Selasa, 22 September 2026
12:15 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Geriten

Geriten

bangunan tradisional Batak Karo

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Karo_Batak_schedelhuis_%28geriten%29_en_duiventil_TMnr_60045349.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Geriten Karo.

Geriten atau Giriten adalah salah satu bangunan tradisional Batak Karo. Bangunan ini berbentuk seperti rumah tradisional masyarakat Batak Karo, Siwaluh Jabu, tetapi bentuk bangunannya lebih kecil. Geriten memiliki dua lantai, terdiri dari lantai atas berdinding dan lantai bawah tidak berdinding.[1]

Definisi

Menurut Samaria Ginting (1994), bentuk Geriten hampir mirip dengan Jambur, tetapi Geriten lebih kecil daripada jambur. Bangunan ini memiliki ukuran sekitar 2,5 meter x 2,5 meter. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Hilderia Sitanggang (1991) dalam bukunya Arsitektur Tradisional Batak Karo,[2] yang menjelaskan bahwa Geriten merupakan bangunan yang lebih kecil dari jambur. Bangunan Geriten digunakan untuk tempat penyimpanan tengkorak dari nenek moyang atau tulang-belulang dari orang tua yang cawir metua. Nelly Tobing (1991) menjelaskan dalam bukunya berjudul Upacara Adat Kampung Lingga,[3] cawir metua memiliki arti meninggal dalam usia yang sudah lanjut. Dalam hal ini, seseorang yang disebut mate cawir metua sudah mempunyai banyak turunan termasuk anak, cucu, cicit, bahkan buyut. Jenis kematian ini dianggap paling mulia dalam budaya Batak Karo.[4]

Makna

Makna Geriten pada mayarakat Batak Karo

Dahulu dalam budaya masyarakat Batak Karo, jika seseorang telah meninggal, maka dia tidak langsung dimakamkan. Upacara adat kematian ini ditujukan sebagai penghormatan terhadap jenazah. Jenazah dimakamkan untuk sementara. Setelah beberapa tahun, makam digali kembali untuk mengumpulkan tulang-tulangnya. Kemudian, tulang-tulang atau tengkorak orang yang sudah meninggal dibungkus dengan kain putih. Kain putih tersebut dimasukkan ke dalam Deriten dengan diiringi upacara nurun-nurun. Tengkorak yang ditempatkan di Geriten adalah kerangka penghulu (kepala kampung atau kepala desa). Pada zamannya sebagai panutan (pemimpin) atau sierjabaten, misalnya seorang guru, penggual, penarune, dan lain sebagainya. Di samping itu, orang ini harus mempunyai budi pekerti, kewibawaan, dan tingkah laku yang menjadi teladan bagi masyarakat karena akan dirayakan setiap waktu tertentu untuk mengenang jasanya semasih hidup.

Filosofi Geriten

Bagian-bagian konstruksi Geriten sarat dengan nilai-nilai moral, sosial, religius, dan pedagogis yang diharapkan dapat ditiru oleh generasi selanjutnya. Penempatan geriten tidak bisa jauh dari rumah adat. Ketika sebuah raga binasa, maka roh akan kembali ke rumah untuk mengayomi keturunannya. Tempat tulang-belulang dimasukkan dalam Geriten tidak boleh jauh dari rohnya yang tinggal di rumah. Tulang-belulang yang dinaikkan ke atas merupakan suatu simbol penghargaan. Terdapat filosofi yaitu dareh jadi lau, daging jadi taneh, kesah jadi angin, buk jadi ijuk, tulan jadi batu, tendi mulih ku dibata simada tinuang yang berarti roh kembali kepada Sang Maha Pencipta. Masyarakat Batak Karo lama (sebelum menganut agama Kristen maupun non-Kristen) telah memahami bahwa diri seseorang bukanlah miliknya dan bahwa suatu penghabisan adalah perubahan. Asal mula, akhir dari suatu perubahan itu dan menjadi, air kembali ke air, tanah kembali ke tanah, roh kembali kepada pemilik roh, rambut jadi ijuk, tulang jadi batu, akhir bukanlah suatu kesia-siaan, melainkan awal sesuatu yang bermanfaat demi kesejahteraan umat.

Galeri

Lihat pula

Referensi

  1. "Geriten, Rumah Tulang Belulang pada Suku Karo". www.gobatak.com. 2 Desember 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-05.{{cite web}}: |first= tidak memiliki |last=
  2. Hilderia., Sitanggang, ([1991?]). Arsitektur tradisional Batak Karo. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. OCLC 26988946.{{cite book}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  3. Nelly., Tobing, ([1990?]). Upacara adat Kampung Lingga. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. OCLC 33864525.{{cite book}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  4. M.Hum, Dr. Daulat Saragih (12 Mar 2016). "Geriten Bagi Masyarakat Karo". analisadaily.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-19. Diakses tanggal 2 Peb 2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
Rumah adat
Jawa
Bali
Minangkabau
Batak
Dayak
Sunda
Sumatera Selatan
Nusa Tenggara Timur
Daerah lain
Hindu-Buddha
Islam
Kolonial Belanda
Awal
Modern
Lainnya
Pasca-kolonial
& kontemporer
1950-an–1970-an
1970-an–sekarang
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan