Minggu, 01 November 2026
02:38 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Al-Mustanshir II

Al-Mustanshir II

Bagikan:
Biografi ini tidak memiliki referensi atau sumber sehingga isinya tidak dapat dipastikan. Bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus.
Cari sumber: "Al-Mustanshir II" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Biografi ini memerlukan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Bantulah untuk menambahkan referensi atau sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah.
Cari sumber: "Al-Mustanshir II" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
250px-%D8%A3%D8%AD%D9%85%D8%AF_%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D8%AA%D9%86%D8%B5%D8%B1_%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Al-Mustanshir II atau dikenal pula dengan nama Al-Mustanshir Billah, bergelar Abu al-Qasim, dengan nama lengkap Ahmad bin Azh-Zhahir Biamrillah Abu Nashr Muhammad bin an-Nashir Lidinillah adalah Khilafah Bani Abbasiyah di Kairo dari 1261 sampai 1262 setelah penaklukan Baghdad oleh orang Mongol pada tahun 1258.

Dia dipenjara oleh sang khalifah (keponakannya sendiri) di Baghdad pada saat pasukan Mongol datang menaklukan Baghdad tahun 1258. Ketika pintu penjara dibuka dia berhasil melarikan diri ke padang pasir Irak. Di situ dia tinggal untuk beberapa saat. Pada 1260 Kesultanan Mamluk berhasil menang pada Pertempuran Ain Jalut dan mengusir Pasukan Mongol dari Levant (Suriah), maka setelah itu dia bisa pergi ke Kairo. Di Kairo Sultan Azh-Zhahir Baybars menobatkannya sebagai Khalifah walaupun tanpa kekuasaan politik. Setelah menjadi khalifah maka dia berencana untuk pergi ke Baghdad mengambil kembali kekuasaannya. Sultan Baibars mengantarkannya sampai Damaskus dan membekalinya dengan tentara. Di Irak dia berhasil menguasai Haditha kemudian dia menuju Hita dan bertemu pasukan Mongol. Dalam pertempuran dengan pasukan Mongol dia terbunuh.[1]

Syaikh Quthbuddin berkata:

"Dia dipenjarakan di Baghdad. Tatkala Tartar menguasai Baghdad dia dilepas dan melarikan diri dari Baghdad. Dia berjalan ke perbatasan Irak dan tinggal di sana. Tatkala Sultan Azh-Zhahir Baybars mengobatkan diri sebagai sultan, dia datang dan disertai sepuluh orang dari Bani Muharisy untuk menemui sultan. Sultan yang disertai para hakim segera keluar menyambut kedatangannya. Timbul rumor di Kairo tentang siapa dia sebenarnya. Akhirnya dia menegaskan nasab keturunannya di depan para hakim agung, Tajuddin bin Binti al-A'azz. Setelah itu ia dilantik sebagai khalifah."

Yang pertama kali membaiatnya sebagai khalifah adalah Sultan azh-Zhahir sendiri, disusul kemudian oleh Hakim Tajuddin, lalu Syaikh al-'Izz bin Abdus Salam dan disusul oleh pejabat lain secara bergilir sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing. Pembaiatan tersebut berlangsung pada tanggal 13 Rajab 659 H / 13 Juni 1261.

Saat itu pula, seorang penguasa di Halb, Syamsuddin Aqusy juga mendirikan khilafah dan bergelar Al-Hakim Biamrillah.

Al-Mustanshir berencana untuk pergi ke Irak, sultan pun ikut mengantarkan kepergiannya sampai Damaskus. Khalifah berangkat bersama raja-raja Timur dan Sinjar, serta penguasa Halb pun bergabung dan menyatakan diri taat kepada perintah Al-Mustanshir. Khalifah berhasil menaklukkan al-Haditsah, lalu Hita. Saat itulah datang tentara Mongol, di mana kedua pasukan bertempur sengit. Sebagian kaum muslimin terbunuh dalam pertempuran itu. Sedangkan khalifah sendiri dihukum pancung. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa dia selamat dan melarikan diri.

Peristiwa ini terjadi pada 3 Muharram 660 H / 28 November 1261. Dengan demikian dia hanya menjabat sebagai khalifah dalam waktu tiga bulan lebih. Setelah itu al-Hakim Biamrillah menjadi khalifah yang sebelumnya telah dilantik di Halb.

Abbas
pendiri Bani Abbasiyah
Ibnu Abbas
Ali
Muhammad
Ibrahim1. AS-SAFFAH
(k. 750-754)
2. AL-MANSUR
(k. 754-775
Musa
3. AL-MAHDI
(k. 775-785)
5. AR-RASYID
(k. 786-809)
4. AL-HADI
(k. 785-786
Ibrahim al-Mubarak
6. AL-AMIN
(k. 809-813)
7. AL-MA'MUN
(k. 813-833)
8. AL-MU'TASHIM
(k. 833-842
al-Qasimal-Mu'taman
9. AL-WATSIQ
(k. 842-847)
10. AL-MUTAWAKKIL
(k. 847-861)
12. AL-MUSTA'IN
(k. 862-866)
14. AL-MUHTADI
(k. 869-870)
13. AL-MU'TAZZ
(k. 866-869)
11. AL-MUNTASHIR
(k. 861-862)
al-Muwaffaq15. AL-MU'TAMID
(k. 870-892)
16. AL-MU'TADHID
(k. 892-902)
17. AL-MUKTAFI
(k. 902-908)
18. AL-MUQTADIR
(k. 908-935)
19. AL-QAHIR
(k. 932-934)
22. AL-MUSTAKFI
(k. 944-946)
20. AR-RADHI
(k. 934-940)
Ishaq21. AL-MUTTAQI
(k. 940-944)
23. AL-MUTHI'
(k. 946-974)
25. AL-QADIR
(k. 991-1031)
24. ATH-THA'I
(k. 974-991)
26. AL-QA'IM
(k. 1031-1075)
27. AL-MUQTADI
(k. 1075-1094)
28. AL-MUSTAZHIR
(k. 1094-1118)
29. AL-MUSTARSYID
(k. 1118-1135)
30. AL-MUQTAFI
(k. 1136-1160)
30. AR-RASYID
(k. 1135-1136)
32. AL-MUSTANJID
(k. 1160-1170)
33. AL-MUSTADHI'
(k. 1170-1180)
34. AN-NASHIR
(k. 1180-1225)
35. AZH-ZHAHIR
(k. 1225-1226)
1. AL-MUSTANSHIR II
Berkuasa di Kairo
36. AL-MUSTANSHIR
(k. 1226-1242)
37. AL-MUSTA'SHIM
(k. 1242-1258)


Catatan:[2]

  • k. merupakan tahun kekuasaan
  • Angka, merupakan nomor urut seseorang menjadi khalifah.
  • Nama dengan huruf kapital merupakan khalifah yang berkuasa.
Al-Mustanshir II
Didahului oleh:
Al-Musta'shim
Khalifah Bani Abbasiyah
(1261)
Diteruskan oleh:
Al-Hakim I
Pendiri
Khalifah di Bagdad
Khalifah di Kairo
Wilayah penting
Tokoh lainnya
pro-Abbasiyah: Ibrahim al-Imam - anti-Abbasiyah: Bani Umayyah · Hulagu Khan · Bani Fathimiyah
Lain-lain

Referensi

  1. ↑ https://web.archive.org/web/20080611035825/http://www.islampedia.com/MIE2/tarikh/90mostan.html
  2. ↑ Imam As-Suyuthi (2006). Tarikh Khulafa' [Sejarah Para Penguasa Islam]. Jakarta: Al-Kautsar. ISBN 979-592-175-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh Islam ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan