Minggu, 18 Oktober 2026
17:02 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Ekonomi Filipina

Bagikan:

Ekonomi Filipina merupakan ekonomi negara keempat terbesar di Asia Tenggara dan ketiga puluh enam di dunia berdasarkan produk domestik bruto. Filipina menganut sistem ekonomi campuran dengan industri utama bergerak pada bidang pengolahan makanan, tekstil, elektronik dan otomotif. Pusat industri umumnya berada di daerah Metro Manila dan Metro Cebu. Pertanian masih memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi di Filipina. Amerika Serikat dan Jepang telah menjadi mitra ekspor utama Filipina. Selain itu, Filipina juga bekerja sama dengan Tiongkok, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan dan Jerman dalam kegiatan ekspor. Sebagian besar ekspor berupa barang komponen elektronik dan semikonduktor. Di samping itu hasil alam seperti gas alam, minyak kelapa dan buah-buahan menjadi andalan utama bidang ekspor hasil alam. Filipina tergabung dalam beberapa forum ekonomi internasional seperti Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, Organisasi Perdagangan Dunia dan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik. Filipina memiliki salah satu tingkat kepadatan ekonomi tertinggi di Asia Tenggara, yang ditandai dengan tingginya konsentrasi output ekonomi dibandingkan dengan luas wilayah daratannya. Pada periode 2024–2025, Filipina menempati peringkat ketiga di antara negara-negara ASEAN dalam hal kepadatan PDB (PDB nominal per kilometer persegi), hanya berada di bawah negara kota Singapura dan kesultanan Brunei yang kaya akan sumber daya. Hal ini terjadi karena besarnya aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah daratan yang relatif terbatas, yang tersebar di tengah kondisi geografis kepulauan yang terfragmentasi. Kondisi ini tercermin dalam konsep yang disebut kepadatan PDB. Selain itu, Filipina merupakan negara terkaya kelima di ASEAN dalam hal GNI per kapita (dalam dolar AS konstan tahun 2015) sebesar 4.647 dolar AS menurut Bank Dunia pada tahun 2025—menempati peringkat di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand.

Sejarah

Kemunduran ekonomi

Ekonomi Filipina mengalami kemunduran pada tahun 1998 akibat dari krisis finansial Asia 1997. Kemunduran ekonomi Filipina juga dipengaruhi oleh cuaca buruk yang melanda beberapa wilayah Filipina. Pertumbuhan ekonomi jatuh sebesar 4,4% dalam rentang waktu setahun (1997-1998) dari 5% menjadi 0, 6% Kenaikan pertumbuhan mulai pulih pada tahun 2000 dengan besar pertumbuhan ekonomi senilai 4%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Filipina merupakan akibat dari utang negara yang sangat besar jumlahnya. Utang negara meliputi 77% dari total produk domestik bruto negara Filipina. Utang negara ini ditujukan untuk perbaikan ekonomi. Anggaran belanja negara untuk pendidikan dan militer kemudian dikurangi. Kemunduran ekonomi Filipina diatasi oleh pemerintah melalui peningkatan infrastruktur, penambahan pendapatan negara melalui pergantian sistem pajak dan deregulasi, serta memberikan pengelolaan ekonomi kepada swasta. Pemerintah FIlipina juga mengadakan peningkatkan integrasi perdagangan di wilayah sekitar sebagai salah satu cara penyelesaian kemunduran ekonomi Filipina. Dalam pemulihan ekonomi. Filipina dipengaruhi oleh dua mitra dagangnya yang terbesar yaitu Amerika Serikat dan Jepang.[1]

Kerja sama

Kawasan Pertumbuhan ASEAN Timur (BIMP-EAGA)

Filipina telah mengadakan kerja sama ekonomi dalam Kawasan Pertumbuhan ASEAN Timur. Dalam kerja sama ekonomi ini, negara yang tergabung di dalamnya ialah Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Filipina. Masing-masing negara mengajukan kawasan kerja sama dari wilayahnya masing masing. Brunei Darussalam mengajukan seluruh wilayah negaranya sebagai kawasan kerja sama. Sedangkan Indonesia mengajukan 15 provinsi di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Malaysia mengajukan dua negara bagian yaitu Sabah, Sarawak, dan satu wilayah teritorial federal yaitu Labuan. Sedangkan Filipina mengajukan Pulau Mindano dan Provinsi Palawan.[2]

Kawasan Perdagangan Bebas Perbara-India

Filipina juga bergabung dalam perjanjian yang menetapkan Kawasan Perdagangan Bebas Perbara-India. Kerangka perjanjian kerja sama ekonomi ini ditetapkan pada tanggal 8 Oktober 2003. Dalam perjanjian ini, Filipina termasuk bagian dari Perbara (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) bersama dengan Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Sedangkan perjanjian perdagangan dilakukan terhadap negara India. Pada tanggal 13 Agustus 2009, ditetapkan protokol untuk mengubah perjanjian kerangka kerjasama yang ditandatangani di Bangkok, Thailand.[3]

Pranala luar

Referensi

  1. ↑ Abidin, Yumetri (2020). Pengantar Budaya Masyarakat Asia Tenggara (PDF). Jakarta: Lembaga Penerbitan UNAS. hlm. 97.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Raharjo, S.N.I. (2019). Membangun Konektivitas di Perbatasan: Kerja Sama Subregional Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina (PDF). Jakarta: LIPI Press. hlm. 88. ISBN 978-602-496-075-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Jati, dkk. (2019). Firdausy, dkk. (ed.). "Peran Kerja Sama Perdagangan Antara ASEAN dan India dalam Ekonomi-Politik untuk Pembangunan Berkelanjutan" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Bagian II: Revolusi Industri 4.0 dan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan. Jakarta: Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI: 46. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-07-10. Diakses tanggal 2021-07-11.
Ekonomi Asia
Negara
berdaulat
Asia Tenggara
Asia Timur
Asia Selatan
Asia Tengah
Asia Barat
Lintas benua
Negara dengan
pengakuan terbatas
Dependensi dan
wilayah lain
1 Terkadang dimasukkan ke Eropa, tergantung definisi perbatasan. 2 Terkadang dimasukkan ke Oseania. 3 Negara lintas benua.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan