Kamis, 08 Oktober 2026
19:58 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Kacang parang

Kacang parang

Bagikan:
Kacang parang
250px-Canava1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Subfamili: Faboideae
Genus: Canavalia
Spesies:
C. ensiformis
Nama binomial
Canavalia ensiformis
Sinonim

Referensi:[2][3]

  • Canavalia gladiata DC.
  • C. gladiata (Jacq.) DC. var. ensiformis (L.) Benth.
  • C. virosa W.A.A.
  • Dolichos ensiformis L.
250px-Canavalia_ensiformis_MHNT.BOT.2013.22.55.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Canavalia ensiformis

Kacang parang (Canavalia ensiformis) adalah suatu jenis polong-polongan yang ditanam sebagai bahan pangan. Biji tumbuhan ini cukup banyak mengandung protein, tetapi demikian jumlahnya belum sebanyak kedelai.[4]

Di Indonesia, kara pedang dikenal dengan sebutan kara kaji (Indonesia),[4] kacang parang (Melayu), kara bědog, k. měkah, k. prasman (Sunda), kar. bĕnda, koro bĕndo, kor. pědang, kara pědang, krandhang (Jawa), kar. ortel, dan juga kar. wedung (Madura).[2][3]

Ada yang membuat dage dari bijinya yang sudah tua, tetapi biji tersebut harus dimasak 2 kali selama berjam-jam untuk menghilangkan racunnya.[4] Biji kacang parang juga dapat diolah untuk dijadikan tempe non-kedelai.[5]

Deskripsi

Kacang parang merupakan semak merambat dengan panjang mencapai 10 m.[4] Makin bertambah umur, batangnya yang merambat akan berubah menjadi berkayu. Percabangan tumbuh pada buku terendah dan beberapa cabang sekunder juga tumbuh.[3] Permukaan batang kacang parang berwarna hijau dan berbulu. Daunnya bertangkai, dan mempunyai 3 helai anak daun. Daunnya tergolong majemuk, gasal, berselang-seling, pangkalnya membulat, tepinya rata, berukuran 7,5–15 cm × 5–10 cm, pertulangannya melengkung, berbulu, dan berwarna hijau. Bunga berbentuk kupu-kupu, berwarna merah muda hingga kadang-kadang putih. Kacang parang memiliki bunga yang tergolong majemuk, tumbuh di ketiak daun, panjang 7,5–20 cm, mahkota bunga berbentuk kupu-kupu, berwarna ungu, dan panjangnya 2–4 cm. Buahnya berbentuk polong,. Biji berbentuk lonjong, terpampat ke samping, berwarna gading atau putih, hilum cokelat dengan panjang 6–9 mm. Tiap-tiap polong berisi 20 biji. Panjang biji ± 2,5 cm. Akarnya tunggang dan berwana putih kotor.[2][3][4]

Persebaran & habitat

Tempat asal kacang parang adalah Amerika Selatan dan Tengah. Di Amerika Serikat bagian selatan, dibudidayakan semenjak zaman pra-sejarah. Telah ditemukan bukti bahwasanya di Meksiko bahwa tumbuhan ini dibudidayakan semenjak 3000 SM. Di Pulau Jawa, ia terdapat di hutan-hutan di dataran rendah hingga ketinggain 1000 mdpl. Biasa ditanam masyarakat sebagai sumber makanan.[4][6] Bengkulu juga berpotensi bagi usaha budi daya tanaman koro pedang karena terdapat cuaca dan iklim ketinggiannya hingga 2.500 meter dari permukaan laut dengan suhu 26,3 derajat Celcius.[7] Kacang parang tumbuh di dua hemisfer.[8] Tapi walau demikian, Karel Heyne mengutip Backer yang mengatakan bahwa kacang parang tumbuh di ketinggian 2000 mdpl. Sering ditanam atau tumbuh liar, kata Backer sebagaimana dikutip Heyne.[9] Menurut PROSEA, tumbuhan ini berada di ketinggian 1800 mdpl. Namun tahan dengan kekeringan, dan membutuhkan curah hujan sekitar 700–2400 mm. Tumbuhan ini membutuhkan sinar matahari dan bisa hidup di bawah semak-semak. Toleran dengan tanah yang asam dan yang subur. Tidak terlalu berpengaruh dengan genangan air dan salinitas ketimbang polong-polongan lain.[6]

Taksonomi

Menurut Karel Heyne, kacang parang memiliki beberapa forma yang dimakan masyarakat Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Menurutnya, forma kacang parang itu ada yang dianggap spesies tersendiri. Selain itu pula, kacang parang berbiji putih lebih baik daripada forma yang berwarna merah. Dan biji kacang parang yang berwarna cokelat kotor, menurutnya, sangat dipertimbangkan.[9]

Referensi

  1. ↑ "Canavalia ensiformis (L.) DC". Germplasm Resources Information Network. United States Department of Agriculture. 2005-12-22. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-01-20. Diakses tanggal 2009-03-26.
  2. 1 2 3 "Canavalia ensiformis (L.) DC" (PDF). Departemen Kesehatan. 15 November 2001. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2008-12-07. Diakses tanggal 26 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 "Canavalia ensiformis DC". Prohati. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-04-13. Diakses tanggal 26 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 4 5 6 Sastrapradja, Setijati; Lubis, Siti Harti Aminah; Djajasukma, Eddy; Soetarno, Hadi; Lubis, Ischak (1981). Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi:Sayur-Sayuran 6:46 –47. Jakarta: LIPI bekerja sama dengan Balai Pustaka. OCLC 66307472.
  5. ↑ Syarief, R.; dkk (1999). Wacana Tempe Indonesia. hal.4-7. Surabaya:Universitas Katolik Widya Mandala. ISBN 979-8142-16-0.
  6. 1 2 Chee, Y.K.; Hacker, J.B.; Ramirez, L.; Chen, C.P. (1992). "Canavalia ensiformis" In: Mannetje, L.'t; Jones, R.M. (Editor). Plant Resources of South-East Asia No. 4: Forages. Belanda:Pudoc, Wageningen. hal. 74-77 dalam "Canavalia ensiformis (L.) DC". E-Prosea Detail. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-06-10. Diakses tanggal 19 November 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Primus, Josephus (28 Juli 2010). "Bengkulu Cocok untuk Koro Pedang". Kompas. Diakses tanggal 19 November 2013.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "Canavalia ensiformis (L.) DC". FAO. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-11-24. Diakses tanggal 19 November 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 Heyne, Karel (1916). De nuttige planten van Nederlandsch-Indië [Tumbuhan berguna dari Hindia Belanda]. II:330 –331. Batavia:Ruygrok & Co.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan