| Nama | |
|---|---|
| Nama IUPAC (preferensi)
9H-Xanten-9-ona | |
| Nama lain
9-Oksoksantena Difenilina keton oksida | |
| Penanda | |
| |
Model 3D (JSmol) |
|
| Referensi Beilstein | 140443 |
| ChEBI | |
| ChEMBL | |
| ChemSpider |
|
| Nomor EC | |
| Referensi Gmelin | 166003 |
PubChem CID |
|
| Nomor RTECS | {{{value}}} |
| UNII | |
CompTox Dashboard (EPA) |
|
| |
| |
| Sifat | |
| C13H8O2 | |
| Massa molar | 196,21 g·mol−1 |
| Penampilan | Padatan putih |
| Titik lebur | 174 °C (345 °F; 447 K) |
| Larut perlahan dalam air panas | |
| -108,1·10−6 cm3/mol | |
| Bahaya | |
| Piktogram GHS | |
| Keterangan bahaya GHS | {{{value}}} |
| H301 | |
| P264, P270, P301+P310, P321, P330, P405, P501 | |
| Senyawa terkait | |
Senyawa terkait |
xantena |
Kecuali dinyatakan lain, data di atas berlaku pada suhu dan tekanan standar (25 °C [77 °F], 100 kPa). | |
| Referensi | |
Xantona adalah senyawa organik dengan rumus molekul C13H8O2. Senyawa ini berupa padatan berwarna putih.
Pada tahun 1939, xantona diperkenalkan sebagai insektisida dan saat ini digunakan sebagai ovisida untuk telur ngengat Cydia pomonella serta sebagai larvisida.[1] Xantona juga digunakan dalam pembuatan xantidrol, yang digunakan untuk menentukan kadar urea dalam darah.[2] Senyawa ini juga dapat digunakan sebagai fotokatalis.[3]
Sintesis
Xantona dapat dibuat dengan memanaskan fenil salisilat:[4]

Berbagai metode sintesis lainnya yang disebutkan adalah:[4]
- Memanaskan campuran asam salisilat, fenol, dan asetat anhidrida.
- Memanaskan asam o-fenoksibenzoat dengan asam sulfat atau fosforus pentoksida.
- Menyuling o-fenoksibenzoil klorida dalam kondisi vakum.
- Memanaskan aspirin atau o-hidroksibenzofenona.
Turunan
Berbagai metode telah dilaporkan untuk mensintesis turunan xantona:[5]
- Metode Michael-Kostanecki menggunakan campuran ekuimolar polifenol dan turunan asam salisilat, yang dipanaskan bersama agen pendehidrasi dalam reaksi kondensasi.
- Metode Friedel–Crafts melibatkan senyawa antara benzofenona.
- Metode Robinson-Nishikawa merupakan varian dari sintesis Hoesch namun menghasilkan rendemen yang rendah.
- Metode Asahina-Tanase mensintesis beberapa xantona termetoksilasi dan xantona dengan substituen yang sensitif terhadap asam.
- Metode Tanase digunakan untuk mensintesis polihidroksixantona.
- Metode Ullman mengondensasikan fenol dengan O-klorobenzena dan melakukan siklisasi pada difenil eter yang dihasilkan.
Turunan xantona
Xantona membentuk inti dari berbagai produk alami seperti mangostin atau likeksantona. Senyawa-senyawa ini terkadang disebut sebagai xantona atau xantonoid. Lebih dari 200 xantona alami telah diidentifikasi. Banyak di antaranya merupakan fitokimia yang ditemukan pada tumbuhan dari famili Bonnetiaceae, Clusiaceae, dan Podostemaceae.[6] Senyawa ini juga ditemukan pada beberapa spesies dari genus Iris.[7] Beberapa xantona ditemukan pada perikarp buah manggis (Garcinia mangostana) serta pada kulit kayu dan kayu Mesua thwaitesii.[8]
Lihat juga
Referensi
- ↑ Steiner, L. F. and S. A. Summerland. 1943. Xanthone as an ovicide and larvicide for the codling moth. Journal of Economic Entomology 36, 435-439.
- ↑ Bowden, R. S. T. (1962). "The Estimation of Blood Urea by the Xanthydrol Reaction". Journal of Small Animal Practice. 3 (4): 217–218. doi:10.1111/j.1748-5827.1962.tb04191.x.
- ↑ Romero, Nathan A.; Nicewicz, David A. (10 Juni 2016). "Organic Photoredox Catalysis". Chemical Reviews. 116 (17): 10075–10166. doi:10.1021/acs.chemrev.6b00057. PMID 27285582.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 A. F. Holleman (1927). "Xanthone". Org. Synth. 7: 84. doi:10.15227/orgsyn.007.0084.
- ↑ Diderot, Noungoue Tchamo; Silvere, Ngouela; Etienne, Tsamo (2006). "Xanthones as therapeutic agents: chemistry and pharmacology". Dalam Khan, M.T.H.; Ather, A. (ed.). Lead Molecules from Natural Products: Discovery and New Trends. Advances in Phytomedicine. Elsevier Science. hlm. 284–285. ISBN 978-0-08-045933-2.
- ↑ "An update of the Angiosperm Phylogeny Group classification for the orders and families of flowering plants: APG II". Botanical Journal of the Linnean Society. 141 (4): 399–436. 2003. doi:10.1046/j.1095-8339.2003.t01-1-00158.x.
- ↑ Williams, C.A; Harborne, J.B.; Colasante, M. (2000). "The pathway of chemical evolution in bearded iris species based on flavonoid and xanthone patterns" (PDF). Annali di Botanica. 58: 51–54. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2016-08-23. Diakses tanggal 28 Oktober 2015.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bandaranayake, Wickramasinghe M.; Selliah, Sathiaderan S.; Sultanbawa, M.Uvais S.; Games, D.E. (1975). "Xanthones and 4-phenylcoumarins of Mesua thwaitesii". Phytochemistry. 14 (1): 265–269. Bibcode:1975PChem..14..265B. doi:10.1016/0031-9422(75)85052-7.