Minggu, 20 September 2026
11:54 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Hak veto Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa

Hak veto Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa

Artikel ini sudah memiliki referensi, tetapi tidak disertai kutipan yang cukup. Anda dapat membantu mengembangkan artikel ini dengan menambahkan lebih banyak kutipan pada teks artikel. (Mei 2024) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
250px-United_Nations_Security_Council.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kamar Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa

Hak veto Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah hak lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Tiongkok, Prancis, Rusia, Britania Raya, dan Amerika Serikat) untuk memveto setiap keputusan kecuali keputusan "prosedural".

Ketidakhadiran atau abstainnya anggota tetap tidak dianggap sebagai veto.[1] Keputusan "prosedural" (seperti mengubah agenda rapat atau mengundang non-anggota untuk menghadiri rapat Dewan Keamanan PBB[2][3]) juga tidak dapat diveto.

Hak veto merupakan isu yang kontroversial. Para pendukungnya berargumen bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan runtuh jika mencoba menerapkan tindakan mengikat terhadap anggota tetap[4] dan bahwa hak veto merupakan jaminan kritis terhadap dominasi Amerika Serikat.[5] Rusia dan Tiongkok memandang hak veto sebagai promotor stabilitas[6] internasional dan penghalang terhadap intervensi militer.[7] Kritikus mengatakan bahwa hak veto adalah unsur paling tidak demokratis di PBB,[8] serta penyebab utama ketidakberdayaan dalam menangani kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, karena secara efektif mencegah tindakan PBB terhadap anggota tetap dan sekutunya.[9]

Referensi

  1. Engelhardt, Hanns (1963). "Das Vetorecht im Sicherheitsrat der Vereinten Nationen". Archiv des Völkerrechts. 10 (4): 377–415. ISSN 0003-892X. JSTOR 40796759.
  2. Kelsen, Hans. “Organization and Procedure of the Security Council of the United Nations.” Harvard Law Review, vol. 59, no. 7, 1946, pp. 1087–121. JSTOR, https://doi.org/10.2307/1335164. Accessed 20 Aug. 2024.
  3. Padelford, Norman J. “The Use of the Veto.” International Organization, vol. 2, no. 2, 1948, pp. 227–46. JSTOR, http://www.jstor.org/stable/3030288. Accessed 20 Aug. 2024.
  4. "Obstructing the Security Council: The Use of the Veto in the Twentieth Century". Journal of the History of International Law / Revue d'histoire du droit international. 3 (2). Brill: 218–234. 2001. doi:10.1163/15718050120956965. ISSN 1388-199X.
  5. Prashad, Vijay (2020). Washington Bullets. New York: Monthly Review Press. hlm. 37–38. ISBN 978-1-58367-906-7.
  6. Putin, Vladimir V. (11 September 2013). "What Putin Has to Say to Americans About Syria". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Desember 2020. Diakses tanggal 28 Januari 2018. The United Nations' founders understood that decisions affecting war and peace should happen only by consensus, and with America's consent the veto by Security Council permanent members was enshrined in the United Nations Charter. The profound wisdom of this has underpinned the stability of international relations for decades.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. "Wang Yi: China Is Participant, Facilitator and Contributor of International Order". Consulate-General of the People's Republic of China in Los Angeles. 27 Juni 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2020. Diakses tanggal 11 Desember 2017. China's veto at the Security Council has always played an important role in checking the instinct of war and resisting power politics.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. Wilcox, Francis O. (Oktober 1945). "II. The Yalta Voting Formula". The American Political Science Review. 39 (5): 943–956. doi:10.2307/1950035. JSTOR 1950035. S2CID 143510142.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. Oliphant, Roland (4 Oktober 2016). "'End Security Council veto' to halt Syria violence, UN human rights chief says amid deadlock". The Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Januari 2022.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bacaan tambahan

Pranala luar

Lihat pula

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan