Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu. Cari sumber: "Kursi" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR |
Kursi adalah sejenis mebel berupa tempat duduk yang terangkat dari lantai, berkaki, dan bersandaran.[1] Kursi memiliki bentuk yang sangat beragam dan dibuat dari berbagai bahan.
Etimologi
Istilah Bahasa Indonesia "kursi" adalah serapan dari Bahasa Arab كرسي kursi.[2] Tidak diketahui persis kapan istilah kursi pertama digunakan di Nusantara, tetapi dapat diduga bahwa istilah tersebut sudah menjadi umum dalam Bahasa Melayu memasuki abad ke-16. Istilah ini tercatat dalam daftar kata Melayu yang disusun di Melaka sebelum tahun 1511 oleh penerjemah 楊林 Yáng Lín. Di antara 482 kata yang terdaftar, terdapat entri 椅 "kursi" yang disandingan dengan 孤路西 gūlùxī, ejaan hànzì yang paling mendekati pelafalan Melayu “kursi.”[3][4]
Dalam Bahasa Arab, kursi pada awalnya tidak merujuk pada jenis mebel tertentu namun tempat manapun yang dijadikan alas duduk.[5] Namun begitu istilah kursi juga dipahami sebagai takhta keagungan Illahi dalam آية ٱلكرسي Ayāt al-Kursī, petikan Qur’an yang umum digunakan dalam kaligrafi seantero dunia Islam termasuk Indonesia.[6] Besar kemungkinan, makna tinggi inilah yang pertama dipahami ketika kata “kursi” diserap oleh Bahasa Melayu sebagaimana terlihat dalam sejumlah sastra Melayu klasik seperti Sulalatus Salatin dan Hikayat Indraputra.[7][8][9] Istilah kursi baru mulai digunakan untuk merujuk perabot sehari-hari sekitar abad ke-18 M akibat pengaruh pemukim Eropa di Nusantara.[10]
Sejarah
Depiksi yang menyerupai kursi telah ditemukan pada gerabah Neolitikum yang digali di Eropa tenggara.[11] Dalam perkembangannya, kursi dikenal oleh berbagai budaya meski seringkali tidak menjadi kebutuhan sehari-hari sedari awal.[12][13][14] Sejumlah kursi Mesir kuno telah ditemukan di makam-makam firaun seperti Tutankhamun, tetapi diketahui dari seni mereka bahwa kebiasaan duduk sehari-hari Mesir kuno juga banyak berkutat pada lesehan.[15] Kebiasaan duduk masyarakat Tionghoa pada dinasti-dinasti paling kuno berkutat pada duduk lesehan sementara kursi baru umum digunakan sekitar dinasti Tang yang diperkenalkan oleh praktek biksu-biksu Buddha.[16] Masyarakat Eropa cenderung tidak mempraktekkan duduk lesehan, tetapi kursi sendiri relatif jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari digunakan dibanding dingklik dan bangku hingga abad ke-16 M.[17][18]
Rujukan
- ↑ "kursi". Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), versi online/daring (dalam jaringan). Diakses tanggal 9 Maret 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)cite web - ↑ Perdana 2026, hlm. 98.
- ↑ Edwards & Blagden 1931, hlm. 734.
- ↑ Hoogervorst 2024, hlm. 533.
- ↑ Ibn Manẓūr, Muhammad ibn Mukarram ibn Alī ibn Ahmad (2003). Lisān Al-’Arab; لسان العرب. Beirut: Dar Shadir; دار صادر. hlm. 49.
- ↑ Hooker, Virginia (2015). "Lines of Meaning: Three Calligraphic Paintings by Didin Sirojuddin". SUHUF. 4 (2): 328. doi:10.22548/shf.v4i2.59.
- ↑ Perdana 2026, hlm. 98–99.
- ↑ Cheah, Boon Kheng (2010). Sejarah Melayu: The Malay Annals. MBRAS. hlm. 68, 201.
- ↑ Mulyadi, Sri Wulan Rujiati (1980). Hikayat Indraputra: A Malay Romance (PDF) (PhD tesis). London: School of Oriental and African Studies.
- ↑ Perdana 2026, hlm. 101.
- ↑ Cranz 1998, hlm. 32.
- ↑ Massey 2011.
- ↑ Wilhide & Wood 2000.
- ↑ Zabalbeascoa Conca 2018.
- ↑ Cranz 1998, hlm. 30–31.
- ↑ Dampierre 2006, hlm. 34-32-42.
- ↑ Cranz 1998, hlm. 34–42.
- ↑ Bryson 2010, hlm. 57.
Daftar pustaka
- Edwards, E. D.; Blagden, C. O. (1931). "A Chinese Vocabulary of Malacca Malay Words and Phrases Collected between A. D. 1403 and 1511 (?)". Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London. 6 (3): 715–49. doi:10.1017/S0041977X00093204.
- Bryson, Bill (2010). At Home: A Short History of Private Life. Black Swan.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) - Cranz, Galen (1998). The Chair: Rethinking Culture, Body, and Design. Norton. ISBN 978-0-393-04655-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) - Dampierre, Florence de (2006). Chairs: A History. Abrams. ISBN 978-0-8109-5484-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) - Hoogervorst, Tom G. (2024). "Seventeenth-Century Malay Wordlists and Their Potential for Etymological Scholarship". Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia. 25 (3): 531–75. doi:10.17510/wacana.v25i3.1782.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) - Lico, Gerard (2023). Salumpuwit, Bangko, Silya, Atbp: Chairs in Filipino Life. Arc Lico International Services. ISBN 978-621-96242-5-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) - Massey, Anne (2011). Chair. Objekt. Reaktion books. ISBN 978-1-86189-758-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) - Perdana, Aditya Bayu (1 Februari 2026). "Between Floors and Chairs: The changing role of seats in the Indonesian Archipelago". Res Mobilis. 14 (20). Universidad de Oviedo: 90–109. doi:10.17811/rm.14.20.2026.90-109.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Wilhide, Elizabeth; Wood, Andrew (2000). The Chair: Living with Modern Classics. Watson-Guptill Publications. ISBN 978-0-8230-3109-2.
- Zabalbeascoa Conca, Anatxu (2018). Chairs: Historia de la Silla. Gustavo Gili Editorial S.A. ISBN 978-84-252-3116-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Lihat pula
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
Artikel bertopik alat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |