Rabu, 28 Oktober 2026
20:30 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Han Groenewegen

Han Groenewegen

Arsitek asal Belanda

Bagikan:
Infobox orangHan Groenewegen
330px-Han_Groenewegen_door_Jan_Toorop%2C_1927.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahiran(nl) Johannes Martinus Groenewegen Suntingan nilai di Wikidata
27 Oktober 1888 Suntingan nilai di Wikidata
Kematian4 April 1980 Suntingan nilai di Wikidata (91 tahun)
Jakarta Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
PendidikanRoyal Academy of Art (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
Pekerjaanarsitek Suntingan nilai di Wikidata
Karya kreatif
Karya terkenal
Keluarga
Pasangan nikahAnna Groenewegen Suntingan nilai di Wikidata
250px-Elisabeth_medan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rumah Sakit Santa Elisabeth di Medan adalah salah satu karya pertama dari Groenewegen di Hindia Belanda.

Johannes Martinus (Han) Groenewegen (27 Oktober 1888 – 4 April 1980) dulu adalah seorang arsitek asal Belanda yang aktif di Belanda dan Hindia Belanda (kini Indonesia) mulai dekade 1920-an hingga 1960-an.

Biografi

250px-Schiedam_kerk_rijnstraat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gereja Katolik Hati Kudus Yesus di Schiedam adalah salah satu karya pertama dari Groenewegen di Belanda.

Han Groenewegen bekerja di Den Haag sebagai arsitek lepas mulai tahun 1920 hingga 1927.[1] Setelah mendirikan biro arsiteknya sendiri, ia biasanya bekerja untuk kontraktor R. Rutgers di Den Haag.[2] Salah satu karya pertamanya di Belanda adalah Gereja Hati Kudus Yesus di Schiedam. Saat Depresi Besar, Groenewegen pergi dari Belanda untuk mendirikan biro arsiteknya sendiri di Hindia Belanda.[1] Sejumlah arsitek lain juga pergi ke Hindia Belanda pada saat yang sama, salah satunya Albert Aalbers. Groenewegen lalu tiba di Medan, Sumatra pada tahun 1927 dan mulai mengerjakan perencanaan untuk Rumah Sakit Santa Elisabeth (1929-1930).[3] Ia aktif di Medan mulai tahun 1927 hingga 1942.[4] Seperti Schoemaker di Bandung, Gronewegen dapat dianggap sebagai perwakilan modernis Nieuwe Bouwen di Medan.[4] Proyek yang kemudian dikerjakan oleh Groenewegen antara lain perluasan Gereja Katedral Medan (1928),[5] gedung Asuransi Arnhem (kini Museum Perjuangan TNI, 1930), Gereja Katolik Cina di Polonia (1934),[1] Sekolah Putri Beatrix (kini Sekolah Kristen Immanuel, 1938),[4] kolam renang Medan (1939),[6][7] dan Oranjeschool (1941).[4] Namun, tidak seperti sejumlah koleganya, Groenewegen tetap tinggal di Indonesia pasca negara tersebut merdeka.

Pasca perang, Groenewegen pindah ke Jakarta pada tahun 1947. Sesaat setelah perang, ia mengerjakan perencanaan induk rekonstruksi.[1] Salah satu bangunan pertama yang dirancang oleh Groenewegen di Jakarta adalah bioskop Menteng di Jl. Jawa (1949-1950, kini telah dihancurkan).[8] Rancangannya yang lain di Jakarta adalah rumah dinas untuk De Javasche Bank (1952), Rumah Sakit Sumber Waras di Grogol (1957), sebuah krematorium (1958), kedutaan besar Belanda di Indonesia (1960 dan 1966). Mulai tahun 1957, Groenewegen bekerja sama dengan arsitek F. Silaban, salah satunya untuk merancang kantor pusat Bank Indonesia di Jakarta.[9] Ia lalu juga bekerja sebagai dosen arsitektur. Groenewegen akhirnya meninggal pada bulan April 1980 di Rumah Sakit Sumber Waras yang ia rancang.[1]

Groenewegen juga merancang sejumlah bangunan di luar Medan dan Jakarta, seperti Rumah Sakit Sumber Waras di Padang (1956-1957), bioskop Savoy di Bukittinggi (1957), dan Museum Seni Modern di Bali (1959).[2]

Filosofi rancangan

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Menteng_Bioscoop_in_Djakarta_TMnr_60054768.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bioskop Menteng di Jl. Jawa.

Groenewegen sangat dipengaruhi oleh prinsip dari Amsterdam School. Setelah tinggal dan bekerja Indonesia, Groenewegen mulai memasukkan elemen arsitektur Indies ke dalam rancangannya.

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Akihary 1990, hlm. 72.
  2. 1 2 Akihary 1990, hlm. 109.
  3. ↑ Leushuis 2011, hlm. 67.
  4. 1 2 3 4 Loderichs 1997, hlm. 25.
  5. ↑ "Gereja Katedral Santa Maria Tak Bernoda Asal".
  6. ↑ Loderichs 1997, hlm. 122.
  7. ↑ "Zwembad Medan" [Medan Swimming Pool]. Colonial architecture & townplanning (dalam bahasa Belanda). TU Delft. 2016. Diarsipkan dari asli tanggal April 3, 2016. Diakses tanggal April 3, 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Gemeentemuseum Helmond 1990, hlm. 32-3. sfn error: tanpa target: CITEREFGemeentemuseum_Helmond_1990 (bantuan)
  9. ↑ Akihary 1990, hlm. 85.

Rujukan

Pranala luar

Rumah adat
Jawa
Bali
Minangkabau
Batak
Dayak
Sunda
Sumatera Selatan
Nusa Tenggara Timur
Daerah lain
Hindu-Buddha
Islam
Kolonial Belanda
Awal
Modern
Lainnya
Pasca-kolonial
& kontemporer
1950-an–1970-an
1970-an–sekarang
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan