Senin, 21 September 2026
00:02 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Debataraja

salah satu marga Batak Toba

Debataraja
Aksara Batakᯘᯪᯔᯔᯬᯒ ᯑᯩᯅᯖᯒᯐ
(Surat Batak Toba)
Nama marga
  • Simamora
  • Debataraja
  • Simamora Debataraja
Nama/penulisan alternatifDebataradja (ejaan lama)
ArtiDebata + Raja
(Tuhan Raja)
Silsilah
Generasi dari Si Raja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadibanua
(Nai Suanon)
5Raja Sumba
6Toga Simamora
7Debata Raja
Nama lengkap tokohDebata Raja
Nama istriBoru Nainggolan
Nama anak (putra)Sunggu Marpasang
Nama boru (putri)(putri dari Sunggu Marpasang)
Bontar Mudar Namotung
Kekerabatan
Induk margaSimamora
KlanToga Simamora
Marga sekerabat
Turunan
  • Babiat Naingol
  • Sampetua
  • Marbulang
Mataniari binsarNainggolan
Padan
Asal
SukuBatak
EtnisBatak Toba
Daerah asalTipang, Baktiraja

Debataraja (Surat Batak: ᯘᯪᯔᯔᯬᯒ ᯑᯩᯅᯖᯒᯐ; dikenal sebagai Simamora Debataraja) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Tipang, Baktiraja, Humbang Hasundutan. Leluhur marga Simamora Debataraja merupakan putra ketiga dari Toga Simamora. Pada umumnya, keturunan Debataraja yang membawa marga Simamora pada identitas pribadinya.[1]

Asal

330px-Lembah_Bakkara.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bakkara, merupakan daerah asal marga Simamora beserta keturunannya.

Leluhur marga Simamora Debataraja adalah Debata Raja, putra ketiga Toga Simamora. Keturunan lainnya berturut-turut yang merupakan kakak-adiknya antara lain yaitu Toga Purba, Toga Manalu, dan Tuan Sumerham Rambe.

Debataraja, termasuk keturunan Simamora yang lain yaitu Purba dan Manalu (Rambe tidak termasuk karena beda ibu), bersaudara dengan keturunan marga Sihombing yaitu Silaban, Sihombing Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Karena yang melahirkan mereka adalah Panggabean Boru Lontung, sehingga mereka disebut sebagai Pitu Saina (artinya Tujuh Satu Ibu).

Turi-turian (Kisah) Simamora Debataraja dan Manurung

Tuan Sogar Manurung, keturunan dari Manurung Hutagurgur yang lebih tepatnya merupakan anak keenam dari Raja Mangatur Manurung, merupakan seorang yang terkenal (tarbarita) dengan kesaktiannya dan keperkasaannya sampai ke Dolok Sanggul. Di Dolok Sanggul sendiri terdapat seorang yang bernama Nahum Di mana Simamora Debataraja, anak kedua dari Marbulang Simamora Debataraja yang terkenal sangat kaya raya dan hampir semua tanah di Dolok Sanggul dimilikinya oleh karena kemenangannya dalam berjudi. Nahum Di mana sangat pintar dan ahli berjudi di Dolok Sanggul sehingga banyak pihak yang ingin membunuhnya karena keahliannya tersebut. Artinya, Nahum Di mana pada saat itu berada dalam posisi yang terjepit sehingga perlu mencari sekutu untuk melawan para musuhnya. Nahum Di mana juga mendengar kehebatan Tuan Sogar yang sangat pintar melawan banyak musuhnya. Nahum Di mana berencana untuk menemui Tuan Sogar sehingga ia berencana untuk pergi ke daerah Porsea untuk berjudi. Onan Porsea ini dikenal dengan Onan Nagodang Siapari. Lalu Nahum Di mana berangkat ke Onan Nagodang Siapari dengan membawa uang manik dan emasnya untuk modal berjudi di onan tersebut. Ketika melewati Parseian (Porsea), ia mulai berpikir dan merasa takut semua hartanya akan diambil oleh penduduk disitu, sehingga Nahum Di mana melakukan diskusi (martarombo) supaya seluruh hartanya tidak disamun (ditodong). Ketika berdiskusi dan bercerita dengan beberapa orang, maka Nahum Di mana mendapatkan bahwa Tuan Sogar merupakan orang yang tepat untuk dijadikan sebagai temannya. Akhirnya, Nahum Di mana bertemu dengan Tuan Sogar di Onan Nagodang Siapari. Pertemuan Tuan Sogar dan Nahum Di mana membuat Nahum Di mana pergi bersama Tuan Sogar ke Lumban Tonga-tonga, Narumambing dan tinggal disitu sambil bermain judi di Onan Nagodang Siapari. Selama tinggal di Narumambing, Nahum Di mana mendapatkan cerita mengenai kesaktian dan kekuatan dari Tuan Sogar, sehingga ia semakin percaya bahwa dia adalah orang yang tepat untuk membantu dia melawan musuhnya di Dolok Sanggul.

Nahum Di mana meminta Tuan Sogar untuk membantunya di Dolok Sanggul melawan musuh-musuhnya dan mereka mengadakan kesepakatan. Tuan Sogar meminta agar mereka pergi terlebih dahulu untuk melihat anak-anaknya di Janji Matogu, Gala-Gala Pangkailan dan ke kampung pamannya (tulang) Raja Rumapea di Huta Rihit Samosir. Tuan Sogar ingin menyampaikan izin dan salam perpisahan kepada anak-anaknya karena hendak pergi dan tinggal dalam waktu yang lama di Dolok Sanggul. Akhirnya urutan perjalanannya yaitu dimulai dari Narumambing ke Gala-Gala Pangkailan, Sihubak-Hubak, Janji Matogu, kampung tulang-nya Raja Rumapea di Huta Rihit, Samosir, dan ke Bakkara hingga naik ke atas lagi ke kampung yang bernama Batu Najagar.

Setelah mereka sampai di Dolok Sanggul, maka semua anak-anak dan isteri Nahum Di mana melaporkan bahwa selama Nahum Di mana tidak di rumah, keluarganya tersebut diancam oleh para musuhnya. Nahum Di mana murka mendengar kabar tersebut dan meminta Tuan Sogar untuk menentukan hari yang tepat untuk melawan musuh-musuhnya tersebut. Tuan Sogar menjawab: “Nunga husigat parhalaan, ndang adong gea di tano pangkailan, ndang adong jea, songon i hamagoan ninna pos do roha. Ni rap-rap hodong tinapu salaon, pos rohanta modom, ai ndang adong sijagaon.” Karena Tuan Sogar adalah Datu Bolon, maka Tuan Sogar meminta kepada Nahum Di mana dengan mengatakan: “pangan hita ma jolo asu sibirong, marganding si bara ulunan dohot munsungna, asa mabiar musu mandopang hita, jala martali-tali tiga bolit ma ho, ahu martali-tali andor nguk-nguk.” Tuan Sogar dan Nahum Di mana memakan anjing tersebut dan mereka berdua berpakaian seperti yang diminta Tuan Sogar dan berjalan di seluruh kampung Nahum Di mana. Semua musuh-musuh Nahum Di mana melihat tindakan Tuan Sogar dan Nahum Di mana sehingga mereka ketakutan dan selanjutnya musuh-musuh Nahum di mana tidak ada lagi.

Tuan Sogar sudah merasa cocok dan senang tinggal di Dolok Sanggul dan Nahum Di mana juga merasa senang sehingga ia mengangkat (mangain) Tuan Sogar Manurung menjadi marga Simamora Debataraja, yaitu anak dari Nahum Di mana. Adapun anak-anak dari Nahum Di mana tidak termasuk Tuan Sogar Manurung sebagai berikut:

  1. Guru Sabungan
  2. Anak Perempuan (Menikah dengan marga Manalu)
  3. Guru Manurbing
  4. Girsang Matabun
  5. Raja Paimaon
  6. Lahi Sabungan

Anak perempuan dari Nahum Di mana pulang ke kampung ayahnya di Dolok Sanggul karena suaminya wafat, sehingga ia tinggal di rumah Nahum Di mana dan bertemu dengan Tuan Sogar. Pertemuannya dengan Tuan Sogar membuat dia jatuh hati dikarenakan kehebatan yang dimiliki oleh Tuan Sogar. Kemudian tanpa diduga, anak perempuan dari Nahum Di mana itu pun ketahuan sedang mengandung dan akhirnya diketahui oleh semua orang. Akhirnya desas-desus keluar dalam masyarakat, “Tuan Sogar secara tidak langsung telah menikahi saudara perempuannya (iboto) sendiri karena Nahum Di mana telah mengangkat Tuan Sogar menjadi anaknya dan dalam hal ini, Tuan Sogar dan anak perempuan Nahum Di mana sudah melanggar adat”. Ada beberapa pihak memberikan usulan agar aib dalam keluarga tidak semakin meluas, putri Nahum Di mana tinggal di gubug (sopo-sopo) di hutan, dan ternyata kemudian, anak perempuan Nahum Di mana itu pun melahirkan seorang anak laki-laki. Kemudian Puteri Nahum Di mana wafat dan hewan rusa yang menyusui bayi dari perempuan tersebut. Para penggembala kerbau (parmahan) mendengar tangisan bayi dari puteri Nahum Di mana tersebut dan mendekati tempat tersebut dan ditemukan ternyata bayi tersebut bersama dengan rusa yang menyusuinya. Kemudian penggembala kerbau itu melapor kepada Nahum Di mana, lalu bayi tersebut dibawa ke rumah Nahum Di mana dan diberikan kepada Tuan Sogar. Tuan Sogar menyatakan bahwa bayi tersebut adalah anaknya dan ia mengatakan “Pir ma tondimi Anakhi” kepada Nahum Di mana. Sejak itu, namanya disebut Patuan Sogar Simamora, kemudian ia mempunyai kampung di Huta Bagasan, Dolok Sanggul. Seluruh keturunan Patuan Sogar Simamora tidak memakan rusa oleh karena cerita ini.

Tuan Sogar tinggal selama sisa hidupnya di Huta Bagasan, Dolok Sanggul dan menurut cerita tidak pernah lagi pulang ke Narumambing, dan Janji Matogu. Tuan Sogar wafat di Dolok Sanggul dan mempunyai tambak di dekat Huta Bagasan, Dolok Sanggul. Anak laki-laki Tuan Sogar tersebut bernama Juara Manungkun dan pesan untuk tidak memakan rusa datang dari Juara Manungkun. Ada cerita lain yang menyatakan bahwa Juara Manungkun sempat mau diusir dari Huta Bagasan, Dolok Sanggul. Namun, sahala dari Tuan Sogar selalu melindungi anaknya termasuk seluruh keturunannya, sehingga keturunannya makin banyak dan terlihat besar hingga saat ini. Monumen Tuan Sogar dibangun di Janji Matogu dan tidak ada tulang belulangnya disitu. Monumen tersebut dibangun oleh anak-anaknya mulai dari yang paling besar hingga yang terkecil selain Simamora Tuan Sogar atau Juara Manungkun.[2]

Tugu

Simamora Debataraja memiliki beberapa tugu keturunannya, diantaranya tugu Sunggu Marpasang, terletak di Sosorjulu, Tipang, Humbang Hasundutan. Kemudian tugu Raja Babiat Naingol Simamora dengan istrinya boru Pasaribu yang terletak di Hutatinggi, Parmonangan, Tapanuli Utara. Kemudian tugu Raja Sampetua Simamora dengan istrinya boru Pasaribu yang terletak di Sirisirisi, Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, dan Tugu Raja Marbulang Simamora dengan istrinya boru Nainggolan terletak di Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan. Lokasi tugu Raja Sampetua dan Raja Marbulang berada di tempat yang berbeda, tetapi sama-sama berada di Dolok Sanggul.

Tokoh

Beberapa tokoh yang bermarga Simamora Debataraja, di antaranya adalah:

Referensi

  1. Vergouwen, J. C. (Jacob Cornelis) (1964). The social organisation and customary law of the Toba-Batak of northern Sumatra. Internet Archive. The Hague, M. Nijhoff.
  2. "Buku Tuan Sogar Manurung PDF | PDF". Scribd. Diakses tanggal 2025-05-26.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan