Al-Hakim Naisaburi | |
|---|---|
| Gelar | al-Hakim |
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | 3 Maret 933 M (3 Rabi'-ul-Awwal 321 H) |
| Meninggal | 1 September 1014 M (3 Safar 405 H) |
| Era | Masa keemasan Islam |
| Minat utama | Hadis |
| Karya terkenal | Mustadrak al-Hakim |
| Pekerjaan | Cendekiawan |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Islam |
| Mazhab | Syafi'i |
| Kepercayaan | Asy'ari[1][2] |
| Muslim leader | |
Influenced by | |
Influenced | |
Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi (bahasa Arab:أبو عبدالله محمد بن عبدالله الحاكم النيسابوري; 321 H/933 M - 405 H/1014 M) atau terkenal dengan sebutan Al-Hakim saja, adalah salah seorang imam di antara ulama-ulama hadits dan seorang penyusun kitab yang terkemuka di zamannya. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Handawaihi bin Nu'aim al-Dhabbi al-Thahmani al-Naisaburi, juga terkenal dengan sebutan gelarnya Ibnu al-Baiyi atau Ibnu Al-Bayyi.[4]
Ia hidup pada masa Khalifah Abbasiyah Al-Muthi, Ath-Thai dan Al-Qadir, saat dinasti syiah Buwaihi dan Fatimiyah berkuasa.
Biografi
Ia dilahirkan di Naisabur pada pagi Jumat, bertepatan dengan 3 Rabiul Awal pada tahun 321 H. Ia pernah dilantik sebagai hakim di Naisabur pada tahun 359 H ketika Daulah As-samaniyah berkuasa dengan perdana menterinya yang bemama Abu Ja'far Al-Atabi, sehingga dikenal dengan nama "al-Hakim".[4]
Pendidikan agama
Awal pendidikan ilmu agama didapatkannya dari ayah dan bapak saudaranya, kemudian ia berguru pula kepada Abu Hatim bin Hibban pada tahun 334 H. Ia juga disebutkan telah belajar ilmu fiqih kepada seorang ulama besar di Naisabur, yaitu Ali bin Sahal Muhammad bin Sulaiman al-Shaluki al-Syafi'i. Pada tahun 338 H ia bertemu dengan Ad-Daruquthni. Setelah itu pada tahun 340 H, ia berhijrah meninggalkan kampung halamannya menuju Irak. Di sana, ia mempelajari ilmu hadits dari Ali bin Ali bin Abi Khurairah, seorang faqih yang terkenal. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kemudian bersafari mencari ilmu ke Khurasan dan negara-negara lain. Ia bertekad untuk mencari dan mengumpulkan hadits, hingga disebutkan bahwa ia telah mendengar hadits dari sejumlah besar para ulama, serta menurut riwayat gurunya berjumlah sekitar 1.000 orang.[5]
As-Sulami bertanya kepada Ad-Daruquthni, "Siapakah yang lebih hafizh di antara Ibnu Mandah dan Ibnu Al-Bayyi'? Ad-Daruquthni menjawab, "Ibnu Al-Bayyi' lebih mutqin (mantap) hafalannya."
Adz-Dzahabi berkata, "Barangsiapa merenungkan karyakarya Imam Al-Hakim, pembahasannya ketika memberikan imla' dan analisa pandangannya mengenai jalur-jalur periwayatan hadits, maka ia akan mengakui kecerdasan dan kelebihan yang dimiliki Imam Al-Hakim. Sesungguhnya Al-Hakim mengikuti jejak para pendahulunya dimana para ulama setelahnya akan kerepotan mengikuti jerih payah sebagaimana yang dilakukan Al-Hakim."
Al-Hakim sempat dituduh syiah namun dijelaskan oleh Imam At-Taj As-Subki berkata secara ringkas,"Abu Abdillah Al-Hakim telah dituduh mengikuti alirah Syi'ah. Tuduhan itu didasarkan pada suatu pendapat bahwa Al-Hakim telah mendahulukan kedudukan Ali bin Abi Thalib biarpun dia tidak mencela salah sahr sahabat. Setelah kami koreksi pernyataan tersebut, ternyata kami menjumpai bahwa Al-Hakim adalah seorang ulama ahli hadits (muhaddits) yang para ulama tidak mengalami perbedaan pendapat tentangnya. Ketika kami pelajari para gurunya yang memiliki hubungan lebih khusus terhadap mereka, temyata para guru tersebut adalah para ulama ahli hadits terkemuka yang mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan, ketika kami lihat dengan seksama kitab sejarah karya Imam Al-Hakim dalam menyebutkan biografi para ulama Ahlu sunnah wal jamaah, maka kami menemukan bahwasanya Al-Hakim menyebutkan biografi mereka sesuai hak-hak dan kemuliaan mereka.[4]
Guru dan Muridnya
Guru-guru Abu Abdillah Al-Hakim sebagaimana disebutkan Adz-Dzahabi adalah: Ayahnya sendiri, Muhammad bin Ali bin Umar Al-Mudzakkar, Abu Al-Abbas Al-Asham, Abu Ja'far Muhammad bin Shaleh bin Hani,, Muhammad bin Abdullah Ash-shafar, Abu Abdillah Ibnul Akhram, Abu Al-Abbas Ibnu Mahbub, Abu Hamid bin Hasnawiyah, Al-Hasan bin Ya'qub Al-Bukhari. Juga, Abu An-Nadhar bin Muhammad bin Muhammad bin Yusuf, Abu Al-walid Hasan bin Muhammad, Abu Amr Ibnu As-samak, Abu Bakar An-Najar, Abu Muhammad Ibnu Darastawiyah, Abu Sahal bin Ziyad, Abdurrahman bin Hamdan Al-Jallab, Ali bin Muhammad bin Uqbah Asy-Syaibani dan Abu Ali Al-Hafizh. Al-Hakim senantiasa mau belajar dari orang lain meskipun itu dari sahabatnya sendiri.
Sedangkan, para murid Al-Hakim adalah: Ad-Daruquthni, Abu Al-Fath bin Abu Al-Farvaris, Abul Ala' Al-Wasithi, Muhammad bin Ahmad bin Ya'qub, Abu Dzar Al-Harawi, Abu Ya'la Al-Khalili, Abu Bakar Al-Baihaqi, Abu Al-Qasim Al-Qusairi, Abu shaleh Al-Muadzin, Az-zaki Abdul Hamid Al-Buhairi, Utsmanbin Muhammad Al-Mahmahi, Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Khalaf Asy-Syairazi dan masih banyak yang lainnya.[4]
Karya-karya

Terdapat banyak para ahli ilmu yang meriwayatkan hadits darinya, di antaranya Imam Daruquthni, Imam Abu Bakar Al-Qaffal Al-Syasy dan teman-temannya. Ia sentiasa bermuzakarah dan bermuhadharah bersama para ulama hadits, bahkan ia juga pernah bermubhahasah dengan Imam Daruquthni. Selain itu, ia juga menghasilkan karya-karya berbentuk penulisan dalam pelbagai jenis ilmu. Di antara kitab-kitab karyanya yang terkenal, ialah Ma'rifat 'Ulum al-Hadits, al-Madkhal 'ala 'ilmi al-Shahih, al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, Fadhail al-Imam al-Syafi'i, dan al-Amali.[5] Adz-Dzahabi berkata, “Dalam kitab Al Mustadrak terdapat banyak hadits yang sesuai kriteria Al-Bukhari dan Muslim atau salah satunya. Jumlahnya sekitar separuh dari isi kitab. Seperempatnya memiliki sanad yang shahih, sedangkan sisanya (seperempat lagi) merupakan hadits-hadits munkar yang lemah dan tidak shahih, yang sebagiannya maudhu’ (palsu). ”Ini merupakan hal yang mengherankan, karena Al Hakim termasuk salah seorang ahli hadits yang brilian di bidangnya. Ada yang berkata, "Hal itu disebabkan bahwa dia menulisnya pada akhir masa hidupnya, yang saat itu dia sudah agak pelupa."
Bahkan meskipun Adz-Dzahabi membuat ringkasan dari kitab Al-Mustadrak tersebut dia menyayangkan dan berkata:" Akan lebih baik seandainya Al-Hakim tidak pernah menyusunnya."
Menurut Abdurrahman Al-Mu'allimi seorang muhaddits dari Yaman juga Prof. Dr. 'Ali Ash-Shayyah, sikap bermudah-mudahan (tasahul) Imam Al-Hakim ini Hanya pada kitab Al-Mustadrak-nya saja. Adapun di kitabnya yang lain seperti Al-Madkhal ila Ash-Shahih, Su`alat As-Sijziy, Ma'rifah 'Ulum Al-Hadits, dan lain-lain, dia tidaklah seperti itu. Hal ini semakin menguatkan alasan yang dikuatkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani bahwa Kitab Al-Mustadrak yang disusun oleh Imam Al-Hakim tersebut ditulis di akhir umurnya ketika kekuatan hafalannya sudah berkurang, oleh sebab itu pernyataan-pernyataannya di dalam Al-Mustadrak sering kali bertentangan dengan pernyataannya di kitab-kitabnya yang lain.[6]
Kematian
Al-Hakim wafat pada 3 Safar 405 H / 1 September 1014 di Naisabur. Abu Musa Al-Madini berkata, "sesungguhnya Abu Abdillah Al-Hakim masuk kamar mandi untuk mandi. Ketika keluar, tiba-tba terdengar suara 'ah'. Pada waktu terdengar'ah' itulah, Al-Hakim meninggal. Kemudian jasadnya dimakamkan setelah Ashar.di hari Rabu. Abu Bakar Al-Qadhi turut menyalati jenazahnya."[4]
Rujukan
- ↑ Bulliet, Richard (1970). "A quantitative approach to medieval Muslim biographical dictionaries". Journal of the Economic and Social History of the Orient. 13 (1): 195–211. doi:10.1163/156852070X00123. The great Ash'ari theological school was flourishing under Abu at-Tayyib as-Su'laki (d. 398), Ibn Furak (d. 406), al-Hakim an-Naisaburi (d. 405) and Abu Ishaq al-Isfara'ini
- ↑ "Ahl al-Sunna: The Ash'aris - The Testimony and Proofs of the Scholars". almostaneer.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-01-28. Diakses tanggal 2021-10-29.
- ↑ Constructive Critics, Ḥadīth Literature, and the Articulation of Sunnī Islam, By Scott C. Lucas,pg. 98
- 1 2 3 4 5 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
- 1 2 Khafidah, Wahyu; Saidina, Subhan; Mulda (2023-06-07). Ulumul Hadist. Penerbit NEM. hlm. 6. ISBN 978-623-423-882-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Ahadits Ta'zhim Ar-Riba 'ala Az-Zina hal.160-163
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |
| Lain-lain | |
Artikel bertopik Ulama ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |