| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 29 Januari 1292 Damaskus |
| Kematian | 16 September 1350 Damaskus |
| Tempat pemakaman | Bab as-Saghir |
| Data pribadi | |
| Agama | Islam dan Islam Sunni |
| Kegiatan | |
| Spesialisasi | Ulum hadis, Fikih dan tafsir al quran |
| Pekerjaan | teolog,pengarang,Cendekiawan,penyair,Faqih,muhaddits,ilmuwan |
| Murid dari | Ibnu Taimiyah dan Badruddin Ibnu Jama'ah |
| Murid | Ibnu Rajab, Ibnu Katsir, Fairuzabadi, Ahmad ibn Naqib al-Misri (en) |
| Karya kreatif | |
Karya terkenal
| |
| Keluarga | |
| Anak | Burhanuddin Ibnul Qayyim |
| Ayah | Abu Bakar Qayyim al-Jauziyyah |
Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Sa'ad bin Hariz az-Zur'i ad-Dimasyqi al-Hanbali (bahasa Arab:أَبُو عَبْدِ ٱللَّٰهِ شَمْسُ ٱلدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَيُّوبَ بْنِ سَعْدِ بْنِ حَرِيزٍ ٱلزُّرْعِيُّ ٱلدِّمَشْقِيُّ ٱلْحَنْبَلِيُّ);[1] (29 Januari 1292 – 23 Agustus 1350) atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (bahasa Arab:ابنِ قَيِّمِ الجَوْزِيَّة) adalah seorang ulama Islam berpengaruh dari abad ke-13. Ia dikenal dengan Ibnu Qayyim (putra Qayyim) karena ayahnya, Abu Bakar bin Ayyub az-Zur'i, adalah pengawas (qayyim) di sebuah sekolah hukum lokal Hambali di Damaskus yang bernama Madrasah al-Jauziyyah.[2][3]
Ia dilahirkan di Damaskus, Suriah pada tanggal 7 Safar 691 H atau 29 Januari 1292 M dan meninggal pada 23 September 1350. Ia merupakan seorang imam sunni, cendekiawan, dan ahli fikih yang hidup pada abad ke-13. Ia dikenal sebagai ahli fikih bermazhab Hambali. Di samping itu juga seorang ahli tafsir, ahli hadis, penghafal Al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, dan seorang mujtahid. Ia hidup pada masa Dinasti Mamluk.
Kelahiran dan Nasab
Nasabnya dari pihak ayah adalah Syamsuddin Abu 'Abdillah Muhammad bin Abubakar bin Ayyub bin Su'ad bin Hariz az-Zar'i ad-Dimasyqi, dikenal dengan sebutan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Ia lahir pada tanggal 17 Safar 691 H.
Pendidikan
Ibnu Qayyim berguru ilmu hadis pada Syihab an-Nablusi dan Qadi Taqiyyuddin bin Sulaiman; berguru tentang fikih kepada syekh Safiyyuddin al-Hindi dan Isma'il bin Muhammad al-Harrani; berguru tentang ilmu waris (fara'idh) kepada bapaknya; dan juga berguru selama 16 tahun kepada Ibnu Taimiyyah.
Dia mempelajari ilmu faraidh dari ayahnya, karena ayahnya memiliki pemahaman baik dalam bidang ilmu tersebut. Ia mendalami bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’ kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syekh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.
Belajar ilmu Ushul dari syekh Shafiyuddin al-Hindi, ilmu fikih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan syekh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.
Penguasaannya terhadap ilmu tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap ushuluddin mencapai puncaknya dan pengetahuannya mengenai hadis, makna hadis, pemahaman serta istinbath-istinbath rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.
Begitu pula, pengetahuan dia rahimahullah tentang ilmu suluk dan ilmu kalam-nya ahli tasawuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail mereka. Ia memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu ini.
Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid dia. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah:
- Anak dia sendiri bernama Syarafuddin Abdullah
- Anaknya yang lain bernama Ibrahim,
- Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah
- Al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah
- Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi
- Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy
- Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy
- Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i
- Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky
- Taqiyuddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i
Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli bid’ah) serta helat-helat (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.
Oleh sebab itulah dia rahimahullah mengajak kembali kepada mazhab salaf; orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan batilnya mazhab taklid. (Pendapat wahhabism).
Kendatipun dia adalah pengikut mazhab Hambali, tetapi dia sering keluar dari pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan mazhab-mazhab yang masyhur.
Ujian
Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor unta di Qal'ah. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara. Hal itu disebabkan karena dia menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali seperti ke makam Al-Khalil[3]. Dia peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filsuf dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam firkah Islamiyah. Ia juga berselisih pendapat dengan kelompok Syafi'iyah, Hanafiyah dan Hambaliyah terkait pertaruhan perlombaan yang menghadirkan pihak ketiga (muhallil).
Pandangan Ulama
Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, "Ibnul Qayyim adalah seorang yang pandai dalam masalah madzhab, seorang briliaru sering memberikan fatwa, selalu bersama dengan Syaikh Taqiyuddin bin Taimiyah, pandai dalam ilmu-ilmu keislaman, menguasai tentang tafsir yang tiada bandingannya, pandai dalam bidang Ushuluddin, hadits, makna dan fikihnya serta rahasia-rahasia pengambilan hukumnya. Dia juga mahir dalam bidang fikih dan Ushul fikihnya, pandai dalam bidang bahasa Arab, ilmu kalam, nahwu. Ia juga pandai dalam ilmu biogra-fi, pandai dalam mencerna perkataan para ahli sufi, isyarat dan rahasiarahasinya. Dalam bidang ilmu-ilmu di atas, dia sangat menguasainya. Ia seorang yang banyak beribadah dan melakukan tahajud, seorang yang shalatnya panjang, banyak berdzikir dan yang sangat tinggi mahabbah (kecintaannya kepada Allah)."[3]

Ibnu Katsir mengatakan, "Dia belajar hadits, konsen menuntut ilmu dan pandai dalam beragam bidang ilmu, terutama dalam bidang tafsir, hadits dan Ushul. Dary ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kembali dari Mesir pada tahun 712 Hijriyah, dialah orang yang selalu menyertainya sampai Syaikh wafat. Dari Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim menyerap ilmu, menggantikan sang guru mengajar sehingga dia mendapatkan tambahan ilmu yang luar biasa banyaknya, sehingga murid-muridnya pun semakin banyak yang keluar masuk dari rumahnya siang maupun malam. Saya tidak pemah melihat orang yang lebih banyak ibadahnya dibanding Ibnul Qayyim. Ibadahnya (shalatnya) dapat ditandai yaitu dengan memanjangkannya, memperlama ruku' dan sujudnya, sampai-sampai terkadang teman-temannya mencelanya, namun dia tetap tidak merubahnya."
Al-Qadhi Burhanuddin Az-Zar'i mengatakan, "Di kolong langit ini tidak ada orang yang lebih pandai melebihi dirinya. Dia terkenal dengan sebutan Al-Jauziyah sudah sangat lama, dan kitab-kitab tulisannya pun tidak terhitung lagi jumlahnya."
Ibnu Nashir Ad-Dimasyqi mengatakan, "Ibnul Qayyim adalah seorang yang menguasai banyak cabang ilmu khususnya ilmu tafsir, Ushul Al-Manthiq dan Al-Mafhum."
Guru dan Murid-muridnya
Guru-gurunya adalah: Ayahnya sendiri Abu Bakar bin Ayyub Qayyim Al-Jauzi,Ibnu Abdiddaim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy-Syihab Al-Abir, Ibnu Asy-Syirazi, Al-Majd Al-Harrani, Ibnu Maktum, Al-Kuhhali, Al-Baha' bin Asakir, Al-Hakim Sulaiman Taqiyuddin Abu Al-Fadl bin Hamzah. Juga, Syarafuddin bin Taimiyah saudara Syaikhul Islam, Al-Mutha'im, Fathimah binti Jauhar, Majduddin At-Tunisi, Al-Badar bin Jama'ah, Abu Al-Fath Al-Ba'labaki, Ash-Shaf Al-Hindi, Az-Zamlakani, Ibnu Muflih dan Al-Mizzi.[3]
Adapun murid-muridnya adalah: Al-Burhan bin Al-Qayyim Al-Jauzi, anaknya bemama Burhanuddin, Ibnu Katsir, Ibnu Rajab, Syarafuddin bin Al-Qayyim, anaknya bernama Abdullah bin Muhammad, As-Subki, Ali bin Abdulkafi bin Ali bin Tamam As-Subki, Adz-Dzahabi,Ibnu Abdulhadi, An-Nablusi, Al-Ghazi dan Al-Fairuz Abadi Al-Muqri.
Karyanya

- Ijtimā' al-Juyūsy al-Islāmiyyah 'ala al-Mu'aththilah wa al-Jahmiyyah
- Ahkām Ahli adz-Dzimmah
- I'lān al-Muwaqi'īn 'an Rabb al-'Ālamin
- Ighātsatu al-Lahfān min Mashāyidi asy-Syaithān
- Ighātsatu al-Lahfan fī Hukmi Thalāqi al-Ghadbān
- Badāi' al-Fawā'id
- At-Tibyān fī Aqsāmi al-Qur'ān
- Tuhfatu al-Maudūd bi Ahkāmi al-Maulūd
- Jalāu al-Afhām fī ash-Shālāti wa as-Salāmi 'ala khairi al-Anām
- Al-Jawāb al-Kāfi liman sa ala 'an ad-Dawā asy-Syāfi au Ad-Dā wa ad-Dawā'
- Hādi al-Arwāh ila bilādi al-Afrāh
- Raudhatu al-Muhibīn wa Nuzhatu al-Musytāqqīn
- Ar-Rūh
- Zādu al-Ma'ād fī Hadyi Khairi al-'Ibād
- Syifā'u al-'Alil fi Masā'ili al-Qadhā' wa al-Qadar wa al-Hikmatu wa at-Ta'līl
- Ash-Shawā'iq al-Mursilah 'ala al-Jahmiyyah wa al-Mu'aththilah
- Ath-Thibb an-Nabawī (Bagian dari Kitab Zādu al-Ma'ād)
- Ath-Thuruq al-Hukmiyyah
- 'Iddatu ash-Shābirīn wa Dzukhriyyaty asy-Syākirīn
- Al-Farusiyah
- Al-Fawā id
- Al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fi an-Nahwi
- Al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fi al-Intishari lilfirqati an-Nājiyah
- Al-Kalām 'ala mas'alati as-Simāi
- Kitāb ash-Shalāti wa Ahkāmu Tārikuhā
- Madāriju as-Sālikīn baina Manāzili Iyyāka Na'budu wa Iyyaka Nasta'īn
- Miftāhu Dāri as-Sa'ādah wa Mansyur Wilāyati al-'Ilmi wa al-Irādah
- Al-Manār al-Munīf fī ash-Shahīh wa adh-Dha'īf
- Hidāyatu al-Hiyāri fī Ajwibati al-Yahūd wa an-Nashāra
- Al-Wābil ash-Shayyib min al-Kalimi ath-Thayyib
Kematian
Ibnu Qayyim al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751 Hijriyah dalam usia 60 tahun. Ia dishalatkan di Masjid Jami' Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami' Jarrah. Ribuan pelayat berdesakan mengantar kepergian Ibnul Qayyim ke makamnya. Ibnul Qayyim dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.
Ibnu Katsir berkata, "Yang mengiringi jenazahnya membludak. Diikuti oleh para qadhi, para pejabat, orang-orang shalih baik yang khusus maupun yang umum. Dan, orang-orang berebutan mengangkat peti jenazahnya."[3]
Referensi
- ↑ Adel Nuwayhed (1988), مُعجم المُفسِّرين (dalam bahasa Arab), vol. 2 (Edisi 3), Beirut: Q121003654, hlm. 503, OCLC 235971276, Wikidata Q122197128
- ↑ Holtzman, Livnat (Januari 2009). "Ibn Qayyim al-Jawziyyah". Essays in Arabic Literary Biography: 208.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
Pranala luar
- (Inggris) Sampel biografi Ibnul Qayyim Diarsipkan 2013-01-21 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Menyambut Buah Hati Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah Diarsipkan 2014-12-04 di Wayback Machine.
- Biodata at MuslimScholars.info
- Who is Ibn Qayyim al-Jawziyya? - Hidaya Research
- "Islamic Universalism : Ibn Qayyim al-Jawziyya's Salafi Deliberations on the Duration of Hellfire". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-01-08. Diakses tanggal 2012-01-05.
- "Short Biography of Ibn Qayyim Al-Jawziyya". Bysiness.co.uk. Diakses tanggal 2010-04-12.
- "Ibn Qayyim Al-Jawziyyah". Sunnah.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-06-25. Diakses tanggal 2010-04-12.
- Articles and Book Collection
- Quotes by Ibn al-Qayyim Diarsipkan 2020-03-11 di Wayback Machine.
- Books
- https://web.archive.org/web/20061107120050/http://mac.abc.se/home/onesr/h/105.html
- "IslamWeb". IslamWeb. Diakses tanggal 2010-04-12.
- "The Hardness of The Heart". Angelfire.com. Diakses tanggal 2010-04-12.
| Abad ke-3 H | |
|---|---|
| Abad ke-4 H | |
| Abad ke-5 H | |
| Abad ke-6 H | |
| Abad ke-7 H | |
| Abad ke-8 H | |
| Abad ke-11 H | |
| Abad ke-12 H | |
| Abad ke-14 H | |
| Abad ke-15 H | |
Metode penentuan abad seorang ulama dengan tahun kematiannya, Lihat Panduan Penggunaan | |