| Bagian dari seri |
| Sistem ekonomi |
|---|
|
Model kawasan |
|
Sektor |
Ekonomi terbuka[1] adalah sistem ekonomi di mana entitas domestik maupun internasional berpartisipasi dalam perdagangan barang dan jasa. Jenis ekonomi ini memungkinkan pertukaran produk, termasuk transfer teknologi dan keahlian manajerial. Namun, layanan tertentu—seperti operasi perkeretaapian suatu negara—mungkin tidak dapat dengan mudah dipertukarkan secara internasional karena adanya keterbatasan praktis.
Sebaliknya, ekonomi tertutup membatasi perdagangan dan keuangan internasional dengan negara-negara lain. Dalam ekonomi terbuka, penjualan barang atau jasa ke negara lain disebut sebagai ekspor, sedangkan pembelian barang atau jasa dari luar negeri disebut sebagai impor. Secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan ini menjadi dasar bagi perdagangan internasional.
Kelebihan dan kekurangan
Perekonomian terbuka menawarkan sejumlah keuntungan bagi warganya. Salah satu manfaat utamanya adalah konsumen memiliki akses ke beragam pilihan barang dan jasa yang lebih luas. Selain itu, warga dapat menginvestasikan tabungan mereka di pasar luar negeri, yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih baik. Namun, perekonomian terbuka juga memiliki tingkat saling ketergantungan yang lebih tinggi dengan negara lain, sehingga membuatnya rentan terhadap risiko akibat fluktuasi ekonomi global.
Perekonomian terbuka juga memungkinkan pengeluaran suatu negara pada tahun tertentu berbeda dari produksi barang dan jasanya. Fleksibilitas ini berarti bahwa suatu negara dapat membelanjakan lebih banyak daripada jumlah yang diproduksinya dengan cara meminjam dari sumber luar negeri, atau sebaliknya, membelanjakan lebih sedikit dan meminjamkan kelebihannya kepada negara-negara lain.[2]
Sejarah
Konsep ekonomi terbuka[3] sangat erat kaitannya dengan gagasan globalisasi, di mana individu, dunia usaha, dan pemerintah di seluruh dunia semakin saling terhubung. Perkembangan sejarah—seperti Jalur Sutra yang memfasilitasi perdagangan antara Asia Timur, Timur Tengah, dan Eropa, serta konflik global seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang mendorong terbentuknya aliansi ekonomi—telah memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi terbuka.[4]
Ideologi politik turut memengaruhi perkembangan ekonomi terbuka. Konsep keterbukaan ekonomi[5] muncul pada abad ke-19 dan mencakup dua aliran pemikiran utama. Para kritikus berpendapat bahwa ekonomi terbuka dapat melemahkan perekonomian nasional akibat meningkatnya persaingan, sementara pihak pendukung meyakini bahwa keterbukaan mendorong perdagangan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan peluang ekonomi.[6]
Hingga tahun 2014, tidak ada negara yang beroperasi sebagai ekonomi yang sepenuhnya tertutup.
Lihat juga
Referensi
- ↑ Dornbusch, Rudiger (2005). Macroeconomics (dalam bahasa English). hlm. 87–145.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ Mankiw, N. Gregory (2007). Macroeconomics. New York: Worth. ISBN 978-0-7167-6213-3.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Dornbusch, Rudiger (1984). "The Open Economy: Implications for Monetary and Fiscal Policy". National Bureau of Economic Research. Working Paper No. 1422.
- ↑ Rodseth, Asbjorn (2000). Open Economy Macroeconomics (dalam bahasa English). Cambridge University Press. ISBN 9780521788748.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ "economic openness | political economy | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-10.
- ↑ Cooper, Richard (2 Maret 1917). "The United States as an open economy" (PDF). Research Division Publications (Federal Reserve Bank of St. Louis).
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)