Rabu, 14 Oktober 2026
09:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
Abu Hanifah

Abu Hanifah

pendiri mazhab fiqih Hanafi

Bagikan:
Abu Hanifah
أَبُو حَنِيفَة
250px-Grab_hanifa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makam Abu Hanifah di Masjid Abu Hanifah, Irak
Gelar
  • Syekhul Islam ('Syekh Islam')
  • Al-Imam al-A'zam ('Imam Terbesar')
  • Siraj al-A'imma ('Lampu para Imam')
Kehidupan pribadi
Lahir
an-Nuʿmān bin Tsābit bin Zūṭā bin Marzubān at-Taymī al-Kūfī

September 699 M (Rajab 80 H)
Kufah, Kekhalifahan Umayyah (Irak modern)
Meninggal767 M (150 H; usia 68–70)
Bagdad, Kekhalifahan Abbasiyah (sekarang Irak)
MakamMasjid Abu Hanifah, Bagdad, Irak
Anak
  • Hammad
  • Hanifah (diperdebatkan)[1]
EraUmayyah akhir – Abbasiyah awal
WilayahKufah[2]
Minat utama
Ide penting
Karya terkenal
Pekerjaan
Kehidupan religius
AgamaIslam
DenominasiSunni
MazhabIndependen (eponim dari Mazhab Hanafi)
Muslim leader
Nama Arab
Pribadi
(Ism)
An-Nuʿmān
ٱلنُّعْمَان
Patronimik
(Nasab)
Ibnu Tsābit bin Zūṭā bin Marzubān
ٱبْن ثَابِت بْن زُوطَا بْن مَرْزُبَان
Teknonim
(Kunyah)
Abū Ḥanīfah
أَبُو حَنِيفَة
Toponim
(Nisbah)
At-Taymī al-Kūfī
ٱلتَّيْمِيّ ٱلْكُوفِيّ

Abū Ḥanīfah an-Nuʿmān bin Tsābit bin Zūṭā bin Marzubān at-Taymī al-Kūfī (bahasa Arab:أَبُو حَنِيفَة ٱلنُّعْمَان بْن ثَابِت بْن زُوطَا بْن مَرْزُبَان ٱلتَّيْمِيّ ٱلْكُوفِيّ); juga dikenal sebagai Abu Hanifah (bahasa Arab:أَبُو حَنِيفَة, translit. Abū Ḥanīfah; September 699 M – 767 M)[5][6] adalah seorang cendekiawan Muslim, ahli hukum, teolog, zahid,[7] dan eponim dari mazhab Hanafi dalam yurisprudensi Sunni, yang masih paling banyak dipraktikkan hingga saat ini.[7] Mazhabnya mendominasi di Asia Tengah dan Selatan, Turki, Afrika, Balkan, Rusia, dan beberapa bagian dunia Arab.[8][9]

Sumber-sumber berbeda pendapat tentang di mana tepatnya dia dilahirkan, apakah di Kufah (yang dipegang oleh mayoritas),[5]: 71  Kabul, Anbar, Nasa atau Termez.[5][7]: 69  Abu Hanifah melakukan perjalanan ke wilayah Hijaz di Arabia pada masa mudanya, di mana dia belajar di kota-kota suci Islam Makkah dan Madinah.[7] Dia disebut oleh adz-Dzahabi sebagai "salah satu jenius putra Adam" yang "menggabungkan yurisprudensi, ibadah, ketelitian, dan kemurahan hati".[10]

Seiring dengan berkembangnya kariernya sebagai ahli hukum dan teolog, ia dikenal karena mendukung penggunaan akal dalam putusan-putusan yurisprudensinya, dan bahkan dalam teologinya.[7] Mazhabnya berkembang setelah kematiannya, dan mayoritas pengikutnya pada akhirnya juga mengikuti mazhab teologi Maturidiyah.[7] Ia meninggalkan dua murid utamanya, Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani, yang kemudian menjadi ahli hukum ternama dengan hak mereka sendiri.

Ia hidup pada masa Khalifah Umayyah Abdul Malik bin Marwan hingga masa Abbasiyah Al-Manshur, saat Abbasiyah menuju puncak kejayaan.

Biografi

Kelahiran

Para sejarawan berbeda pendapat mengenai tempat kelahirannya, meskipun mereka sepakat bahwa ia lahir pada masa Kekhalifahan Umayyah dimasa Khalifah Abdul Malik bin Marwan.[11] Namun, mereka berbeda pendapat mengenai tahunnya: 699 M / 80 H (dianggap oleh mayoritas ulama Muslim klasik),[5]: 71 [12][13] 696 M / 77 H,[14] 689 M / 70 H,[15] atau 680 M / 61 H.[16] Banyak sejarawan memilih tanggal terakhir, 699 M / 80 H; namun, Muhammad Zahid al-Kautsari percaya bahwa tanggal 689 M / 70 H didukung oleh dua pertimbangan:[butuh rujukan]

  • Pertama, Muhammad bin Makhlad al-Attar menilai riwayat Hammad, putra Abu Hanifah, dari Malik bin Anas merupakan contoh riwayat seorang laki-laki tua, bukan seorang laki-laki muda.
  • Kedua, Abu Hanifah khawatir tentang siapa yang akan menggantikan Ibrahim an-Nakha'i setelah wafatnya pada tahun 96 H. Kekhawatiran ini baru muncul jika usianya lebih dari 19 tahun, karena dianggap ia baru serius mempelajari agamanya setelah itu. Jika Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H, Abu Hanifah akan berusia 16 tahun saat al-Nakhai wafat.[16]

Sebab penamaannya dengan Hanifah adalah karena dia selalu membawa tinta yang disebut Hanifah dalam bahasa Irak.[11]

Hammad, puteranya mengatakan, "Dia adalah orang yang berkulit sawo matang dan tinggi badannya, berwajah tampan, berwibawa dan tidak banyak bicara kecuali menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Selain itu, dia juga tidak mau mencampuri persoalan yang bukan urusannya."[11]

Latar belakang keluarga

Abu Hanifah diduga memiliki keturunan Persia.[17][18] Namun, ia juga disebutkan sebagai keturunan Zutt, orang-orang Jat yang bermigrasi ke Irak selama Zaman Kejayaan Islam.[19][20][21] Kakeknya, Zuta, mungkin telah ditangkap oleh pasukan Muslim di Kabul dan dijual sebagai budak di Kufah, di mana ia dibeli dan dibebaskan oleh seorang anggota suku Arab dari Taimullah, cabang dari Bani Bakar. Zuta dan keturunannya setelah itu akan menjadi klien Taimullah, oleh karena itu ada referensi sporadis kepada Abu Hanifah sebagai "at-Taymī".[22] Namun, menurut cucunya Isma'il, garis keturunannya kembali ke orang Persia bebas yang tidak pernah ditahan sebagai budak. Ia menyebut kakek buyut Abu Hanifah dengan sebutan "Marzuban", yang merupakan bentuk Arab dari jabatan militer Sasaniyah marzban, yang dipegang oleh gubernur provinsi-provinsi perbatasan wilayah Sasaniyah.[6] Pandangan lain diambil dari sejarawan Irak Naji Ma'ruf, salah satu tokoh terkemuka di bidang keilmuan dan sastra Irak, yang menulis buku yang menetapkan asal-usul dan leluhur Abu Hanifah melalui dokumentasi sejarah, dan membantah semua klaim sebelumnya tentang asal-usulnya yang bukan berasal dari Arab.

Dalam karyanya yang berharga (Asal Usul Imam Abu Hanifah al-Nu'man dari Arab; bahasa Arab:عروبة الإمام أبي حنيفة النعمان), dan berdasarkan prinsip bahwa 'orang-orang Makkah paling mengetahui lembah-lembahnya,' sumber-sumber Hanafi menegaskan bahwa ia berasal dari keturunan Arab, dan bahwa Tsabit bin an-Nu'man bin al-Mirzban berasal dari Bani Yahya bin Zaid bin Asad, dari suku Arab al-Azad yang bermigrasi dari Yaman dan menetap di wilayah Irak setelah runtuhnya Bendungan Marib akibat Banjir Besar, menjadi bagian dari suku Nabath di Irak.[23] Di kalangan orientalis, seorang cendekiawan terkemuka Carl Brockelmann mengungkapkan keheranannya dalam penelitiannya yang diterbitkan di Jurnal Orientalis Jerman mengenai bagaimana sejarawan Irak mengabaikan identitas Irak Abu Hanifah, yang merupakan salah satu orang Arab kuno di al-Hirah, dan bagaimana mereka mengaitkannya dengan orang-orang selain bangsanya sendiri, meskipun ia merupakan simbol nasional Bagdad. Dari kalangan Hanafi India, Syah Waliullah Dehlawi menegaskan bahwa Imam Besar itu berasal dari Arab dan bukan yang lain, dan ia mengecam keras siapa pun yang mengaitkannya dengan hal lain.[24]

Pandangan Ulama

Sufyan bin Uyainah berkata, "Tidak ada seorang pun yang datang ke Makkah sampai saat ini yang paling banyak shalatnya dari Imam Abu Hanifah."[11]

Abu Yusuf berkata, "Dia berperawakan sedang dan termasuk orang yang mempunyai postur tubuh ideal, paling bagus logat bicaranya, paling bagus suaranya saat bersenandung dan paling bisa memberikan keterangan kepada orang yang diinginkannya."

Abdurrahman bin Muhammad bin Al-Mughirah berkata, "Aku melihat Abu Hanifah seorang guru yang banyak memberikan fatwa kepada masyarakat di masjid Kufah dengan memakai kopiah panjang berwama hitam di kepala."

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Abu Hanifah adalah seorang yang ahli fikih dan terkenal dengan keilmuannya'itu. Selain itu, dia juga terkenal dengan kewara'annya, banyak harta, sangat memuliakan dan menghormati orang-orang di sekitamya, sabar dalam menuntut ilmu siang dan malam, banyak bangun ma1am, tidak banyak berbicara kecuali ketika harus menjelaskan kepada masyarakat tentang halal dan haramnya suatu perkara. Dia sangat piawai dalam menjelaskan kebenaran hukum dan tidak suka dengan harta para penguasa."[11]

Ibadahnya

Asad bin Amr berkata, "sesungguhnya Imam Abu Hanifah melakukan shalat Isya' dan shubuh dengan satu wudhu selama 40 tahun."[11]

Al-Mutsanna bin Raja' berkata, "Abu Hanifah telah benar-benar bersumpah kepada Allah untuk bershadaqah dengan uang dinar, yaitu jika dia membelanjakan sejumlah uangnya untuk keluarganya, maka dia akan memberikan shadaqah dengan jumlah uang yang sama sesuai dengan yang dibelanjakannya untuk keluarganya."

Abu 'Ashim An-Nabil berkata, "Abu Hanifah juga dipanggil dengan riama Al-Wafrd (orang yang kuat) karena banyaknya shalat yang dilakukannya."

Ummu Walad pemah berkata tentang Abu Hanifah, "Selama yang aku tahu dia belum pemah tidur menggunakan bantal di atas ranjang. Dia hanya tidur pada waktu antara Dzuhur dan Ashar di musim Panas, dan awal malam (agak sore) di masjid di musim dingin."

Ibnu Abi Ruwwad berkata, "Aku belum pemah melihat orang yang lebih sabar darinya untuk berthawaf dan beribadah di Makkah, dia selalu berdoa kepada Allah agar mendapat keselamatan di akhirat nanti. Aku juga tidak pemah menyaksikannya tidur malam selama sepuluh malam, tidak pula aku melihatnya mau beristirahat pada siang hari. Dia selalu melakukan shalat, thawaf dan belajar.

Adapun yang meriwayatkan darinya (muridnya) antara lain; Puteranya Hammad, Ibrahim bin Thahman, Hamzah bin Hubaib Az-Ziyat, Zafr bin Al-Hudzail, Abu Yusuf Al-Qadhi, Abu Yahya Al-Hammani,Isa bin Yunus, Waki', Yazid bin Zurai', Asad bin Amr AI-BajaIi, Hukkam bin Ya'la bin Salam Ar-Razi, Kharijah bin Mush'ab, Abdul Majid bin Abi Ruwwad, Ali bin Mushir, Muhammad bin Basyar Al-Abdi, Abdurrazzaq Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syibani, Mush'ab bin Al-Miqdam, Yahya bin Yaman, Abu Ishmah Nuh bin Abi Maryam, Abu Abdirrahman Al-Muqri, Abu Ashim dan yang lain."[11]

Penolakan sebagai hakim

330px-MadhhabEasternHemisphere.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebaran Madzhab Hanafi (hijau muda).

Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur berkata kepada menterinya, "Aku sedang membutuhkan seorang hakim yang bisa menegakkan keadilan di negara kita ini, dengan kualifikasi dia tidak takut kepada siapapun dalam menegakkan kebenaran, paling memahami Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Menurutmu siapa yang layak menduduki posisi ini?", lalu sang menteri menjawab, "Sejauh pengetahuan saya, ulama yang paling tepat menduduki jabatan ini adalah Abu Hanifah An-Nu'man, betapa bahagianya kita jika ia menerima tawaran sebagai hakim ini!", "Apa mungkin seseorang bisa menolak jika kita yang memintanya?" tanya Khalifah lagi, "Sejauh yang kami tahu, dia tidak pernah tunduk kepada permintaan siapapun, tampaknya dia tidak suka menduduki posisi sebagai hakim, maka utuslah seseorang utusan mudah-mudahan hatinya terbuka, dan menerima tawaran ini."[11]

Khalifah kemudian mengutus seorang utusan memintanya untuk menghadap seraya menawarkan posisi sebagai hakim. Abu Hanifah menjawab, "Aku akan istikharah terlebih dahulu, salat 2 rakaat meminta petunjuk kepada Allah, jika hatiku dibuka maka akan aku terima, jika tidak maka masih banyak ahli fikih lain yang bisa dipilih salah satu di antara mereka oleh Amirul Mukminin."

Waktu terus berjalan, ternyata Abu Hanifah tak kunjung menghadap Khalifah, maka ia mengutus seorang utusan memintanya menghadap, Abu Hanifah kemudian pergi menghadap namun ia beriktikad untuk menolak jabatan hakim yang ditawarkan kepadanya. Ternyata Khalifah tidak menyerah begitu saja, ia bersumpah agar Abu Hanifah menerima jabatan sebagai hakim yang ditawarkan, akan tetapi Abu Hanifah tetap menolaknya, seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku tak pantas untuk menduduki jabatan hakim," lalu Khalifah malah menjawab, "Engkau dusta!" sehingga Abu Hanifah pun berkata, "Sekiranya Anda telah menghukumi saya sebagai pembohong, maka sesungguhnya para pembohong tak layak menjadi hakim, dan sebaiknya Anda jangan mengangkat rakyat Anda yang tidak memenuhi kualifikasi untuk menduduki jabatan yang strategis ini. Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, dan jangan Anda delegasikan amanah kecuali kepada mereka yang takut kepada Allah, jika saya tidak mendapat jaminan keridhaan, bagaimana saya akan mendapat jaminan terhindar dari murka?". Khalifah lalu memerintahkan mencambuknya seratus cambukan, lalu dijebloskannya ke penjara.

330px-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%85%D8%A7%D9%85_%D8%A7%D8%A8%D9%88_%D8%AD%D9%86%D9%8A%D9%81%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%B9%D9%85%D8%A7%D9%86.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masjid Abu Hanifah di Irak.

Selang beberapa hari, khalifah mendapat teguran dari seorang kerabatnya, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Anda telah mencambuk diri Anda dengan seratus ribu pukulan pedang."

Maka khalifah segera memerintahkan untuk membayar 30.000 dirham (sekitar Rp.2,1 miliar) kepada Abu Hanifah sebagai ganti atas yang telah dideritanya, lalu membebaskannya dan mengembalikan ke rumahnya.

Ternyata setelah harta tersebut diberikan, ia menolaknya. Maka khalifah memerintahkan untuk menjebloskan kembali ke penjara. Hanya saja para menteri mengusulkan bahwa Abu Hanifah segera dibebaskan dan cukup diberi dengan penjara rumah, serta melarangnya untuk duduk bersama masyarakat atau keluar dari rumah.

Akhir hayat

Selang beberapa hari setelah mendapatkan tahanan rumah, ia terkena penyakit, semakin lama semakin parah. Akhirnya ia wafat pada usia 68 tahun pada tahun 150 H / 767 M di kota Baghdad.[11] Berita kematiannya segera menyebar, ketika Khalifah mendengar berita itu, ia berkata, "Siapa yang bisa memaafkanku darimu hidup maupun mati?" Salah seorang ulama Kufah berkata, "Cahaya keilmuan telah dimatikan dari kota Kufah, sungguh mereka tidak pernah melihat ulama sekaiber dia selamanya." Yang lain berkata, "Kini mufti dan fakih Irak telah tiada."

Jasadnya dikeluarkan dipanggul di atas punggung kelima muridnya, hingga sampai tempat pemandian, ia dimandikan oleh Al-Hasan bin Imarah, sementara Al-Harawi yang menyiramkan air ke tubuhnya. Ia disalatkan lebih dari 50.000 orang. Dalam enam kali putaran yang ditutup dengan salat oleh anaknya, Hammad. Ia tak dapat dikuburkan kecuali setelah salat Ashar karena sesak, dan banyak tangisan. Ia berwasiat agar jasadnya dikuburkan di Kuburan Al-Khairazan, karena merupakan tanah kubur yang baik dan bukan tanah curian.

Pembangunan Masjid Abu Hanifah

250px-Abu_Hanifa_Mosque_roof.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Interior Masjid Abu Hanifah.

Pada tahun 375 H / 985 M dinasti Abbasiyah membangun masjid di samping makam Abu Hanifah.[25] Kemudian pada dinasti Seljuk oleh Alp Arslan ditingkatkan kubah masjidnya pada 459 M / 1066 M termasuk bangunan madrasah karena mengikuti madzhab Hanafi. Lalu Dinasti Safawi Syiah menghancurkannya pada tahun 1508 M. Selanjutnya Dinasti Utsmani mengalahkan Safawi lalu Sultan Sulaiman membangun ulang kembali masjid dan madrasah dengan lebih luas dilengkapi menara dan pasukan penjaga pada tahun 1534 M. Dinasti Utsmani yang mengikuti ajaran Hanafi terus merenovasinya hingga abad ke 20.[26]

Referensi

  1. ↑ "imamAbuhanifah". muftisays. 19 Mei 2006. Diakses tanggal 21 Januari 2024.
  2. ↑ A.C. Brown, Jonathan (2014). Misquoting Muhammad: The Challenge and Choices of Interpreting the Prophet's Legacy. Oneworld Publications. hlm. 24–5. ISBN 978-1780744209.
  3. ↑ "Imaam Abu Hanifa (R.A.), Biography of One of The Four Great Imaams". inter-islam.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Agustus 2025.
  4. ↑ The Conclusive Argument from God:Shah Wali Allah of Delhi's Hujjat Allah Al-baligha, pg 425
  5. 1 2 3 4 Ibn Hajar al-Haythami (Agustus 2022). Hussain al-Azhari, Hafiz Ather (ed.). The Greatest Imam: Abu Hanifah al-Nu'man. Diterjemahkan oleh Ashraf, Muhammad Nizam. Bolton: Nizami Publications. ISBN 9781739680503.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 ABŪ ḤANĪFA, Encyclopædia Iranica
  7. 1 2 3 4 5 6 Pakatchi, Ahmad and Umar, Suheyl, "Abū Ḥanīfa", in: Encyclopaedia Islamica, Editors-in-Chief: Wilferd Madelung and, Farhad Daftary.
  8. ↑ Nazeer Ahmed (2001). Islam in Global History: Volume One: From the Death of Prophet Muhammed to the First World War. Xlibris Corporation. hlm. 113. ISBN 9781462831302.
  9. ↑ Ludwig W. Adamec (2012). Historical Dictionary of Afghanistan. Scarecrow Press. hlm. 17. ISBN 9780810878150.
  10. ↑ Al-Dhahabi. Al-Ibar fi Khabar man Ghabar. Vol. 1. hlm. 164.
  11. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692.
  12. ↑ Çakmak, Cenap (18 Mei 2017). Islam: A Worldwide Encyclopedia. ABC-CLIO. ISBN 978-1-61069-217-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Suwaidan, Dr. Tareq Al. Imam Abu Hanifa an-Nu'man. الابداع الفكري. Abu Hanifa, may God have mercy on him, was born in Kufa in 80 AH, as the preponderant opinion states. This is what al-Khattab mentioned in his narration of Isma'il, Abu Hanifa's grandson, ...
  14. ↑ Ibn Abd al-Barr. Jami' Bayan al-Ilm wa-Fadlih.
  15. ↑ Ibn Hibban. al-Jarh wa-l-Ta'dil.
  16. 1 2 adh-Dhahabi. The Virtues of Imam Abu Hanifa. Visions of Reality Publishing. hlm. 9–10.
  17. ↑ S. H. Nasr (1975), "The religious sciences", in R.N. Frye, The Cambridge History of Iran, Volume 4, Cambridge University Press. p.474: "Abū Ḥanīfah, who is often called the "grand imam"(al-Imam al-'Azam) was Persian
  18. ↑ Cyril Glasse, "The New Encyclopedia of Islam", Published by Rowman & Littlefield, 2008. p.23: "Abu Hanifah, a Persian, was one of the great jurists of Islam and one of the historic Sunni Mujtahids"
  19. ↑ Schacht; Lewis; Pellat, ed. (1998). Encyclopaedia of Islam (dalam bahasa Inggris). Vol. II (C-G). Brill. hlm. 489. ISBN 978-90-04-07026-4. Abu Hanīfa was also of Zuṭṭ stock, his grandfather being known as Zūṭi, apparently a corruption of Zuṭṭi.
  20. ↑ Wink, André (1991). Al-hind: The Making of the Indo-islamic World (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 161. ISBN 978-90-04-09249-5. Some Jat freemen became famous in the Islamic world, as for instance Abu Hanifa ( 699-767 ? )
  21. ↑ Malik, Jamal (2020). Islam in South Asia: Revised, Enlarged and Updated Second Edition (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 44. ISBN 978-90-04-42271-1. ...Abu Hanifa (699–767), the founder of the Hanafi school of law, who was of Jat stock, most likely descending from those early prisoners sent to Iraq.
  22. ↑ Schacht 1960, hlm. 123. sfn error: tanpa target: CITEREFSchacht1960 (bantuan)
  23. ↑ Marouf, Naji (1935). عروبة الإمام أبي حنيفة (The Arab Origin of Imam Abu Hanifa) (dalam bahasa Arab). Baghdad: Al-Ani Press. hlm. 6-7.
  24. ↑ Marouf, Naji (1935). عروبة الإمام أبي حنيفة (The Arab Origin of Imam Abu Hanifa) (dalam bahasa Arab). Baghdad: Al-Ani Press. hlm. 7-8.
  25. ↑ "مجلة الوعي الإسلامي :: منارات: جامع الإمام الأعظم «أبوحنيفة النعمان»". www.alwaei.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-07-04.
  26. ↑ "Nwf.com: تاريخ مساجد بغداد وآثارها: محمود شكري الآل: إحياء التراث: كتب". www.neelwafurat.com. Diakses tanggal 2026-07-04.

Bahan bacaan

Daftar tabi'in

Abu Hanifah • Abu Muslim al-Khaulani • Ashamah an-Najasyi • Uwais al-Qarni • Ashim bin Umar • Iyas bin Muawiyah al-Muzani • Aban bin Utsman bin Affan • Abu al-Aswad ad-Du'ali • Hasan al-Bashri • Ubaid bin Umair al-Kinani • Thawus bin Kaisan • Raja' bin Haiwah • Abdullah ibnul Mubarak • Rabi'ah bin Farrukh • Zainab binti Ali • Salim bin Abdullah • Sa'id bin Jubair • Said bin al-Musayyib • Syuraih al-Qadhi • Amir bin Abdu Qais • Abdul Malik bin Marwan • Urwah bin az-Zubair • Atha bin Abi Rabah • Yahya bin Ya'mar • Nafi maula Ibnu Umar • Uqbah bin Nafi' • Umar bin Abdul-Aziz • Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr • Malik bin Dinar • Atha bin Yasar • Ibnu Sirin • Mush'ab bin az-Zubair • Musa bin Nushair

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan