Jumat, 16 Oktober 2026
14:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo
Tengku Raihani

Tengku Raihani

Bagikan:
Ratu Brunei dari tahun 1934 hingga 1950Templat:SHORTDESC:Ratu Brunei dari tahun 1934 hingga 1950
Raihani
ريحانا
250px-Portrait_of_Tengku_Ampuan_Raihani.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengku Raihani pada tahun 1934
Ratu Permaisuri Brunei
Periode30 April 1934 – 4 Juni 1950
Penobatan17 Maret 1940
LahirRaihani binti Ala’eddin Sulaiman Shah
11 Oktober 1911
Istana Bandar Temasya, Kuala Langat, Selangor
Meninggal22 September 1993(1993-09-22) (umur 81)
Pemakaman
AyahAla’eddin Sulaiman Shah
IbuMaimunah binti Abdullah
Pasangan
​
​
(m. 1934;meninggal 1950)​

Kamaluddin ibni Harun Al-Rashid
​
​
(m. 1956)​
KeturunanPutri Nor Ehsani
WangsaOpu Daeng Chelak (berdasarkan kelahiran)
Bolkiah (berdasarkan pernikahan)
AgamaIslam Sunni

Raihani binti Sulaiman Shah (11 Oktober 1911 – 22 September 1993) adalah Ratu Permaisuri Brunei sebagai istri dari Sultan Ahmad Tajuddin. Ia juga merupakan anggota keluarga kerajaan Selangor sebagai putri dari Sultan Sulaiman Shah.

Kehidupan awal

Tengku Raihani lahir pada 11 Oktober 1911 di Istana Bandar Temasya, Jugra, Kuala Langat, Selangor, dari pasangan Sultan Sulaiman dari Selangor dan salah satu permaisurinya, Cik Anjung Negara Cik Puan Maimunah binti Abdullah.[1]

Pernikahan dan keturunan

250px-Wedding_ceremony_of_Sultan_Ahmad_Tajuddin_and_Tengku_Raihani.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pernikahan Raihani dan Ahmad Tajuddin pada tahun 1934

Pernikahan pertama

Pada bulan April dan Mei 1934, Raihani menikah dengan Sultan Ahmad Tajuddin dari Brunei dalam serangkaian upacara megah selama dua minggu di Klang, Selangor. Akad Nikah dilaksanakan pada 30 April di Masjid Sultan Sulaiman[2] dan upacara Bersanding berlangsung pada 6 Mei di Istana Mahkota Puri.[3]

Putri mereka, Putri Nor Ehsani, lahir pada 15 Oktober 1935 di Klang.[4]

Pernikahan kedua

Pada 18 Agustus 1956, Raihani menikah dengan Raja Kamaluddin ibni Raja Harun Al-Rashid, seorang anggota keluarga kerajaan Perak, di Istana Bukit Kota, Klang.[5][6]

Ratu permaisuri

Tengku Raihani menjabat sebagai Ratu Permaisuri Brunei sejak tanggal pernikahannya pada tahun 1934 hingga suaminya wafat pada tahun 1950. Ia diberikan gelar Tengku Ampuan Brunei, serupa dengan gelar permaisuri Sultan Selangor, sebagai pembeda dari penggunaan gelar Raja Isteri yang digunakan oleh permaisuri kerajaan Brunei lainnya.[7][8][9]

Pada 17 Maret 1940, Raihani dinobatkan bersama suaminya di Istana Mahkota di Kampong Tumasek.[10] Masa jabatannya berakhir setelah wafatnya Sultan Ahmad Tajuddin secara mendadak di Singapura pada 4 Juni 1950.[11]

Kematian

Tengku Raihani meninggal dunia pada 22 September 1993 akibat Kanker ginjal. Ia dimakamkan di Makam Diraja Masjid Sultan Sulaiman di Klang, Selangor.[1]

Referensi

  1. 1 2 Bumi, Tok Bentara Mangku (16 September 2022). "Tengku Raihani, Tengku Ampuan Brunei". Bentara Mangkubumi. Diakses tanggal 28 Oktober 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Wedding of Sultan of Brunei: Ceremonies Begin at Klang". The Straits Times. National Library Singapore. 30 April 1934. Diakses tanggal 8 Februari 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Bersanding Ceremony at Klang: Royal Wedding - Ancient Malay Traditions Honoured". The Straits Times. National Library Singapore. 8 Mei 1934. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  4. ↑ Reece, Bob (2009). Sather, Clifford (ed.). ""The Little Sultan": Ahmad Tajuddin II of Brunei, Gerard MacBryan, and Malcolm Macdonald" (PDF). Borneo Research Bulletin. 40. Borneo Research Council. ISSN 0006-7806.
  5. ↑ "Perkahwinan Bekas Raja Isteri Brunei di Malaya" [Former Brunei King's Wife's Wedding in Malaya] (PDF). Pelita Brunei (dalam bahasa Melayu). Jabatan Penerangan: 5. 16 Agustus 1956. Diakses tanggal 28 Oktober 2022.
  6. ↑ "Royal Wedding". Singapore Standard. National Library Singapore. 22 Agustus 1956. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  7. ↑ Daulat (dalam bahasa Melayu). Pusat Sejarah Brunei - Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan. 1992. hlm. 49.
  8. ↑ Pusaka (dalam bahasa Melayu). Pusat Sejarah Brunei - Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan. 1988. hlm. 49.
  9. ↑ Mohammad Melayong, Muhammad Hadi (2009). Memoir seorang negarawan [Memoirs of a Statesman] (dalam bahasa Melayu). Pusat Sejarah Brunei - Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan. hlm. 76. ISBN 978-99917-34-69-9.
  10. ↑ "King Congratulates Brunei Sultan: Ruler Proclaimed as the Yang Di Pertuan". The Straits Budget. National Library Singapore. 21 Maret 1940. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  11. ↑ Mohammad Melayong, Muhammad Hadi (20 Februari 2017). "Liku-liku perjuangan ke arah negara Melayu Islam Beraja" [The twists and turns of the struggle towards a Malay Islamic Monarchy]. Media Permata (dalam bahasa Melayu). Diakses tanggal 28 Oktober 2022.

Pranala luar

Gelar penyandang kekuasaan
Didahului oleh:
Pengiran Anak Siti Fatimah
Ratu Permaisuri Brunei
1934–1950
Diteruskan oleh:
Pengiran Anak Damit
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan