang sebagai penduduk asli Kalimantan, sehingga masyarakat Banjar relatif kurang tersentuh oleh kegiatan pewartaan. Di samping itu, isu kristenisasi dan situasi politik pada era 1960-an turut membatasi upaya para misionaris dalam menyebarkan agama Katolik di kalangan Suku Banjar. Akibatnya, agama Katolik tidak berkembang secara kuat dan tidak berakar secara luas dalam masyarakat maupun kebudayaan Banjar di Kalimantan Selatan.

Tidak terdapat data yang lengkap mengenai jumlah umat Katolik pada masa awal perkembangan Gereja, tetapi jumlah mereka diperkirakan tidak banyak. Pada akhir tahun 1940, tercatat hanya terdapat 375 umat Katolik di wilayah Kalimantan Selatan saat itu (yang kini mencakup Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah), terdiri atas 106 umat Katolik Indonesia dan 269 umat Katolik asing. Mereka merupakan komunitas kecil yang tersebar di wilayah yang sangat luas.

250px-Misa%281%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Misa Komuni Pertama pada sekitar tahun 1973.

Pada tanggal 22 Agustus 1973, Keuskupan Bandjarmasin secara resmi berganti nama menjadi Keuskupan Banjarmasin. Perubahan ini dilakukan sebagai penyesuaian terhadap perbaikan ejaan bahasa Indonesia, sehingga nama keuskupan lebih sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku.

  • Pelantikan Dewan Pastoral Paroki pada sekitar tahun 1980.
    Pelantikan Dewan Pastoral Paroki pada sekitar tahun 1980.
  • Misa Minggu Palma pada sekitar tahun 1990-an.
    Misa Minggu Palma pada sekitar tahun 1990-an.
250px-Katedral%281%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gereja Katedral dan Jalan Pangeran Samudra pada sekitar tahun 1990-an.

Di Paroki Katedral, umat Katolik hidup dalam kebersamaan dengan para imam yang silih berganti memberikan pelayanan pastoral. Mereka membentuk komunitas yang disebut "kring" dan saling mengenal satu sama lain. Pada tahun 1981 terdapat banyak kring di Paroki Katedral. Namun, mulai tahun 1982, Pastor Paroki bersama Dewan Paroki menyederhanakan kring-kring tersebut menjadi empat wilayah yang diberi nama Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. Seiring bertambahnya jumlah umat, Paroki Katedral kemudian berkembang menjadi delapan wilayah, yaitu Yohanes, Paulus, Petrus, Agustinus, Lukas I, Lukas II, Matius, dan Markus, serta dua stasi, yaitu Marabahan dan Belawang. Pada tahun 2012, jumlah umat Katolik di paroki ini mencapai 1.602 orang.

Di tengah perkembangannya, Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin juga pernah mengalami masa sulit. Ketika kerusuhan di Banjarmasin terjadi pada Jumat, 23 Mei 1997, Gedung Sasana Sehati yang berada di kompleks Gereja Katedral sempat diamuk massa. Pada saat itu, Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin sedang menjalani renovasi. Kaca-kaca jendela yang baru dipasang pecah, kursi-kursi di Gedung Sasana Sehati dibakar oleh massa yang tidak bertanggung jawab, dan patung Yesus, Bunda Maria, serta Santo Yosef turut dirusak. Namun, secara mengejutkan api tidak menjalar ke bangunan utama, yaitu Katedral Keluarga Kudus. Meski kaca-kaca jendela gereja pecah akibat lemparan batu, bangunan utama tetap bertahan dan tidak mengalami kerusakan besar. Setelah massa bubar dari kompleks Katedral, gereja tetap berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan iman umat Katolik di Banjarmasin.

Saat kursi-kursi dibakar di Gedung Sasana Sehati, beberapa pemuda anggota PMKRI, sejumlah personel tentara, serta seorang koster bernama Alfonsus Yustinus Sukadi berupaya memadamkan api sehingga kebakaran yang lebih luas dapat dicegah. Pada saat yang sama, Pastor Stephanus Bijanta, C.M., dan Pastor Simon Edy Kabul Teguh Santoso, Pr., bersama beberapa umat segera menyelamatkan sejumlah dokumen paroki ke tempat yang aman dengan melewati kerumunan massa. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengalaman yang menegangkan dan mengerikan bagi mereka yang terlibat dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai "Jumat Kelabu" di Banjarmasin.

  • Massa yang melakukan aksi kerusuhan
    Massa yang melakukan aksi kerusuhan
  • Gedung Sasana Sehati terbakar dalam kerusuhan.
    Gedung Sasana Sehati terbakar dalam kerusuhan.

Setelah kerusuhan di Banjarmasin pada tahun 1997, gereja ini menjalani renovasi besar. Kaca jendela yang pecah diganti, Aula Sasana Sehati diperbaiki, serta perabot seperti kursi dan meja diperbarui. Rumah pastoran lama di samping gereja dibongkar dan dijadikan area parkir umat yang hendak mengikuti ibadah. Bagian interior juga diperbarui, termasuk penggantian patung-patung, salib lama, serta ubin lantai yang diganti dengan keramik. Setelah renovasi ini, gereja kembali layak digunakan untuk ibadah dan tetap menjadi pusat kegiatan rohani umat Katolik di Banjarmasin.

250px-GuaMaria.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pembukaan Gua Maria di Gereja Katedral Banjarmasin (1998)

Pada tahun 1998, dibangun Gua Maria di kompleks Katedral Banjarmasin sebagai tempat doa dan devosi kepada Bunda Maria. Gua Maria ini masih digunakan hingga sekarang dan dibuka setiap hari bagi umat.

Abad ke-21 (sejak 2000)

Katedral Banjarmasin mengalami beberapa tahap perkembangan setelah melewati berbagai masa sulit. Berkat dukungan umat dan para imam, Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin tetap berfungsi hingga sekarang.

Pada 29 Januari 2003, terjadi perubahan yurisdiksi gerejawi. Keuskupan Banjarmasin dipindahkan dari Keuskupan Agung Pontianak ke Keuskupan Agung Samarinda dan tetap berada di bawah provinsi gerejawi tersebut hingga saat ini.

Pada tahun 2007, katedral kembali direnovasi. Plafon kayu diganti dengan material yang lebih kuat, sistem pendingin udara (AC) dipasang, lampu diperbarui, dinding dicat ulang, dan sistem pengeras suara (sound system) ditingkatkan.

  • Renovasi Gereja Katedral (2007)
    Renovasi Gereja Katedral (2007)
  • Pemasangan sistem pendingin Gereja (2007)
    Pemasangan sistem pendingin Gereja (2007)
  • Misa perdana setelah Gereja Katedral selesai renovasi (2007)
    Misa perdana setelah Gereja Katedral selesai renovasi (2007)

Pada tahun 2011, dibangun rumah pastoran paroki di kompleks Katedral Banjarmasin. Rumah ini difungsikan sebagai tempat tinggal pastor paroki, pastor rekan, serta para frater yang sedang bertugas di Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin.

Pada tahun yang sama, didirikan toko rohani "A Sacra Familia" untuk melayani kebutuhan umat akan berbagai perlengkapan rohani, seperti salib, rosario, dan sarana devosi lainnya.

Selain itu, kanopi lama di samping gereja dibongkar dan diganti dengan kanopi baru berbahan baja yang lebih kokoh, sehingga memberikan perlindungan yang lebih baik bagi umat.

  • Pembongkaran kanopi lama (2011)
    Pembongkaran kanopi lama (2011)
  • Pemasangan kanopi baru (2011)
    Pemasangan kanopi baru (2011)
  • Pembangunan Rumah Pastoran (2011)
    Pembangunan Rumah Pastoran (2011)
  • Peresmian dan Pemberkatan rumah pastoran, kanopi, dan toko rohani (2012)
    Peresmian dan Pemberkatan rumah pastoran, kanopi, dan toko rohani (2012)
  • Peresmian dan Pemberkatan rumah pastoran, kanopi, dan toko rohani (2012)
    Peresmian dan Pemberkatan rumah pastoran, kanopi, dan toko rohani (2012)

Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin masih berdiri hingga saat ini sebagai salah satu bangunan gereja Katolik bersejarah di Kota Banjarmasin. Dalam perkembangannya, pernah muncul usulan untuk membongkar bangunan lama dan menggantinya dengan gereja yang lebih besar. Namun, bangunan Katedral tetap dipertahankan dalam bentuk dasarnya, antara lain karena nilai sejarah yang melekat padanya serta adanya pesan dari seorang imam paroki terdahulu agar bangunan tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Selain itu, keterbatasan luas lahan di kompleks Katedral Banjarmasin menjadi salah satu faktor yang membatasi kemungkinan pembangunan gereja baru yang berukuran lebih besar. Karena itu, bangunan katedral yang ada tetap digunakan dan dipelihara hingga sekarang.

Keberadaan Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin juga berkaitan dengan sejarah perkembangan agama-agama di Banjarmasin. Sebelum hadirnya Gereja Katolik, wilayah ini telah dipengaruhi oleh tradisi Hindu, Buddha, dan Islam, serta menjadi tempat berkembangnya komunitas Konghucu (antara lain melalui kehadiran Kelenteng Suci Nurani di Jalan Veteran) dan Kristen Protestan (antara lain melalui kehadian Gereja Kalimantan Evangelis Eppata di Jalan D.I. Panjaitan). Dibandingkan dengan agama-agama tersebut, Gereja Katolik hadir pada periode yang lebih kemudian melalui karya para Misionaris Keluarga Kudus di Kalimantan Selatan.

Bangunan

Panti imam

250px-AltarGereja.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Altar Gereja Katedral Banjarmasin.

Pada panti imam Katedral Banjarmasin, terdapat Salib dengan tulisan INRI. Dalam iman Katolik, salib merupakan simbol kasih, pengorbanan, dan keselamatan yang diwujudkan melalui wafat serta kebangkitan Yesus Kristus. Salib mengajarkan hubungan dengan Tuhan dan sesama, serta mengingatkan umat akan ketabahan, iman, dan cinta tanpa pamrih dalam menjalani hidup. Tulisan INRI di atas salib merupakan singkatan dari Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum ("Yesus orang Nazaret, Raja orang Yahudi"), yaitu tulisan yang dipasang atas perintah Pilatus dan ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani agar dapat dipahami oleh banyak orang (Yohanes 19:18–20).

Altar atau mezbah dalam Gereja Katolik melambangkan kurban dan penebusan Kristus, serta menjadi pusat perayaan Ekaristi, termasuk yang diselenggarakan di Katedral ini. Di atas altar, umat mengenangkan kurban Yesus yang dipersembahkan satu kali untuk selamanya demi keselamatan manusia dan menghayati kehadiran nyata Kristus dalam roti dan anggur yang dikonsekrasi.

Gong di Gereja Katedral digunakan sebagai sarana liturgis untuk memberi tanda dan mengatur jalannya prosesi serta perayaan Ekaristi. Bunyi gong membantu mengarahkan perhatian umat pada momen-momen penting, seperti awal Misa dan konsekrasi, sekaligus menciptakan suasana khidmat dan sakral. Makna penggunaannya didasarkan pada tradisi dan tata liturgi Gereja setempat.

Terdapat dua jenis lonceng yang ada di Katedral ini, yakni yang berukuran kecil dan yang lebih besar di sekitar sakristi. Lonceng kecil dalam liturgi Katolik biasanya terdiri dari empat lonceng yang tersusun membentuk salib. Ketika digoncangkan, lonceng-lonceng ini menghasilkan bunyi yang menandai momen-momen penting dalam perayaan liturgi serta membantu menciptakan suasana khusyuk dan sakral. Lonceng sakristi ditempatkan di sebelah kanan Altar dekat pintu masuk dari sakristi, yakni ruangan yang menyimpan barang-barang liturgis dan yang lainnya pada Katedral.

  • Salib dengan tulisan I.N.R.I
    Salib dengan tulisan I.N.R.I
  • Gong
    Gong
  • Lonceng kecil
    Lonceng kecil
  • Lonceng Sakristi
    Lonceng Sakristi

Patung

250px-PatungKeluargaKudus.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Bunda Maria, Yesus Kristus, dan Yusuf
250px-PatungBundaMaria.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Bunda Maria dan Yesus Kristus

Terdapat dua buah patung di dalam Gereja Katedral Banjarmasin, yakni Patung Bunda Maria, Yesus Kristus, dan Yusuf dan juga Patung Bunda Maria dan Yesus Kristus. Patung Bunda Maria, Kanak-kanak Yesus, dan Santo Yusuf melambangkan kasih, perlindungan, serta kerendahan hati dalam Keluarga Kudus. Bunda Maria digambarkan penuh kasih sebagai ibu, Yesus sebagai anak yang bersandar pada orang tua-Nya, dan Yusuf sebagai pelindung keluarga. Di hadapan patung ini, umat berdoa dan menyalakan lilin sebagai ungkapan iman serta devosi kepada Allah melalui teladan Keluarga Kudus.

Patung Bunda Maria yang menggendong Kanak-kanak Yesus melambangkan kasih, perlindungan, dan pengorbanan dalam karya keselamatan Allah. Pakaian putih Bunda Maria melambangkan kemurnian dan kesucian, sedangkan pakaian merah Yesus melambangkan kasih serta pengorbanan-Nya bagi umat manusia. Patung ini menggambarkan kelembutan seorang ibu yang melindungi anaknya sekaligus mengajak umat merenungkan kasih Bunda Maria dan penebusan yang dibawa oleh Kristus.

Menara jam

Pada menara gereja, terdapat lonceng besar yang dibuat oleh pabrik peleburan Koninklijke Klokkengieterij Petit & Fritsen di Aarle-Rixtel, Belanda, dan didatangkan langsung pada masa pembangunan Katedral. Lonceng ini berdentang otomatis setiap jam melalui sistem mekanis yang terhubung dengan mesin penunjuk waktu. Mekanisme jam menara tua yang menggunakan bandul dan pemberat sebagai sumber tenaga ini dibuat oleh pabrik jam menara dan lonceng Torenuurwerken Fabriek De Klok di Aarle-Rixtel, Belanda. Terletak di bagian atas menara, mesin tersebut menggerakkan jarum jam pada keempat sisi menara gereja dan berfungsi sebagai penunjuk waktu bagi Kota Banjarmasin pada masa kolonial Belanda.

  • Lonceng pada menara jam
    Lonceng pada menara jam
  • Mekanisme jam menara
    Mekanisme jam menara

Eksterior Dan Interior

Eksterior Gereja
250px-KacaPatri1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses1
Art Glasses 1 ini menggambarkan seorang laki-laki dewasa menimang anak kecil dalam tradisi Katolik. Ini melambangkan peran seorang ayah yang penuh kasih dan perlindungan dalam keluarga. Art glasses ini juga mengingatkan kita akan gambaran Yesus Kristus sebagai figur ayah spiritual. Secara keseluruhan, art glasses ini menggambarkan keindahan dan makna perlindungan, kasih sayang, dan peran seorang ayah dalam keluarga dalam tradisi Katolik. Simbol salib yang ditampilkan dalam potret persegi panjang menggambarkan pengorbanan Kristus di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Salib berwarna putih melambangkan kesucian dan kepolosan-Nya, sementara latar belakang dengan kombinasi warna putih, merah, biru, dan kuning keemasan memberikan nuansa spiritual yang kaya. Putih melambangkan kesucian,merah melambangkan kasih dan pengorbanan, biru melambangkan iman dan harapan, dan kuning keemasan melambangkan kemuliaan dan keilahian. Makna dari keseluruhan art glasses ini adalah mengingatkan umat Katolik akan pentingnya air suci dalam sakramen baptisan sebagai sarana pembaharuan rohani dan mengingatkan akan pengorbanan Kristus di kayu salib yang menyelamatkan manusia. Simbol salib dan kombinasi warna yang digunakan menggambarkan kekuatan iman, pengharapan, dan kasih dalam kehidupan spiritual umat Katolik.
250px-KacaPatri2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 2
Art Glasses 2 ini menggambarkan seorang laki-laki dewasa di antara dua orang yang saling memegang dan sedang meminum. Ini melambangkan persekutuan dan komuni dalam tradisi Katolik. Art glasses ini mengajak kita untuk menghargai kehadiran Kristus dalam Sakramen Kudus dan memelihara ikatan persaudaraan antar umat.
250px-KacaPatri3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 3
Art Glasses 3 ini menggambarkan dua orang yang akan memukul dan menendang seseorang yang terjatuh dan menganiaya seseorang yang mengikuti Yesus. Art glasses ini mengajak kita untuk hidup dalam penghayatan Yesus disalib sebagai pengorbanan-Nya bagi umat manusia, dan fokusnya adalah pada penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya sebagai bagian dari rancangan keselamatan.
250px-KacaPatri4.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 4
Art Glasses 4 ini menggambarkan seorang imam yang mengucurkan air ke kepala seseorang dalam gaya pembaptisan Katolik. Ini melambangkan pentingnya sakramen pembaptisan dalam iman Katolik, yang melibatkan pembersihan dosa dan kelahiran baru dalam kehidupan rohani. Art glasses ini mengajak kita untuk menghargai anugerah pembaptisan dan panggilan kita untuk hidup sebagai umat yang diberkati dalam komunitas Katolik.
250px-KacaPatri7.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 5
Art Glasses 5 ini menggambarkan Yesus memberikan pengajaran kepada umat Katolik. Ini melambangkan pentingnya ajaran dan kepemimpinan-Nya dalam kehidupan rohani. Art glasses ini mengajak kita untuk memahami dan mengikuti ajaran Yesus dalam Kitab Suci, serta menerapkan nilai-nilai kasih dan kebenaranNya dalam kehidupan sehari-hari.
250px-KacaPatri6.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 6
Art Glasses 6 kendi air suci Katolik ini terdiri dari tiga kendi yang terbuat dari kaca yang indah. Setiap kendi memiliki bentuk yang elegan dan dilengkapi dengan hiasan kaca di bagian bawahnya. Di dua kaca bawah, terdapat potret persegi panjang dengan simbol salib berwarna putih. Potret ini ditempatkan di atas latar belakang dengan kombinasi warna putih, merah, biru, dan kuning keemasan. Art glasses ini mengandung makna-makna simbol yang mendalam. Pertama, kendi air suci itu sendiri memiliki peran penting dalam liturgi Katolik sebagai wadah untuk menyimpan air yang digunakan dalam sakramen baptisan dan mewakili penyucian dan pembaharuan spiritual. Keberadaan tiga kendi ini juga mencerminkan Tritunggal Maha kudus (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) dalam iman Katolik.
250px-KacaPatri8.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 7
Art Glasses 7 timbangan keadilan adalah sebuah karya seni yang menampilkan timbangan dengan piringan seimbang di kedua sisinya. Di tengah-tengah timbangan, terdapat simbol salib yang memberikan tambahan makna yang dalam. Simbol salib melambangkan pengorbanan Kristus dan mengingatkan kita akan pentingnya keadilan yang didasarkan pada kasih dan pengorbanan.Kaca transparan yang digunakan dalam art glasses ini mencerminkan kejernihan dan kejujuran yang diperlukan dalam menjunjung tinggi keadilan. Desain yang proporsional dan estetis menggambarkan harmoni dan keseimbangan yang harus dicapai dalam menegakkan keadilan. Dengan gabungan simbol salib dan konsep keadilan, karya ini mengajak kita untuk mempertimbangkan pentingnya memperlakukan semua orang dengan adil, berdasarkan prinsip-prinsip kasih dan pengorbanan. Art glasses ini menjadi pengingat visual yang indah tentang nilai-nilai keadilan yang harus kita junjung dalam kehidupan sehari-hari.Dengan demikian, art glasses timbangan keadilan ini menggambarkan keindahan visual sambil memberikan pesan moral yang kuat tentang perlunya mencapai keadilan yang adil, saling mengasihi, dan berlandaskan pada prinsip salib Kristus.
250px-KacaPatri09.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 8
Art Glasses 8 dengan simbol dua kunci menghadap ke atas adalah sebuah karya seni yang melambangkan kekuasaan kepausan dan pengikatan gerejawi dalam tradisi Katolik. Lingkaran dalam tanda salib menekankan kesatuan dan kelengkapan, sementara tema pesan hati-hati mengingatkan kita akankebijaksanaan dan kewaspadaan dalam hidup rohani. Art glasses ini mengajak kita untuk menghormati otoritas gerejawi, mengikuti ajaran gereja, dan hidup dengan bijaksana dalam kehidupan Kristen.
250px-KacaPatri10.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 9
Art Glasses 9 ini menggambarkan Bunda Maria, Yesus kecil, dan Yusuf dalam komposisi indah. Mereka melambangkan kasih sayang dan perlindungan keluarga dalam tradisi Kristen. Art glasses ini menggambarkan pentingnya kasih sayang, perlindungan, dan kekuatan keluarga dalam tradisi Kristen. Bunda Maria sebagai lambang kasih sayang, Yesus Kristus sebagai contoh kerendahan hati, dan Yusuf sebagai figur ayah angkat yang melindungi keluarga. Art glasses ini menggambarkan keluarga Kudus sebagai teladan dalam kehidupan Kristen. Mereka mengajak kita untuk menghormati, melindungi, dan mencintai keluarga kita dengan kesetiaan
250px-KacaPatri11.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Art Glasses 10
Art Glasses 10 ini menggambarkan simbol tameng dan dua pedang yang melambangkan perlindungan, keberanian, dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Art glasses ini mengajak kita untuk memiliki keberanian dalam melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat, serta menghadapi rintangan dan musuh dengan kekuatan dan ketegasan. Art glasses ini mengajak kita untuk menghadapi ketakutan dan kelemahan dengan keberanian. Ia mengingatkan kita bahwa dalam hidup, kita perlu memiliki kekuatan dan tekad yang kuat untuk mengatasi rintangan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Secara keseluruhan, art glasses ini menggambarkan pesan tentang keberanian dan ketegasan dalam menghadapi perjuangan hidup, serta melindungi orang-orang terdekat.
250px-ReliefKeluargaKudus.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Relief Keluarga Kudus
Relief atau ukiran ini menggambarkan Bunda Maria dengan ekspresi lembut dan penuh kasih, duduk dengan tegap. Ia merangkul Yesus kecil yang berusia sekitar 5 tahun dengan penuh kelembutan, sementara tangan Bunda Maria yang terbuka menunjukkan sikap penyambutan dan cinta kasih. Yusuf berdiri tegak di samping mereka dengan sikap yang menggambarkan kewibawaan dan perlindungan. Telapak tangan Bunda Maria dan Yusuf yang menghadap ke depan mengisyaratkan sikap terbuka mereka dalam menyapa orang lain, menunjukkan keramahan dan kedamaian yang tersirat dalam keluarga Kudus. Makna dari relief ini adalah untuk menggambarkan kelembutan, kasih sayang, perlindungan, dan keramahan yang terpancar dari keluarga Kudus. Ia mengajak kita untuk menghargai nilai-nilai keluarga, sikap penyambutan, dan kedamaian dalam berinteraksi dengan orang lain. Relief ini mengingatkan kita akan kehangatan dan perlindungan yang dapat ditemukan dalam keluarga yang penuh kasih, serta mengajak kita untuk meneladani keteladanan Bunda Maria dan Yusuf dalam kehidupan sehari-hari.
250px-ReliefYesusdanPengikutnya.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Relief Yesus Dan Pengikutnya
Relief atau ukiran di sebelah kiri pintu utama gereja menggambarkan Yesus dengan penuh kasih sayang merangkul pengikutnya dan memberikan perhatian kepada orang miskin yang sakit. Relief ini menggambarkan Yesus sebagai sosok yang belas kasih dan penyayang. Ia tidak hanya merangkul pengikutnya, tetapi juga memberikan perhatian dan cinta kasih kepada orang-orang yang kurang beruntung, termasuk mereka yang miskin dan sakit. Relief ini mencerminkan nilai-nilai kasih dan belas kasihan yang diajarkan oleh Yesus. Relief ini mengajak kita merenungkan pentingnya mengasihi sesama dengan belas kasihan tulus, seperti yang Yesus tunjukkan kepada pengikutnya dan mereka yang terpinggirkan. Ia mengingatkan kita akan panggilan kita sebagai umat Kristen untuk melayani dan memberikan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan. Secara keseluruhan, relief ini menggambarkan kasih sayang dan perhatian Yesus kepada pengikutnya dan mereka yang miskin serta sakit. Ia mengajak umatnya untuk mengikuti teladan Yesus dalam mengasihi sesama dengan belas kasihan tulus dan memberikan perhatian kepada mereka yang kurang beruntung dalam kehidupan sehari-hari.

Pastor Kepala

Berikut sejumlah imam yang pernah bertugas sebagai pastor kepala pada Paroki Katedral Banjarmasin.

Berkas Imam Periode
Johannes Groen MSF Johanes Groen, M.S.F. 1936
120px-Petrus_Schoone_MSF.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Petrus Schoone, M.S.F. 1936–1939
120px-Adamus_Janmaat_MSF.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Adamus Janmaat, M.S.F. 1939–1940
Petrus Joannes van Etten Petrus Joannes van Etten 1940–1942
Johannes Zoetbier MSF Johannes Zoetbier, M.S.F. 1942–1947
Wilhelmus Demarteau MSF W. Demarteau, M.S.F. 1947–1954
Jacobus Kusters MSF Jakobus Kusters, M.S.F. 1954–1967
J. Kroegman, M.S.F. J. Kroegman, M.S.F. 1967–1978
Johannes Wiegers MSF Johannes Wiegers, M.S.F. 1978–1980
F.X. Prajasuta MSF F.X. Prajasuta, M.S.F. 1980–1981 dan 1982–1983
Berkas Imam Periode
F.X. The Tjoen An MSF F.X. The Tjoen An, M.S.F. 1981–1982
A. Tjokroatmodjo MSF A. Tjokroatmodjo, M.S.F. 1983–1984
120px-Yulius_Aloysius_Husin_MSF.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Yulius Aloysius Husin, M.S.F. 1984–1993
R. Yosephus Byaktasoewarta MSF R. Yosephus Byaktasoewarta, M.S.F. 1993–1995
Stephanus Bijanto CM Stephanus Bijanto, CM 1995–2003
Agustinus Dodik Ristanto CM Agustinus Dodik Ristanto, CM 2003–2007
Christophorus Katijanarso CM Christophorus Katijanarso, CM 2008–2010
Theodorus Yuliono Prasetyo Adi MSC Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, MSC 2010–2017
Krispinus Cosmas B. Tukan MSF Krispinus Cosmas B. Tukan, M.S.F. 2017–2021
Ignasius Tari MSF Ignasius Tari, M.S.F. 2021–sekarang

Galeri

  • 120px-Pelantikan_24_prodiakon_oleh_Uskup_Banjarmasin_di_Gereja_Keluarga_Kudus_Paroki_Katedral_Banjarmasin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • 120px-Gereja_Katedral_Keluarga_Kudus_Banjarmasin_003.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
  • 120px-Gereja_Katedral_Keluarga_Kudus_Banjarmasin_002.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Lihat pula

Referensi

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Banjarmasin Cathedral.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan