Kamis, 01 Oktober 2026
13:53 WIB
TERKINI
Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama
Ahmad Tajuddin dari Brunei

Ahmad Tajuddin dari Brunei

Sultan Brunei

Bagikan:
Ahmad Tajuddin Akhazul Khairi Waddien
احمد تجا الدين
Sultan Brunei
250px-Sultan_Ahmad_Tajuddin_%28AWM_P10841.001%29.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Berkuasa11 September 1924 - 4 Juni 1950
Penobatan17 Maret 1940
PendahuluMuhammad Jamalul Alam II
PenerusOmar Ali Saifuddin III
Lahir(1913-06-04)4 Juni 1913
Brunei Town, Brunei
Meninggal4 Juni 1950(1950-06-04) (umur 37)
Singapore Singapura
AyahMuhammad Jamalul Alam II
IbuRaja Isteri Fatimah
AgamaIslam Sunni

Duli Yang Maha Mulia Sultan Ahmad Tajuddin Akhazul Khairi Waddien ibni Almarhum Sultan Mohammad Jamalul Alam II (biasa dipangil sebagai Sultan Ahmad Tajuddin) (4 Juni 1913 – 4 Juni 1950) merupakan sultan ke 27 Brunei dari 11 September 1924 sampai ia meninggal. Ia merupakan pengganti ayahnya yang meninggal dunia, Sultan Muhammad Jamalul Alam II.

Pada tahun 1924, naik tahata dalam usia 11 tahun. Pada tahun 1927, meresmikan pembukaan jalan raya Brunei-Tutong. Pada tahun 1929, meresmikan pembukaan Rumah Sakit Bandar Brunei. Tahun yang sama, sumber-sumber minyak ditemukan di Seria. Pada tahun 1932, berangkat mengunjungi Inggris dan Eropa. Pada tahun 1941, Jepang menduduki Brunei. Pada tahun 1945, Tentara Sekutu mendarat di Brunei. pada tahun 1946, Lagu Kebangsaan Brunei digubah oleh Awang Besar Sagap dan Yura Halim. Pada tahun 1946, mengambilalih pemerintahan dari British Military Administration (B.M.A) Pada tahun 1949, memperingati Jubli Perak. Wafat 1950.

Masa Kecil

Sultan Ahmad Tajuddin lahir pada tanggal 22 Agustus 1913 di Istana di kota Brunei. Dia adalah anak kelima dari 10 anak dengan Sir Sultan Muhammad Jamalul akhir Alam II dan istrinya, Raja Isteri Pengiran Anak Siti Fatimah. Adiknya Pengiran Muda Omar Ali Saifuddien akan menjadi penggantinya masa depannya.

Kematian

Ketika Sultan Ahmad Tajuddin membuat persinggahan di Singapura, sebelum melanjutkan ke Inggris, ia jatuh sakit, dan dirawat di Singapore General Hospital pada tanggal 3 Juni 1950. Kedatangannya di rumah sakit didampingi oleh Mr Malcolm MacDonald, Inggris Komisaris Jenderal untuk Asia Tenggara. Menurut Dr Monteiro yang merawatnya, karena kesehatannya memburuk pada waktu itu, sehingga keberangkatannya ke London harus ditunda atau dibatalkan karena dia pendarahan di perut dan membutuhkan Transfusi darah. Yang Mulia meninggal pada Sabtu, 3 Juni, 1950, karena tidak ada reaksi terhadap transfusi darah yang dilakukan pada dirinya. Ia mengalami Koma, beberapa jam sebelum kematiannya.

Didahului oleh:
Muhammad Jamalul Alam II
Sultan Brunei
1924–1950
Diteruskan oleh:
Omar Ali Saifuddin III


Flag of BruneiBiography icon

Artikel bertopik biografi Brunei ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh Sultan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik politikus ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan