Jumat, 16 Oktober 2026
22:08 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Indonesia Raya

Indonesia Raya

lagu kebangsaan Indonesia

Bagikan:
Artikel ini berisi tentang lagu kebangsaan Indonesia. Untuk kegunaan lain, lihat Indonesia Raya (disambiguasi).
Indonesia Raya
250px-Brosur_Lagu_Kebangsaan_-_Indonesia_Raya.pdf%2C_p._57.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lembaran musik "Indonesia Raya"
Lagu kebangsaan Indonesia
AliasIndonesia Raja (ejaan lama)
Penulis lirikWage Rudolf Soepratman, 1924
Komite Lagu Kebangsaan (dipimpin oleh Soekarno), 1944
KomponisWage Rudolf Soepratman, 1924
Penggunaan17 Agustus 1945 (asli)
17 Agustus 1950 (resmi)
7 Desember 1975 (oleh Timor Timur di bawah Indonesia)
Pencabutan1999 (oleh Timor Leste)
Sampel audio
Penampilan instrumental Band Angkatan Laut AS dalam A-flat mayor
Rekaman video Indonesia Raya 3 bait (1945)

"Indonesia Raya" merupakan lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini menjadi salah satu titik kelahiran pergerakan nasionalis di seluruh Nusantara yang mendukung ide "Indonesia" yang satu sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah belah menjadi beberapa koloni.[1][2][3][4][5]

Lagu ini digubah oleh Wage Rudolf Soepratman pada tahun 1924 dan kemudian diperkenalkan di depan khalayak pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta).[6] Koran Tionghoa-Indonesia berbahasa Melayu, Sin Po, edisi 10 November 1928 diterbitkan.[7] Setelah beberapa kali mengalami perubahan, lagu "Indonesia Raya" diputar dalam upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seusai pembacaan Teks Proklamasi oleh Soekarno.[8] Lagu "Indonesia Raya" yang gubahannya sempat ditinjau ulang kemudian diatur keabsahannya sebagai lagu kebangsaaan dalam PP No. 44 Tahun 1958. Keabsahannya sebagai lagu kebangsaan dikukuhkan lebih jauh dengan ditetapkannya amendemen kedua UUD 1945 yang memasukkan butir "Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya" dalam Pasal 36B, dan juga disahkannya UU No. 24 Tahun 2009.[9]

"Indonesia Raya" selalu dimainkan dan dinyanyikan pada upacara bendera, yaitu pada saat pengibaran atau penurunan Bendera Sang Merah Putih, terutama pada upacara Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Bendera Negara harus dinaikkan atau diturunkan dengan khidmat serta dengan tarikan dan uluran yang diatur sedemikian agar bendera mencapai puncak tiang bendera ketika lagu berakhir. Setiap orang yang hadir pada saat Lagu Kebangsaan diperdengarkan dan/atau dinyanyikan, wajib berdiri tegak dengan sikap hormat.[10] Lagu kebangsaan "Indonesia Raya" juga wajib diputar di setiap stasiun televisi dan radio[11] sebelum pembukaan stasiun televisi dan radio, atau antara pukul 04:00 WIB dan 06:00 WIB. dan Lagu Kebangsaan Indonesia Mulai 11 Desember 2024 pukul 06:00 WIB diharapkan Setiap Hari Semua TV Nasional[12]

Sejarah

Ketika memublikasikan "Indonesia Raya" tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul "Indonesia Raya". Teks lagu "Indonesia Raya" dipublikasikan pertama kali oleh surat kabar Sin Po, sedangkan rekaman pertamanya dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Yo Kim Tjan.[13][14][15][4]

Setelah dikumandangkan tahun 1928 di hadapan para peserta Kongres Pemuda Kedua dengan biola, lagu tersebut kemudian dinyanyikan secara vokal untuk pertama kalinya oleh Dolly Salim (Theodora Athia Salim). Karena tidak ada panggung dan posturnya yang masih belia, ia diberdirikan di atas kursi sambil diiringi gesekan biola W.R. Soepratman.[16][17][18] Pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi "Indonesia Raya". Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!") pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.[19] Selanjutnya lagu "Indonesia Raya" selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.

Naskah pada koran Sin Po (1928)

Lagu "Indonesia Raya" diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a - e) dan dengan irama Marcia, Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).

Aransemen Jos Cleber (1950)

Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda bernama Jos Cleber. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta, Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.[20][21]

Rekaman asli (1951) dan rekam ulang (1997)

Rekaman asli dari Jos Cleber pada awal tahun 1951 oleh Orkes Cosmopolitan (pimpinan Jos Cleber), Orkes Studio Djakarta (pimpinan Syaiful Bahri), dan kelompok Orkes Radio Djakarta / Orkes Philharmony (pimpinan Ivone Baarspul) dilakukan dengan peralatan rekaman mikrofon Westrex dan tape recorder Philips di Studio RRI Jakarta.[20][21] Lagu ini kemudian direkam ulang secara digital di Australia oleh Victorian Philharmonic Orchestra di bawah konduktor Addie MS, yang dimuat dalam album Simfoni Negeriku dengan durasi selama 107 detik.[22][21]

Aransemen vokal (2006)

Pada tahun 2006, lagu kebangsaan Indonesia Raya versi aransemen vokal yang dibawakan oleh Surya Children Choir, dimuat dalam album Kumpulan Lagu Wajib sebagai trek pembuka.[23]

Aransemen vokal dengan tempo yang lebih cepat (2022)

Lagu kebangsaan Indonesia Raya versi aransemen vokal dengan tempo yang lebih cepat dirilis di iNews pada Maret 2022.[24]

Lirik asli, ejaan 1958, dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Rekaman video Indonesia Raya 3 bait (1945)

Lirik asli (1928)

INDONESIA RAJA[19]
 

I
Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
"Indonesia Bersatoe".

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg'rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

II
Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa:
"Indonesia Bahagia".

Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.

III
Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
"Indonesia Bersatoe"

S'lamatlah rajatnja,
S'lamatlah poet'ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg'rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrain
Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta.
Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

Lirik resmi (1958)

INDONESIA RAJA[25]
(sudah digunakan sejak 1945 atau lebih awal)

I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri,
Djadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rajatku, sem'wanja,
Bangunlah djiwanja,
Bangunlah badannja,
Untuk Indonesia Raja.

II
Indonesia, tanah jang mulia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanja,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnja,
Suburlah djiwanja,
Bangsanja, Rajatnja, sem'wanja,
Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja,
Untuk Indonesia Raja.

III
Indonesia, tanah jang sutji,
Tanah kita jang sakti,
Disanalah aku berdiri,
Ndjaga ibu sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang aku sajangi,
Marilah kita berdjandji,
Indonesia abadi.

S'lamatlah rakjatnja,
S'lamatlah putranja,
Pulaunja, lautnja, sem'wanja,
Madjulah Neg'rinja,
Madjulah pandunja,
Untuk Indonesia Raja.

Refrain
Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku jang kutjinta!
Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raja.

Lirik modern

INDONESIA RAYA[26]
 

I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah negeriku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

II
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk selama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
Pusaka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

III
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
Jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

Selamatlah rakyatnya,
Selamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Negerinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, negeriku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Notasi

Berikut adalah notasi lagu versi aransemen Jos Cleber yang termuat pada Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1958.

\version "2.24.4" % from [[:File:Brosur Lagu Kebangsaan - Indonesia Raya.pdf]], p. 153 \header { tagline = ##f } % title = "Indonesia Raya" } \paper { #(set-paper-size "a4") } \layout { indent = 0 \context { \Score \remove "Bar_number_engraver" } }  global = { \key g \major \numericTimeSignature \time 4/4 \partial 4 \autoBeamOff }  melody = \relative c' { \global \set Staff.midiInstrument = "brass section"   b8. c16 | d4 b'4~ b8. b16 a8. a16 | g4 d4. r8   d8. d16 | e4 d c b | a2~ a8 r8 \bar "" \break   a8. b16 | c4 a'4~ a8. a16 g8. g16 | fis4 e4. r8   d8. d16 | fis4 e d c | b2~ b8 r8 \bar "" \break   b8. c16 | d4 b'4~ b8. b16 a8. a16 | g4 d4. r8   d8. d16 | e4 d g a | fis2 e8 r \bar "" \break   e8. e16 | c'4 c b a | d2 g,8 r   fis8. e16 | d4 c' b a g2~ g8 r \bar "" \break   d8. d16 | e4 c'8. c16 c4 c8. c16 | b4 g8. g16 g4 fis8. g16 | a4 d8. d16 d4 c8. c16 | b2 g8 r  \bar "" \break   d8. d16 | e4 c'8. c16 c4 c8. c16 | b4 g8. g16 g4 fis8. g16 | a4 d d b8. a16 | g2~ g8 r   \repeat volta 2 { g8. g16 | c4 e8. e16 e4 e8. e16 | d4 b8. b16 b4 d8. d16 | c4 a8. a16 a4 d8. c16 | b2 g8 r \bar "" \break   g8. g16 | c4 e8. e16 e4 e8. e16 | d4 b8. b16 b4 d8. d16 | d4 c8. b16 a4 b8. a16 | g2~ g8 r8 \bar "|." } }  verse = \lyricmode {   In -- do -- ne -- sia, ta -- nah a -- ir -- ku   Ta -- nah tum -- pah da -- rah -- ku   Di sa -- na -- lah a -- ku ber -- di -- ri   Ja -- di pan -- du i -- bu -- ku    In -- do -- ne -- sia, ke -- bang -- sa -- an -- ku   Bang -- sa dan ta -- nah a -- ir -- ku   Ma -- ri -- lah ki -- ta ber -- se -- ru   In -- do -- ne -- sia ber -- sa -- tu!    Hi -- dup -- lah ta -- nah -- ku, hi -- dup -- lah ne -- g'ri -- ku   Bang -- sa -- ku, rak -- yat -- ku, se -- mu -- a -- nya   Ba -- ngun -- lah ji -- wa -- nya, ba -- ngun -- lah ba -- dan -- nya   Un -- tuk In -- do -- ne -- sia Ra -- ya    % Refrain:   In -- do -- ne -- sia Ra -- ya, mer -- de -- ka! Mer -- de -- ka!   Ta -- nah -- ku, ne -- g'ri -- ku yang ku -- cin -- ta   In -- do -- ne -- sia Ra -- ya, mer -- de -- ka! Mer -- de -- ka!   Hi -- dup -- lah In -- do -- ne -- sia Ra -- ya! }  \score {   \new Staff   \melody   \addlyrics \verse   \layout { } } \score { \unfoldRepeats { \melody } \midi { \tempo 4=96 } }
Audio playback is not supported in your browser. You can download the audio file.

Aturan lagu Kebangsaan

Lagu kebangsaan "Indonesia Raya" dan penggunaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No.44 Tahun 1958[27] dan Undang-Undang Nomor: 24 tahun 2009 Tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan. Namun kewajiban untuk memperdengarkan lagu kebangsaan tersebut hanya berlaku untuk Daerah Istimewa Yogyakarta di mana seluruh warga diwajibkan untuk mendengarkan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" untuk menghormati jasa pahlawan pada jam 10:00 WIB sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 29/SE/V/2021 dan lagu kebangsaan tersebut disiarkan dua kali di seluruh jaringan TV dan radio di seluruh DI Yogyakarta. Lalu, lagu kebangsaan didengarkan pada saat upacara bendera di seluruh ruang publik DIY seperti tempat kerja, sekolah dan fasilitas umum.[28] Di sisi lain, lagu kebangsaan ini wajib disiarkan pukul 10:00 waktu setempat di seluruh stasiun RRI di Indonesia, selain memutar lagu kebangsaan itu baik saat memulai siaran (pukul 05:00 waktu setempat) maupun pukul 06:00 WIB (khusus untuk RRI Programa 3 dan stasiun RRI lain yang bersiaran 24 jam).

Protokol

"Setiap orang yang hadir pada saat Lagu Kebangsaan diperdengarkan dan/atau dinyanyikan, wajib berdiri tegak dengan sikap hormat"

- Pasal 62 UU Nomor 24 tahun 2009 Tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan.

Yang dimaksud dengan ”berdiri tegak dengan sikap hormat” pada waktu lagu kebangsaan diperdengarkan/dinyanyikan adalah berdiri tegak di tempat masing-masing dengan sikap sempurna, meluruskan lengan ke bawah, mengepalkan telapak tangan, dan ibu jari menghadap ke depan merapat pada paha disertai pandangan lurus ke depan.[29] Mereka yang berpakaian seragam dari sesuatu organisasi, memberi hormat dengan cara yang telah ditetapkan untuk organisasi itu.[30]

Penggunaan

Lagu kebangsaan "Indonesia Raya" diperdengarkan dan/atau dinyanyikan:
a. Untuk menghormati Presiden dan/atau Wakil Presiden Republik Indonesia
b. Untuk menghormati Bendera Negara pada waktu pengibaran atau penurunan Bendera Negara yang diadakan dalam upacara;
c. Dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah;
d. Dalam acara pembukaan sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Dewan Perwakilan Daerah;
e. Untuk menghormati kepala negara atau kepala pemerintahan negara sahabat dalam kunjungan resmi;
f. Dalam acara atau kegiatan olahraga internasional; dan
g. Dalam acara ataupun kompetisi ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni internasional yang diselenggarakan di Indonesia.[31]

Lagu kebangsaan juga dapat diperdengarkan/dinyanyikan untuk keperluan lain selain yang disebut diatas. Di antaranya yaitu untuk mengekspresikan rasa kebangsaan, patriotisme, dan/atau nasionalisme.

Lagu kebangsaan juga dapat diperdengarkan/dinyanyikan saat memulai acara yang diadakan oleh organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, partai politik, dan/atau instansi/yayasan/kelompok masyarakat lainya. Yang dimaksud dengan "acara" yaitu seperti Wisuda, kompetisi ilmu pengetahuan, debat, rapat, acara peresmian, dan pada saat memulai acara atau kegiatan lainnya yang secara signifikan lokasinya/situasinya layak untuk diperdengarkan/dinyanyikan lagu kebangsaan tersebut.

Larangan

DILARANG:
a. Mengubah Lagu Kebangsaan dengan nada, irama, katakata, dan gubahan lain dengan maksud untuk menghina atau merendahkan kehormatan Lagu Kebangsaan;
b. Memperdengarkan, menyanyikan, ataupun menyebarluaskan hasil ubahan Lagu Kebangsaan dengan maksud untuk tujuan komersial; atau
c. menggunakan Lagu Kebangsaan untuk iklan dengan maksud untuk tujuan komersial.[32]

Kontroversi

Pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu "Indonesia Raya" merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul "Lekka Lekka Pinda Pinda". Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggapi tulisan Remy dalam harian Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam sastra musik, ada lagu "Lekka Lekka Pinda Pinda" di Belanda, begitu pula "Boola-Boola" di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu "Boola-boola" dan "Lekka Lekka" tidak sama persis dengan "Indonesia Raya", karena hanya delapan ketukannya yang sama. Begitu juga dengan penggunaan akor yang jelas berbeda. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa "Indonesia Raya" tidak menjiplak dari mana pun.[33][34]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Cirebon, Ppi Kota. "Sejarah Lagu Indonesia Raya". PPI Kota Cirebon. Diakses tanggal 2026-02-05.
  2. ↑ Anwar, Rosikhan. "HUT ke-76 RI, Ini Sejarah Singkat Lagu Indonesia Raya dan Liriknya - Suara Merdeka". HUT ke-76 RI, Ini Sejarah Singkat Lagu Indonesia Raya dan Liriknya - Suara Merdeka. Diakses tanggal 2026-02-05.
  3. ↑ "Indonesia Raya The Story Behind". Diakses tanggal 2026-02-05.
  4. 1 2 Cirebon, Ppi Kota. "Sejarah Lagu Indonesia Raya". PPI Kota Cirebon. Diakses tanggal 2026-02-05.
  5. ↑ "Indonesia Raya; Lagu Kebangsaan Indonesia | Indonesia Investments". www.indonesia-investments.com. Diakses tanggal 2026-02-05.
  6. ↑ "Indonesia – Indonesia Raya". NationalAnthems.me. Diakses tanggal 27 November 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "National Geographic Indonesia Pewarta Melayu-Tionghoa di era pergerakan nasional". Diarsipkan dari asli tanggal 7 Februari 2011.
  8. ↑ Tim Detikcom (16 Agustus 2021). "Lagu Indonesia Raya: Sejarah Singkat dan Lirik Lengkap". detikcom. Diakses tanggal 8 Januari 2022.
  9. ↑ "Indonesia Raya; Lagu Kebangsaan Indonesia | Indonesia Investments". www.indonesia-investments.com. Diakses tanggal 2026-02-05.
  10. ↑ Pasal 62 UU Nomor: 24 tahun 2009 Tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan.
  11. ↑ "Televisi dan Radio Wajib Memutar Lagu "Indonesia Raya"".
  12. ↑ https://ejournal.ipinternasional.com/index.php/ijcs/article/download/761/702/5169. Diakses tanggal 2026-02-05.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
  13. ↑ "Indonesia Raya The Story Behind Our National Anthem". Diakses tanggal 2026-02-05.
  14. ↑ Setiawan, Andri (2019-10-28). "Jalan Panjang Indonesia Raya". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-02-05.
  15. ↑ "Sejarah Lirik Lagu Indonesia Raya dan Pertama Kali Dipublikasikan di Media". kumparan. Diakses tanggal 2026-02-05.
  16. ↑ Sitompul, Martin (2015-10-27). "Dolly Salim, Penyanyi Indonesia Raya Pertama di Kongres Pemuda". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-08-18.
  17. ↑ Raditya, Iswara N. "Dolly Salim, Orang Pertama yang Menyanyikan". tirto.id. Diakses tanggal 2026-08-18.
  18. ↑ "Dolly Salim Penyanyi Pertama Lagu Indonesia Raya Pada 1928, Siapakah Dia?". Tempo. 29 Oktober 2021. Diakses tanggal 2026-08-18.
  19. 1 2 Panitia Penyusun Naskah Brosur Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 1972, hlm. 28–30
  20. 1 2 Aryono (2018-04-18). "Komponis Belanda Aransemen Indonesia Raya". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-08-18.
  21. 1 2 3 Aris Sasangka, R. Bambang (2021-08-06). "Ada Sentuhan Empat Pemusik Ini dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya". espos.id. Diakses tanggal 2026-06-18.
  22. ↑ jawawa.id (1998-10-31). "Twilite Orchestra launches album feting national songs". jawawa (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-18.
  23. ↑ Kumpulan Lagu Wajib (Catatan media). GNP. 2006. Diakses tanggal 19 Juni 2026 – via Irama Nusantara.
  24. ↑ FAD's - TV Archive (2025-02-19), Indonesia Raya – iNews (2022), diakses tanggal 2026-01-24
  25. ↑ Panitia Penyusun Naskah Brosur Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 1972, hlm. 54–55
  26. ↑ Sularto 1982, hlm. 44–46
  27. ↑ "Peraturan Pemerintah No.44 Tahun 1958". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-10. Diakses tanggal 2007-01-31.
  28. ↑ Karya pewarta (18 Mei 2021). "Sultan HB X Terbitkan Edaran Wajib Dengarkan Indonesia Raya". CNN Indonesia. Jakarta: Warner Bros. Discovery Asia-Pacific – via Trans Media.
  29. ↑ Romawi II, Penjelasan atas UU RI nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan
  30. ↑ Pasal 9 Bab V Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
  31. ↑ Pasal 59 UU nomor 24 tahun 2009
  32. ↑ Pasal 64 UU 24 tahun 2009
  33. ↑ Rura, Cecylia (2019-03-09). "Cerita Lagu Indonesia Raya yang Dianggap Plagiat". medcom.id. Diakses tanggal 2026-04-09.
  34. ↑ "Lagu Indonesia Raya Karya W.R. Supratman BUKAN Jiplakan! Ini Buktinya..." Mizanstore Blog. 2018-07-12. Diakses tanggal 2026-04-09.

Pranala luar

Wikisource logo
Wikisumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini:
Kebangsaan
Daerah
Organisasi
Mantan negara
Bekas Kekaisaran Rusia
atau Uni Soviet
Lainnya
Dunia Islam
Garis miring menunjukkan status negara yang tidak diakui atau diakui sebagian.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan