Minggu, 20 September 2026
23:31 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Nokdiak

Nokdiak

genus mamalia

Nokdiak[1][2]
Rentang waktu: Miosen–Sekarang
250px-Long-beakedEchidna.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nokdiak moncong-panjang barat
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Monotremata
Superfamili: Ornithorhynchoidea
Famili: Tachyglossidae
Gill, 1872
Spesies

Genus Tachyglossus
   T. aculeatus
Genus Zaglossus
   Z. attenboroughi
   Z. bruijnii
   Z. bartoni
   Z. hacketti
   Z. robustus
Genus †Megalibgwilia
   M. ramsayi
   M. robusta

Artikel takson sembarang
250px-Echidna_ST_03.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nokdiak moncong pendek

Nokdiak (Tachyglossidae)[1][3] atau yang disebut juga landak semut atau babi duri adalah satu-satunya hewan dari ordo Monotremata yang masih bertahan hidup selain platipus. Keempat spesies yang masih hidup, merupakan hewan asli Papua dan Australia, semuanya termasuk ke dalam famili Tachyglossidae.[4]

Taksonomi

Nokdiak diklasifikasikan ke dalam dua genera. Genus Zaglossus meliputi tiga spesies yang masih bertahan hidup dan dua spesies yang sudah punah (diketahui hanya melalui fosil). Genus lainnya adalah Tachyglossus di mana hanya satu spesies yang dikenal.

Genus Zaglossus

Ada tiga spesies dari genus Zaglossus yang masih hidup. Ketiga spesies itu dapat ditemui di Papua. Mereka langka, dan diburu untuk dimakan. Mereka mencari makanan dalam sampah dedaunan di lantai hutan. Mereka memakan cacing tanah dan serangga.

Kedua spesies yang telah punah adalah:

  • Zaglossus robustus; dikenal dari fosilnya saja.
  • Zaglossus hacketti; juga dikenal dari fosilnya saja.

Genus Tachyglossus

Nokdiak moncong pendek (Tachyglossus aculeatus) ditemukan di bagian tenggara Papua dan juga terdapat di hampir seluruh lingkungan Australia; dari salju Alpen Australia sampai gurun dalam di daerah pedalaman: utamanya di daerah manapun sejauh semut dan rayap ada. Ukurannya lebih kecil daripada spesies Zaglossus dan ia mempunyai rambut yang lebih panjang.[5]

Deskripsi

250px-Echidna%2C_Exmouth.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nokdiak menggulung dirinya menjadi sebuah bola, dengan hati-hati dipindahkan dari jalan.

Nokdiak adalah mammalia kecil yang tubuhnya ditutupi rambut kasar dan duri. Nokdiak menyerupai pemakan semut Amerika Selatan dan mammalia berduri lainnya seperti landak susu dan landak. Mereka memiliki moncong yang berfungsi sebagai mulut dan hidung. Moncong mereka panjang dan langsing. Mereka memiliki kaki yang pendek dan kuat dengan kuku besar. Nokdiak juga adalah penggali yang handal. Mereka memiliki mulut yang mungil dan rahang tak bergigi. Mereka makan dengan cara membuka batang kayu yang lunak, sarang semut, dan semacamnya, dan menggunakan lidahnya yang panjang serta lengket yang memanjang dari moncongnya untuk mengumpulkan mangsanya. Nokdiak moncong pendek terbiasa memakan semut dan rayap dalam jumlah besar, sedangkan spesies Zaglossus terbiasa memakan cacing tanah dan larva serangga.

250px-EchidnainCanberra.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nokdiak ditemui di berbagai macam lingkungan, termasuk taman kota.

Selain platipus, keempat spesies nokdiak adalah satu-satunya mamalia yang bertelur. Betina menelurkan satu telur berbulu bercangkang lunak dua puluh dua hari setelah kawin dan meletakkannya langsung dalam kantungnya. Telur akan menetas setelah sepuluh hari; nokdiak muda (dalam bahasa Inggris disebut: puggle), kemudian akan mengisap susu dari pori-pori kedua kelenjar susu (sebab monotremata tidak memiliki puting) dan tetap tinggal di dalam kantung induknya untuk empat puluh lima hingga lima puluh lima hari, selama kurun waktu tersebut, mulai tumbuh duri. Sang ibu menggali lubang untuk merawat anaknya dan meletakkan anaknya di dalam lubang. Sang ibu kembali setiap lima hari untuk menyusui sampai berhenti menyusui pada bulan ketujuh.

Ciri fisik

  1. Memiliki lidah yang panjang dan lengket untuk menangkap mangsa.
  2. Memiliki cakar yang panjang dan kuat untuk menggali sarang semut.
  3. Moncongnya digunakan untuk menyedot semut.
  4. Insektivora (pemakan serangga).
  5. Ovipar.
  6. Bernapas dengan paru-paru.

Berkembang biak

Nokdiak memiliki cara yang unik dalam berkembang biak, yaitu dengan cara bertelur. Nokdiak betina menelurkan sebutir telur berbulu bercangkang lunak, tepat dua puluh dua hari setelah pembuahan berlangsung, dan meletakkannya di dalam kantung tubuhnya. Telur akan menetas setelah sepuluh hari.[6]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Dadakan, Sineas (11 November 2024). "5 Kemampuan Unik Nokdiak, Bisa Bertelur seperti Reptil!". IDN Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2025. Diakses tanggal 30 Desember 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Groves, C.P. (2005). Wilson, D.E.; Reeder, D.M. (ed.). Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (Edisi 3). Baltimore: Johns Hopkins University Press. hlm. p. 1-2. ISBN 0-801-88221-4. OCLC 62265494. {{cite book}}: |pages= memiliki teks tambahan
  3. "Nokdiak". Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  4. Parker, Sybil, P (1984). McGraw-Hill Dictionary of Biology. McGraw-Hill Company. hlm. 112.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Flannery, T.F.; Groves, C.P (1998). "A revision of the genus Zaglossus (Monotremata, Tachyglossidae), with description of new species and subspecies". Mammalia (dalam bahasa Inggris). 62 (3): 367–396. doi:10.1515/mamm.1998.62.3.367.
  6. Hananto, Akhyari (13 Juli 2015). "Ekidna si Mamalia Bertelur, Satwa Asli dari Papua". Mongabay - Situs Berita Lingkungan. Diakses tanggal 18 September 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Echidna.
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Tachyglossidae.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan