Selasa, 27 Oktober 2026
15:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Kamboja Demokratik

Kamboja Demokratik

eks rezim totaliter Marxis-Leninis di Asia Tenggara

Bagikan:
Kampuchea Demokratik
កម្ពុជាប្រជាធិបតេយ្យ
Kâmpŭchéa Prâcheathippadey
1975–1979
Lagu kebangsaan: Dap Prampi Mesa Chokchey
ដប់ប្រាំពីរមេសាមហាជោគជ័យ
"Hari Kemenangan Tujuh Belas April"
Lokasi Kamboja
Ibu kotaPhnom Penh
Bahasa resmiKhmer
Bahasa umumKhmer
Aksara resmiKhmer
Agama Negara ateis (de facto)
Sekuler (de jure)
DemonimKhmer
PemerintahanRepublik kesatuan sosialis marxis-leninis satu partai dibawah kediktatoran totaliter
Sekertaris Jenderal 
• 1975–1979
Pol Pot
Kepala negara 
• 1975–1976
Norodom Sihanouk
• 1976–1979
Khieu Samphan
Kepala pemerintahan 
• 1975–1976
Penn Nouth
• 1976
Khieu Samphan
• 1976–1979
Pol Pot
LegislatifDPR
Era SejarahPerang Dingin
17 April 1975
• Pengesahan konstitusi
5 Januari 1976
21 Desember 1978
7 Januari 1979
22 Juni 1982
Area
• Total
181.035 km2 (69.898 sq mi)(89th)
• Daratan
69.898 sq mi (181.030 km2)
Mata uangTidak ada, sistem keuangan dihapuskan
Kode ISO 3166KH
Didahului olehDigantikan oleh
Republik Khmer (1970-1975)
GRUNK
Republik Rakyat Kamboja
Koalisi Pemerintahan Kamboja Demokratik
Sekarang bagian dari Kamboja

Kamboja Demokratik atau Kampuchea Demokratik adalah penyebutan bagi Kamboja pada tahun 1975 sampai 1979, ketika Kamboja dikuasai pemerintahan kediktatoran totaliter komunis di bawah pimpinan Pol Pot dan Partai Komunis Kamboja. Pada tahun 1975 saat Republik Khmer jatuh dan rezim Lon Nol terguling pemerintahan ini didirikan, dan berakhir dengan Invasi Vietnam ke Kamboja yang menghasilkan kemenangan Vietnam dan berakibat jatuhnya rezim Pol Pot.

Khmer Merah sangat dipengaruhi oleh Maoisme,[1] Partai Komunis Prancis dan tulisan-tulisan Marx dan Lenin,[2] serta ide-ide superioritas ras Khmer.[3] Hal ini mengakibatkan dorongan untuk membuat sebuah etnis murni dan masyarakat Khmer tanpa kelas.[4][5] Kepemimpinan Partai Komunis Kamboja (CPK) menyebut pemerintahan mereka sebagai "Angkar Padevat" selama periode ini.[6] Pada konstitusinya, pemerintahan didefinisikan sebagai "Negara rakyat, buruh, petani, dan semua pekerja Kamboja yang lain"[7]

Di bawah kepemimpinan Pol Pot terjadi pengusiran penduduk dari kota-kota, penghapusan agama, penghapusan kepemilikan pribadi, uang dan pasar.[8] Terjadi kampanye genosida yang menyebabkan pemusnahan sekitar 25% dari penduduk negara Kamboja pada masa ini, dengan banyak pembunuhan yang dimotivasi oleh ideologi Khmer Merah terhadap kaum yang dianggap kaya dan berkuasa.[9][10][11] Korban termasuk musuh kelas seperti kapitalis kaya, profesional, intelektual, polisi dan pegawai pemerintahan (termasuk sebagian besar anggota kepemimpinan Lon Nol),[12] bersama dengan etnis minoritas seperti Tionghoa, Vietnam, Lao, dan Cham.

Genosida akhirnya berhenti pada tahun 1979 setelah invasi Front Persatuan untuk Keselamatan Nasional Kamboja dan Tentara Rakyat Vietnam. Seiring dengan invasi ini rezim ini runtuh, dan kemudian Republik Rakyat Kamboja didirikan, yang memiliki pemerintah pro-Soviet.

Referensi

  1. ↑ Jackson, Karl D. Cambodia, 1975–1978: Rendezvous with Death. Princeton University Press. hlm. 219. ISBN 0-691-02541-X.
  2. ↑ Ervin Staub. The roots of evil: the origins of genocide and other group violence. Cambridge University Press, 1989. p. 202
  3. ↑ David Chandler & Ben Kiernan, ed. (1983). Revolution and its Aftermath. New Haven.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  4. ↑ Helen Fein. Revolutionary and Antirevolutionary Genocides: A Comparison of State Murders in Democratic Kampuchea, 1975 to 1979, and in Indonesia, 1965 to 1966. Comparative Studies in Society and History, Vol. 35, No. 4 (Oct., 1993), pp. 796–823
  5. ↑ Becker, Elizabeth. 1986. When the War Was Over. New York: Simon and Schuster, 1986, p.136.
  6. ↑ "A History of Democratic Kampuchea (1975–1979)". monument-books.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-10-18. Diakses tanggal 2007-11-26.
  7. ↑ "Constitution of Democratic Kampuchea". Dccam.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-28. Diakses tanggal 2010-07-27.
  8. ↑ Final Solutions: Mass Killing and Genocide in the Twentieth Century Cornell University Press, 2004. ISBN 0-8014-3965-5 p. 127.
  9. ↑ Locard, Henri, State Violence in Democratic Kampuchea (1975-1979) and Retribution (1979-2004) Diarsipkan 2013-10-30 di Wayback Machine, European Review of History, Vol. 12, No. 1, March 2005, pp.121–143.
  10. ↑ Nicholas A. Robins, Adam Jones. Genocides by the oppressed: subaltern genocide in theory and practice. Indiana University Press, 2009. p. 98
  11. ↑ Alexander Laban Hinton. A Head for an Eye: Revenge in the Cambodian Genocide. American Ethnologist, Vol. 25, No. 3 (Aug., 1998), pp. 352–377
  12. ↑ Nicholas A. Robins, Adam Jones. Genocides by the oppressed: subaltern genocide in theory and practice. Indiana University Press, 2009. p. 97
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan