Selasa, 20 Oktober 2026
21:23 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Abubakar Ahmad al-Baihaqi

Abubakar Ahmad al-Baihaqi

Bagikan:
250px-%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8A%D9%87%D9%82%D9%8A.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Imam Baihaqi (bahasa Arab: أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي بن عبدالله البيهقي) adalah seorang ulama ahli fiqh, ushul fiqh, hadist, dan salah seorang tokoh utama dalam mazhab Syafi'i. Ia lahir Khasrujard, pada bulan Sya'ban 994/384 H - wafat di Naysabur, 1066/458 H), atau lengkapnya Abubakar Ahmad bin Husain bin Ali bin Musa Abdullah al-Baihaqi.[1] Ia hidup pada masa Khalifah Abbasiyah Ath-Tha'i, Al-Qadir dan Al-Qa'im, dimana kekuasaan dinasti Buwaihi di Baghdad runtuh dan beralih ke Turki Seljuk.

Masa muda

Imam Baihaqi dilahirkan di Khasrujard, Baihaq, yaitu di Naysabur di Persia (sekarang provinsi Khorasan, Iran) pada tahun 994. Ia mempelajari hadist dan mendalami fiqh mazhab Syafi'i. Dalam pencarian ilmunya, ia mendatangi para ulama di Baghdad, Kufah, dan Mekkah, sebelum akhirnya kembali lagi ke Baihaq.[2]

Pada saat berumur lima belas tahun, Al-Baihaqi berguru kepada Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Husain AI-Alawi, murid Abu Hamid bin Asy-syarqi. Abu Al-Hasan adalah gurunya yang tertua. Namun, ia kehilangan kesempatan berguru kepada Abu Nu'aim Al-Isfarayini, murid Abu Uwanah. Hanya saja ia meriwayatkan bab jual beli darinya melalui Ijazah.Ia juga berguru kepada Al-Hakim Abu Abdillah Al-Hafizh.

Ia termasuk murid-murid besar Al-Hakim dan bahkan melebihinya dengan berbagai bidang ilmu. Ia telah menulis hadits dan menghafalnya sejak dari kecilnya. Ia mempelajari ilmu fikih dan ilmu ushul sampai menguasainya. Ia pergi menuju Irak, Al-Jibal dan Hijaz. setelah itu, ia menyusun karya-karya yang jumlahnya mendekati 1000 (seribu) juz, suatu hasil karya yang belum pemah dicapai orang sebelumnya. Ia juga telah mengumpulkan antara ilmu hadits dan fikih, menjelaskan illat-illat hadits dan titik temu antara hadits-hadits yang dikumpulkan. Ia diminta para ulama untuk pindah dari An-Nahiyah menuju Naisabur agar mengajarkan kitab-kitabnya di sana. Pada tahun 441 H ia datang di Naisabur. Di sana, dibuat majelis ilmu untuk membahas kitab Al-Ma'rifah karyanya. Majelis tersebut dihadiri para ulama dan para pencari ilmu pada umurnnya. Ia adalah orang yang mengikuti jejak para ulama dan merasa puas dengan sedikit harta.[1]

Al-Baihaqi melakukan haji. Lalu ia menuju Baghdad. Di sana, ia berguru kepada Hilal Al-Haffar, Abu Al-Husain bin Busyran dan segolongan ulama lain. selain belajar kepada ulama-ulama di Baghdad, ia juga belajar kepada ulama-ulama yang ada di Makkah, seperti Abu Abdillah bin Nazhif, dan ulama-ulama lain ada di Irak, Hijaz dan Al-Jibal. Jika dihitung guru-gurunya lebih dari 100 orang. Hal ini tidak seperti yang dialami oleh At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah. Khusus dalam bidang fikih, ia berguru kepada Nashir Al-Umari.

Pengajaran

Imam Baihaqi kemudian mengajar di Naysabur, dan menjadi orang pertama yang mengumpulkan naskah-naskah fiqh Imam Syafi'i dalam kitabnya Al-Mabsuth, sekaligus menjadi penyebar fiqh mazhab Syafi'i. Imam al-Haramain al-Juwaini berkomentar tentang pemahaman Imam Baihaqi terhadap mazhab Syafi'i:[3]

Tidak ada pengikut mazhab Syafi'i yang mempunyai keutamaan melebihi Baihaqi, karena karyanya dalam mengembangkan mazhab dan pendapat Syafi'i.

Sedangkan Imam adz-Dzahabi pernah berkata mengenai keluasan ilmunya, bahwa kalau Al-Baihaqi menghendaki, maka ia mampu membuat mazhab sendiri karena keluasan ilmu dan pemahamannya akan masalah-masalah khilafiyah.

Pandangan Ulama

Abdul Ghafir mengatakan, "Al-Baihaqi adalah orang yang menjalani jejak para ulama, merasa puas dengan sedikit dunia dan berhias diri dengan zuhud dan wira'i. Pada masa akhir hidupnya, ia kembali ke An-Nahiyah dan wafat di sana."

Imam Al-Haramain mengatakan, "Tidak ada seorang pun dari pengikut madzhab Asy-syafi'i kecuali Imam Asy-syafi'i berada di lehemya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Al-Baihaqi, karena ia terlepas dari keterkaitan itu dan justru membela madzhab dan perkataan Imam Asy-syafi'i dengan karya-karyanya."[1]

Karya-karya

330px-T%C4%81r%C4%ABkh-i_Ab%C5%AB%E2%80%99l-Fa%C5%BCl_Mu%E1%B8%A5ammad_ibn_%E1%B8%A4usayn_Bayhaq%C4%AB.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Manuskrip Kitab Sejarah karya Al-Baihaqi.

Beberapa karya Imam Baihaqi, antara lain:[3]

  • Al-Sunan al-Kubra
  • Ma`arifa al-Sunan wa al-Athar
  • Bayan Khata Man Akhta`a `Ala al-Shafi`i
  • Al-Mabsut
  • Al-Asma’ wa al-Sifat
  • Al-I`tiqad `ala Madhhab al-Salaf Ahl al-Sunna wa al-Jama`a
  • Dala’il al-Nubuwwa
  • Shu`ab al-Iman
  • Al-Da`awat al-Kabir
  • Al-Zuhd al-Kabir
  • Al-Arb`un al-Sughra
  • Al-Khilafiyyat
  • Fada’il al-Awqat
  • Manaqib al-Shafi`i
  • Manaqib al-Imam Ahmad
  • Tarikh Hukama al-Islam

Kematian

Imam Baihaqi wafat di Naysabur pada tanggal 10 Jumadal Ula tahun 458 H / 1066 M di usia 74 tahun dan dimakamkan di Khasrujard (Baihaq). Setelah orang-orang mendengarkan pemaparan ilmunya yang terakhir, ia kemudian sakit dan akhimya meninggal . Ia dimandikan, dikafankan dan dimasukkan dalam peti untuk dipindah ke Baihaq, suatu tempat yang jauhnya dari Naisabur dua hari perjalanan onta.[1]

Referensi

  • Mursi, Muhammad Sa'id. Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Penerjemah: Khoirul Amru Harahap, Lc, MHI dan Achmad Faozan Lc. MAg, Cet. 1, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007.
  1. 1 2 3 4 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
  2. ↑ Mustofa, Imron (2017-11-06). Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi. LAKSANA. hlm. 433. ISBN 978-602-407-215-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 MA, Dr H. Fahmi Ahmad Jawwas, Lc. Formulasi Metode Tafsir Ahkam (Studi Kasus tentang Perubahan Hukum di Masa Pandemi). Publica Indonesia Utama. hlm. 84. ISBN 978-623-8232-77-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Abad ke-3 H
Imam Asy-Syafi'i (wafat 204 H)  • Imam Ahmad (wafat 241 H)  • Imam Bukhari (wafat 256 H)  • Imam Abu Dawud (wafat 275 H)  • Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H)  • Syeikh Juneid al-Bagdadi (wafat 298 H)
Abad ke-4 H
Imam An-Nasa'i (wafat 303 H)  • Abu Hasan al Asy'ari (wafat 324 H)  • Ibnul Haddad (wafat 345 H)  • Ar-Razi (wafat 347 H)  • Ibnul Qathan (wafat 359 H)  • Ibnul Bahran (wafat 361 H)  • Al-Qaffal al-Kabir (wafat 366 H)  • Ad-Daruquthni (wafat 385 H)  • Al-Isma'ili (wafat 392 H)  • Al-Qadhi Al-Jurjani (wafat 392 H)  • As-Susi (wafat 396 H)  • Ibnu Laal (wafat 398 H)
Abad ke-5 H
Al-Lalika'i (wafat 416 H)  • Al-Mawardi (wafat 450 H)  • Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)
Abad ke-6 H
Imam Al-Ghazali (wafat 505 H)  • Imam Al-Baghawi (wafat 516 H)  • Ibnu Asakir (wafat 576 H)  • Abu Syuja (wafat 593 H)
Abad ke-7 H
Al-Mundziri (wafat 656 H)  • Imam An-Nawawi (wafat 676 H)  • Imam Ar-Rafi'i (wafat 623 H)  • Ibnu Malik (wafat 672 H)  • Al-Baidhawi (wafat 691 H)  • Syaikh Ibrahim ad Dasuqi (wafat 696 H)  • Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H)
Abad ke-8 H
Ibnu Katsir (wafat 774 H)  • Ibnu Daqiq al-Ied (wafat 702 H)  • Quthbuddin asy-Syirazi (wafat 710 H)  • Taqiyuddin as-Subki (wafat 756 H)  • Az-Zarkasyi (wafat 794 H)
Abad ke-9 H
Ibnu Al-Mulaqqin (wafat 804 H)  • Ibnu Ruslan (wafat 844 H)  • Ibnu Hajar Al 'Asqalani (wafat 852 H)  • Jalaluddin al-Mahalli (wafat 864 H)  • Imamul Kamiliyah (wafat 874 H)
Abad ke-10 H
Jamaluddin An-Nasyiri (wafat 911 H)  • Imam As-Suyuthi (wafat 911 H)  • Jalaluddin al-Karaki (wafat 912 H)  • Ibnu Abi Syarif (wafat 923 H)  • Abul Fatah al-Mishri (wafat 963 H)  • Hasanuddin (wafat 964 H)  • Ibnu Qassim al-'Ubaidi (wafat 994 H)  • Mirza Makhdum (wafat 995 H)
Abad ke-11 H
Nuruddin al-Raniri (wafat 1068 H)  • Syamsuddin as-Syaubari (wafat 1069 H)  • Syihabuddin al-Qaliyubi (wafat 1070 H)  • Abdul Birri al-Ajhuri (wafat 1070 H)  • Al-'Urdli (wafat 1071 H)  • Ibnu Jamal al-Makki (wafat 1072 H)  • Al-Qinai (wafat 1073 H)  • Ibrahim al-Marhumi (wafat 1073 H)  • Muhammad al-Bathini (wafat 1075 H)  • Muhammad al-Kurani (wafat 1078 H)  • Ibrahim al-Maimuni (wafat 1079 H)  • Abdul Qadir as-Shafuri (wafat 1081 H)  • Ibnu Jam'an (wafat 1083 H)  • Ibrahim al-Khiyari (wafat 1083 H)  • Al Kurdi (wafat 1084 H)  • 'Al al-Ayyubi (wafat 1086 H)  • Muhammad al-Bakri (wafat 1087 H)  • Abdul Rauf al-Fanshuri (wafat 1094 H)
Abad ke-12 H
Abdullah bin Alawi al-Haddad (wafat 1123 H)  • Muhammad al-Kurani (wafat 1145 H)  • Al 'Ajaluni (wafat 1148 H)  • Hasan al-Bani (wafat 1148 H)  • As-Safar Jalani (wafat 1150 H)  • Ad-Diri (wafat 1151 H)  • As-Suwaidi (wafat 1143 H)  • Zainuddin ad-Dirbi (wafat 1155 H)  • Al-Busthami (wafat 1157 H)  • Athaulah al-Azhari (wafat 1161 H)
Abad ke-13 H
Abdus Shamad al-Falimbani (wafat 1203 H)  • Muhammad Arsyad al-Banjari (wafat 1227 H)  • Al-Yamani (wafat 1201 H)  • Ahmad al-Khalifi (wafat 1209 H)  • Al-Baithusyi (wafat 1211 H)  • At-Takriti (wafat 1211 H)  • Ibnu Jauhari (wafat 1215 H)  •Ad-Damanhuri (wafat 1221 H)
Abad ke-14 H
Abdul Karim Tebuwung (wafat 1313 H)  • Nawawi al-Bantani (wafat 1315 H)  • Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1334 H)  • Muhammad Saad Munqa (wafat 1339 H)  • Syeikh Muhammad Saleh al-Minankabawi (wafat 1351 H)  • Syeikh Khatib 'Ali (wafat 1353 H)  • Muhammad Jamil Jaho (wafat 1360 H)  • Hasjim Asy'ari (wafat 1367 H)  • Abdul Wahid Tabek Gadang (wafat 1369 H)  • Musthafa Husein al-Mandili (wafat 1370 H)  • Dimyathi Syafi'ie (wafat 1378 H)  • Abdul Qadir bin Abdul Mutalib al-Mandili (wafat 1385 H)  • Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (wafat 1388 H)  • Habib Salim bin Djindan (wafat 1389 H)  • Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1390 H)  • Abdul Wahab Hasbullah (wafat 1391 H)  • Al-Habib Ali bin Husein al-Attas (wafat 1396 H)
Abad ke-15 H
Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (wafat 1410 H)  • Muhammad Zaini Abdul Ghani (wafat 1426 H)  • Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa (wafat 1434 H)  • Sahal Mahfudz (wafat 1435 H)  • Wahbah al-Zuhayli (wafat 1436 H)
Cetak tebal adalah yang sangat terkemuka di zamannya, metode penentuan abad seorang ulama dengan tahun kematiannya, Lihat Panduan Penggunaan
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan