Muhammad Amin di Tiro | |
|---|---|
Potret Teungku Muhammad Amin di Tiro | |
| Wali Negara Aceh ke-3[a] | |
| Masa jabatan 1891[b]–1896 | |
| Penguasa monarki | Sultan Muhammad Daud Syah |
| Pendahulu | Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman |
| Pengganti | Ubaidillah di Tiro[c] |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Muhammad Amin bin Muhammad Saman |
| Meninggal | 28 Juni 1896[d] Benteng Aneuk Galong, Aceh Besar, Kesultanan Aceh |
| Sebab kematian | Gugur dalam pertempuran melawan Hindia Belanda |
| Makam | Mureu, Indrapuri, Aceh Besar |
| Anak |
|
| Orang tua | |
| Kerabat |
|
| Pekerjaan | Ulama, panglima perang |
Dikenal karena | Penerus kepemimpinan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman |
| Karier militer | |
| Pihak | Kesultanan Aceh |
| Pertempuran/perang | Perang Aceh
|
Teungku Muhammad Amin di Tiro (meninggal 28 Juni 1896), lebih dikenal sebagai Teungku Mat Amin atau Teungku Chik Muhammad Amin di Tiro, adalah seorang ulama dan pemimpin perang Aceh pada masa Perang Aceh melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ia merupakan putra tertua Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman dan menjadi penerus kepemimpinan perjuangan keluarga Tiro setelah ayahnya meninggal pada 1891.[1][2]
Muhammad Amin telah terlibat aktif dalam peperangan sebelum menjadi penerus ayahnya. Pada 1890 ia disebut telah ikut memimpin pasukan Aceh dan beberapa kali terluka dalam pertempuran sehingga harus dibawa ke Aneuk Galong untuk memperoleh perawatan.[1] Setelah Muhammad Saman meninggal pada Januari 1891, kepemimpinan pasukan Perang Sabil dan kedudukan Teungku Chik diteruskan kepadanya. Ibrahim Alfian menggambarkannya sebagai tokoh yang lebih menonjol dalam kecakapan militer daripada dalam bidang hukum agama.[2]
Pusat utama pertahanannya adalah Benteng Aneuk Galong di Aceh Besar, salah satu benteng strategis yang menghubungkan jaringan pertahanan Aceh di sekitar Mureu, Indrapuri dan daerah menuju Kutaraja. Ia mempertahankan benteng tersebut bersama pasukan yang sebagian besar berasal dari Pidie hingga akhirnya gugur ketika pasukan Belanda menyerbu Aneuk Galong pada 1896.[2]
Latar belakang keluarga
Muhammad Amin berasal dari keluarga ulama Tiro yang memainkan peranan besar dalam Perang Aceh. Ayahnya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, sejak awal dekade 1880-an menjadi salah seorang pemimpin utama perlawanan terhadap Belanda dan mengembangkan kembali gerakan Perang Sabil setelah kekuatan Kesultanan Aceh di Aceh Besar mengalami tekanan berat.
Muhammad Amin merupakan salah seorang dari enam anak Muhammad Saman yang dicantumkan dalam silsilah keluarga Tiro. Saudara-saudaranya ialah Fathimah, Mahyiddin, Ubaidillah, Zainal Abidin atau Teungku Buket, dan Sulaiman atau Teungku Lambada.
Keluarga Tiro merupakan keluarga ulama yang mempunyai hubungan erat dengan jaringan dayah di Pidie. Hampir seluruh putra Muhammad Saman kemudian ikut dalam peperangan melawan Belanda dan beberapa di antaranya gugur di medan perang.[2]
Keterlibatan awal dalam Perang Aceh
Muhammad Amin mulai tampil sebagai pemimpin pasukan ketika ayahnya masih hidup. Pada 1890, ketika pemerintah kolonial meningkatkan operasi militer dan membentuk satuan Marsose, Muhammad Amin telah ikut memimpin pasukan di medan perang.[1]
Dalam operasi-operasi tersebut ia beberapa kali mengalami luka. Luka yang diperolehnya cukup berat sehingga ia pernah harus diangkut menuju Aneuk Galong untuk memperoleh perawatan.[1] Keterlibatannya sebelum 1891 menunjukkan bahwa pergantian kepemimpinan setelah wafatnya Muhammad Saman bukan merupakan kemunculan pertama Muhammad Amin dalam struktur perang keluarga Tiro.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadikannya salah seorang putra Muhammad Saman yang paling siap mengambil alih kepemimpinan militer. Dalam historiografi yang dikutip Ibrahim Alfian, Muhammad Amin bahkan dikenal terutama karena kecakapannya dalam perang.[2]
Menggantikan Muhammad Saman
Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman meninggal pada Januari 1891 ketika Perang Aceh masih berlangsung. Setelah kematiannya, pimpinan pasukan Perang Sabil diserahkan kepada Muhammad Amin. Ia sekaligus meneruskan gelar atau kedudukan Teungku Chik dalam kepemimpinan keluarga Tiro.[1][2]
Peralihan tersebut penting karena pengaruh Muhammad Saman tidak hilang bersama kematiannya. Jaringan pengikut, ulama, pasukan serta pusat-pusat pertahanan yang telah dibentuk selama kepemimpinannya tetap berfungsi. Muhammad Amin kemudian mengambil tanggung jawab untuk mempertahankan jaringan tersebut dan melanjutkan peperangan.
Ibrahim Alfian menyebut:
Setelah Tgk. di Tiro meninggal dunia pada 25 Januari 1891, ulama ini digantikan oleh anaknya Tgk. Mat Amin sebagai teungku chik, yang lebih ahli dalam hal berperang daripada hukum agama.
Kedudukan Muhammad Amin karena itu tidak hanya didasarkan pada hubungan genealogis dengan Muhammad Saman, tetapi juga pada pengalamannya sebagai pemimpin pasukan sebelum 1891.
Benteng Aneuk Galong
Benteng Aneuk Galong merupakan salah satu pusat strategis perjuangan keluarga Tiro. Daerah ini terletak di jalur antara kawasan pertahanan Aceh di pedalaman dengan daerah yang menuju pusat kedudukan kolonial di Kutaraja.
Pada akhir 1883, Belanda menarik diri dari Aneuk Galong sebagai bagian dari penyempitan garis pertahanan. Sebelum meninggalkan wilayah tersebut, pasukan kolonial membumihanguskan benteng dan merusak jembatan di sekitarnya. Pasukan Muhammad Saman kemudian kembali memusatkan komando di daerah tersebut dan membangun pertahanan di dekat bekas benteng Belanda.[3]
Sesudah kematian Muhammad Saman, Aneuk Galong berada di bawah pengawasan Muhammad Amin dan tetap menjadi salah satu pusat utama kekuatan keluarga Tiro.[3]
Benteng tersebut mempunyai arti strategis tidak hanya sebagai pertahanan militer. Letaknya memungkinkan pejuang Aceh mempertahankan jalur logistik antara Mureu, Indrapuri, Lambaro dan wilayah pedalaman lainnya. Karena itu penguasaan atas Aneuk Galong menjadi salah satu sasaran penting dalam operasi militer Belanda.
Kepemimpinan perang
Selama memimpin setelah 1891, Muhammad Amin mempertahankan corak perjuangan yang telah dikembangkan ayahnya. Kepemimpinan agama tetap menjadi salah satu unsur pemersatu pasukan, sementara dalam pelaksanaan perang Muhammad Amin lebih banyak menonjol sebagai panglima lapangan.
Kepemimpinannya berlangsung ketika pemerintah kolonial masih menggunakan sistem pertahanan konsentrasi di sekitar Kutaraja. Pasukan Aceh tetap mempertahankan sejumlah benteng di luar garis tersebut dan melancarkan serangan terhadap kedudukan Belanda.
Pertahanan Aneuk Galong merupakan salah satu unsur penting dalam strategi tersebut. Muhammad Amin bersama beberapa anggota keluarga Tiro mengorganisasi pasukan yang berasal dari Aceh Besar dan Pidie untuk mempertahankan wilayah itu.
Menurut sumber sejarah yang kemudian dikutip Rusjdy Sufi, Muhammad Amin merupakan salah seorang putra utama Muhammad Saman dan memegang pimpinan pertahanan Aneuk Galong. Ia bertempur bersama saudaranya, Teungku di Buket, dengan beberapa ratus orang pengikut.[4]
Situasi perang tahun 1896
Tahun 1896 menjadi titik penting dalam Perang Aceh. Pada akhir Maret tahun itu Teuku Umar meninggalkan kerja samanya dengan Belanda dan kembali bergabung dengan barisan Aceh. Pemerintah kolonial kemudian meminta tambahan pasukan dan meningkatkan operasi militernya di Aceh Besar.[2]
Pada 26 April 1896 pemerintah kolonial secara resmi mencabut seluruh jabatan Teuku Umar dan sejak 27 April mulai melakukan serangan terhadap kedudukan-kedudukannya. Pasukan dari berbagai sagi datang membantu perlawanan, sedangkan Belanda mendatangkan bala bantuan dari luar Aceh.[2]
Pada Mei 1896 pasukan Belanda berhasil merebut kembali sejumlah posisi di Mukim VI. Sesudah itu tekanan militer diarahkan terhadap benteng-benteng Aceh lainnya, termasuk Aneuk Galong.
Keadaan tersebut menempatkan Muhammad Amin dan pertahanan Aneuk Galong di tengah perubahan strategi perang. Pemerintah kolonial mulai meninggalkan kebijakan defensif dan meningkatkan operasi ofensif terhadap pusat-pusat perlawanan di luar garis konsentrasi.
Pertempuran Aneuk Galong
Pada 28 Juni 1896 pasukan Belanda melancarkan serangan besar terhadap Benteng Aneuk Galong. Ibrahim Alfian mencatat pertempuran tersebut sebagai salah satu pertempuran sengit dalam operasi tahun 1896.[2]
Pasukan Aceh mempertahankan benteng secara keras. Muhammad Amin berada di dalam pertahanan bersama saudaranya, Teungku di Buket, dan sejumlah besar pejuang, sebagian besar berasal dari Pidie.
Menurut Alfian, sebanyak 110 orang dari pihak Aceh gugur dalam pertempuran tersebut. Di pihak Belanda tercatat enam orang tewas dan 33 orang terluka, termasuk empat orang perwira.[2]
Di antara pejuang Aceh yang gugur adalah Muhammad Amin sendiri serta Teuku Cut, uleebalang Aree.[2]
Jatuhnya Aneuk Galong menjadi pukulan besar terhadap jaringan pertahanan Aceh di Aceh Besar. Bagi pihak Belanda, penyerbuan tersebut dipandang sebagai salah satu keberhasilan penting Korps Marsose. Setelah operasi tahun 1896, pemerintah kolonial semakin meninggalkan sistem lini konsentrasi dan memasuki fase kebijakan militer yang lebih ofensif.[2]
Perbedaan tanggal kematian
Tanggal kematian Muhammad Amin tidak disebut secara seragam dalam sumber.
Silsilah keluarga Teungku Chik di Tiro yang dibuat pada 1970 oleh keturunan keluarga tersebut mencatat bahwa Muhammad Amin atau Teungku Mat Amin gugur pada 26 Maret 1896 di Benteng Aneuk Galong.
Namun, Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912 mencatat bahwa pertempuran besar Aneuk Galong yang menewaskan Muhammad Amin berlangsung pada 28 Juni 1896.[2]
Sebuah prasasti peringatan di Aneuk Galong memberikan kronologi lain dan menyebut pertempuran di kawasan tersebut berlangsung antara 8–21 April 1896, dengan Teungku Mat Amin termasuk di antara pejuang yang gugur.[3]
Karena perbedaan tersebut, tanggal 28 Juni 1896 umumnya lebih aman digunakan dalam rekonstruksi berdasarkan karya sejarah Ibrahim Alfian, sementara 26 Maret tetap penting sebagai keterangan yang berasal dari tradisi dan silsilah keluarga.
Pemakaman
Setelah gugur, jenazah Muhammad Amin berhasil dibawa keluar dari medan pertempuran oleh pasukan Aceh dan dimakamkan di Mureu, Indrapuri, Aceh Besar, di kompleks pemakaman keluarga Tiro.
Makamnya berada dalam kompleks yang sama dengan makam ayahnya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Tradisi keluarga dan sejumlah sumber mengenai Pertempuran Aneuk Galong menyatakan bahwa jenazah Muhammad Amin dibawa menuju Mureu sesudah pertempuran.
Kompleks tersebut kemudian menjadi tempat pemakaman sejumlah anggota keluarga Tiro dan memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan keluarga tersebut dalam Perang Aceh.
Penerus kepemimpinan
Setelah Muhammad Amin gugur, kepemimpinan keluarga Tiro tidak berakhir. Ibrahim Alfian menyatakan bahwa kedudukannya sebagai Teungku Chik kemudian diteruskan oleh adiknya, Teungku di Tungkob atau Teungku Beb.[2]
Silsilah keluarga Tiro mencatat seorang putra Muhammad Saman bernama Ubaidillah dengan gelar Teungku Bet. Hubungan antara bentuk nama Teungku Beb/Teungku di Tungkob dalam sumber sejarah dengan Ubaidillah dalam silsilah keluarga sering dihubungkan dalam penulisan mengenai keluarga Tiro, meskipun identifikasi tersebut perlu memperhatikan variasi nama dan gelar dalam sumber.
Perjuangan keluarga tersebut kemudian terus berlangsung melalui saudara-saudara Muhammad Amin dan generasi berikutnya hingga awal abad ke-20.
Kedudukan dalam historiografi Wali Nanggroe
Dalam sejumlah kajian kontemporer mengenai sejarah Wali Nanggroe, Muhammad Amin juga disebut sebagai Wali Nanggroe Aceh kedua, menggantikan ayahnya.
Nazaruddin dan rekan-rekannya menempatkan Muhammad Amin sebagai Wali Nanggroe kedua sejak 1 Januari 1892 hingga gugur pada 1896.[5]
Dalam versi tersebut, Muhammad Amin merupakan penerus Muhammad Saman dalam suatu garis suksesi Wali Nanggroe yang berlangsung selama Perang Aceh.
Akan tetapi, historiografi yang lebih tua mengenai Perang Aceh, termasuk karya Ibrahim Alfian, lebih jelas menyebut Muhammad Amin sebagai penerus ayahnya dalam kedudukan Teungku Chik dan pimpinan Perang Sabil daripada menggunakan terminologi Wali Nanggroe sebagai jabatan pemerintahan formal.[2]
Karena itu, penyebutan Muhammad Amin sebagai Wali Nanggroe kedua sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari historiografi mengenai lembaga Wali Nanggroe dan dibedakan dari fakta yang lebih luas diterima bahwa ia menggantikan Muhammad Saman sebagai pemimpin keluarga Tiro dan perjuangan bersenjata.
Keluarga

Muhammad Amin adalah putra tertua Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Berdasarkan bagan silsilah keluarga Tiro, saudara-saudaranya ialah:
- Fathimah;
- Mahyiddin atau Teungku Chik Maad;
- Ubaidillah atau Teungku Bet;
- Zainal Abidin atau Teungku Buket; dan
- Sulaiman atau Teungku Lambada.
Silsilah keluarga mencatat tiga orang anak Muhammad Amin:
- Maneh, wafat 1 Agustus 1962;
- Muhammad Saman, gugur pada 21 Mei 1910 di kawasan Gunung Halimon; dan
- Ma'ad atau Maat, yang dikenal pula sebagai Teungku Chik Maat, gugur pada 3 Desember 1911 di Rimba Alue Bhot, Tangse.
Ma'ad/Maat merupakan salah seorang anggota generasi ketiga keluarga Tiro yang meneruskan peperangan melawan Belanda. Dalam sejumlah sumber namanya juga dieja Maaz atau Muaz.
Warisan
Muhammad Amin merupakan bagian dari kesinambungan tiga generasi keluarga Tiro yang terlibat langsung dalam Perang Aceh. Ia telah ikut memimpin pasukan semasa ayahnya masih hidup, kemudian mengambil alih kepemimpinan setelah 1891 dan akhirnya gugur mempertahankan salah satu benteng utama jaringan perlawanan keluarga tersebut.
Kematiannya tidak menghentikan perlawanan keluarga Tiro. Saudara-saudaranya tetap bergerilya dan sejumlah keponakan serta anaknya kemudian juga gugur dalam peperangan pada awal abad ke-20.
Dalam historiografi keluarga Tiro, Pertempuran Aneuk Galong karena itu dipandang sebagai salah satu titik penting dalam peralihan kepemimpinan dari generasi Muhammad Saman kepada putra-putra dan cucunya.
Lihat pula
- Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman
- Teungku Chik Ubaidillah di Tiro
- Zainal Abidin Teungku di Buket
- Teungku Chik Sulaiman di Tiro
- Mahjiddin Tgk Syik Ma'ad
- Muaz Amin Tiro
- Perang Aceh
- Wali Negara Aceh
- Benteng Aneuk Galong
Catatan
- ↑ Penomoran Wali Negara atau Wali Nanggroe pada masa Perang Aceh tidak seragam. Dalam susunan yang menempatkan Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai Wali Negara pertama dan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman sebagai Wali Negara kedua, Muhammad Amin merupakan Wali Negara ketiga. Sejumlah kajian kontemporer mengenai Wali Nanggroe, sebaliknya, menghitung Muhammad Saman sebagai Wali Nanggroe pertama dan Muhammad Amin sebagai Wali Nanggroe kedua.
- ↑ Sejumlah kajian mengenai Wali Nanggroe mencatat pengangkatan Muhammad Amin secara resmi pada 1 Januari 1892, setelah wafatnya Muhammad Saman pada akhir 1891.
- ↑ Urutan penerus Muhammad Amin berbeda menurut sumber. Historiografi Perang Aceh yang lebih tua menyebut adiknya, Teungku di Tungkob atau Teungku Beb, sebagai penerusnya; silsilah keluarga mengidentifikasikan salah seorang putra Muhammad Saman sebagai Ubaidillah atau Teungku Bet. Sejumlah literatur Wali Nanggroe modern, sebaliknya, menyebut Abdussalam bin Muhammad Saman sebagai penerus Muhammad Amin.
- ↑ Tanggal kematian berbeda dalam sumber. Silsilah keluarga Tiro tahun 1970 mencatat 26 Maret 1896, sedangkan Ibrahim Alfian menempatkan gugurnya Muhammad Amin dalam Pertempuran Aneuk Galong pada 28 Juni 1896.
Referensi
- 1 2 3 4 5 Wanti, Irini Dewi; Widarni, Elly; Wibowo, Agus Budi; Seno; Djuniat; Setiawan, Irvan (1996). Enam Pahlawan Nasional Asal Aceh. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Alfian, Ibrahim (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
- 1 2 3 Abdullah, Murdani (8 Mei 2016). "Prasasti Benteng Aneuk Galong". PortalSatu. Diakses tanggal 11 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sufi, Rusjdy (2008). Aceh Tanah Rencong.
- ↑ Nazaruddin, M.; Nirzalin; Kamil, Ade Ikhsan; Nasution, Abdullah Akhyar; Yunanda, Rizki (2021). "Wali Nanggroe Aceh: Transformasi, Eksistensi dan Model Penguatan Kelembagaan". Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh. 2 (2): 238–255.
Daftar pustaka
- Alfian, Ibrahim (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
- Wanti, Irini Dewi; Widarni, Elly; Wibowo, Agus Budi; Seno; Djuniat; Setiawan, Irvan (1996). Enam Pahlawan Nasional Asal Aceh. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.