Minggu, 20 September 2026
21:11 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Raden Trunajaya

Raden Trunajaya

Trunajaya
Raden Trunajaya dihukum mati oleh Amangkurat I pada 1680
Lukisan anonim yang menggambarkan Trunajaya ditusuk Sunan Amangkurat II, ca1890 (KITLV)[1]
Lahir1649 (1649)
Meninggal2 Januari 1680
Nama lainPanembahan Maduretna Panatagama
Dikenal karenaPemberontakan Trunajaya

Raden Trunajaya (1649 – 2 Januari 1680), juga dieja Trunojoyo dan menyatakan dirinya sebagai Panembahan Maduretna Panatagama,[2] adalah seorang bangsawan dari Madura yang dikenal memimpin PerlawananTrunajaya terhadap pemerintahan Kesultanan Mataram di Jawa.

Kehidupan awal

Trunajaya lahir sekitar tahun 1649.[3] Pamannya adalah seorang pangeran Sampang, Cakraningrat II.[4] Trunajaya merupakan keturunan dari raja terakhir Madura Barat[a] yang dipaksa tinggal di Mataram setelah dianeksasi dalam Penaklukan Surabaya oleh Sultan Agung dari Mataram.[6]

Trunajaya membenci Amangkurat I karena ayahnya dibunuh atas perintahnya pada 1656 dan intrik dalam keraton membuat Trunajaya meninggalkan Keraton Plered dan pindah ke Kajoran, sebuah daerah berjarak sekitar 26 kilometer utara laut dari keraton dan berada di dalam kawasan suci Tembayat.[3]

Kehidupan di Kajoran

Di Kajoran, Trunajaya bertemu dengan Panembahan Rama, seorang bangsawan yang merupakan keturunan dari keluarga Sunan Bayat dan Wangsa Mataram, dan menikahi putri sulungnya. Panembahan Rama kemudian memperkenalkan Trunajaya dengan putra mahkota Amangkurat I, kelak Amangkurat II pada 1670 dan mendorong pemahaman antara menantunya yang merasa diremehkan dan putra mahkota yang menyimpan dendam terhadap ayahnya. Hasilnya adalah persekongkolan melawan Amangkurat I.[3][6]

Perlawanan terhadap Kesultanan Mataram

Artikel utama: Perlawanan Trunajaya

Pada 1674, Trunajaya memimpin perlawanan terhadap Raja Mataram Amangkurat I yang bekerja sama dengan VOC Belanda, dengan dukungan dari para pejuang asal Makassar yang dipimpin oleh Karaeng Galesong.[7] Perlawanan bergerak cepat dan Ibu Kota Mataram Keraton Plered berhasil direbut pada pertengahan 1677.

Selepas jatuhnya Plered, Amangkurat I melarikan diri ke pantai utara bersama putra sulungnya Amangkurat II dan meninggalkan putra bungsunya Pangeran Puger. Karena tampak lebih tertarik pada keuntungan dan balas dendam daripada menjalankan kerajaan yang sedang direbut, Trunajaya mundur ke bentengnya di Kediri, meninggalkan Pangeran Puger menguasai keraton.

Ketika dalam perjalanan menuju Batavia meminta perlindungan VOC, Amangkurat I meninggal dunia di Tegal. Amangkurat II kemudian naik menjadi raja Mataram menggantikan ayahnya.[7] Amangkurat II pun hampir tidak berdaya sebagai raja setelah melarikan diri tanpa sebuah pasukan atau sumber daya untuk membangunnya. Sebagai upaya untuk mendapatkan kerajaanya kembali, ia membuat konsesi kepada VOC. Ia berjanji akan memberikan Semarang jika VOC membantu ia untuk menumpas pemberontakan.

330px-Vorst_Mangkoe_Rat_II_doorsteekt_met_zijn_kris%2C_genaamd_%22de_eerwaarde_Blabor%22%2C_den_opstandeling_Troenadjaja.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan anonim ca1890 yang menggambarkan Amangkurat II menghukum mati Trunajaya dengan cara ditusuk dengan keris yang disaksikan oleh kedua istrinya dan perwira VOC.

VOC setuju, karena bagi mereka, sebuah Kesultanan Mataram yang stabil yang sangat berutang budi kepada mereka akan membantu memastikan kelanjutan perdagangan dengan syarat-syarat yang menguntungkan. Pasukan VOC, terdiri dari pasukan bersenjata ringan dari Makassar dan Ambon, di samping tentara Eropa yang dipersenjatai lengkap, pertama kali mengalahkan Trunajaya di Kediri pada November 1678. Trunajaya sendiri ditangkap pada 1679 di dekat Ngantang, Malang. Awalnya, dia diperlakukan dengan hormat sebagai tawanan komandan VOC. Takut bahwa ia akan mengakhiri persekutuan antara Mataram dengan VOC, Amangkurat II memutuskan untuk menikam Trunajaya dengan keris sebagai hukuman saat melakukan kunjungan seremonial ke kediaman bangsawan di sebuah desa bernama Payak, Jawa Timur, pada 2 Januari 1680.[8]

Peninggalan

Perlawanan Trunajaya dikenang sebagai perjuangan heroik bagi rakyat Madura melawan kekuatan asing Kesultanan Mataram dan VOC. Muncul usulan agar Raden Trunajaya diangkat menjadi Pahlawan Nasional.[9][10] Namanya kemudian diabadikan sebagai nama beberapa jalan di Indonesia seperti nama jalan di depan Mabes Polri, nama jalan di Surabaya, Bandung, Semarang dan beberapa kota lainnya termasuk jalan di empat kabupaten di Madura serta menjadi nama bandar udara di Sumenep, Bandar Udara Trunojoyo dan Universitas Trunojoyo di Bangkalan, Madura.

Catatan

  1. Madura Barat adalah sebuah kerajaan yang terdiri dari Bangkalan dan Sampang. Dalam sejarah Jawa, Madura Barat cukup dirujuk sebagai Madura saja.[5]

Referensi

Catatan kaki

  1. ""Vorst Mangkoe Rat II doorsteekt met zijn kris, genaamd "de eerwaarde Blabor", den opstandeling Troenadjaja, dien hij met zijne twee vrouwen Kliting Koening en Kliting Woengoe, zusters van den vorst voor zich had laten komen, niettegenstaande dien opst..." Leiden University Libraries Digital Collections.
  2. Hoëvell 1849, hlm. 214.
  3. 1 2 3 Ricklefs 1981, hlm. 70.
  4. Pigeaud & De Graaf 2012, hlm. 87.
  5. Pigeaud & De Graaf 2012, hlm. 16.
  6. 1 2 Pigeaud & De Graaf 2012, hlm. 67-68.
  7. 1 2 Soekmono 2003, hlm. 68.
  8. Pigeaud & De Graaf 2012, hlm. 82-83.
  9. "Trunajaya Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional". Berita LIPI. Kompas. 6 Mei 2006. Diakses tanggal 12 Maret 2022.
  10. Ghazi, Mohammad (14 Agustus 2020). "Usulan Pangeran Trunojoyo Sebagai Pahlawan Nasional Dimatangkan". Media Indonesia. Diakses tanggal 12 Maret 2022.

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan